29 December 2018

Chica Kuswoyo: Mamaku Perempuan Luar Biasa

MAMAKU PEREMPUAN LUAR BIASA #1

Namaku Chicha. Aku lahir dari orangtua yang berbeda agama. Papaku, Nomo Koeswoyo, beragama islam dan masih keturunan Sunan Drajat, salah seorang Wali Songo. Seorang wali yang sangat terkenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Jawa Timur.

Mamaku seorang perempuan Kristen yang taat. Beliau masih berdarah Belanda. Dan banyak saudara-saudara dari pihak Mama yang menjadi pendeta. Walaupun berbeda agama, Papa dan Mama tidak pernah mempunyai masalah. Keduanya hidup berbahagia dan saling menghargai kepercayaan masing-masing.

Sejak kecil aku dididik secara Kristen. Seperti anak-anak Kristen lainnya, aku diikutsertakan di sekolah Minggu. Setiap kali pergi untuk melaksanakan kebaktian, Papaku sering mengantarkan kami ke gereja. Intinya, kami adalah keluarga yang sangat berbahagia. Baik hari Natal ataupun Hari Lebaran, rumah kami selalu meriah. Semua bersuka-cita merayakan kedua hari besar tersebut.

Usiaku sudah menginjak 16 tahun dan duduk di bangku kelas 1, SMA Tarakanita. Rumah tempat tinggal kami sangat berdekatan dengan masjid. Terus terang, aku sangat terganggu dengan suara azan, apalagi di saat magrib. Suara azan dari Toa masjid begitu keras dan sangat memekakkan telinga. Belum lagi suara azan dari televisi. Setiap kali azan magrib berkumandang, aku matikan televisi karena di semua chanel, semua stasiun menayangkan azan yang sama.

Di suatu magrib terjadilah sebuah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Ketika itu azan magrib muncul di layar TV. Seperti biasa aku mencari remote control untuk mematikan televisi. Namun hari itu aku tidak bisa menemukannya. Dengan hati kesal kutelusuri sela-sela sofa, kuangkat semua bantal, kuperiksa kolong meja tapi alat pengontrol jarak jauh itu tidak juga terlihat. Karena putus asa, aku terduduk di sofa lalu duduk menatap layar TV yang sedang menayangkan azan dengan teks terjemahannya. Lalu apa yang terjadi?

Sekonyong-konyong hatiku menjadi teduh. Baris demi baris terjemahan azan tersebut terus kubaca dan entah karena apa, hati ini semakin sejuk. Aku seperti orang terhipnotis dan tubuh ini terasa sangat ringan dengan perasaan yang semakin lama semakin nyaman. Di dalam benak ini sekan-akan ada suara yang berkata padaku, “Sampai kapan kau mau mendengar panggilanKu, Chicha. Sudah berapa tahun Aku memanggilmu, masihkah kau akan terus berpaling dariKu?”

Lalu aku menangis. Entah karena sedih, marah, bingung, galau, hampa, takut atau mungkin juga semua perasaan itu ada dan berbaur menjadi satu. Aku terus menangis tanpa tau harus melakukan apa.

Esok harinya, aku curhat pada adikku. Kami berdua memang sangat dekat satu sama lain. Adikku ini ternyata sangat berempati atas apa yang menimpaku. Dia tidak mengeluarkan satupun kata yang menyalahkan kakaknya bahkan dia berkata, “Aku akan support apapun kalau itu memang membahagiakan Kakak.”
“Terima kasih, Dik. Sekarang ikut, Kakak, yuk?”
“Ikut ke mana?” tanyanya.

Dengan diam-diam kami berdua pergi ke sebuah toko muslim yang letaknya tidak jauh dari rumah. Di sana kami membeli mukena, Kitab Suci Al’Quran dengan tafsir dan terjemahannya. Tidak lupa sebuah buku yang berjudul ‘Tuntunan Sholat’.

Sesampainya di rumah, kami berdua mempelajari cara berwudhu, melakukan sholat dan menghafal bacaannya. Setelah dirasa mampu, kami  berdua mencoba mendirikan sholat bersama-sama. Perbuatan kami tentu saja di luar pengetahuan kedua orangtua. Pernah suatu kali Mama mengetuk pintu dan sangat marah karena kami mengunci kamar dari dalam. Begitu mendengar teriakan Mama, secepat kilat kami membuka mukena dan menyembunyikannya di laci paling atas.
“Dengar, ya, Nduk! Kalian nggak boleh mengunci pintu kamar. Selama kamu tinggal di rumah Mama, kalian ikut peraturan Mama,” bentak ibuku dengan galak.

“Iya, Ma,” sahutku dengan suara perlahan karena tak ingin ribut dengan Mama apalagi kami sangat perlu menjaga kerahasiaan ini.

Waktu terus berlalu. Bulan Ramadhan pun datang. Tentu saja di bulan suci seperti ini, kami juga ingin melakukan puasa seperti muslim lainnya. Berpuasa dari waktu subuh sampai magrib sebetulnya sama sekali tidak sulit. Masalah yang lebih pelik datang setiap kali Mama mengajak makan bersama. Mama tentunya curiga karena kami berdua selalu menolak.

“Aku udah makan di sekolah tadi, Ma,” kataku dengan suara bergetar.

