23 March 2018

JANGAN TUNGGU TERBUKTI BARU PERCAYA OMONGAN PRABOWO

Bapak Prabowo Subianto (PS) berpidato, bahwa negara kita sudah diprediksi oleh para pakar di luar sana akan hilang di tahun 2030 nanti. Pidato PS ini di sambut media dan juga pembicaraan netizen dengan berbagai sudut pandang.


Bagi yang suka PS, tentu saja kekhawatiran yang disampaikan PS patut diwaspadai. Sebagai tokoh, PS banyak berbicara tentang keadaan negara ini dan banyak benarnya. Kita waspada dan khawatir apabila ucapan PS itu benar.

Bagi pihak yang selama ini bersebrangan dengan PS, pidato PS dianggap sebagai sebuah RAMALAN yang tidak perlu di dengar. PS mengambil referensi dari sebuah novel 'GHOST FLEET' karangan P.W Singer. Sebuah novel yang ditulis berdasarkan kemampuan beliau memprediksi keadaan di suatu negara.

P.W Singer seorang ahli ilmu politik luar negeri, mendapatkan Ph.D dari Harvard University. Bersama rekannya August Cole, mereka mencoba memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan dalam konflik global. Agar prediksi dan perspektifnya hidup, ia tuliskan analisanya itu dalam drama novel.

Karena yang menulis seorang yang sangat ahli, novel ini bahkan menjadi perhatian serius petinggi militer di Amerika Serikat. James G Stavridis, pensiunan laksama angkatan laut Amerika Serikat, yang kini menjadi dekan di Tufts University hubungan internasional, menyebut buku ini (novel) merupakan 'blue print' untuk memahami perang masa depan. Pemimpin militer di negeri Paman Sam itu mewajibkan para tentara membacanya.


Dengan latar belakang penulis novel tersebut dan juga kemampuannya membaca situasi di suatu negara, apakah salah apabila kita perlu mewaspadai kalau-kalau yang di tulisnya dalam novel tersebut akan kejadian.

Anggaplah tulisan PW Singer itu sebuah kajian atau ramalan,what ever u saylah. Kita bisa menelaah dan menilai kebenaran bahwa negara kita akan hilang lebih tepatnya negara kita akan dikatakan sebagai negara gagal #FailedState.

Sebelum menerawang jauh, ada baiknya kita ketahui dulu bagaimana suatu negara dikatakan gagal ataufailed state.

Dari tulisan Ardi Massardi, bisa di jadikan rujukan bahwa negara dikatakan gagal ketika:
1. Sebuah negara bisa dinyatakan gagal bila tidak punya kemampuan atau ogah-ogahan melindungi warganya dari berbagai tindak kekerasan dan ancaman kehancuran.
2. Negara tidak bisa menjamin hak-hak rakyatnya, baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri. Institusi-institusi demokrasi juga gagal dipertahankan.
3. Institusi demokrasi seperti KPU, DPR, Kepolisian, Kejaksaan, KPK, malah dikriminalisasi, lalu dikooptasi untuk kepentingan sesaat kelompok tertentu. Sehingga “hukum” dimanipulasi dan dijadikan instrumen untuk menggebuk lawan-lawannya.

Indikator di atas apakah kita rasakan saat ini? Apakah bisa kita nilai bahwa saat ini pun negara kita sudah bisa dikatakan sebagai negara yang gagal.

Kajian, ramalan atau prediksi yang dikeluarkan oleh seseorang yang memang mempunyai kapasitas dalam bidangnya tetaplah menjadi 'WARNING' bagi suatu negara jika negaranya dijadikan bahan dalam kajian yang seseorang lakukan. Karena selama ini, di negara kita pun segala tindakan berdasarkan kajian maka keluarlah sebuah kebijakan.

Kebijakan Perppu Ormas, itu semua karena adanya kajian dan juga prediksi bahwa HTI akan mengancam negara kita. Demikian juga tindakan represif aparat keamanan atas tuduhan Islam radikal yang akan membawa konflik Arab Spring ke Indonesia. Aparat keamanan mempunyai penilaian berdasarkan kajian sehingga mereka mengambil kesimpulan.

Kebijakan impor kita juga berdasarkan kajian, memprediksi hasil panen dan kebutuhan yang tidak sesuai dalam 6 bulan ke depan maka itu keluarlah kebijakan impor untuk mencukupi kebutuhan yang tidak akan terpenuhi dari hasil negara sendiri.

(Buya) Syafi'i Ma'arif mengatakan aset bangsa kita 80% dikuasai Asing.
Amien Rais mengatakan bahwa kekayaan kita 74% dikuasai Asing.
Prabowo juga mengatakan bahwa kekayaan negara kita dirampok oleh orang-orang yang tinggal di negara lain.

Mengapa yang dijadikan tersangka atas ucapan tokoh-tokoh itu hanyalah Amien Rais dan juga Prabowo? Mengapa tidak berasumsi bahwa (Buya) Syafi'i Ma'arif juga sedang melakukan ramalan kartu tarot?

Keberpihakan kita, membuat logika kita menjadi aneh. Menganggap Prabowo dan Amien Rais menggigau atas ramalan orang lain, namun terdiam tanpa berbicara apapun saat (Buya) Syafi'i Ma'arif juga mengatakan demikian.

Para orang-orang hebat di luar sana itu mempunyai ilmu dan juga pemetaan khusus mengapa mereka bisa keluarkan penilaian bahwa Indonesia akan lenyap di tahun 2030. Walau ditulis dalam bentuk novel, bukan berarti kita meremehkan apa yang mereka hasilkan. Justru seharusnya kita harus merapatkan barisan dan waspada jika kita memang mencintai negeri ini.
Untuk waspada dan bersiap atas segala ancaman, itu tidak dilarang dalam hukum negara kita. Bahkan sebagai warga negara kita wajib membela negara kita atas segala bentuk penjajahan yang sudah semakin canggih saat ini.

