09 October 2017

HA IPB, Pemilihan Rektor dan Politik Praktis

Source: http://korpusipb.com

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan Jakarta - Singapore dalam kursi sempit Low Cost Carier yang saya pesan via penyedia layanan tiket online kebanggaan anak negeri. Era cepat, akurat saat ini telah menjadi kebutuhan di mana pun. Siapa yang tidak efisien dan lemah dalam era kompetitif seperti sekarang, pasti lewat dilahap derasnya perubahan teknologi.

Seperti biasanya, waktu perjalanan saya gunakan untuk hal-hal produktif. Membuat presentasi, menulis hal-hal besar dari fikiran-fikiran besar pula. Kata cerdik pandai, fikiran besar akan menghasilkan karya-karya besar pula. Mata saya mengamati setiap sudut kota Singapura setiba saya di sini, sebuah kota yang tidak pernah saya singgahi sebelumnya. Kota yang sibuk, tidak sesibuk Bangkok, Kuala Lumpur dan kota-kota besar di Indonesia.

Rupanya fikiran saya agak terganggu dengan desas-desus gak nyaman dari organisasi tempat saya bercengkrama dan berhimpun, Himpunan Alumni IPB, sebuah organisasi yg sebenarnya lebih nyaman disebut paguyuban, karena rasa persaudaraan yang sangat tinggi di sini. Di HA IPB, anda hanya perlu pernah kuliah tak perlu lulus untuk menyandang gelar alumni. Pelbagai hal-hal positif berikut dinamikanya saya dapatkan di sini dalam mencapai titik-titik usia matang sampai saat ini.

Ialah soal segelintir pihak yang "mempolitisir" bahwa pemilihan rektor IPB masa 2017 sekarang seakan-akan tidak sesuai dengan perundangan dan tata kelola yang baik. Agak lucu sebenarnya, karena HA IPB bukanlah bagian yang "sangat berpengaruh" dalam pemilihan Rektor. Meski, saya perhatikan khusus untuk pemira kali ini, IPB rupanya banyak melibatkan HA IPB, mungkin karena HA IPB sekarang telah menjadi himpunan yang banyak berkontribusi positif bagi IPB itu sendiri. Bukan berarti HA IPB yg dulu kurang kontribusi, tetapi memang di kepemimpinan HA IPB di bawah kendali tim Teh Nelly Oswini dkk, HA IPB menjadi "mesin" organisasi yang efektif dilihat dari banyaknya kegiatan, pengkaderan dan kontribusi pada lingkungan sekitarnya.

Lucu yang kedua adalah adanya surat kepada kementrian riset dikti yang ditanda-tangani oleh bukan ketua umum HA IPB, sebuah surat miss-leading, miss-understanding dan nir-etika menurut saya. Satu kekeliruan besar bagaimana organisasi yang isinya adalah para senior-senior hebat, tetapi mengeluarkan surat yang mustinya tidak punya kewenangan mengeluarkan surat. Setahu saya organisasi seperti Himpunan Alumni biasanya mengeluarkan surat eksternal yang ditandatangani ketua umum atau para ketua / sekjend, tetapi kali ini bukan ketum yang mengeluarkan. Agak aneh, Himpunan jadi berasa partai, karena seperti ada "pemilik" HA IPB de facto yang mencoba mengendalikan organisasi.

Lebih parah lagi, DPP HA IPB mustinya bulan-bulan ini telah rampung menyelenggarakan Musyawarah Nasional Alumni untuk pergantian kepengurusan, tetapi malah mengurusi sesuatu yang diluar tupoksinya itu. Saya prihatin mewakili para alumni muda, mustinya kejadian seperti ini tidak terjadi pada organisasi yang justru sedang berkembang baik diramaikan oleh para alumni muda berkarya, yang bertahun-tahun lalu kurang terasa vibrasi-nya.

