07 October 2018

Pindah ke Telegram dan Linkedin

Akun influencer Linkedin favorit saya milik Om Oleg Vishnepolsky yang selalu inspiratif
Akhir-akhir ini content dari whatsapp group penuh dengan diskusi politik (dari dulu sih). Saya sendiri adalah pelaku pembuat grup politik tsb salah satunya. Saya rawat dan kembangkan grup-grup tersebut sebagai salah satu alat untuk mendapatkan informasi kekinian soal politik, baik politik kebangsaan sampai kebangsatan, Politik adiluhung sampai politik ajimumpung dari politik praktis sampai politik najis. 

Menjalani sebagai seorang pebisnis saya memerlukan asupan-asupan positif. Untuk itu saya mulai mencari ruang-ruang sosial digital yang baru. Jawabannya adalah Telegram dan Linkedin ternyata, mengapa? karena kanal-kanal digital di internet seperti Facebook, Twitter dan bahkan termasuk Instagram skrg dipenuhi content-content politik. Mau gak mau ketika kita menonton atau menyimaknya kita akan terbawa suasana negatif. Persis seperti pagi ini, saya misuh-misuh karena mendapati fakta yg saya baca dari salah satu grup WA bahwa negara (menteri sosial) kehabisan uang untuk dana bencana, sementara di sisi lain di Bali terjadi pesta pora penyambutan tamu-tamu dari International Monetary Fund dan World Bank secara luar biasa. Wajar sih kalau otak bisnis melihat hal ini, kalau duit negara dibagi-bagikan ke korban bencana kita sebut cost, tapi kalau dibuat pesta meriah menyambut para pemberi pinjaman, banker-banker luar negeri kita bisa sebut investasi. Saya sampaikan argumen saya tsb kepada beberapa grup yang banyak para pendukung pemerintah-nya, agar common sense mereka tetap menyala dalam hati sanubarinya, karena saya gak yakin para elit dan pejabat tinggi kita masih memiliknya.

Kembali ke medsos tadi, Linkedin, platform jejaring sosial yang tadinya diperuntukkan untuk para pencari kerja profesional di India ini telah dibeli Microsoft, ia juga terkoneksi dengan Linda.com (situs penyedia training berkualitas) dan Slideshare.net yaitu situs medsos penyedia slide presentasi. Saya mulai mengalihkan jam-jam internet saya pada linkedin karena banyak para pesohor di dunia bisnis & profesional memanfaatkan linkedin untuk empowering sesamanya.

Begitu juga Telegram, platform internet chat gratisan ini menurut saya arsitekturnya jauh lebih baik daripada whatsapp, selain ringan karena didesain berbasis cloud sehingga tidak memakan banyak memori HP kita, Telegram juga memberikan fitur-fitur lebih luas dalam pilihan grup atau personal sebagaimana Facebook dengan FB Group dan FB Fanpages. Saya sudah 2 kali ini memberikan kulgram (kuliah di Telegram) atau Sharegram (sharing di Telegram) di sebuah jejaring bisnis besutan Dewan Pengurus Cabang (DPC) HA IPB Bogor. Saya sangat bersemangat karena dengan adanya telegram ini kebutuhan saya untuk "Belajar sambil Mengajar" terpenuhi, yg dalam platform lain terasa kurang pas, misalnya Whatsapp (karena berat, member sedikit, dan fitur admin yg terbatas). Bisa saja sharing di Instagram atau Facebook dengan Live Video Streaming, tetapi jauh lebih boros data internet dan terkadang saya merasa "kurang PD" melakuan sharing dengan video seperti itu hehehe..

Sesi sharegram/kulgram yang baru saja selesai semalam di salah satu forum daring yg dikelola DPC HA IPB


So, saya sarankan mari kita pindah beramai-ramai ke Telegram dan Linkedin, karena lebih banyak manfaat untuk membangun bangsa ini. Tapi saya tetap menunggu kawan-kawan aktivis pergerakan dan penyuka topik2 politik baik di Twitter ataupun Facebook lho hehehe..

Kang Sirod

25 September 2018

Perlambat Dirimu, perkuat keluargamu.

"If you want to go FAST, go alone; but if you want to go FAR, go together"
- African Proverbs.