Novel karya PW Singer adalah peringatan dini yang diberikan pada negara kita. 'WARNING CALL' kata orang bule bilang. Ngeri-ngeri sedap apabila itu terjadi dan ada kemungkinan terjadi jika kita melihat indikator-indikator yang terpenuhi dari suatu negara dikatakan gagal atau FAILED STATE. Ketika ada ramalan bahwa ekonomi kita akan menjadi ekonomi terbesar dunia kita percaya dan bertepuk tangan, namun ketika ada kajian sebaliknya yang mengatakan bahwa negara kita bisa lenyap di tahun 2030 esok, mengapa kita malah memonyongkan mulut seolah itu hanya bualan. Padahal, ciri-cirinya sudah mendekati. Justru ciri-ciri negara Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia malah jauh panggang dari api saat ini.

Terkadang kita ingin selalu berada di zona nyaman, dan melupakan zona bahaya. Terlalu ingin di elus, tidak sadar bahwa elusan itu akan berubah menjadi remasan mengarah pada pemukulan. Kita sambut ramalan baik, namun kita abaikan ramalan buruk.

Hidup harus berimbang, terima yang baik dan perhatikan apa yang dinilai buruk oleh orang lain. Sebagai pihak yang dinilai, kita harus introspeksi diri ketika ada penilaian buruk. Berpikir agar jangan sampai terjadi seperti yang mereka nilai. Perbaiki yang salah, kejar ketinggalan dan sejahterakan rakyat itu yang seharusnya di lakukan.

Prabowo selalu dianggap masuk angin ketika ia mengucapkan akan kekhawatirannya pada negara ini. Namun, kita bisa buktikan bersama bahwa apa yang ia ucapkan selama ini memang menemui kebenaran. Masih ingat dengan ucapan PS tentang "BOCOR...BOCOR...BOCOR". Ucapan yang dijadikan bahan tertawaan oleh pendukung Jokowi dan dibuatkan Meme ternyata saat ini TERBUKTI.

Freeport merugikan negara ratusan triliun dalam temuan BPK...!!
Dan itu adalah salah satu bukti KEBOCORAN yang di katakan Prabowo saat debat Pilpres 2014 silam.

Saat beliau mengucapkan kekhawatirannya akan hilangnya Indonesia menurut para pakar ekonomi dan politik, mohon jangan ditunggu buktinya. Ngeri saya andai itu benar-benar terjadi seperti bocornya Freeport saat ini.

Kalau cinta negara ini, sayang negara ini..maka pedulilah.
(Oleh : Setiawan Budi)

09 March 2018

CROWD, kekuatan baru DPP HA IPB

Jika dalam negara ada unsur AGBC (Akademisi, Goverment, Business & Community) maka dalam organisasi DPP HA IPB memiliki PDKC unsur Pengurus Pusat (DPP), unsur Kampus (diwakili Komisariat Fakultas), Perwakilan Daerah (dijewantahkan dalam DPD) dan satu unsur lagi yang tak kalah pentingnya adalah CROWD dalam media sosial.

CROWD (keriuhan / social interaction) dibentuk tidak berdasarkan struktur atau fungsional organ HA, tetapi terbentuk karena kedekatan emosi, hobby, ideologi / politik, kesamaan angkatan, bidang atau rumpun studi dan unsur perekat lainnya.

Jika organ dan struktur dibentuk dan bekerja dengan pola deduktif dalam mendefinisikan diri, program dan tujuan program, maka CROWD berjalan dengan pola induktif. Tergantung siapa yang punya inisiatif kuat, punya bargain sosial (Social Authority) dan faktual terhadap kebutuhan real time saat itu juga. Organisasi merencanakan, sementara CROWD mengalir laksana air. Air tak bisa dibendung, jika pun itu dilakukan maka akan menghasilkan tekanan pada bendung-nya, jika konstruksi bendungnya ada bolong-bolong maka ia akan tersalurkan pada saluran yang tidak bisa dikelola, bahkan bendung tersebut bisa jebol tak kuat menahan tekanan.

Sifat CROWD yang bebas dari "kekakuan" organisasi akan bergerak lincah menelurkan "program-program" yang ada. Mereka tidak akan menjadikan hal ini beban berlebihan karena tidak ada perencanaan sebelumnya. Eksekusi sangat tergantung dari siapa champion yang menelurkan ide/gagasan, dan seberapa antusias member dari CROWD membantu inisiatif tadi: Tim inisiator, tim penggerak dan banyak eksekutor.

Struktur nanti akan terbentuk pada akhirnya, dengan mengikuti stratifikasi sosial yang ada: kompetensi, senioritas, akses pada sumber daya dan ketokohan dalam Crowd itu sendiri.

Facebook HA IPB dibentuk berdasarkan crowd, akun2 alumni bergerak menanggapi inisiatif Kang Andri P Nur (Sosek 18) untuk menambah jumlah member sebanyak2nya. Admin dibuat banyak, setting member baru dibuat terbuka. Kemudian setelah tercapai jumlah yang dirasa cukup diserahkan kepada pengurus DPP sebagai bagian kekuatan organisasi. Perfect!

FB HA IPB kemudian banyak melahirkan sub-group yang lebih homogen. Komunitas2 ini dibentuk juga mengikuti logika CROWD tadi. Teknologi media sosial memungkinkan implementasinya bersifat Cepat, Individual dan Mudah. Jika organisasi tidak cerdas memahami ini, maka ia akan menjadi "Sosok tua" yang tergopoh-gopoh menghadapi derasnya perubahan.


Ada contoh posting menarik di grup FB HA IPB, yaitu peluang akses mengelola lahan tak terpakai di sebuah wilayah. Inisiatif ini jika dikelola melalui mekanisme struktur organisasi tentu akan lama dan birokratis. Maka saya kemudian menyuarakan agar mekanisme CROWD berjalan. Pengurus yang terkait dapat ikut menjadi bagian CROWD tsb kemudian sebisa mungkin bersinergi dengan struktur. Fikiran yang mengemuka adalah bagaimana agar ide itu "it works!", seraya membuat model sistematis agar bisa direplikasi di wilayah lain atau bersinergi dengan perangkat HA IPB: DPD dan DPK misalnya.