Mama menatap saya dengan tajam. Sepertinya dia telah mencium ada yang tak beres dengan kami berdua. Ketegangan pun terjadi. Buatku itu adalah saat yang sangat menegangkan sampai akhirnya Mama menghela napas panjang dan berkata, “Baiklah kalau begitu.”

Bulan penuh rahmat berlalu. Suara takbir yang begitu merdu di telinga berkumandang. Idul Fitri adalah hari kemenangan dan kami tidak mau kehilangan momen untuk sholat bersama Jemaah yang lain. Aku dan Adikku berdiskusi menyusun strategi bagaimana cara pergi ke masjid tanpa sepengetahuan orang rumah.

Esok harinya, sekitar jam 6.30 pagi, kami mengendap-endap membuka membuka pintu depan. Setelah itu membuka pagar sampai terbuka lebar. Kami berdua mendorong mobil dalam keadaan mesin mati supaya tidak terdengar oleh orangtua kami yang masih tenggelam dalam nyenyak. Pada satpam yang menjaga rumah, aku berpesan, “Kalau ada yang tanya, bilang kami mau latihan basket, ya, Pak?”
“Siap, Non!” kata Sang Satpam entah curiga atau tidak.

Setelah mobil dirasa cukup jauh, aku menghidupkan mobil dan meluncur langsung ke masjid terdekat. Sesampainya di sana, banyak tetangga-tetangga menatap kami dengan paras keheranan. Mereka tentu saja bingung karena semua orang tau bahwa aku beragama Kristen. Bahkan barisan ibu-ibu yang duduk tepat di depan kami langsung mendekatkan kepalanya dan berbisik kepada kami.

“Cha, ngapain kamu di sini? Sholat Idul Fitri itu buat kaum muslim. Kamu kan Kristen?”
Aku cuma tersenyum dan tidak berusaha menjawab. Sementara ibu-ibu lain terus berkasak-kusuk sambil menengok bahkan ada yang menunjuk-nunjuk ke arah kami.  Kami bergeming dan tidak mempedulikan sikap orang yang merasa aneh dengan kehadiran kami. Dan akhirnya sholat Idul Fitri dapat kami ikuti dengan sukses. Dengan hati berbunga-bunga kami kembali pulang. Alhamdulillah.

Baru saja sampai di depan pagar, di depan rumah telah berdiri Papa dan Mama. Mereka membantu membuka pagar, membuka pintu mobil lalu Mama langsung menlontarkan pertanyaan tanpa basi-basi.

“Dari mana kalian?” tanya Mama dengan suara keras.

“Abis latihan basket, Ma,” sahutku. Kami berdua memang telah berganti pakaian dan semua mukena dan sajadah sudah dimasukkan ke dalam tas dengan rapih.

“Kalian jangan berbohong, ya? Mama menangkap ada yang aneh dengan kalian berdua,” kata Mama lagi.

Aku menatap Mama yang nampak sangat kesal. Sementara Papa cuma cengar-cengir bahkan mengedipkan sebelah matanya pada kami.

“Kami latihan basket, Ma. Masa Mama gak percaya sama anak sendiri?” kata adikku.

Rupanya omongan Adik membuat hati Mama tersentuh juga. Seperti sebelumnya, dia menatap kami bergantian dengan tajam, menghela napas panjang lalu berkata dengan suara halus, “Hmm…baiklah kalau begitu.”
“Yuk, kita ke atas, Ma,” kata Papa sambil menggamit tangan Mama untuk mengajaknya pergi dari situ. Sebelum masuk ke dalam rumah. Papa sempat-sempatnya menengok ke arah kami dan mengedipkan sebelah matanya sekali lagi sambil tersenyum dengan paras jail...

Aku masih termangu-mangu di depan rumah. Kecurigaan Mama mulai menghantui perasaanku. ‘Sampai berapa lama aku bisa mempertahankan rahasia ini?’ tanyaku dalam hati. ‘Daripada Mama yang menemukan rahasia ini, bukankah beliau lebih baik mengetahui semuanya langsung dari anaknya sendiri?’

“Mama!” Aku memanggil dan mengejar Mama yag sudah berada di dalam rumah.
Mama dan Papa membalikkan badan dan menunggu apa yang akan disampaikan anaknya. Kembali kediaman berulang. Sesaat aku gentar hendak menyampaikan berita ini.
“Ya, Cha?” Kamu mau ngomong apa?” tanya Papa.

Keheningan kembali mendominasi. Bibirku bergetar. Semua kata dalam tenggorokan telah berkumpul dan berdesak-desakan untuk keluar dari bibir. Aku masih diselimuti kebimbangan. Ngomong, jangan, ngomong, jangan, ngomong, jangan….

“Chicha masuk Islam, Ma. Chica masuk Islam, Papa. Chicha minta maaf tapi Chicha mendapat hidayah dan tidak bisa menolak panggilan itu.” Akhirnya tanpa dikendalikan oleh otak semua kata terlontar begitu saja.

‘Alhamdulillah!” Di luar dugaan Papa berteriak kegirangan mendengar berita tersebut. Tidak cukup melampiaskan kegembiraannya dengan cara itu, beliau langsung berlutut di lantai dan melakukan sujud syukur atas hidayah yang didapat anaknya. Melihat sikap Papa, aku tentu saja menjadi lebih tabah. Dengan penuh harap, aku memandang Mama, berharap mendapat dukungan yang sama.