Kepada senior yang bekarya lurus dan bekerja dengan hati, saya do'akan agar sehat senantiasa, saya yakin di antara abangda dan kakanda semua pasti merasakan keprihatinan yang mendalam akan kejadian ini. Begitu pun kepada para junior, hendaknya dinamika internal organisasi ini menjadi jalan kita untuk terus semangat berkarya dan untuk tidak ditiru jika satu saat nanti, kita menempati amanah yang cukup berat seperti itu.




Jika slogan Kepengurusan DPP HA IPB saat ini yang sangat saya kagumi  yaitu: "Salam Satu Hati" masih dirasa kontekstual, maka baiknya kita mengecek sanubari kita bersama, apakah benar kita masih punya hati? merujuk pada lirik nasheed yang sering diperdengarkan para aktivis kampus dulu

Hati kalau selalu bersih
Pandangannya akan menembus hijab
Hati jika sudah bersih
Firasatnya tepat karena Allah
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Politik praktis hendaknya dijauhkan dari lingkungan organisasi seperti Himpunan Alumni IPB dan lebih jauh lagi dalam internal lingkungan akademik seperti kampus tercinta Institut Pertanian Bogor. IPB adalah salah satu kampus yang terkena kebijakan liberal kampus sehingga harus menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara) yang harus / wajib memenuhi kebutuhan internal-nya yang merepotkan para civitas akademika di dalamnya. Janganlah kita sebagai alumni, menggunakan "kursi" atau "power" untuk menekan kebijakan internal kampus.



Salam Satu Hati, Satu IPB.



Muhammad Sirod
TIN18/F34
Ex. Sekjen Dewan Perwakilan Komisariat Fak. Teknologi Pertanian IPB  2012 - 2014

28 August 2017

CATUR SILA (Seri Pancasila, 1) - Cak Nun

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Anak-anak saya yang di SMP dan SMU mulai banyak rewel bertanya tentang Pancasila. Bisa dipastikan saya menjadi gelagapan. Di zaman saya bersekolah dulu tidak pernah memperoleh muatan penjelasan yang matang sehingga nyantol di memori otak saya. Di masa dewasa saya juga tidak punya peluang untuk mengikuti P-4.

Maka wajib saya mencari bahan-bahan dari berbagai sumber untuk menanggapi anak-anak. Saya tidak mau mereka anti-Pancasila, tapi saya juga keberatan kalau dalam kehidupan anak-anak saya Pancasila hanya jargon, lipstik, proforma pergaulan bernegara. Saya takut anak-anak saya terlanjur mengenal nilai tanpa mewujudkannya dalam kehidupan nyata.

Lebih mengerikan lagi kalau besok-besok anak saya tersangkut dalam arena persabungan kekuasaan politik. Yang karena goal urusannya adalah kalah menang, bukan benar salah atau baik buruk – maka mereka memegang Pancasila di tangannya tidak untuk keindahan nilai dan kebijaksanaan laku kehidupan. Saya akan masuk neraka kalau anak-anak saya memperlakukan Pancasila untuk kapital kekuasaan, komoditas transaksi pilih memilih, manipulasi identitas, atau mengeksploitasinya untuk menindas lawan-lawan politiknya.

Pancasila adalah jalan tol menuju gerbang sorga, karena Tuhan Yang Maha Esa sendiri yang merentangkan jalan itu sejak awal di Sila Pertama. Kalau sampai gara-gara Pancasila saya malah masuk neraka, saya akan mati nelangsa, dihabisi di neraka dengan hati diaduk duka derita, serta dengan memekik-mekik oleh rasa sakit dan penyesalan sepanjang masa.

Mudah-mudahan neraka menerapkan satuan waktu, sehingga ada batas tertentu untuk berada di sana. Dengan demikian ada harapan untuk pada akhirnya bergabung dengan bangsa Indonesia di sorga yang tak ada batas waktunya. Kholidina fiha abada. Kekal plus abadi. Menurut almarhum legenda tinju Muhammad Ali kekekalan itu setara dengan jumlah debu di padang pasir dikalikan seribu tahun. Keabadian mungkin lebih panjang: per-debu bernilai sejuta tahun. Entahlah, besok-besok kita bawa kalkulator untuk menghitung bersama.