Sering memperlambat kecepatan bisnis? Saya sering. Kenapa? banyak jawaban, di antaranya dikarenakan sekeliling kita gak siap. Entah istri dan komponen keluarga besar, entah pula karyawan dan sistem atau bahkan market di depan mata.

Pilihan memperlambat laju bisnis, menunda akselerasi  ekspansi atau membatalkan membuka market baru adalah pilihan-pilihan yang sering saya lakukan dikarenakan faktor-faktor ketidaksiapan. Apakah itu sebuah kemunduran? kegagalan? atau bukti saya tidak adaptif pada perubahan? bisa disimpulkan begitu, tetapi saya memilih memberikan alasan lain, bukan mencoba defensif dan excuse karena jawaban yang masuk akal: saya memilih kemajuan jangka panjang dan berakar pada hati orang-orang di sekeliling saya.

Seperti catatan ini misalnya, saya buat di Lt. 8 foodcourt Blok A tanah abang di mana denyut bisnis kuliner mengimbangi kecepatan bisnis fashion di tanah air yang mengular sampai manca negara. Saya tidak bisnis fashion, juga (belum) kuliner. Tapi saya berada di sini karena musti mengantar istri saya tercinta belanja barang dagangannya. Mumpung ini tanggal ganjil, sehingga satu-satunya kendaraan roda empat keluarga kami dapat dengan tenang menelusuri jalanan ibu kota yang kian padat. Karena pilihan ini, saya musti membatalkan satu pertemuan dengan EO besar mendiskusikan perkara penting dengan asosiasi yang saya kelola bersama teman-teman praktisi air.

Mengapa saya men-support bisnis istri saya yg secara cash-flow gitu-gitu aja? secara model bisnis kuno, dan secara ilmu manajemen gak kongruen dengan model manajemen manapun, eh kecuali model bisnis tukang sate pada umumnya, yg dari mulai motong daging, bumbuin, kipasin, sampai menyanjikan ke pelanggannya dilakukan oleh dirinya sendiri! Saya rela memperlambat denyut bisnis saya yg ribuan kali lipat kapitalisasinya dibanding bisnis yg saya geluti karena saya ingin saya melakukan apa-apa yg sangat baik dilakukan istri saya seperti: memilih baju (material) yg terbaik (cepat laku), konsisten membeli baju (supplier) tertentu (langganan), mencatat pembelian dan pengeluaran (accounting) dengan disiplin lalu memisahkan keuangan antara pribadi, keluarga dan dagangan sampai mensupport bisnis saya yg terkadang jatuh karena kekurangan cash.

Nah, alasan terakhir itu paling rasional bagi saya. Jadi ketika kita jatuh dikarenakan cashflow berdarah-darah (bleeding), orang-orang di sekitar kita masih sanggup menolong. Kita musti menjaga keikhlasan sekeliling kita untuk menolong kita, karena pertolongan dalam bisnis selalu take & give, orang (lain) hanya akan menolong jika dipandang kita worth bagi mereka dan bisa memeberi balik dirinya di saat mereka membutuhkan. Dengan menjaga independensi anda, bahkan ketergantungan kepada istri anda sendiri, lalu selalu memberikan giving lebih tinggi dan lebih banyak akan membuat bisnis anda lambat, tapi pada hakekatnya akan memperkuat pijakan langkah bisnis anda ke depannya.

Cobalah kurangi kongkow2 anda bersama komunitas bisnis jika secara jujur anda meyakini impact pada bisnis anda gak efektif, kurangi nongkrong dengan jejaring netizen politik jika mereka hanya bagian dari buzzer dan komunitas pengharap ratu adil dan kelompok pengiba fiksi. Begitu banyak "penyakit" dalam masyarakat kita tumbuh dikarenakan kesulitan ekonomi, kita jangan memperparah dengan membuang-buang waktu dalam kelompok tak bermutu. Lebih baik perlambat bisnis kita untuk support orang-orang terkasih dalam lingkungan kita sendiri. Berdaya diri, berdaya keluarga inti. Jika fondasi sudah kokoh, bolehlah kita teriak:  "ummati.. ummatii.."