Mama menatapku dengan pandangan tidak percaya. Matanya melotot, dadanya kembang kempis dan bibirnya bergetar hebat.

“Hueeeeek…!!!!” Tanpa diduga tiba-tiba Mama muntah darah dan tubuhnya sempoyongan, untungnya Papa dengan sigap menangkap tubuh Mama dan mendudukkannya di sofa.
“Mamaaaaaa….!!!” Aku menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak sedih? Tidak ada kesedihan yang paling menyakitkan kecuali mengetahui bahwa kita telah menyakiti hati ibu kita sendiri.



MAMAKU PEREMPUAN LUAR BIASA #2

Papa mengurus Mama dengan telaten. Perlahan-lahan kesehatan Mama berangsur-angsur membaik. Tapi sejak peristiwa itu, Mama tidak mau lagi berbicara denganku. Selama ini, Mama dan aku hubungannya sangat dekat. Melihat Mama bersikap seperti itu, aku sedih sekali. Berkali-kali aku mengajak Mama berbicara tapi beliau tidak menyahut sehingga aku memutuskan untuk mengalah dan membiarkannya sendiri. Itu adalah salah satu periode hidup yang paling menyiksa buatku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa pasrah dan menunggu perubahan sikap Mama.

Bulan demi bulan berlalu. kami masih belum berkomunikasi satu sama lain. Mama sering meninggalkan rumah. Entah kemana. Aku nggak berani bertanya, takut malahan membuatnya lebih marah. Sudah 3 bulan aku tidak berbicara dengan Mama. Hari-hari yang kuhadapi sering aku isi dengan mengurung diri di kamar sambil membaca sejarah para Nabi. Terutama kisah-kisah Rasullulah yang membuatku semakin mantap menjadi seorang muslim.

BRAK! Tiba-tiba pintu kamar dibuka dengan suara keras. Aku menengok dan terlihat Mama masuk dengan membawa sebuah kotak yang cukup besar. Parasnya dingin dan sulit ditebak apa yang ada di pikirannya.

“Nduk, Mama mau tanya. Kamu harus menjawab dengan tegas!” katanya.
“Iya, Ma,” sahutku dengan suara hampir tak terdengar. Dalam hati aku bersorak karena akhirnya Mama mau berbicara lagi.
“Kamu sudah mantap mau masuk islam?” tanyanya lagi tanpa basa-basi.
“Mantap, Ma. Chicha rasa ini benar-benar panggilan Allah,” jawabku pelan tapi tegas.
“Okay, kalau begitu,” kata Mama lalu dia mengangsurkan kotak yang dibawanya ke tanganku.

Dengan terheran-heran, aku menerima kotak tersebut, “Apa ini, Ma?”
“Nggak usah banyak tanya. Kamu buka aja kotak itu sekarang juga.”

Dengan gerak perlahan, aku membuka kotak tersebut. Masya Allah! Ternyata isinya adalah Kitab Suci Al Quran, mukena, kerudung, buku-buku agama Islam yang lumayan tebalnya. Aku menatap Mama dengan pandangan bertanya.
Mama membalas menatapku dengan tajam, “Kalau kamu ingin menjadi Islam, be a good one!”

Mendengar perkatannya, aku menangis dan menghambur ke pelukan Mama. Mama memeluk aku seerat yang dia bisa. Tangisku makin menjadi-jadi dan membasahi baju Mama di bagian dada.

Setelah tangis mereda, Mama bertanya lagi, “Kamu sudah resmi masuk islam?”
“Chicha udah ngucapin dua kalimat syahadat, Ma.”
“Disaksikan oleh ustad atau Kyai?”
“Nggak sih, Ma. Chicha ngucapin sendiri aja.”
“Berarti kamu belum resmi masuk Islam. Besok Mama akan antar kamu ke Mesjid Al Azhar di Jalan Sisingamangaraja. Mama udah bikin janji dengan Kyai di sana untuk mengislamkan kamu.”
“Huhuhuhuhuhu…” Aku nggak sanggup untuk mengatakan apa-apa kecuali memeluk Mama lagi sambari menangis menggerung-gerung. Setelah perlakuan Mama yang mendiamkan aku selama tiga bulan, siapa sangka Mama akan bersikap begini akhirnya. Mamaku memang luar biasa.

Esok harinya, di Mesjid Al Azhar, aku resmi memeluk agama Islam di usia 16 tahun. Ah, bahagianya sulit dilukiskan. Setelah ritual mengucapkan dua kalimat syahadat berakhir, aku menarik Mama untuk menuju ke mobil dan kembali pulang ke rumah.

“Eh, tunggu dulu, Nduk. Sekarang kamu harus ikut Mama ke belakang.”
“Ke belakang mana, Ma?” tanyaku keheranan.
Ke SMA Al Azhar. Kamu harus pindah sekolah ke sana.”
“Loh? Kenapa harus pindah? Chicha udah betah sekolah di Tarakanita. Semua teman-teman Chicha ada di sana. Chicha nggak mau pindah.”
“Nduk! Denger kata Mama. Kalau kamu serius pindah ke Islam, kamu nggak boleh setengah-setengah.”
“Maksudnya gimana, Ma?”
“Tarakanita itu sekolah Kristen. Kalau kamu pindah Islam maka kamu harus bersekolah di sekolah Islam. Sekali lagi Mama bilang, kamu nggak boleh setengah-setengah. Ini peristiwa besar dan pilihan hidup kamu. Mama mau kamu total dalam menyikapi pilihan kamu sendiri.”