Celakanya, sebelum saya menggali bahan-bahan, ketika pertama anak-anak menabrak saya soal Pancasila, entah karena pengaruh Setan atau Iblis atau Dajjal, yang keluar dari mulut saya adalah: “Catur Sila saja, nggak usah Panca Sila dulu…”
Mampus. Mereka mengejar. Sehingga saya terpaksa memeras pikiran dan menyibak-nyibak akal untuk menjawabnya, seperti mencari sebatang jarum di tengah tumpukan rumput kering, damèn dan alang-alang. “Jangan libatkan Tuhan dulu. Sila pertama simpan dulu”, saya menjawab terbata-bata, “untuk tahap awal cukup belajar jadi manusia saja, dengan pedoman kemanusiaan dan tata nilai kebudayaan”

Wajah anak-anak saya campuran antara kaget, sedikit paham dan banyak belum paham yang Bapaknya maksudkan. “Belajar dan berlatih jadi manusia. Menghormati kakak kemakhlukannya, yaitu alam. Kemudian menyayangi adiknya bumi langit, yaitu hewan. Lantas berlatih menghormati sesama manusia, mencintai kemanusiaan, menjaga nyawa sesama, merawat martabat, tidak menyakiti hati mereka, tidak mengambil harta mereka, tidak korupsi, tidak menganiaya, tidak menindas, tidak menang dengan harus mengalahkan lainnya. Belajar menjadi manusia, dengan cara memanusiakan sesama manusia…”

(Bersambung).

26 August 2017

Brokoli Rebus, Telor Dadar & Es Jeruk - Mambo



Bismillahirrahmaanirrahiim...


Pulang kerja, setelah beraktivitas seharian, pulang-pulang gak ada makanan, jangan ngeluh, jangan panik, siapin uang 30 ribuan beli bahan-bahan berikut ini (anggap kulkas mas bro kosong):


  1. Telor ayam negeri 1/4 Kg
  2. Bawang merah segenggam
  3. Cabe Merah beli saja 20 buah untuk stock di kulkas. 
  4. Cabe Rawit hijau, cukup 2000 perak dapat tuh segenggam
  5. Brokoli, satu bongkahan saja, tapi bolehlah beli 2 biar gak malu. 
  6. Garam secukupnya, yg penting asin, soal putih atau tidak beryodium atau tidak gak usah dibahas. 
  7. Beli beberpa butir jeruk peras, nipis juga boleh. 
  8. Pastikan ada sediaan es batu di kulkas, plus Es Mambo 2 batang, kalau bisa yg rasa buah dengan potongan pepaya, nanas di dalamnya (boleh order ke 08568881197, iklan dikit)
  9. Siapin bawang merah, kalau terpaksa beli karena mas bro gak punya persediaan cukup segenggam saja ya. 
  10. Siapin nasi-nya mas bro, boleh minta mertua atau barter sepiring dengan indomie beberapa biji dengan tetangga hehehe.. 



Udah? di Kukusan Depok, warung deket rumah, gak nyampai 30 rebu itu semua, kalau lebih ya gak akan nembus 50.000, sisanya bisa buat masak lagi dadakan kalau diperlukan.