Maka jika demikian, rumah bersama yang dibangun dengan susah payah ini akan terasa manfaat besarnya. Unsur kekuatan baru HA IPB semakin terasa bagi semua.

Alumni bersatu, Indonesia Maju..!
Alumni berdaya, Indonesia Jaya..!




Sirod M. Rasoma
Ka. Dept Online (Sub Bidang KOMINFO)
Digital Strategists Arah Angin Visimedia, PT

Tulisan ini adalah opini Pribadi.

15 February 2018

Secuil Kisah Prabowo Subianto



--- Seperti dituturkan Sang Ayah, Sumitro Djojohadikusumo, kepada saya pada Maret 1999. Wawancara saya ini dimuat di Majalah TEMPO April 1999.

------------------------------------------------

Sumitro Djojohadikusumo:

"Semua Yang Diculik Bowo Sudah Dibebaskan"
   
Waktu seperti tidak berdaya terhadap Sumitro Djojohadikusumo, terhadap daya ingatnya. Wajahnya penuh kerut-merut usia, bahunya tidak lagi tegak, dan tangan kanannya perlu menggenggam sebilah tongkat saat ia berjalan.

Namun ingatannya membuat orang akan segera melupakan usianya, yang akan genap 82 tahun pada 29 Mei 1999 nanti. Semua peristiwa masa lalu dapat diterangkannya dengan detail, lalu dihubungkannya  dengan berbagai kejadian mutakhir bilamana perlu.
   
Sesekali tangannya melambai di udara tatkala menekankan sesuatu yang penting, lalu turun menyentuh ujung lengan jas bermotif khas burberi yang dikenakannya siang itu. Sang waktu rupanya juga tak bisa mengalahkan seleranya akan keanggunan: kemeja katun putih button down bermanset emas, dengan dasi berwarna burgundi, bercorak garis-garis halus.
   
Sumitro lahir dari sebuah keluarga terpandang, yang membesarkannya dalam tradisi Barat tanpa kehilangan sentuhan Jawa. Ia mengaku sangat bangga sebagai orang Banyumas-keresidenan di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Ia mengikuti jejak ayahnya, Margono Djojohadikusumo, pengikut Boedi Oetomo dan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) 1946, menempuh pendidikan di Eropa. Pada usia 21 tahun, Sumitro meraih gelar sarjana muda filsafat dan sastra di Universitas Sorbonne, Paris. Dari sini, ia pindah ke Belanda untuk belajar ekonomi di Economische Hogeschool, Rotterdam. Gelar doktor ia raih pada 1942.
   
Setelah meninggalkan universitas, ia menjejak sebuah karir panjang, yang tampaknya belum akan disudahinya hingga sekarang. Ia menaruh perhatian mendalam pada dasar-dasar ekonomi Indonesia, menduduki berbagai jabatan elite dalam birokrasi, serta menjadi konsultan bidang ekonomi dalam dan luar negeri.
   
Ia pernah mengalami masa ''gelap": diburu pemerintah Soekarno, yang menuduhnya bersekongkol dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)-gerakan yang pernah dituduh separatis, tapi oleh para eksponennya disebut sebagai upaya membangun daerah dan menyelamatkan
bangsa dari pengaruh PKI. Oleh rekan-rekan separtainya sendiri (Partai Sosialis Indonesia-nya Sutan Sjahrir), dia dihujat. Sedangkan persentuhannya dengan PRRI pun tak lama.
   
Dalam keadaan terjepit, dia lari ke luar negeri. Baru 10 tahun kemudian, Sumitro pulang ke Indonesia (Juli 1967) dan menduduki  jabatan menteri dalam kabinet Soeharto selama dua periode (1968-1978). Setelah pensiun dari birokrasi, ia giat sebagai konsultan, dosen, dan menulis berbagai karya ilmiah.
   
Pernikahannya dengan Dora Sigar memberinya empat anak yang cerdas dan ... kontroversial. Salah satunya, Letjen Prabowo Soebianto, perwira militer cemerlang yang menikah dengan Siti Hediyati (putri mantan presiden Soeharto), terjerembap dan karirnya selesai begitu saja tak lama setelah kejatuhan Soeharto. Putri sulungnya, Biantiningsih Miderawati, menikah dengan Soedradjad Djiwandono, Gubernur Bank
Indonesia yang dicopot Februari tahun 1998, 10 hari menjelang masa jabatannya berakhir. Dan anak bungsunya, Hashim.
   
Orang lalu bertanya-tanya: inikah akhir kejayaan keluarga Djojohadikusumo? ''I've been through the worst. Dan ini bukan yang
pertama kali," ujarnya.

Wartawan TEMPO Setiyardi mewawancarainya selama tiga jam di kantornya, di Jalan Kertanegara 4, Jakarta. Dan pertemuan dilanjutkan dua hari kemudian di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pada pertemuan kedua Hermien Y. Kleden dan Wicaksono turut serta. Berikut ini petikannya:
   
                                ***

Bagaimana hubungan Anda dengan Pak Harto sekarang?

Dua hari setelah Pak Harto jatuh, saya mencoba menghubunginya. Saya selalu melakukan itu bila ada kerabat atau kenalan yang sedang dilanda kesulitan.

Boleh tahu isi pembicaraan itu?

Kami tidak ketemu. Lewat ajudannya, saya mengatakan ingin bertemu. Biasanya saya mendapat jawaban dalam dua hari. Satu minggu kemudian, saya mendapat jawaban, ''Bapak masih sibuk." Dua minggu kemudian, saya telepon lagi. Tetap tidak ada tanggapan. Sejak itu, saya tidak pernah mau ketemu lagi.

Ada beban berbesan dengan Pak Harto?

Tahun-tahun pertama baik, tapi makin lama makin tidak baik. Tidak pernah ada bentrokan. Saya memang menjaga jarak. Jadi, hubungan itu biasa saja, jauh tidak, mesra juga tidak.