Lagi-lagi sikap Mama membuatku kagum bukan main. Sepertinya dia telah mempersiapkan semuanya dengan baik dan terencana.

“Mama kok bisa-bisanya punya pemikiran seperti ini?” tanyaku penasaran.
Mama menghela napas panjang lagi lau berucap, “Sejak kamu mengatakan mau masuk Islam, Mama sering berkonsultasi dengan teman Mama yang muslim. Mama minta pendapat dia dan dia banyak menasihati Mama soal ini.”
“Oh, pantes Mama sering pergi belakangan ini. Biasanya kan Mama selalu di rumah.”
“Iya, Cha. Mama butuh support dan teman Mama itu sangat membantu sehingga membuat Mama jauh lebih tenang.”
“Kalau boleh tau, teman Mama siapa namanya?” tanyaku lagi.
“Namanya Doktor Zakiah Darajat.”
“Itu temen Mama? Wah dia orang hebat di kalangan Islam, Ma.”
“Betul. Nama belakangnya mirip dengan Sunan Drajat, leluhur Papa kamu. Jadi setelah kamu resmi masuk Islam, rasanya kamu juga perlu berziarah ke makam beliau.”

Sekali lagi aku memeluk Mamaku. Jadi selama tiga bulan ini, dia mendiamkan anaknya bukan karena hendak mengacuhkan tapi beliau tidak tau harus bersikap bagaimana. Beliau hendak mencari penerangan pada apa yang terjadi pada anaknya. Sudah pastilah Mama kebingungan tapi akhirnya setelah mendapat pencerahan dari Doktor Zakiah Darajat, Mama sekarang malah mendukung pilihan anaknya. Pilihan anak yang berbeda dengan keyakinannya. Ah Mamaku memang luar biasa.

Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya aku hendak mengajak Mama untuk turut memeluk agama Islam. Tapi aku mengurungkan niat itu. Apa yang terjadi padaku pastilah sudah berat buat Mama. Bagaimana mungkin aku mampu mempengaruhinya sementara saudara-saudaranya banyak yang menjadi pendeta. Beban Mama sudah sangat berat. Semua butuh waktu. Kalau memang Allah SWT mengizinkan, apa yang untuk manusia pikir tidak mungkin pastinya akan terjadi jika Allah berkehendak.

Waktu berjalan tanpa pernah berhenti. Dengan hati tenteram, aku menjalani hidup sebagai perempuan muslim. Tahun 2002, Mama meninggal dunia. Tiga bulan sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, beliau juga menjadi mualaf dan memeluk agama Islam. Alhamdulillah! Terima kasih, ya, Allah. Ah Mamaku memang luar biasa.

