22 November 2016

Ayo Jujur Buktikan Kita Rawat NKRI!


Oleh: Erie Sudewo, Pendiri Dompet Duafa

Sekarang saya ada di Bandung. Pelesiran? Bukan. Ada sesi sharing Senin malam. Saat bicara, jujur, kadang saya sulit bedakan fakta dan opini.

Fakta obyektif, sunatullah apa adanya. Sedang opini, subyektif dong. Ada sesuatu di balik opini. Fakta tak boleh ditambah atau dikurangi. Saat fakta ditafsir, jadilah opini. Saat tafsir menafsir, nafsu menelisik.
Tuan dan puan, begitu yang terjadi belakangan ini. Retorika opini tersaji memukau. Kepiawaian mainkan kata, lebih dihargai ketimbang fakta.

Inilah das sein dan das sollen. Antara kulit dan isi. Yang pertama menarik dari manusia jelas tampilannya. Sama seperti buah. Kulit jadi penentu pertama dibeli tidaknya buah. Ketika isinya masam, sumpah serapah jadi konsekuensi.
Simak baik-baik. Negeri ini sedang diracuni. Dan ada media masa yang naga-naganya bermain. Dalam sajikan fakta, "jas merahlah". Jangan lupakan sejarah.

Yang paling dan amat berjasa lahirkan Indonesia itu siapa? Para founding fathers. Tapi tanpa ulama dan tokoh Islam, apa founding fathers bisa teguh hati?

Andai Jenderal Soedirman bisa longok kembali negeri ini, apa yang bakal dia jawab atas pertanyaan di bawah ini: “Ketika bergerilya, dimana anda bermalam: Di toko, atau di tokoh yang siapkan rumah di kampung?” Siapa kira-kita tokoh yang di kampung itu.

Toko jelas perlu. Tokoh lebih jelas lagi. Namun apakah Jenderal Soedirman dan tokoh pergerakan nginap di toko kelontongan ? Dalam kondisi normal, pedagang untung. Dalam kondisi tak normal, pengusaha lebih untung. Dan dalam kondisi chaos, pedagang pun tetap tak mati angin raup laba.

Lantas, kira-kira apa kontribusi pedagang pada perjuangan kemerdekaan? Pasti ada. Siapa yang menyumbang pesawat pertama Garuda? Hanya berapa banyak saudagar yang mau gelontorkan harta untuk bangsa. Bukan SANGGUP, tapi MAU-kah?

Lihat sejarah, siapa sih yang sungguh-sungguh berjuang lahirkan Indonesia. Tanpa toleransi ulama dan tokoh Islam, apa bisa sila pertama Pancasila sekarang ini cuma tertera “Ketuhanan Yang Maha Esa” saja?

Wallahu’alam.

06 May 2016

Sharing membangun keluarga

Sakinah Mawaddah Warohmah, tiga kalimat (kata dalam bahasa Indonesia) ini sering kita dengar ketika seseorang menjalankan pernikahan. Do'a ini adalah do'a yang teramat indah, seindah angin surga hehe... Lalu, bagaimana sebenarnya membangun pernikahan yang ujung-ujungnya dapat tercapai Sakinah Mawaddah Warohmah tersebut?

سكينة (Sakinah) artinya damai, tentram
مودة (Mawaddah) artinya Cinta, perhatian
وَرَحْمَةً (Warahmah) artinya kasih sayang..


Hampir 10 tahun pernikahan pertama (ya saya sebut pertama, karena pada dasarnya laki-laki bisa isnaini, tsalasa wa ruba'a hahaaaa...) saya dengan istri tercinta Ramadhani binti Rasyidin berjalan, saya banyak belajar membangun karakter diri, karakter istri dan karakter ketiga anak-anakku. Rasa-rasanya jika mau jujur, Sakinah Mawaddah Warohmah masih jauh, walaupun in progress mencapai ke sana (pencitraan dikit ah.. ).

Monggo dengarkan audio dari saya berikut ini dulu..