Melihat besan Anda dihujat sana-sini sekarang, apa yang Anda rasakan?

Tidak hanya sebagai besan, sebagai manusia tentu saya sedih. Masa, ada orang terus-terusan dihujat? Kesalahan Pak Harto adalah dia terlalu percaya kepada anak-anaknya dan terlalu percaya kepada cukongnya. Dia memang lemah terhadap anak-anak, lebih-lebih setelah kepergian Ibu Tien. Dan semua anaknya itu dendam kepada Bowo (Prabowo), kecuali Sigit yang agak netral.

Kabarnya, Anda pernah berucap, pernikahan Prabowo dengan Titiek Soeharto adalah ''kesalahan sejarah" terbesar dalam hidup Anda?

Oh, tidak. Paling-paling historical accident, kecelakaan sejarah. Tapi mau apa lagi? Saya tidak pernah campur tangan dengan kemauan anak-anak. Ini kan bukan sesuatu yang direncanakan. Saya tidak pernah berpikir menjadi besan Pak Harto. Hanya, kami memang memiliki latar belakang keluarga dan budaya yang sangat berbeda. Keluarga saya sangat modern, semua anak hasil pendidikan luar negeri, sementara Titiek kan dari sebuah keluarga yang sangat Jawa.

Anda menyesal?

Dari pihak saya tidak. Tapi mungkin dari istri saya. Tapi saya bilang kepadanya, ''Biar kita serahkan ke anak-anak."

Bagaimana sebetulnya hubungan Prabowo dengan Keluarga Cendana?

Hubungan Bowo dengan anak-anak (Pak Harto) tidak baik, selalu bentrok, meski tidak pernah sampai (tersiar) ke luar: bentrok dengan Tommy soal cengkeh, dengan Mamiek soal helikopter. Anak-anak ini kemudian mempengaruhi bapaknya sehingga Pak Harto akhirnya lebih percaya Sjafrie (Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin, bekas Panglima Daerah Militer Jakarta Raya dan mantan pengawal Soeharto) daripada Bowo. Yang paling akhir, Bowo dikhianati mertuanya sendiri. Sudahlah, saya tidak mau memperpanjang. Nanti dikira dendam.

Dikhianati bagaimana?

Sebenarnya ide untuk melepaskan Prabowo dari pasukannya itu berasal dari panglimanya, jadi dari Wiranto. Kita tahu, Wiranto dan Prabowo seperti ini (mengadu kedua kepalan tangan). Bowo bilang, ''Waduh, orang yang saya bela kok melepaskan saya dari pasukan begitu saja." Ia dilepaskan dari Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) dan ditempatkan di Bandung. Itu sangat mengecewakan Bowo.

Bukankah Prabowo juga dianggap berkhianat oleh Keluarga Cendana?

Pak Harto adalah Panglima Tertinggi (Pangti) ABRI. Jadi, kalau ada apa-apa, Bowo harus membela Pangti. Tapi, waktu itu, Bowo akhirnya mengatakan, bila rakyat menghendaki, Pak Harto akan turun, tapi harus konstitusional. Nah, itu yang dianggap sebagai pengkhianatan oleh Keluarga Cendana.

Banyak tuduhan terhadap Prabowo, dari penculikan hingga usaha kudeta. Mana yang Anda percayai?

Tidak ada yang saya percayai. Bahwa Bowo itu arogan, iya. Kesannya memang begitu. Bahwa dia temperamental, iya. Tentang penculikan, dia memang menculik sembilan orang itu. Tapi perintah penculikan itu kan dia dapat dari atasannya.

Siapa atasannya?

Ada tiga: Hartono, Feisal Tanjung, dan Pak Harto. Banyak jenderal yang tahu, tapi tidak berani berbicara. Nanti di pengadilan bisa dibuka asalkan pengadilannya benar-benar adil. Dari segi kemanusiaan, penculikan memang tidak bisa diterima. Tapi, dari sudut ketentaraan, ini adalah perintah. Saya sendiri sulit melihatnya dari sudut pandang mana.

Apa sikap keluarga setelah Prabowo disalahkan?

Dalam didikan saya, seseorang harus berani bertanggung jawab. Jangan salahkan bawahan. Tanggung jawab itu yang akhirnya diambil alih Prabowo. Di depan Dewan Kehormatan Militer, Bowo mengambil dokumen dari tasnya, lalu menunjukkan sembilan orang yang diculik, yang ketika itu sudah dilepaskan.

Presiden Habibie pernah mengatakan, saat pergantian kekuasaan, Mei 1998, Prabowo melakukan konsentrasi pasukan. Anda tahu apa yang terjadi?

Tentang hal itu, satu dari kedua orang ini mestinya berbohong: Wiranto atau Habibie. Saya tidak tahu pertimbang-an Habibie berbicara seperti itu. Hubungan saya dengan dia selalu baik. Habibie bahkan memberikan tasbihnya ke Prabowo. Mungkin cari popularitas, atau dipengaruhi Letjen Sintong Panjaitan (kini Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan atau Sesdalopbang), yang menceritakan hal itu. Ini masih tanda tanya.

Ada kabar, Prabowo sempat memaksakan niat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), bahkan Panglima ABRI.

Tidak benar itu. Saya tahu, ada banyak bawahan Bowo yang kecewa karena dia tidak merebut kekuasaan. Kan, waktu itu dia pegang senjata. Saya bilang kepadanya, ''Jangan! Percayalah kepada saya. Kalau ABRI pecah, negara ini akan pecah."

Seberapa jauh Prabowo mendengarkan Anda?

Keluarga kami sangat dekat. Dalam hal Bowo, misalnya, dia memang mengalami banyak cobaan. Dan kami mendukung semua upaya menegakkan keadilan. Kalau melanggar, memang harus dihukum. Saya katakan ke Bowo, ''Pada hari-hari yang gelap, jangan pernah berharap kepada orang yang pernah kamu tolong. Tapi akan selalu datang bantuan dari siapa saja." Eh... benar! Ada telepon dari Amman. Pangeran Abdullah—sekarang Raja Yordania—menelepon. Dia bilang, ''What can I do? You're my friend."