Selamat Hari Ibu buat semua perempuan hebat di Indonesia!

~~~ Komentarku:

Dua paragraf pertama itu menjelaskan kalau Papanya lebih cinta mamanya daripada Tuhan dan Agamanya, karena berani melawan larangan Islam dengan menikahi wanita non muslim, dan itu biasa di pasangan sekuler. Ditambah dengan agama anak-anaknya yang menjadi kristen di masa kecilnya membuktikan kualitas leadership papanya yg lemah, kalah oleh pengaruh istrinya, karena cinta? Pilihan sekolah kristen di masa kecil di masa Chicha Kuswoyo mungkin bisa difahami karena sekolah-sekolah itu sangat bermutu, bahkan sampai sekarang. Bedanya, sekarang sekolah Islam juga banyak yang unggul.
Pada bagian Chicha masuk islam lebih banyak membahas kejadian masuk islamnya, deskriptif sekali mengaduk2 emosi pembaca, pintar dia, cocok sekali jadi Politisi sekarang hehehe. Chicha masuk islam dari kesadaran makna panggilan adzan, tapi logic dan "mistis"-nya mustinya bisa dijelaskan. 
Orang masuk islam itu banyak caranya, Tamara Blezinsky masuk islam "cuma" melihat ada bulan dan bintang yg berpadu mirip lambang di atas moncong masjid..  ada professor di perancis masuk Islam hanya karena mengamati perilaku seks pada pasangan babi, ada juga di intelektual di australia masuk islam karena hanya mengamati dan mempelajari cara memotong kuku di Islam.
Kalimat pada paragraf di mana papanya senang bukan main mengetahui anak perempuannya masuk Islam dan sebaliknya mama Chica muntah darah dan sakit sampai 3 bulan, adalah pelajaran dan hikmah yang kita dapatkan terhadap keagungan aturan pernikahan dalam Islam, ternyata kompleks sekali masalah nikah beda agama ini. Bagaimana kalau mama Chica kemudian meninggal karena Islamnya Chica? menjadi fitnah yang sangat besar. 
Tulisan kemudian ditutup dengan masuk Islamnya mama Chica, tulisan yang indah menginspirasi...

07 October 2018

Pindah ke Telegram dan Linkedin

Akun influencer Linkedin favorit saya milik Om Oleg Vishnepolsky yang selalu inspiratif
Akhir-akhir ini content dari whatsapp group penuh dengan diskusi politik (dari dulu sih). Saya sendiri adalah pelaku pembuat grup politik tsb salah satunya. Saya rawat dan kembangkan grup-grup tersebut sebagai salah satu alat untuk mendapatkan informasi kekinian soal politik, baik politik kebangsaan sampai kebangsatan, Politik adiluhung sampai politik ajimumpung dari politik praktis sampai politik najis. 

Menjalani sebagai seorang pebisnis saya memerlukan asupan-asupan positif. Untuk itu saya mulai mencari ruang-ruang sosial digital yang baru. Jawabannya adalah Telegram dan Linkedin ternyata, mengapa? karena kanal-kanal digital di internet seperti Facebook, Twitter dan bahkan termasuk Instagram skrg dipenuhi content-content politik. Mau gak mau ketika kita menonton atau menyimaknya kita akan terbawa suasana negatif. Persis seperti pagi ini, saya misuh-misuh karena mendapati fakta yg saya baca dari salah satu grup WA bahwa negara (menteri sosial) kehabisan uang untuk dana bencana, sementara di sisi lain di Bali terjadi pesta pora penyambutan tamu-tamu dari International Monetary Fund dan World Bank secara luar biasa. Wajar sih kalau otak bisnis melihat hal ini, kalau duit negara dibagi-bagikan ke korban bencana kita sebut cost, tapi kalau dibuat pesta meriah menyambut para pemberi pinjaman, banker-banker luar negeri kita bisa sebut investasi. Saya sampaikan argumen saya tsb kepada beberapa grup yang banyak para pendukung pemerintah-nya, agar common sense mereka tetap menyala dalam hati sanubarinya, karena saya gak yakin para elit dan pejabat tinggi kita masih memiliknya.

Kembali ke medsos tadi, Linkedin, platform jejaring sosial yang tadinya diperuntukkan untuk para pencari kerja profesional di India ini telah dibeli Microsoft, ia juga terkoneksi dengan Linda.com (situs penyedia training berkualitas) dan Slideshare.net yaitu situs medsos penyedia slide presentasi. Saya mulai mengalihkan jam-jam internet saya pada linkedin karena banyak para pesohor di dunia bisnis & profesional memanfaatkan linkedin untuk empowering sesamanya.

Begitu juga Telegram, platform internet chat gratisan ini menurut saya arsitekturnya jauh lebih baik daripada whatsapp, selain ringan karena didesain berbasis cloud sehingga tidak memakan banyak memori HP kita, Telegram juga memberikan fitur-fitur lebih luas dalam pilihan grup atau personal sebagaimana Facebook dengan FB Group dan FB Fanpages. Saya sudah 2 kali ini memberikan kulgram (kuliah di Telegram) atau Sharegram (sharing di Telegram) di sebuah jejaring bisnis besutan Dewan Pengurus Cabang (DPC) HA IPB Bogor. Saya sangat bersemangat karena dengan adanya telegram ini kebutuhan saya untuk "Belajar sambil Mengajar" terpenuhi, yg dalam platform lain terasa kurang pas, misalnya Whatsapp (karena berat, member sedikit, dan fitur admin yg terbatas). Bisa saja sharing di Instagram atau Facebook dengan Live Video Streaming, tetapi jauh lebih boros data internet dan terkadang saya merasa "kurang PD" melakuan sharing dengan video seperti itu hehehe..

Sesi sharegram/kulgram yang baru saja selesai semalam di salah satu forum daring yg dikelola DPC HA IPB