1. Kedudukan Ayah - Ibu, Suami dan Istri dalam pandangan Islam (sepemahaman saya)



2. Tahapan membentuk masyarakat madani menurut Islam (sesuai pemahaman saya)


(bersambung...)

09 March 2016

Khutbah Sholat Gerhana, 9 Maret 2016 Masjid Al-Mu'awanah Srengseng Sawah Jagakarsa

Masjid al-Mu'awanah Srengseng Sawah
Khatib: Ust. Nuroto

(artikel ini saya ketik pakai hp ketika khutbah berlangsung, kemudian saya edit di rumah menggunakan laptop dan bantuan google. Isinya mungkin berbeda dengan isi khutbah, semata-mata karena dirasa penting untuk tambahan ilmu & pengetahuan -penulis)




Gerhana adalah bukti bahwa alam ini tidak statis. Ia berubah dan dinamis.

Tujuan penciptaan manusia:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Tentang garis edar matahari dan bulan:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Artinya:
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. [Q.S. Yunus: 5]


Seandainya matahari tertutup bulan dalam waktu yang cukup lama, bisa saja bumi menjadi beku laksana di kutub sana.

Hadits peredaran matahari :


عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا, ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ يَسْتَنْكِرُهَا اْلنَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتىَّ تَنْتَهِيَ عَلىَ مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ اْلعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, أَصْبِحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِِهَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَتَدْرُوْنَ مَتىَ ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ (لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ إِيْمَانِهَا خَيْرًا) (الأنعام: 158)

Dari Abu Dzar  bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Alloh dan Rasul-Nya lebih mengetahui?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun terbit dari barat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (HR. Bukhari & Muslim)


Surat Fushilat 37-38 tentang bersujud pada pencipta matahari & bulan:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (٣٧) فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لا يَسْأَمُونَ (٣٨)

Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.

Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya pada malam dan siang hari, sedang mereka tidak pernah jemu.


Ayat-ayat tentang bersujud / bertasbih-nya alam semesta pada Allah SWT:

QS. Ar-Ra`d : 13

وَيُسَبِّحُ ٱلرَّعْدُ بِحَمْدِهِۦ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِۦ وَيُرْسِلُ ٱلصَّوَٰعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَن يَشَآءُ وَهُمْ يُجَٰدِلُونَ فِى ٱللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ ٱلْمِحَالِ

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.


QS. Ar-Ra`d : 15

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَٰلُهُم بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.


QS. An-Nahl, 49

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.



QS. Al-Isra, 44

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.


QS. Al-Hajj, 18

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسْجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلْجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ ٱلنَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ ٱلْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ ۩

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.


QS An-Nur, 41

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰٓفَّٰتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ

Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.


Beberapa mitos seputar gerhana:

  1. Karena ada kematian. Rasulullah menikah dengan orang Mesir keturunan Romawi Mariyah Qibtiyah, putranya Ibrahim meninggal bertepatan dengan gerhana matahari. Kisahnya silahkan diklik link ini:

    http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/28/lnhm5t-wanitawanita-terkemuka-mariyah-alqibthiyah-dicemburui-para-ummul-mukminin
  2. Orang hamil gak boleh keluar rumah, sebuah cerita sia-sia yang tidak berdasar
  3. Gerhana pertanda bencana, atau awal dari kemurkaan Tuhan. Hal ini tidak boleh diteruskan, penyesatan aqidah. 
  4. Pada zaman Cina kuno, ini pertanda hancurnya kekuasaan. Cerita ini tidak boleh diteruskan, karena bisa dipolitisir oleh para politisi :) 
  5. Sebagian masyarakat india percaya gerhana akan merusak pohon2an dan tanaman. 


Apa sikap ummat Islam:
- perbanyak dzikir, shodaqoh (termasuk senyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman) dan semua amalan yg mendekatkan diri pada Allah swt.
- hendaklah melakukan sholat gerhana, dengan 4x ruku, 4x sujud. Memperbanyak bacaan ruku dan sujud.