Bagaimana kondisi hubungan Prabowo dan menantu Anda, Titiek, saat ini?

Masih tetap ada. Yang sulit sebetulnya Titiek. Apakah dia mau setia kepada suaminya? Sementara, sebagai anak, kan dia juga masih setia kepada bapaknya? Anda tanya dong ke Titiek.

Anda pernah meminta Prabowo pulang?

Tidak pernah. Semua terserah Bowo. Dia tahu keadaan dalam negeri. Dia harus hidup. Dan untuk bisa hidup, dia harus mencari nafkah—yang sekarang kebetulan di luar negeri.

Bagaimana Anda melihat persoalan putra Anda yang lain, Hashim, yang bisnisnya ikut runtuh akhir-akhir ini?

Dalam keluarga kami, hanya dia yang berbakat menjadi pengusaha. Pribadinya juga menarik, ramah, terbuka terhadap semua bangsa. Dan dia pandai beberapa bahasa asing. Tentang bisnisnya, well, Hashim membuat kesalahan. Dia terlalu ekspansif dan gagal. Tapi setiap orang membuat kesalahan. Dan Hashim perlu belajar dari kesalahan itu.

Anda yakin Hashim bisa keluar dari kondisi buruk ini?

Yakin. Kondisi ini kan sebagian besar disebabkan oleh keadaan eksternal. Semua orang terkena kesulitan. Dalam bisnis semen Cibinong, sebenarnya dia tidak salah. Tapi, karena tidak ada yang membangun, jadi banyak kehilangan pembeli. Ini yang menyebabkan usahanya macet. Dia terlalu cepat dalam ekspansi. Hashim mengakui itu. Tapi saya tidak mau campur tangan secara intern.

Tampaknya Anda bangga betul kepada anak-anak?

Semua orang tua bangga kepada anak-anaknya. Dalam bahasa Jawa, ada istilah wiryo kencono: seorang anak, biar dia seperti sampah pun, tetap harus kita banggakan.

Dan mereka dididik dalam kebebasan. Prabowo masuk Akabri bahkan tanpa seizin Anda. Mariani, putri kedua, kimpoi dengan orang Prancis....

Saya meniru konsep pendidikan orang tua saya. Orang tua saya termasuk generasi yang berada pada masa peralihan, antara kehidupan modern yang lebih longgar dan kehidupan tradisional di mana ikatan keluarga masih sangat kuat, di perbatasan. Mereka hidup dalam dunia tradisional Jawa tapi menyiapkan anak-anak untuk bertempur dengan dunia modern yang sangat keras—di mana setiap orang harus mengambil tanggung jawab individual—sesuatu yang kemudian saya teruskan kepada anak-anak saya. Mereka harus bisa mengambil keputusan sendiri dan membayar konsekuensinya. Dengan suasana itu, saya tidak merasa sebagai kepala suku. Saya bukan godfather mereka. Ha-ha-ha....

Masih tentang keluarga. Menantu Anda, Soedradjad Djiwandono, diberhentikan dari jabatan Gubernur Bank Indonesia, Februari 1998. Apakah ada keputusan keluarga di balik peristiwa itu?

Ah, enggak. Saya cuma mengatakan, ''Sekarang kamu harus mengikuti hati nurani. Kalau naluri itu benar, tidak apa-apa. Kalau tidak, lebih baik mundur." Dia kan tidak sepakat dengan Presiden Soeharto soal CBS (currency board system). Juga sebelumnya ada beberapa soal lain.

Apakah ada kebiasaan rapat keluarga bila menghadapi soal-soal besar?

Tidak pernah. Sebab, saya percaya, semua anggota keluarga itu tidak sama. Sebagai keluarga, kami memang dekat dan kompak. Seperti sekarang, Hashim dan Prabowo dekat sekali. Kalau dihujat, kami bersatu. Setelah itu, tentu masing-masing harus mengembangkan keinginan dan kehidupannya sendiri.

Anda terpukul dengan semua cobaan pada keluarga?

Saya tidak merasa terpukul, walau orang bilang saya terpukul. Terpukul oleh apa? Oleh serpihan-serpihan ini?

Oleh semua soal beruntun di atas, soal Prabowo, Hashim, Soedradjad. Keluarga Djojohadikusumo seolah tengah mengalami keruntuhan akhir-akhir ini.

I've been through the worst. Dan ini bukan yang pertama kali. Pada 1957, selama 10 tahun saya menjadi buron di luar negeri, hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain tanpa uang dan paspor. Saya pernah menjadi tukang mebel dan membuat lemari es besar sewaktu di Malaysia. Saya berkeliling dari satu negara ke negara lain dengan empat anak yang tengah tumbuh. What could be worse than that?

Itu berlangsung semasa Anda terlibat PRRI?

Begini, sebelum pindah ke PRRI, saya merasa hendak ditangkap. Apa-apaan ini? Saya bilang kepada istri, saya tidak mau ditangkap, karena merasa tidak bersalah. Akhirnya saya putuskan bergabung dengan PRRI. Dua hari sebelum berangkat, saya berbicara dengan Sutan Sjahrir. Saya bilang, ''Bung, saya mau hijrah dan bergabung dengan daerah." Sjahrir mengatakan, ''Oke, Cum. Tapi kok daerah seperti tersingkir sendiri. Ada Dewan Banteng, Dewan Gajah, Dewan Garuda. Usahakan semua itu agar bisa bersatu." Ceritera ini belum pernah saya buka. Anda yang pertama mendapatkannya.

Apa yang terjadi setelah itu?

Saya ke Palembang, terus ke Padang, Pekanbaru, Bengkalis. Dari sini, saya menyamar menjadi kelasi kapal menuju Singapura. Di sana, saya lari dari kapal, terus ke Saigon, Manila, terus ke Manado. Di situ, saya berbicara dengan semua pihak, kemudian dibentuk sebuah front nasional.