So, saya sarankan mari kita pindah beramai-ramai ke Telegram dan Linkedin, karena lebih banyak manfaat untuk membangun bangsa ini. Tapi saya tetap menunggu kawan-kawan aktivis pergerakan dan penyuka topik2 politik baik di Twitter ataupun Facebook lho hehehe..

Kang Sirod

25 September 2018

Perlambat Dirimu, perkuat keluargamu.

"If you want to go FAST, go alone; but if you want to go FAR, go together"
- African Proverbs.

Sering memperlambat kecepatan bisnis? Saya sering. Kenapa? banyak jawaban, di antaranya dikarenakan sekeliling kita gak siap. Entah istri dan komponen keluarga besar, entah pula karyawan dan sistem atau bahkan market di depan mata.

Pilihan memperlambat laju bisnis, menunda akselerasi  ekspansi atau membatalkan membuka market baru adalah pilihan-pilihan yang sering saya lakukan dikarenakan faktor-faktor ketidaksiapan. Apakah itu sebuah kemunduran? kegagalan? atau bukti saya tidak adaptif pada perubahan? bisa disimpulkan begitu, tetapi saya memilih memberikan alasan lain, bukan mencoba defensif dan excuse karena jawaban yang masuk akal: saya memilih kemajuan jangka panjang dan berakar pada hati orang-orang di sekeliling saya.

Seperti catatan ini misalnya, saya buat di Lt. 8 foodcourt Blok A tanah abang di mana denyut bisnis kuliner mengimbangi kecepatan bisnis fashion di tanah air yang mengular sampai manca negara. Saya tidak bisnis fashion, juga (belum) kuliner. Tapi saya berada di sini karena musti mengantar istri saya tercinta belanja barang dagangannya. Mumpung ini tanggal ganjil, sehingga satu-satunya kendaraan roda empat keluarga kami dapat dengan tenang menelusuri jalanan ibu kota yang kian padat. Karena pilihan ini, saya musti membatalkan satu pertemuan dengan EO besar mendiskusikan perkara penting dengan asosiasi yang saya kelola bersama teman-teman praktisi air.

Mengapa saya men-support bisnis istri saya yg secara cash-flow gitu-gitu aja? secara model bisnis kuno, dan secara ilmu manajemen gak kongruen dengan model manajemen manapun, eh kecuali model bisnis tukang sate pada umumnya, yg dari mulai motong daging, bumbuin, kipasin, sampai menyanjikan ke pelanggannya dilakukan oleh dirinya sendiri! Saya rela memperlambat denyut bisnis saya yg ribuan kali lipat kapitalisasinya dibanding bisnis yg saya geluti karena saya ingin saya melakukan apa-apa yg sangat baik dilakukan istri saya seperti: memilih baju (material) yg terbaik (cepat laku), konsisten membeli baju (supplier) tertentu (langganan), mencatat pembelian dan pengeluaran (accounting) dengan disiplin lalu memisahkan keuangan antara pribadi, keluarga dan dagangan sampai mensupport bisnis saya yg terkadang jatuh karena kekurangan cash.

Nah, alasan terakhir itu paling rasional bagi saya. Jadi ketika kita jatuh dikarenakan cashflow berdarah-darah (bleeding), orang-orang di sekitar kita masih sanggup menolong. Kita musti menjaga keikhlasan sekeliling kita untuk menolong kita, karena pertolongan dalam bisnis selalu take & give, orang (lain) hanya akan menolong jika dipandang kita worth bagi mereka dan bisa memeberi balik dirinya di saat mereka membutuhkan. Dengan menjaga independensi anda, bahkan ketergantungan kepada istri anda sendiri, lalu selalu memberikan giving lebih tinggi dan lebih banyak akan membuat bisnis anda lambat, tapi pada hakekatnya akan memperkuat pijakan langkah bisnis anda ke depannya.

Cobalah kurangi kongkow2 anda bersama komunitas bisnis jika secara jujur anda meyakini impact pada bisnis anda gak efektif, kurangi nongkrong dengan jejaring netizen politik jika mereka hanya bagian dari buzzer dan komunitas pengharap ratu adil dan kelompok pengiba fiksi. Begitu banyak "penyakit" dalam masyarakat kita tumbuh dikarenakan kesulitan ekonomi, kita jangan memperparah dengan membuang-buang waktu dalam kelompok tak bermutu. Lebih baik perlambat bisnis kita untuk support orang-orang terkasih dalam lingkungan kita sendiri. Berdaya diri, berdaya keluarga inti. Jika fondasi sudah kokoh, bolehlah kita teriak:  "ummati.. ummatii.."

Jakarta, 25 September 2018

18 September 2018

Layanan Logistik untuk UKM

Layanan jasa transportasi sekarang ini berubah total sejak ada Grab dan Uber di belahan dunia. Di Indonesia, kita bersyukur memiliki Go-Jek sebagai layanan transportasi online yang sepertinya berhasil "melawan" dominasi Grab dan Uber. Go-jek awalnya hanya melayani jasa antar penumpang menggunakan sepeda motor. Pilihan sepeda motor mungkin karena saat itu dianggap paling mudah dikelola, murah dari sisi partner-driver karena cukup menyediakan sepeda motor (range harga sepeda motor di 15-20 juta saja), potensi market yang besar serta tidak adanya regulasi yang mengatur jenis layanan transportasi di negara kita. 

Sejalan waktu, Go-Jek memberikan layanan yang semakin berkembang dan semakin lengkap. Mulai dari layanan massage on the spot, layanan antar makanan, jasa taksi online, jasa kirim barang dan jasa beli obat. Untuk jasa kirim barang, saya tertarik menggunakan layanan Same Day Delivery-nya yang relatif murah dibanding jasa kirim barang seketika. Jasa ini saya gunakan bilamana saya memiliki kelonggaran waktu dalam project yang saya kerjakan dan volume barang yg ingin dikirim berukuran kecil. Fitur inilah yang ingin saya bahas dan semoga pembaca melihat ini sebagai alternatif pengiriman yang menopang bisnis yang dijalankan.