Jakarta, 25 September 2018

18 September 2018

Layanan Logistik untuk UKM

Layanan jasa transportasi sekarang ini berubah total sejak ada Grab dan Uber di belahan dunia. Di Indonesia, kita bersyukur memiliki Go-Jek sebagai layanan transportasi online yang sepertinya berhasil "melawan" dominasi Grab dan Uber. Go-jek awalnya hanya melayani jasa antar penumpang menggunakan sepeda motor. Pilihan sepeda motor mungkin karena saat itu dianggap paling mudah dikelola, murah dari sisi partner-driver karena cukup menyediakan sepeda motor (range harga sepeda motor di 15-20 juta saja), potensi market yang besar serta tidak adanya regulasi yang mengatur jenis layanan transportasi di negara kita. 

Sejalan waktu, Go-Jek memberikan layanan yang semakin berkembang dan semakin lengkap. Mulai dari layanan massage on the spot, layanan antar makanan, jasa taksi online, jasa kirim barang dan jasa beli obat. Untuk jasa kirim barang, saya tertarik menggunakan layanan Same Day Delivery-nya yang relatif murah dibanding jasa kirim barang seketika. Jasa ini saya gunakan bilamana saya memiliki kelonggaran waktu dalam project yang saya kerjakan dan volume barang yg ingin dikirim berukuran kecil. Fitur inilah yang ingin saya bahas dan semoga pembaca melihat ini sebagai alternatif pengiriman yang menopang bisnis yang dijalankan.

Pesanan barang dari satu supplier di daerah Mangga Besar Jakarta ke Srengseng Sawah, Jagakarsa, hanya 15 ribu rupiah
Tapi aplikasi tetaplah aplikasi. Algoritma atau design thinking aplikasi yang bersangkutan, kehebatan investor Go-Jek (start-up ini pernah dibeli oleh SEQUIA - pemodalnya Microsoft & Apple - pun tak lepas dari bugs dan kelemahan-kelemahan layanan. Contohnya saya pesan untuk mengantarkan barang kemarin sore, prediksi dalam aplikasi Go-Jek pick-up time akan berkisar pada maksimum pukul 16.10, gak taunya pukul 16.20 masih belum tiba juga, yang artinya harus saya cancel karena pukul 16.30 si toko sudah siap-siap tutup dan harus fokus mengerjakan pembukuan harian. Hari ini Selasa, 18 September 2018 saya pesan lagi pukul 08.01 agar bisa punya range waktu yang lebih lama. Setelah saya cek ke toko penjual barang yang saya pesan, gak taunya belum juga diambil, padahal saat tulisan ini dibuat waktu telah menunjukkan pukul 16.24. You pay peanuts, you get monkey! 😠

Pesanan berikutnya yaitu dua barang saya beli di kawasan Salemba. Ada dua titik di dua toko berbeda. Saya pesan dari jam 08.40-an, alhamdulillah layanan yang saya gunakan yaitu Deliveree, cepat responnya dan sudah tiba di lokasi, bahkan 1,5 jam dia sudah nongkrong padahal toko-toko di kompleks trade center tsb belum buka. Alhasil saya harus membayar biaya tunggu Rp 20.000,- untuk 1/2 jam, karena 1 jam digratiskan oleh pengelola Deliveree, dan saya tentunya harus menggantibiaya parkir juga. Total 200.000,- yang kami bayarkan dengan rincian 160.000 biaya transport, parkir 14 ribu rupiah serta biaya tunggu. 
Layanan tampilan "real time location" Deliveree
Deliveree lebih murah dibanding layanan pesan antar barang menggunakan mobil milik Go-Jek yaitu Go-Box. Untuk itu saya akan memilih menggunakan aplikasi ini terlebih dahulu, kecuali jika driver not-available, maka terpaksa menggunakan jasa lain yang lebih mahal. Layanan aplikasi transportasi online dari Thailand ini sedikit demi sedikit diperbaiki rupanya, sehingga makin memanjakan para penggunanya. Tadi saat saya bertanya soal biaya tambahan "waktu tunggu", si Customer Service rupanya menjelaskan ada layanan untuk korporat atau bisnis. Di mana kita bisa membayar layanan di akhir bulan, wah menarik sekali. Semoga saja produk jualan filter air rumah tangga kami lebih laris lagi sehingga bisa rutin menggunakan jasa Deliveree. 