21 February 2016

Cerita Aisyah r.a. tentang sikap Rasulullah SAW kepada istrinya



Ummul Mukminiin, Sayyidah Aisyah RA., terharu saat ditanya tentang kenangannya bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang paling mengagumkan. Istri kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam itu menjawab dengan penghayatan yang begitu dalam :

Kaana kullu amrihi ‘ajaba
Semua tentangnya menakjubkan !.
Seolah-olah Aisyah RA berbalik bertanya : “ Manakah dari pribadi beliau yang tidak mengagumkan ? “.

Begitu romantisnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, hingga Sayyidah Aisyah RA tidak bisa melukiskannya dengan kata-kata selain “menakjubkan !”

MENCIUM ISTRI KETIKA AKAN PERGI
Di antara sisi romantis Rasulullah SAW, beliau mencium istrinya sebelum keluar untuk shalat.
Dari ‘Aisyah RA, “Bahwa Nabi SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudhu dahulu” (HR. Ahmad)

MENGGENDONG SAYYIDAH AISYAH RA
Sayyidah Aisyah RA ingat persis ketika Rasulullah SAW menggendongnya mesra melihat orang-orang Habsyi bermain-main di pekarangan masjid hingga ia merasa bosan.

BERMAIN DENGAN SAYYIDAH AISYAH RA
Di hari lainnya, suaminya tercinta itu malah mengajaknya berlomba lari dan mencuri kemenangan atasnya saat badannya bertambah subur.

BERMANJA KETIKA SAYYIDAH AISYAH RA MARAH
Nabi saw biasa memijit-menjepit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Aisya,bacalah do’a:

“WahaiTuhanku,TuhanMuhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni).

Ini tips bila istri sedang marah dari Rasulullah SAW, kalau istri sedang marah, coba di jepit hidungnya dengan manja dan penuh kasih, insyaAllah marahnya hilang.

PANGGILAN KESAYANGAN
Aisyah ra juga takkan lupa saat Rasulullah saw memanggilnya dengan panggilan kesayangan “Humaira” (yang pipinya kemerah-merahan ). Sebuah panggilan yang benar-benar mampu membuat pipi Aisyah bersemu merah jambu, malu dan salah tingkah.

Sementara di dalam rumah, potret romantis Sayyidah Aisyah RA bersama Rasulullah SAW lebih menakjubkan. Mereka makan sepiring berdua, tidur satu selimut berdua, bahkan hingga mandi satu bejana. Bayangkan, adakah yang lebih romantis dari tiga hal tersebut ?

MAKAN SEPIRING BERDUA
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga suka memakan dan meminum berdua dari piring dan gelas istri-istrinya tanpa merasa risih atau jijik.

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata: “Saya dahulu biasa makan his (sejenis bubur) bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.“ (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod)

Dari Aisyah Ra, ia berkata: “Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (HR Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Muslim.)
“Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum di gelas yang digunakan ‘Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit ‘Aisyah” (HR Muslim No. 300)

BERCANDA MELUMURI WAJAH DENGAN KUE

Yang unik lagi misalnya, jika Anda pernah melihat film- film barat, maka ada sebuah kebiasaan aneh saat pesta , yaitu melumuri atau melempar wajah temannya dengan kue-kue yang ada. Kemudian mereka saling membalas.

Ternyata, uswah kita tercinta Nabi Muhammad Shallallahu Alaiahi Wa Salam pernah melakukannya dengan dua istrinya ; Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Saudah RA. Mereka berdua asyik bercanda, saling membalas melumuri wajah madunya dengan sebuah makanan sejenis jenang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi ‘Wassalam tidak hanya tersenyum simpul, bahkan juga ikut menyemangati kedua istrinya . Berani mencoba ?

MENEMANI ISTRI
“Dari ‘Aisyah, ia mengatakan, beliau (Nabi) adalah orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit.” (HR Bukhari No 4750, HR Muslim No 2770)

MANDI DAN BERCANDA BERSAMA
Meskipun beliau sebagai seorang pemimpin yang super sibuk mengurus ummat, namun beliau tidak lupa untuk menjalin kemesraan dengan istri-istrinya. Beliau tak segan-segan untuk mandi bersama dengan istri beliau. Dalam sebuah riwayat, mandi bersama dengan Siti ‘Aisyah radhiyallahu anha dalam satu kamar mandi dengan bak yang sama.