Pesanan barang dari satu supplier di daerah Mangga Besar Jakarta ke Srengseng Sawah, Jagakarsa, hanya 15 ribu rupiah
Tapi aplikasi tetaplah aplikasi. Algoritma atau design thinking aplikasi yang bersangkutan, kehebatan investor Go-Jek (start-up ini pernah dibeli oleh SEQUIA - pemodalnya Microsoft & Apple - pun tak lepas dari bugs dan kelemahan-kelemahan layanan. Contohnya saya pesan untuk mengantarkan barang kemarin sore, prediksi dalam aplikasi Go-Jek pick-up time akan berkisar pada maksimum pukul 16.10, gak taunya pukul 16.20 masih belum tiba juga, yang artinya harus saya cancel karena pukul 16.30 si toko sudah siap-siap tutup dan harus fokus mengerjakan pembukuan harian. Hari ini Selasa, 18 September 2018 saya pesan lagi pukul 08.01 agar bisa punya range waktu yang lebih lama. Setelah saya cek ke toko penjual barang yang saya pesan, gak taunya belum juga diambil, padahal saat tulisan ini dibuat waktu telah menunjukkan pukul 16.24. You pay peanuts, you get monkey! 😠

Pesanan berikutnya yaitu dua barang saya beli di kawasan Salemba. Ada dua titik di dua toko berbeda. Saya pesan dari jam 08.40-an, alhamdulillah layanan yang saya gunakan yaitu Deliveree, cepat responnya dan sudah tiba di lokasi, bahkan 1,5 jam dia sudah nongkrong padahal toko-toko di kompleks trade center tsb belum buka. Alhasil saya harus membayar biaya tunggu Rp 20.000,- untuk 1/2 jam, karena 1 jam digratiskan oleh pengelola Deliveree, dan saya tentunya harus menggantibiaya parkir juga. Total 200.000,- yang kami bayarkan dengan rincian 160.000 biaya transport, parkir 14 ribu rupiah serta biaya tunggu. 
Layanan tampilan "real time location" Deliveree
Deliveree lebih murah dibanding layanan pesan antar barang menggunakan mobil milik Go-Jek yaitu Go-Box. Untuk itu saya akan memilih menggunakan aplikasi ini terlebih dahulu, kecuali jika driver not-available, maka terpaksa menggunakan jasa lain yang lebih mahal. Layanan aplikasi transportasi online dari Thailand ini sedikit demi sedikit diperbaiki rupanya, sehingga makin memanjakan para penggunanya. Tadi saat saya bertanya soal biaya tambahan "waktu tunggu", si Customer Service rupanya menjelaskan ada layanan untuk korporat atau bisnis. Di mana kita bisa membayar layanan di akhir bulan, wah menarik sekali. Semoga saja produk jualan filter air rumah tangga kami lebih laris lagi sehingga bisa rutin menggunakan jasa Deliveree. 

Demikian sedikit share saya untuk rekan-rekan pengusaha, semoga dapat bermanfaat. Kita tidak perlu menyicil kendaraan niaga untuk jasa layanan antar sekitar Jabodetabek. Cukup gunakan layanan online transportasi seperti ini saja. Lebih mudah, murah dan bebas beban investasi. 


Salam ngopi-ngopi.. 🍵


03 September 2018

JOUSAIRI HASBULLAH: Pelajaran dari Demografi Masa Kolonial

Pelajaran dari Demografi Masa Kolonial
JOUSAIRI HASBULLAH , Kompas Opini
3 September 2018
 
Hasil Sensus Penduduk 1930, di masa kolonial, memberi banyak pelajaran. Betapa bangsa yang besar, tetapi dengan mudah dikuasai oleh bangsa kecil. Terlepas dari pemberontakan yang heroik di beberapa tempat, secara umum anak-anak bangsa ini, dari perspektif demografis, ”dengan gembira” mendukung penjajah. Mengapa hal ini terjadi?

Pelajaran sejarah selama ini tidak pernah menyajikan data bagaimana distribusi dan komposisi demografis penduduk penjajah di tanah jajahan dan apa maknanya. Bidang keilmuan sejarawan memang bukan mengandalkan data kuantitatif. Sebaliknya, bagi statistisi, data kuantitatif sangat menarik, misalnya dalam menelaah laporan yang terhimpun dalam ”Volkstelling: Overzicht Voor Nederlandsch-Indie” 1930. Publikasi statistik ini memperlihatkan tidak saja sekadar angka penduduk, tetapi juga mentalitas kita sebagai bangsa yang lemah.

Penduduk”Nederlandsch-Indie”

Armada VOC datang ke Nusantara hanya membawa ratusan orang, dipimpin oleh Cornelis de Houtman tahun 1596. Mereka dengan mudah mendarat dan disambut dengan damai. Pada tahun 1622 VOC memiliki 143 anggota pasukan keamanan. Dari jumlah itu, hanya 57 orang Belanda, sisanya adalah tenaga bayaran dari sejumlah negara di Eropa.

Tahun 1674 penduduk Jawa telah mencapai 3 juta orang. Batavia waktu itu telah dihuni oleh 27.068 penduduk; dan jumlah penduduk Eropa—yang terdiri atas beragam asal-usul karena pegawai VOC direkrut dari sejumlah negara—sebanyak 2.024 orang saja.

Penguasaan VOC kemudian diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Setelah lebih dari 300 tahun bercokol di Indonesia (Nederlandsch-Indie), tahun 1930 jumlah penduduk Indonesia berkembang pesat mencapai 60,7 juta jiwa, dengan komposisi 59,1 juta penduduk pribumi (inlanders), 240.417 orang Belanda dan turunan Eropa lainnya, keturunan China berjumlah 1,2 juta jiwa (lima kali lipat jumlah orang Belanda), sisanya penduduk keturunan Arab dan lainnya.