Demikian sedikit share saya untuk rekan-rekan pengusaha, semoga dapat bermanfaat. Kita tidak perlu menyicil kendaraan niaga untuk jasa layanan antar sekitar Jabodetabek. Cukup gunakan layanan online transportasi seperti ini saja. Lebih mudah, murah dan bebas beban investasi. 


Salam ngopi-ngopi.. 🍵


03 September 2018

JOUSAIRI HASBULLAH: Pelajaran dari Demografi Masa Kolonial

Pelajaran dari Demografi Masa Kolonial
JOUSAIRI HASBULLAH , Kompas Opini
3 September 2018
 
Hasil Sensus Penduduk 1930, di masa kolonial, memberi banyak pelajaran. Betapa bangsa yang besar, tetapi dengan mudah dikuasai oleh bangsa kecil. Terlepas dari pemberontakan yang heroik di beberapa tempat, secara umum anak-anak bangsa ini, dari perspektif demografis, ”dengan gembira” mendukung penjajah. Mengapa hal ini terjadi?

Pelajaran sejarah selama ini tidak pernah menyajikan data bagaimana distribusi dan komposisi demografis penduduk penjajah di tanah jajahan dan apa maknanya. Bidang keilmuan sejarawan memang bukan mengandalkan data kuantitatif. Sebaliknya, bagi statistisi, data kuantitatif sangat menarik, misalnya dalam menelaah laporan yang terhimpun dalam ”Volkstelling: Overzicht Voor Nederlandsch-Indie” 1930. Publikasi statistik ini memperlihatkan tidak saja sekadar angka penduduk, tetapi juga mentalitas kita sebagai bangsa yang lemah.

Penduduk”Nederlandsch-Indie”

Armada VOC datang ke Nusantara hanya membawa ratusan orang, dipimpin oleh Cornelis de Houtman tahun 1596. Mereka dengan mudah mendarat dan disambut dengan damai. Pada tahun 1622 VOC memiliki 143 anggota pasukan keamanan. Dari jumlah itu, hanya 57 orang Belanda, sisanya adalah tenaga bayaran dari sejumlah negara di Eropa.

Tahun 1674 penduduk Jawa telah mencapai 3 juta orang. Batavia waktu itu telah dihuni oleh 27.068 penduduk; dan jumlah penduduk Eropa—yang terdiri atas beragam asal-usul karena pegawai VOC direkrut dari sejumlah negara—sebanyak 2.024 orang saja.

Penguasaan VOC kemudian diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Setelah lebih dari 300 tahun bercokol di Indonesia (Nederlandsch-Indie), tahun 1930 jumlah penduduk Indonesia berkembang pesat mencapai 60,7 juta jiwa, dengan komposisi 59,1 juta penduduk pribumi (inlanders), 240.417 orang Belanda dan turunan Eropa lainnya, keturunan China berjumlah 1,2 juta jiwa (lima kali lipat jumlah orang Belanda), sisanya penduduk keturunan Arab dan lainnya.

Dari total 240.000-an penduduk Belanda di Indonesia, 193.000 orang tinggal di Pulau Jawa. Sedikit sekali yang menyebar di luar Jawa. Di seluruh Sumatera yang berpenduduk 8,2 juta jiwa, hanya 28.496 orang Belanda. Di Kalimantan dan Sulawesi yang jumlah penduduknya telah mencapai 6,4 juta jiwa, hanya 14.000 orang Belanda, termasuk bayi dan orangtua.

Penduduk Belanda (dan turunan Eropa lainnya) umumnya terkonsentrasi hanya di beberapa kota besar, seperti Jakarta (37.100 orang), Surabaya (25.900), Bandung (19.600), Semarang (12.600), Malang (7.400), dan Bogor/Buitenzorg (5.200). Di luar Jawa hanya tiga kota yang penduduk Belanda-nya lebih dari 2.000 orang, yaitu Medan (4.300), Padang (2.600), dan Makassar (3.400). Selebihnya, penduduk Belanda menyebar dalam jumlah yang sangat kecil.