BROKOLI REBUS
Pertama panasin kuali yg ada gagangnya, isi seperempat air dengan api besar, sampai kira-kira mendidih, kecilin api. Sambil nunggu air mendidih, kupas 7 siung bawang merah yg agak besar dengan mengiris-iris 2 di antaranya, 5 lagi biarin gelondongan aja; potong-potong  3 buah cabe merah seukuran ruas jari yg ini bijinya gak dibuang gpp, ambil 2 buah cabe merah lagi belah memanjang buang bijinya, iris tipis-tipis satukan dengan irisan bawang tadi, keduanya untuk telor dadar. Cuci cabe rawit hijau, gak usah dibuang batangnya, buang waktu. Cuci bersih Brokoli buang batang daunnya, potong-potong seukuran jempol kaki mas bro aja, kalau mau ambil batangnya, cukup 4-5 cm saja dari bunga paling bawah, jangan lupa kupas sedikit soalnya keras kalau digigit.

Saat mulai mendidih, masukkan brokoli, cabe merah, cabe rawit, bawang merah gelondongan tadi ke dalam kuali, masukkan garam kira-kira setengah sendok teh, aduk perlahan lalu tutup agar merata matangnya, api jangan lupa dikecilin, agar kita punya waktu siapin yg lain.



ES JERUK MAMBO

Belah memotong jeruk peras beberapa butir, pengalaman gue 5 butir cukup untuk 1 keluarga kecil. Peras semua ke dalam cangkir atau wadah. Panaskan air pakai heater atau dalam pemanas air, kalau punya air panas di dispenser gunakan itu saja, masukkan 5 sendok makan penuh gula pasir, ke dalam 1/2 gelas air panas yg disiapkan tadi. Siapkan es batu dalam wajan khusus. Potong 4 es mambo yg 2 batang tadi ke dalam wajan, masukkkan perasan air jeruk tadi, aduk-aduk merata, masukkan air gula panas secara sedikit-sedikit sambil diaduk agar vitamin C buah jeruk tidak rusak oleh suhunya. Tambahkan cairan air gula jika kurang manis atau air jeruk terlalu asam. Tambahkan air secukupnya untuk disajikan sesuai selera.


Pengalaman gue, begitu es jeruk mambo mau selesai, brokoli udah matang mas Bro, angkat pakai serok atau sudip berlubang, agar sayurannya terangkat semua dulu, baru tuangkan air kuahnya secukupnya, sisanya buang. Air rebusan ini masih kaya nutrisi sayur, kalau mau bisa diminum atau dijadikan air perebus mie instant. Pindahkan ke meja makan agar dingin, sambil kita siapkan telor dadar.

TELOR DADAR. 
Ambil 2 butir telur ayam, siapin mangkuk seukuran mangkuk bakso dan garpu untuk mengocok. masukkan isi telur, garam secubitan saja, irisan bawang dan irisan cabe merah. Kalau mau lebih pedas boleh tuh cabe rawit mas bro tambahkan, seeuuu hahhh..


Siapkan ketel yg agak besar, dengan minyak goreng kira-kira 5 sendok makan, api pastikan kecil saja. Sambil nunggu minyak panas, kocok telur di mangkuk tadi pakai garpu, sampai ada buih-buih putih dan warna telur homogen (dah kayak larutan kimia aja istilahnya yeee). Indikasi minyak cukup mendidih, coba ujung garpu yg dipakai tadi bawa ke atas ketel sampai tetesan telur dadar itu terlihat dimakan minyak atua tidak, jika ya, maka minyak berarti sudah panas. Tuangkan telur dengan melingkar, semakin besar lingkarannya berarti semakin kelihatan mas bro berbakat di bisnis martabak telor! hauahha..

Sudah? lipat dua atau empat si telur, potong2 pakai sudip. Tiriskan, matikan kompor. Amankan minyak goreng agar istri mas bro dan pembantu repot karena si bos masak gak rapi bekasnya.

Siapin nasi di piring, kalau dari Magic Jar, "diakeul" dulu pakai kipas angin, agar makin sip ala masakan sunda. Sayur sudah siap, nasi siap, telor dadar siap, es jeruk dengan potongan es mambo berisi irisan buah juga siap.. slurrrppp jangan lupa berdoa dan menikmati hidangan dan orang-orang tercinta.