Anda tidak percaya dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga memutuskan ke PRRI?

Saya selalu percaya kepada Persatuan Indonesia. Sewaktu PRRI mau mendirikan Republik Persatuan Indonesia, mereka tidak mau memasukkan Pulau Jawa ke dalamnya. Saya menegaskan, ''Kalau begitu, saya tidak ikut karena negara kita satu." Mereka menolak, dan saya ke luar. Karena tak mungkin pulang ke Jakarta, saya pergi ke luar negeri, dan menjadi buron 10 tahun. Saya tidak mau kembali. Waktu itu, adalah orang-orang Partai Sosialis Indonesia (PSI) sendiri, kecuali Sjahrir, yang mendesak agar saya diadili. Saya bilang, justru mereka yang harus diadili.

Siapa saja mereka?

Saya tidak mau menyebut nama. Nanti bikin onar.

Perpecahan itu tentu menyakitkan?

Sakit, tapi saya tetap pada pendirian bahwa masyarakat berada pada posisi sentral. Negara yang harus mengabdi kepada rakyat, bukan sebaliknya. Tapi sudahlah, mereka di sana, saya di sini. Saya punya prinsip sendiri. Filosof Nietzsche mengatakan, ''Eagles do not catch mosquitos" (elang pantang menyambar nyamuk).

Apa alasan utama Anda ke PRRI?

Ada rupa-rupa pertimbangan, dari timbulnya kesadaran bahwa pusat selalu mengabaikan daerah—misalnya kontrol devisa, di mana selama ini devisa selalu dihabiskan di Jakarta—sampai friksi antara Bung Karno dan PSI serta makin dekatnya tokoh PKI D.N. Aidit dengan Bung Karno. Ini juga yang menimbulkan perlawanan daerah-daerah—sesuatu yang sedang berlangsung sekarang.

Siapa yang mau menangkap Anda?

D.N. Aidit dan PKI. Saya mendapat berita dari intelijen saya sendiri bahwa Politbiro PKI menganggap Sumitro sebagai salah satu musuh besarnya sehingga harus dimusnahkan.

Sakitkah peristiwa pelarian 10 tahun itu? Atau justru Anda bahagia karena jadi punya banyak pengalaman?

Bahagiakah orang yang menjadi buron, dimaki-maki, berpindah-pindah negara, tanpa paspor, uang, dan kewarganegaraan, tanpa bisa memastikan apa yang akan terjadi setelah itu?

Kembali ke soal PRRI. Bukahkah Bung Sjahrir kemudian mengirim Djoir Muhammad untuk membujuk Anda kembali?

Djoir tidak pernah bertemu dengan saya. Kemudian Sjahrir mengirim lagi orang lain, Djohan (Sjahrusa), ke Singapura. Tapi dia tidak bertemu dengan saya. Namun saya katakan, saya tidak mungkin kembali. Setiap kali saya masuk kabinet—entah Natsir, Wilopo—saya dibilang bukan wakil PSI. Kalau pas gagal, mereka bilang itu kesalahan saya. Kalau berhasil, mereka bilang, "Dia (Sumitro) orang kita." Bagaimana itu?

Benarkah PRRI mendapat suplai senjata dari Central Intelligence Agency (CIA) atau Dinas Rahasia Amerika?

Sebagian. Senjata yang lain dibeli di Phuket, Thailand, dan Taiwan. Saya tahu George Kahin (profesor dari Universitas Cornell) mengatakan saya orang CIA. Dia benar-benar ngawur. Banyak orang CIA justru benci saya. Memang benar ada kontak dengan CIA, intelijen Korea, Prancis. Ini kan gerakan bawah tanah.

Apakah CIA juga mendesain pola gerakan PRRI?

Tidak sejauh itu. Mereka hanya membantu. Yang mendesain orang-orang kita sendiri. Kelemahan PRRI adalah cenderung menganggap diri sebagai gerakan militer, sehingga lemah di politik. Kelemahan lain: terlalu banyak kepentingan daerah yang masuk.

Ada yang menilai Anda oportunis: melarikan diri di kala ada soal di Tanah Air, lalu kembali setelah rezim berganti dan berjaya di Orde Baru.

Well, saya rasa itu sikap pragmatis, bukan oportunistis. Secara prinsip, saya konsisten. Pada tingkat aplikasi, bisa berubah-ubah. Di situ letak pragmatismenya. Boleh saja kita menggunakan teori kapitalisme untuk sosialisme.

Bagaimana hubungan Anda dengan Bung Karno?

Baik. Sampai sekarang, saya tidak pernah menjelek-jelekkan Bung Karno, tidak satu kata pun, walau saya tahu Bung Karno menghujat saya. Bagi saya, dia ''Pemimpin yang Besar", bukan ''Pemimpin Besar". Dia jenius dalam politik, dan menyatukan negara ini. Dia luar biasa.

Lalu dengan Bung Sjahrir? Kan, Anda bergabung dengan PSI karena merasa cocok dengan pemikirannya?

Saya masuk PSI tahun 1950. Dan saya memang cocok dengan pemikiran Sjahrir tentang sosialisme humanitarian: negara adalah pelindung rakyat, bukan sebaliknya. Kemudian saya berpisah dengan PSI—tidak dengan Sjahrir—karena tidak tahan dengan kelompok-kelompok di sekitarnya yang merasa diri sebagai Sjahrir-Sjahrir kecil. Mereka terus-menerus omong tentang ideologi tanpa mewujudkan ideologi itu dalam real politics. Nah, setelah di PSI itu, saya ke PRRI.

Dan setelah ke PRRI—serta masa pelarian—Anda kembali ke Indonesia? Apakah Soeharto meminta Anda kembali?