“Dari 'Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu tempat air, tangan kami selalu bergantian mengambil air.” (HR Mutafaqun ‘alaih).
Dalam riwayat Ibnu Hibban menambahkan, “Dan tangan kami bersentuhan”.

Rasulullah mengajarkan kepada kita, mandi bersama istri bukanlah suatu hal yang tercela. Jika hal ini dianggap tercela, tentulah beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan melakukannya. Rasulullah juga sangat mengerti perasaan istri-istrinya dan tau cara menyenangkan dan memberi kasih sayang. Rasulullah, sering tidur di pangkuan Siti ‘Aisyah, meski istrinya sedang haids.

KEROMANTISAN DAN KELEMBUTAN
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam adalah seorang lelaki sebagaimana lelaki lainnya, namun bagipara ummahatul mukminin , beliau bukan sekedar suami yang biasa. Beliau adalah suami yang romantis dengan segenap arti yang bisa diwakili oleh kata romantis.

Diriwayatkan dari Umarah, ia berkata : Saya bertanya kepada Aisyah ra : “ Bagaimana keadaan Rasulullah bila berduaan dengan isri-istrinya ?“ Jawabnya : “Dia adalah seorang lelaki seperti lelaki yang lainnya. Tetapi bedanya beliau seorang yang paling mulia, paling lemah lembut, serta senang tertawa dan tersenyum “ (HR Ibnu Asakir & Ishaq ).

Jika merasa belum lengkap dengan contoh nyata dari kehidupan rumah tangga beliau, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah menegaskan secara khusus pada umatnya untuk berlaku romantis pada pasangannya. Beliau bersabda :
“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya. Dan aku adalah yang terbaik pada istri dari kamu sekalian “. (HR Tirmidzi & Ibnu Hibban)

Tidak tanggung-tanggung, bahkan Al-Quran juga telah mengisyaratkan hal yang senada :

“ Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka (bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak “ ( QS An-Nisa :41 )
Syarat untuk menjadi terbaik, harus berbuat baik terlebih dahulu kepada istri. Berbuat baik itu luas dan banyak peluangnya. Dari yang sekedar tersenyum, meremas jari tangan, bahkan hingga merawat pasangan kita saat sakit sekalipun. Subhanallah, bermesraan dengan istri itu membahagiakan hati dan menghapus segala gundah. Dan ternyata bukan itu saja, Islam juga menjadikan kebaikan, kemesraan, dan romantisnya seseorang terhadap pasangannya sebagai ladang pahala, bahkan kunci surga di akhirat kelak.

RUMAH TANGGA SEBAGAI KUNCI SURGA
Apakah maksud kunci surga itu ? Semoga dua hadits di bawah ini cukup bisa memberi jawaban bagi kita.

“Dari Hushain bin Muhshan bahwa bibinya datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau bertanya kepadanya, “ Apakah engkau mempunyai suami ? Dia menjawab ;”Punya”, Beliau bertanya lagi: ”Bagaimana sikapmu terhadapnya ? “ Dia menjawab, “ aku tidak menghiraukannya , kecuali jika aku tidak mampu “. Maka beliau bersabda : “Bagaimanapun engkau bersikap begitu kepadanya, sesunggguhnya dia adalah surga dan nerakamu” (HR Ahmad) .

Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Siapapun wanita yang meninggal dunia sedangkan suaminya dalam keadaan ridha kepadanya, maka ia masuk surga “ (HR. Hakim & Tirmidzi)

Ternyata, istri bisa masuk surga karena suami, begitu pula sebaliknya. Kalau masuk neraka ? Na’udzubillah min dzaalik.
Walhasil, seharusnya visi awal sebuah pernikahan adalah bagaimana menjadikan pasangan kita salah satu kunci- kunci surga bagi kita. Karena masuk surga itu penting, tapi lebih penting lagi masuk surga rame-rame dengan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Apakah bisa disebut bahagia jika kita menyaksikan orang-orang yang kita cintai dalam keadaan menderita ? Tidak sekali-sekali tidak.