12 August 2017

Wicaksono 36 tahun, membangun bisnis Tbk 900 M dana publik hanya dalam 10 tahun

Wicaksono 36 th, sedang mengisi acara salah satu kegiatan TDA Depok di Aula Perpustakaan Kantor Walikota Depok, Margonda

Sebelum menejelaskan tepatnya membuka pemaparan media terkait siapa beliau, Pak Wicaksono yang usianya lebih muda dari saya 3 tahun ini, mungkin perlu saya jelaskan sedikit dulu apa itu komunitas Tangan Di Atas. Komunitas ini adalah komunitas entrepreneur (saya lebih prefer menyebutnya demikian, bukan komunitas pengusaha) yang tidak membedakan seseorang bergabung apakah memiliki legal formal standing (SIUP, NPWP dll) perusahaan atau tidak. Dengan konsep begini, maka memang cukup riuh pikuk di dalam TDA, karena anak-anak muda yang punya spirit bisnis yang tinggi dan minim pengalaman bercampur dengan pengusaha yang masuk pada fase kapitalis sebenarnya. 


Saya sendiri masuk TDA hanya "sekedarnya" saja. Ikut aktif di grup B2B (business to business) yang isinya kebanyakan pengusaha yang berbisnis jualan ke korporat memberikan layanan jualan barang atau jasa. Ada yang bisnis EO, water treatment seperti saya atau layanan manajemen (IT, System, pelatihan SDM, dll). Sebagaimana komunitas bisnis, TDA digerakkan oleh pengurus yang punya "daya juang" jauh lebih tinggi dibanding member biasa seperti saya. Entah kapan bisa kontribusi untuk TDA, saat ini saya hanya menjadi member aktif saja sudah bersyukur. 

Suasana acara seminar Strategi Scale Up yang efektif agar bisnis semakin berkibar, Jum'at 11 Agustus oleh Wicaksono & TDA Depok
Tak banyak informasi yang saya punya mengenai beliau, tapi rupanya beliau sudah dikenal oleh media massa dikarenakan prestasinya yang mengesankan, karena percepatan (scale up) bisnis yang beliau lakukan. Berikut pemaparan beberapa media yang saya dapatkan. 
  • Witjaksono, lahir pada tanggal 20 September 1981 di Pati, Jawa Tengah. Menyelesaikan S1 nya di Universitas Diponegoro Semarang, lalu Hijrah ke Jakarta pada Tanggal 19 Desember 2004 untuk mengikuti test guna mendapatkan Bea Siswa untuk melanjutkan studi di Australia. Namun Witjaksono gagal berangkat ke Australia karena tidak mampu membayar biaya Deposit.
  • Tidak dikenal fund manager lokal tapi masuk list fund manager asing:
    Presiden Jokowi dan masuk radar fund manager asing tapi lolos dari tangkapan layar pantau pebisnis di dalam negeri? Figur Witjak boleh dibilang pebisnis baru dari generasi anak muda era tahun 2000-an. Sebagai pendatang baru di dunia bisnis, wajar bila keberadaannya tidaklah diketahui banyak orang, termasuk di komunitas pelaku bisnis. Apabila namanya dilacak di dunia maya, akan keluar informasi kisah Witjak sebagai pendiri PT Dua Putera Utama Makmur Tbk (DPUM) yang bergerak di bidang pengolahan hasil laut sedang sharing knowledge dan pengalaman sebagai seorang pengusaha muda
  • Awal bisnis berbentuk CV:
    Pati, Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) didirikan tanggal 09 Mei 2012, dimana sebelumnya berbentuk CV dengan nama CV Dua Putra Dewa. Kantor pusat DPUM berlokasi di Gedung Nariba Office Suites & Pavilion, Lantai 6, Jl. Mampang Prapatan Raya No. 30, Jakarta Selatan 12790 – Indonesia.
    Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Dua Putra Utama Makmur Tbk, antara lain: PT Pandawa Putra Investama (59,73%), UOB Kay Hian Pte. Ltd. (13,06%) dan DPP Inhouse 1 (6,53%).
  • Berhasil IPO menikmati layanan paket kebijakan ekonomi Jokowi:
    Bisnis.com, JAKARTA -- PT Dua Putra Utama Makmur, perusahaan perikanan tangkap terintegrasi asal Pati, Jawa Tengah, menjajaki untuk menawarkan sahamnya ke publik (initial public offering/ IPO) di pasar modal tahun depan, menyusul insentif paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah.