Pada 1966, Soeharto mengirim Ali Moertopo mencari saya di luar negeri. Pak Harto butuh penasihat ekonomi karena Widjojo dan lain-lain masih muda-muda. Ali mencari kiri-kanan, tapi tidak berhasil. Sebagai buron, saya kan lebih mahir, ha-ha-ha.… Akhirnya, kami ketemu di Bangkok, November 1966, dipertemukan Sugeng Djarot, atase pertahanan kita di sana. Saya diminta kembali. Saya terima tawaran itu dan kembali pada Juli 1967.

Kapan Anda dipanggil ke istana?

Mei 1968. Kami berbasa-basi. Dia tanya, ''Pak Mitro asli mana?" Saya jawab, ''Dari Banyumas." Dia meminta saya membantu dalam kabinet, sebagai ahli. Dia juga mengatakan masih harus membicarakannya dengan rekan-rekannya di ABRI karena ada yang belum sreg: bekas pemberontak kok mau masuk kabinet.

Saya bilang kepada Pak Harto, ''Oke, sekarang toh saya sudah membantu juga dengan analisis ekonomi. Saya tidak perlu kedudukan." Waktu 8 Juni 1968 Pak Harto mengumumkan kabinet, ternyata saya menjadi Menteri Perdagangan. Keadaan ekonomi kita waktu itu amburadul. Seluruh ekspor hanya Rp 500 juta, inflasi 650 persen, dan cadangan devisa hanya Rp 20 juta.

03 February 2018

Deddy Mizwar Cagub Jabar 2018



Urang sabenerna mah kurang panuju artis asup ka pulitik téh ku sabab rada nyaho kalakuan artis2 di urang mah, légég loba, ari karya saeutik. Tapi ieu lain artis sembarang artis. Deddy Mizwar, salah sahiji aktor pria terbaik Piala Citra, ogé produser sinetron anu boga mutu hadé saperti "Para Pencari Tuhan" atawa "Kiamat Sudah Dekat".

Jadi mun dina sisi industri Demiz geus paripurna, da posisi sutradara jeung produser téh mangrupakeun level anu pangluhurna ku sabab kompleksitas jang ngawujudkeunana. Demiz jelas luhureun Rano Karno dina pencapaian karya jeung jam terbang di industri hiburan. Anakna, Senandung Nacita jadi pembaca berita di SCTV ngabanggakeun anu jadi bapana.

Atuh dina kapamingpinan, posisi sutradara jeung produser jelas kauji. Katambah pangalaman 5 taun di Jabar, tektok jeung Ust. Ahmad Heryawan, Demiz beuki motékar waé, kaasah softskill jeung daya gebrakna. Asalna dipasangkeun jeung Aher ku PKS ku sabab anjeunna téh populer, kakoncara, bakal gampang kapilih kulantaran rahayat leutik ogé bakal nyaho anjeunna, lain ukur jalmi anu saangkatan anjeuuna tapi ogé pemilih munggaran di Jabar.

Jadi mun sosok Demiz hungkul anu dinilai, urang satuju anjeunna mingpin ku sabab timelines karya, perjuangan jeung prinsip2 nu dicekel. Demiz nyaho élmu pencitraan, tapi manéhna jadi jalma dugi ka ayeuna lain ku citra, tapi ku karya nyata. Picontoeun jang urang balaréa.

Atuh kumaha soal pilihan? Nyaéta, hanyakal politik nasional téh mempengaruhi politik lokal anu dianggap lumbung suara. Gerindra jeung PKS jadi koalisi anu leuwih dalit ayeuna. Prinsip2 dua partéy ieu loba nu sarua, maka sarat paslon nyaéta kudu kacekel ku partéy mun manéhna meunang. Ku sabab Prabowo masih boga ambisi nyalon deui di Pilpres 2019. Demiz kudu asup Gerindra (ciri komit ka partéy), wagub ku PKS anu geus diset Ahmad Syaikhu, nyaéta ketua DPW PKS Jabar.

Anu menarik, Gerindra ti batan milih cagub anu populer jiga Demiz, Prabowo atas saran ulama2 212 kalah ngajukeun hiji aran: Mayjen (purn) Sudrajat, pituin Sunda, boga pangalaman komunikasi jeung RRC,  boga pangalaman jeung hubungan jeung kakuatan Jokowi : anjeunna dirut perusahaan penerbangan Bu Susi (mentri perikanan kelautan), tapi kurang dikenal publik ku sabab henteu centil di media jeung handap asor jelemana.

Demiz beurat dibanding jeung Sudrajat mah. Jéjéndralan (Naga Bonar) ngalawan Jendral nyaan. Lamun rahayat jabar hayang boga gubernur anu wanian ngalawan konglomerat Cina, kakuatan Asing Ahseng jeung Asong (birokrat / pejabat korup) maka pilihana leuwih aman ka Sudrajat.

Kumaha komposisi wagubna? Demiz pasangan jeung Dedy Mulyadi (Demul) anu dicitrakeun sukses di Purwakarta, ngarobah Purwakarta tina kota Pangsiun jadi kakoncara ka mana2. Duit APBD anu leutik diakalan ku anjeunna maké duit CSR perusahaan2 / pabrik2 nu lolobana dikuasi Asing jeung Aseng. Duit perusahaan lumpat kana proyek pencitraan Demul, rahayat mah ukur ngarasa alus, da nu meunang panggung mah Demul.

Demul ketua DPW Golkar Jabar ngalawan Akhmad Saikhu ketua DPW PKS. Kakuatan jejaring Orba ngalawan kakuatan jejaring Reformasi. Demul klenik, Saikhu katurunan Sunan Gunung Jati, waliyulloh (ulama) anu kabukti karyana ngaislamkeun rahayat Sunda terutama di Cirebon. Anjeunna masih katurunan Karajaan Kasepuhan Cirebon. Ieu turunan raja asli ngalawan Demul raja pencitraan media arus utama, rarajaan anu ceunah kawin ka Ratu Pantai Selatan.

Demiz anu ngajarkeun tauhid ti Sinetron kudu pasangan jeung jelema anu nalungtik klenik. Demiz anu Jéjéndralan pasangan jeung rarajaan "salaki" Nyi Roro Kidul anu sabenerna mah éta carita Mataram lain carita asli urang Sunda.