Wallahu'alam
(copas dari FB Pak Handoko willyanto)

25 December 2015

Menjaga Kemurnian Islam

Hasil belajar saya membawa pemahaman bahwa agama yang saya peluk ini, Islam diajarkan oleh Allah SWT melalui utusan-utusan. Nah utusan atau para Nabi ini tugasnya meluruskan penyimpangan-penyimpangan ummatnya terhadap aturan Tuhan. Ada yang ditugaskan menjaga keberlangsungan keturunan dengan memerangi kaum homo seksual - Nabi Luth a.s.; ada yang tugasnya menghentikan penjajahan keji kepada sebuah bangsa oleh kekuasaan seperti yang dilakukan Nabi Musa a.s. pada bangsa Israel oleh kekejaman Fir'aun, dan ada pula yang tugasnya menegakkan urusan tauhid / keesaan Tuhan seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s.


Kisah-kisah ini kemudian dikompilasi dalam catatan-catatan / kitab atau hikayat yang disampaikan oleh para utusan tersebut, dan Alhamdulillah ummat Islam memiliki catatan yang terjaga melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kalau kita perhatikan, nabi-nabi tersebut melakukan hal yang sama, yaitu mengajak ummatnya mentaati perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Apa yang dilakukan para Nabi tersebut hakekatnya adalah memurnikan ajaran asli Allah swt agar manusia terbebas dari kesesatan. Apa yang dilakukan Nabi Musa a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. berkenaan dengan berhala adalah contoh gamblang. Untuk kita, ummat Muhammad SAW, kita sudah diberikan 2 panduan yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah yang akan menjaga kita dalam bertindak dan bersikap dalam semua segi kehidupan kita. Tidak ada ulama paling hebat, kecuali ulama yang mengikuti kedua sumber ini, tidak ada kefaqihan dan kehebatan kecuali kesesuaian dengan dua sumber ini.

Kemudian, kita dapat membagi secara sederhana segala aturan dan panduan dalam Quran Sunah tadi ke dalam 2 kelompok besar. Yaitu:

1. Perkara Ibadah (dalam arti sempit), artinya segala ritual dan kegiatan yang sebelumnya dilarang, kecuali ada panduannya (sumber lain) Contoh, kita melakukan panggilan shalat dengan adzan karena panduannya begitu, atau kita menghadap kiblat saat shalat karena ada dasarnya seperti itu.

2. Perkara non-ibadah (keduniawian), yang pada hukum asalnya merupakan kebolehan dan kewajaran, kecuali ada aturan yang melarangnya. Contoh, jual beli secara umum dibolehkan, tetapi Allah SWT melarang riba.

Dengan pemahaman mendasar tersebut maka apapun peristiwa dan perkara-perkara yang ada akan mudah kita cerna dan sikapi.

Contoh:

1). Ummat Kristen yakin bahwa Nabi Isa adalah Tuhan dalam konsep trinitas. Beliau a.s. dilahirkan dan mengalami kematian. Hal ini bertentangan dengan pemahaman Islam sesuai dengan Al-Qur'an seperti dalam surat al-ikhlas misalnya, maka kita menolak doktrin ini. Tentu, menjadi kebebasan bagi kawan-kawan kristiani untuk berbeda pemahaman karena memang agamanya juga berbeda. Mengucapkan selamat misalnya adalah hal umum yang boleh dilakukan, khusus untuk mengucapkan selamat natal, maka karena berlawanan dengan tauhid/aqidah untuk itu maka dilarang.