    Witjaksono, pendiri sekaligus komisaris utama Dua Putra, menyatakan paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah antara lain berupa insentif bagi perusahaan lokal untuk melantai di pasar modal sangat positif baik bagi dunia usaha.
  • Menteri Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menko Maritim, meresmikan pabrik Dua Putra
    Dalam peresmian yang dilakukan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan mewakili Presiden RI Joko Widodo di Pati, Rabu (10/8/2016), perusahaan perikanan yang meliputi pengolahan, perdagangan hingga  cold storage itu disebut mampu menyerap tenaga kerja hingga 4.000 pekerja atau karyawan.
    PT Dua Putra Utama Makmur Tbk masuk dalam jajaran industri perikanan "raksasa" dan terbesar di Indonesia, karena mampu memproduksi berkapasitas 100 ton setiap hari dengan kapasitas cold storage mencapai 25.000 ton. Rencananya, PT DPUM akan melakukan ekspansi dengan membangun perusahaan di Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
  • Awal bisnis hanya dagang ikan, menunggu transaksi besar, dikapitalisasi oleh Standard CharteredDengan modal tersebut, pengusaha yang juga penggagas program Akoe Indonesia ini lantas berdagang di Tempat Pelelangan Ikan di Pati, Jawa Tengah. "Dari situ kami akhirnya bisa berhubungan dengan bank, hingga kita ketemu pembeli yang cukup besar dan rutin dari Jakarta," ungkap Witjaksono.
    Perusahaan ini kian berkembang setelah dilirik oleh investor asal Thailand. "Mereka memberikan kita pinjaman cold storage buat tampung ikan yang dibeli sama mereka. Kita diberi margin cuma Rp 1000 per kilo. Tapi habis itu, kita ada transaksi gede, baru lah ada bank gede masuk. Setelah itu di-take over di bank lain, lalu Standard Chartered masuk sekitar tiga tahun yang lalu," jelasnya.
    "Ya lumayan lah, omzet kita mencapai di sekitar Rp 70 milyar. Tahun yang lalu kita tutup buku di angka kisaran Rp 300 milyar," Witjaksono, menambahkan.

  • Karena dibentuk oleh 5 orang pada awalnya, Menko Maritim sebut Wicak dan kawan-kawannya sebagai Pandawa Lima

    Dalam sambutanya Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Presiden perintahkan saya yang beraa di Bali untuk ke Pati karena dianggap sangat penting karena menyangkut kreativitas anak muda yang mengelola pabrik PT. Dua Putra Utama Makmur Tbk adalah Pandawa lima yang terdiri dari anak-anak muda yang saat ini perusahaan sudah masuk BEI (Bursa Efek Indonesia) yang tentunya prosesnya tidak mudah.