Dari total 240.000-an penduduk Belanda di Indonesia, 193.000 orang tinggal di Pulau Jawa. Sedikit sekali yang menyebar di luar Jawa. Di seluruh Sumatera yang berpenduduk 8,2 juta jiwa, hanya 28.496 orang Belanda. Di Kalimantan dan Sulawesi yang jumlah penduduknya telah mencapai 6,4 juta jiwa, hanya 14.000 orang Belanda, termasuk bayi dan orangtua.

Penduduk Belanda (dan turunan Eropa lainnya) umumnya terkonsentrasi hanya di beberapa kota besar, seperti Jakarta (37.100 orang), Surabaya (25.900), Bandung (19.600), Semarang (12.600), Malang (7.400), dan Bogor/Buitenzorg (5.200). Di luar Jawa hanya tiga kota yang penduduk Belanda-nya lebih dari 2.000 orang, yaitu Medan (4.300), Padang (2.600), dan Makassar (3.400). Selebihnya, penduduk Belanda menyebar dalam jumlah yang sangat kecil.

Sekadar contoh, di Bekasi yang jumlah penduduknya pada tahun 1930 telah mencapai 202.000 jiwa, hanya ada 22 penduduk Belanda (sekitar lima rumah tangga). Di wilayah-wilayah kecil lainnya: di Menggala Lampung ada delapan penduduk Belanda, di Tandjung Balai hanya ada 10 orang, Kotagede-Yogya 22 orang. Angka-angka ini memberi makna, penduduk Belanda berani tinggal di bagian mana pun wilayah Indonesia walaupun hanya 2-3 keluarga.

Tidak mungkin mereka berani kalau tidak ada kenyamanan, dukungan, dan penghargaan dari penduduk di mana mereka tinggal. Kemungkinan lain, pribumi takut mengganggu karena walau tidak ada tentara Belanda, tetapi aparat desa, polisi, dan tentara pribumi yang bekerja untuk Belanda jumlahnya sangat banyak dan menekan.

Dijajah tentara sendiri

Tahun 1930, sebagian anak bangsa ini tengah bangkit nasionalismenya, terutama setelah Sumpah Pemuda tahun 1928, tetapi sebagian besar penduduk yang sudah relatif terdidik justru masih nyaman mendukung pemerintah penjajah. Mereka yang telah melek huruf, dapat membaca huruf Latin, sebanyak 6,4 persen dari total penduduk.

Mereka ini, 274.802 orang, menjadi aparat desa yang membantu penuh pemerintahan penjajah. Birokrasi pemerintahan Belanda, di luar pemerintahan desa, digerakkan oleh pribumi. Dari 80.000 pegawai pemerintah, 70.000 (69.939 orang) adalah pribumi dan hanya 8.235 orang Belanda dan 2.360 turunan China. Pribumi telah menjadi alat terpenting.

Apa yang mencengangkan kita adalah kekuatan tentara Nederlandsch-Indie berjumlah 45.740 orang. Dari jumlah tersebut, 37.704 orang atau 82,4 persennya adalah pribumi. Di Jawa hanya  6.637 tentara Belanda dan  26.026 tentara yang pribumi. Di luar Jawa jumlah tentara Belanda lebih kecil, 1.378 orang, dan pribuminya 7.594 orang. Seluruh polisi di Nederlandsch-Indie (Indonesia) berjumlah 35.840 orang, 34.340 orang atau 95,8 persen adalah pribumi.

Angka-angka yang disebutkan ini sangat meyakinkan kita bahwa Indonesia dijajah oleh tentara dan polisi anak bangsa sendiri. Satu keluarga Belanda dapat tinggal di mana saja karena tentara dan polisi yang orang pribumi ada di mana-mana.

Modal sosial yang lemah 

Mudahnya VOC masuk dan ”disambut damai”, kolaborasi antara elite lokal dan penjajah, dan dukungan sebagian besar rakyat yang relatif terdidik mengukuhkan ratusan tahun penjajahan. Kenyataan ini tidak dapat dipisahkan dari fenomena rendahnya modal sosial penduduk di Nusantara.

Ciri modal sosial yang rendah, masyarakat tercerai-berai dan jatuh ke dalam setidaknya tiga jenis krisis: krisis kepercayaan antarsesama, krisis empati, dan krisis kemanusiaan. Krisis akibat modal sosial yang rendah di awal masa VOC tersebut tampaknya terus berlanjut hingga kini!

Mari kita tengok ke dalam. Krisis kepercayaan telah membuat kita saling curiga antar-anak bangsa. Krisis empati membuat kita ”tega” dan kurang peduli akan situasi yang dialami saudara kita yang lain. Krisis kemanusiaan menyebabkan kita tak saling mencintai antarmanusia.

Akibat dari ketiga jenis krisis budaya ini, masyarakat dari dulu hingga sekarang jatuh dalam suasana mirip dengan apa yang disebut oleh Alberto Melucci sebagai krisis identitas: homelessness personal identity (ketunawismaan identitas diri).

Masyarakat kehilangan orientasi nilai dan juga kehilangan otonominya. Sistem pemerintahan dan organisasi sosial masyarakat—sebelum datangnya penjajah, masa penjajahan, dan setelah merdeka—yang totaliter telah memberangus segala bentuk kreativitas, kemandirian, perasaan berharga (sense of efficacy), dan kebersamaan dalam masyarakat. Hanya dengan ratusan tentara, penjajah dapat menaklukkan Nusantara.

Indonesia baru saja memperingati HUT ke-73 kemerdekaannya. Namun, setelah 73 tahun merdeka, kita tampaknya masih gagap untuk keluar dari suasana ketercerai-beraian. Budaya saling menghujat, saling menjatuhkan, dan saling fitnah terwarisi turun-temurun sejak masa awal VOC sampai hari ini.

Kita mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, membangun infrastruktur, dan meningkatkan tingkat pendidikan, tetapi ketika modal sosial yang ada di masyarakat lemah, sepertinya ada bom waktu yang bukan tidak mungkin akan memperlemah bangsa ini. Jangan sampai penjajahan bentuk lain oleh sekelompok kecil orang mengulang sejarah masa lalu kita. Dirgahayu Indonesia.

Jousairi Hasbullah Statistisi Pensiunan BPS; Lulusan Flinders University, Australia