2. Soal Maulid Nabi, perayaan Isra' Mi'raj. Jika dipandang sebagai perkara ibadah, tentu ini tertolak, karena tidak ada syariat yang mengajarkan. Jika dipandang sebagai muamalah biasa, maka ada banyak kreativitas kita untuk mengganti, menghilangkan atau mengubah perayaan tsb. Sesekali baik juga kalau kita tidak melakukan atau memperingati maulid nabi atau Isra' mi'raj. Mengkhususkan hari tersebut sebagai bagian perayaan Islam yang dilaksanakan terus-menerus tentu saja termasuk berlebihan. Adapun aturan kenegaraan yang meliburkan hari tsb misalnya, maka itu merupakan perkara negara dan ritual budaya belaka yang kebetulan diberikan kepada kaum muslimin di sini.

3. Soal Khilafah dan Daulah Islamiyah. Silahkan dikaji, perkara kekuasaan apa masuk pada ibadah atau muamalah. Apakah sistem kerajaan / kesultanan itu tidak dibolehkan? padahal Nabi Sulaiman a.s. saja mewarisi kerajaan nabi Daud a.s. Rasulullah SAW mengisyaratkan Abu Bakar r.a. sebagai penggantinya, kemudian maka para sahabat memanggilnya "Khalifatu Rasulullah" (Pengganti Rasulullah), sementara Abu Bakar r.a. menunjuk Umar r.a. sebagai penggantinya, tetapi Umar keberatan menyandang gelar Khalifatu Rasulullah, dan para sahabat kemudian memberikan gelar "Amirul Mukminin" (Pemimpin kaum beriman". Indonesia sendiri misalnya, yang wilayahnya terbentang luas dan terdiri dari ribuan pulau para founding fathers kita memilih menggunakan musyawarah perwakilan untuk menyelesaikan masalah-masalah politik di bangsa ini, sebenarnya ini adalah bentuk kekhalifahan yang sangat cerdas dan Islami yang kemudian kita obrak-abrik sendiri karena intervensi kepentingan pihak asing. Soal daulah misalnya, apa benar kita harus berusaha teguh untuk membentuk kekuasaan Islam yang terpusat untuk seluruh dunia sementara hal-hal mendasar di sekeliling kita saja belum Islami? Sementara Syikh Nasiruddin Al-albani sendiri berkeyakinan bahwa tindakan yang penting dilakukan ummat Islam terutama pemuda-pemudanya adalah melakukan Tasyfiyah (memurnikan Islam) dan Tarbiyah (mendidik ummat). Kondisi lemahnya ummat, bengisnya kaum kafir seperti sekarang ditambah oleh pesan daulah islamiyah dan kekhalifahan yang tidak tepat hanya melahirkan faham kekerasan yang merusak nama Islam seperti ISIS. Lalu hal ini malah menjadi fitnah untuk kalangan muslimin sendiri.

4. Soal  Syiah dan Imamiyah. Selain syiah, sebenarnya ada kaum khawarij dan mu'tazilah yang menyimpang dari ajaran Islam sejak dulu. Kesesatan Syiah sangat terang benderang, karena mereka menolak hal-hal pokok di dalam Islam. Syiah disebut juga Rafidhah karena menolak kepemimpinan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. Soal Imamiyah mereka juga menjadi hal yang sangat konyol karena yang dianggap mereka sebagai imam ke-11 tidak memiliki keturunan, sehingga menyulitkan logika mereka sendiri pada kehadiran Imam ke-12.

Masih banyak contoh-contoh sederhana yang dapat kita analogikan dengan pendekatan di atas. Yaitu tentu saja melalui kajian Quran Sunnah lalu mengidentifikasi apakah perkara tersebut termasuk Ibadah (yang disyariatkan) atau sesuatu yang diserahkan kepada kita untuk bekreativitas sendiri (perkara non ibadah). Lalu kita pun menjalani Islam ini melakukan Tarbiyah (pendidikan) dan Tashfiyah (pemurnian), maka insyaallah Islam pun akan bangkit dengan sendirinya. Kita memulainya dari diri kita sendiri (ibda bin nafsik) lalu kepada keluarga dan pada akhirnya akan terbentuk ummat yang Islami sebagaimana nasehat Syaikh Nasiruddin Al-albani.

Terakhir, saya menemukan artikel ini, tentang kekeliruan Syeikh Nashiruddin Al-albani terkait politik Islam, layak dibaca.


Wallahu 'alam.