Aya kaleuwihan aya kakurangan, mangga diguar. Moal aya malaékat anu nyalon da ku sabab malaékat mah teu boga kahayang sorangan, éstuning nurut ka Gusti nu Maha Suci.. Prak geura milih, 2 paslon ieu menurut didieu anu pang kuatna. Ari pamingpin kuat mah biasana épéktip mingpinna.

Kang Sirod
3 Pebruari 2018, dina KRL arah ka Bogor

09 October 2017

HA IPB, Pemilihan Rektor dan Politik Praktis

Source: http://korpusipb.com

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan Jakarta - Singapore dalam kursi sempit Low Cost Carier yang saya pesan via penyedia layanan tiket online kebanggaan anak negeri. Era cepat, akurat saat ini telah menjadi kebutuhan di mana pun. Siapa yang tidak efisien dan lemah dalam era kompetitif seperti sekarang, pasti lewat dilahap derasnya perubahan teknologi.

Seperti biasanya, waktu perjalanan saya gunakan untuk hal-hal produktif. Membuat presentasi, menulis hal-hal besar dari fikiran-fikiran besar pula. Kata cerdik pandai, fikiran besar akan menghasilkan karya-karya besar pula. Mata saya mengamati setiap sudut kota Singapura setiba saya di sini, sebuah kota yang tidak pernah saya singgahi sebelumnya. Kota yang sibuk, tidak sesibuk Bangkok, Kuala Lumpur dan kota-kota besar di Indonesia.

Rupanya fikiran saya agak terganggu dengan desas-desus gak nyaman dari organisasi tempat saya bercengkrama dan berhimpun, Himpunan Alumni IPB, sebuah organisasi yg sebenarnya lebih nyaman disebut paguyuban, karena rasa persaudaraan yang sangat tinggi di sini. Di HA IPB, anda hanya perlu pernah kuliah tak perlu lulus untuk menyandang gelar alumni. Pelbagai hal-hal positif berikut dinamikanya saya dapatkan di sini dalam mencapai titik-titik usia matang sampai saat ini.

Ialah soal segelintir pihak yang "mempolitisir" bahwa pemilihan rektor IPB masa 2017 sekarang seakan-akan tidak sesuai dengan perundangan dan tata kelola yang baik. Agak lucu sebenarnya, karena HA IPB bukanlah bagian yang "sangat berpengaruh" dalam pemilihan Rektor. Meski, saya perhatikan khusus untuk pemira kali ini, IPB rupanya banyak melibatkan HA IPB, mungkin karena HA IPB sekarang telah menjadi himpunan yang banyak berkontribusi positif bagi IPB itu sendiri. Bukan berarti HA IPB yg dulu kurang kontribusi, tetapi memang di kepemimpinan HA IPB di bawah kendali tim Teh Nelly Oswini dkk, HA IPB menjadi "mesin" organisasi yang efektif dilihat dari banyaknya kegiatan, pengkaderan dan kontribusi pada lingkungan sekitarnya.

Lucu yang kedua adalah adanya surat kepada kementrian riset dikti yang ditanda-tangani oleh bukan ketua umum HA IPB, sebuah surat miss-leading, miss-understanding dan nir-etika menurut saya. Satu kekeliruan besar bagaimana organisasi yang isinya adalah para senior-senior hebat, tetapi mengeluarkan surat yang mustinya tidak punya kewenangan mengeluarkan surat. Setahu saya organisasi seperti Himpunan Alumni biasanya mengeluarkan surat eksternal yang ditandatangani ketua umum atau para ketua / sekjend, tetapi kali ini bukan ketum yang mengeluarkan. Agak aneh, Himpunan jadi berasa partai, karena seperti ada "pemilik" HA IPB de facto yang mencoba mengendalikan organisasi.

Lebih parah lagi, DPP HA IPB mustinya bulan-bulan ini telah rampung menyelenggarakan Musyawarah Nasional Alumni untuk pergantian kepengurusan, tetapi malah mengurusi sesuatu yang diluar tupoksinya itu. Saya prihatin mewakili para alumni muda, mustinya kejadian seperti ini tidak terjadi pada organisasi yang justru sedang berkembang baik diramaikan oleh para alumni muda berkarya, yang bertahun-tahun lalu kurang terasa vibrasi-nya.

Kepada senior yang bekarya lurus dan bekerja dengan hati, saya do'akan agar sehat senantiasa, saya yakin di antara abangda dan kakanda semua pasti merasakan keprihatinan yang mendalam akan kejadian ini. Begitu pun kepada para junior, hendaknya dinamika internal organisasi ini menjadi jalan kita untuk terus semangat berkarya dan untuk tidak ditiru jika satu saat nanti, kita menempati amanah yang cukup berat seperti itu.




Jika slogan Kepengurusan DPP HA IPB saat ini yang sangat saya kagumi  yaitu: "Salam Satu Hati" masih dirasa kontekstual, maka baiknya kita mengecek sanubari kita bersama, apakah benar kita masih punya hati? merujuk pada lirik nasheed yang sering diperdengarkan para aktivis kampus dulu

Hati kalau selalu bersih
Pandangannya akan menembus hijab
Hati jika sudah bersih
Firasatnya tepat karena Allah
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Politik praktis hendaknya dijauhkan dari lingkungan organisasi seperti Himpunan Alumni IPB dan lebih jauh lagi dalam internal lingkungan akademik seperti kampus tercinta Institut Pertanian Bogor. IPB adalah salah satu kampus yang terkena kebijakan liberal kampus sehingga harus menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara) yang harus / wajib memenuhi kebutuhan internal-nya yang merepotkan para civitas akademika di dalamnya. Janganlah kita sebagai alumni, menggunakan "kursi" atau "power" untuk menekan kebijakan internal kampus.



Salam Satu Hati, Satu IPB.



Muhammad Sirod
TIN18/F34
Ex. Sekjen Dewan Perwakilan Komisariat Fak. Teknologi Pertanian IPB  2012 - 2014