    “PT. Dua Putra Utama Makmur Tbk Memiliki sekitar 4000 orang karyawan dengan perkembangan yang sangat cepat dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja tentunya sangat mengangkat nama Kabupaten Pati di era MEA yang sedang di berlakukan oleh pemerintah Indonesia,” jelasnya.
  • November 2015, Dwi Putra melepas 40% sahamnya.
    Sebuah pabrik pengolahan ikan PT Dua Putra Utama Makmur resmi akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 1 Desember 2015. Perusahaan yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah tersebut akan melepas Rp 1,675 miliar saham. Pendiri sekaligus Komisaris Utama PT Dua Putra Utama Makmur, Witjaksono, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (8/11) menuturkan, dalam perincian penawaran umum perdana saham, pihaknya berencana melepas sebanyak-banyaknya Rp 1.675.000.000 lembar saham biasa atas nama saham baru.
    Angka tersebut merupakan 40,12 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor perseroan setelah penawaran umum perdana saham. "Sebanyak-banyaknya Rp 167.500.000 atau 10 persen dari jumlah saham yang ditawarkan dialokasikan dalam rangka 'Employee Stock Allocation'," ujarnya.
Demikian info-info yang saya dapatkan dari media online tentang Mas Wicaksono, semoga menginspirasi banyak anak-anak muda di Indonesia. 

Salam TDA 5.0 : GetUp, SpeedUp, ScaleUp






09 August 2017

Gue Cina, kenapa loe?

Beberapa waktu ke belakang ini terlalu banyak sentimen kesukuan dilatarbelakangi kebencian pada etnis Cina. Problem ini selalu saja muncul di tengah-tengah masyarakat kita. Entah karena kecemburuan ekonomi, ketidakadilan, pemahaman yang kurang atau memang masyarakat yang sakit multidimensi sehingga memunculkan ujaran kebencian yang massif di mana-mana. Sebagai seseorang yang punya darah Cina asli dari Cina daratan, saya perlu sedikit menjelaskan soal Cina dan Indonesia ini. 

Kalau ditarik ke era Orde Baru, sentimen ke suku Cina itu memang wajar adanya, dikarenakan politik keliru orba yang membiarkan ras ini berkembang bebas di ekonomi lalu memasung hak-hak sosial budaya dan politik mereka. Kepentingan orba hanya satu, agar bisa memeras kaum Cina itu menjadi pasokan bahan bakar politik. Cina dijadikan sapi perahan, sementara pribumi bisa leha-leha jadi tentara, pegawai BUMN dan PNS dengan mentalitas pengemis!

Soeharto bukan tidak faham soal bahayanya hal ini, jauh-jauh hari Sumitro Djojohadikusumo sudah mengingatkan strategi keliru ini, Pak Sumitro yang merupakan ayahadan Prabowo ini justru menganjurkan strategi sebaliknya, Cina diberi hak sama dalam sosial budaya tetapi ekonomi dibatasi sebagai keadilan agar duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum pribumi. Diharapkan dengan strategi ini akan tumbuh entrepreneur-entrepreneur tangguh dari suku pribumi dan itu akan menguntungkan bangsa ini untuk jangka panjang. 

Tapi dasar Soeharto yang sangat lemah dengan kelakuan anak-anaknya yg doyan nempel di kekuatan Bapaknya, dia membiarkan Cina-cina itu menyuap anak-anaknya untuk berbisnis dan berkolaborasi menjadi kroni-kroni yang nantinya menyerang kepentingannya sendiri. Politik "trickle down effect" yang intinya mengharapkan adanya keadilan dari konglomerasi yang dibesarkan Pak Harto tak terjadi, the greedy economy yg dibangun oleh konglomerat Cina itu menghabisi kekuatan-kekuatan Pak Harto terutama dari soft power (media, lobby asing) dibanding hard power (struktur negara, tentara). 

Sedikit sekali masyarakat dan warga netizen medsos yang faham soal ini, sehingga taunya Cina itu licik, serakah dan semua Cina itu sama bangsatnya gak ada yang baik. Bahkan umumnya mereka gak faham mana Cina sebagai sebuah nation (Republik Rakyat Cina, atau Tiongkok kalau istilah SBY) atau Cina sebagai suku bangsa / ras. Ketidakpahaman ini diperparah dengan pemahaman bahwa setiap suku bangsa itu memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Banyak Cina goblok, sama banyaknya seperti Jawa, Padang, Sunda yg goblok-goblok... 

bersambung...