Sekadar contoh, di Bekasi yang jumlah penduduknya pada tahun 1930 telah mencapai 202.000 jiwa, hanya ada 22 penduduk Belanda (sekitar lima rumah tangga). Di wilayah-wilayah kecil lainnya: di Menggala Lampung ada delapan penduduk Belanda, di Tandjung Balai hanya ada 10 orang, Kotagede-Yogya 22 orang. Angka-angka ini memberi makna, penduduk Belanda berani tinggal di bagian mana pun wilayah Indonesia walaupun hanya 2-3 keluarga.

Tidak mungkin mereka berani kalau tidak ada kenyamanan, dukungan, dan penghargaan dari penduduk di mana mereka tinggal. Kemungkinan lain, pribumi takut mengganggu karena walau tidak ada tentara Belanda, tetapi aparat desa, polisi, dan tentara pribumi yang bekerja untuk Belanda jumlahnya sangat banyak dan menekan.

Dijajah tentara sendiri

Tahun 1930, sebagian anak bangsa ini tengah bangkit nasionalismenya, terutama setelah Sumpah Pemuda tahun 1928, tetapi sebagian besar penduduk yang sudah relatif terdidik justru masih nyaman mendukung pemerintah penjajah. Mereka yang telah melek huruf, dapat membaca huruf Latin, sebanyak 6,4 persen dari total penduduk.

Mereka ini, 274.802 orang, menjadi aparat desa yang membantu penuh pemerintahan penjajah. Birokrasi pemerintahan Belanda, di luar pemerintahan desa, digerakkan oleh pribumi. Dari 80.000 pegawai pemerintah, 70.000 (69.939 orang) adalah pribumi dan hanya 8.235 orang Belanda dan 2.360 turunan China. Pribumi telah menjadi alat terpenting.

Apa yang mencengangkan kita adalah kekuatan tentara Nederlandsch-Indie berjumlah 45.740 orang. Dari jumlah tersebut, 37.704 orang atau 82,4 persennya adalah pribumi. Di Jawa hanya  6.637 tentara Belanda dan  26.026 tentara yang pribumi. Di luar Jawa jumlah tentara Belanda lebih kecil, 1.378 orang, dan pribuminya 7.594 orang. Seluruh polisi di Nederlandsch-Indie (Indonesia) berjumlah 35.840 orang, 34.340 orang atau 95,8 persen adalah pribumi.

Angka-angka yang disebutkan ini sangat meyakinkan kita bahwa Indonesia dijajah oleh tentara dan polisi anak bangsa sendiri. Satu keluarga Belanda dapat tinggal di mana saja karena tentara dan polisi yang orang pribumi ada di mana-mana.

Modal sosial yang lemah 

Mudahnya VOC masuk dan ”disambut damai”, kolaborasi antara elite lokal dan penjajah, dan dukungan sebagian besar rakyat yang relatif terdidik mengukuhkan ratusan tahun penjajahan. Kenyataan ini tidak dapat dipisahkan dari fenomena rendahnya modal sosial penduduk di Nusantara.

Ciri modal sosial yang rendah, masyarakat tercerai-berai dan jatuh ke dalam setidaknya tiga jenis krisis: krisis kepercayaan antarsesama, krisis empati, dan krisis kemanusiaan. Krisis akibat modal sosial yang rendah di awal masa VOC tersebut tampaknya terus berlanjut hingga kini!

Mari kita tengok ke dalam. Krisis kepercayaan telah membuat kita saling curiga antar-anak bangsa. Krisis empati membuat kita ”tega” dan kurang peduli akan situasi yang dialami saudara kita yang lain. Krisis kemanusiaan menyebabkan kita tak saling mencintai antarmanusia.

Akibat dari ketiga jenis krisis budaya ini, masyarakat dari dulu hingga sekarang jatuh dalam suasana mirip dengan apa yang disebut oleh Alberto Melucci sebagai krisis identitas: homelessness personal identity (ketunawismaan identitas diri).

Masyarakat kehilangan orientasi nilai dan juga kehilangan otonominya. Sistem pemerintahan dan organisasi sosial masyarakat—sebelum datangnya penjajah, masa penjajahan, dan setelah merdeka—yang totaliter telah memberangus segala bentuk kreativitas, kemandirian, perasaan berharga (sense of efficacy), dan kebersamaan dalam masyarakat. Hanya dengan ratusan tentara, penjajah dapat menaklukkan Nusantara.

Indonesia baru saja memperingati HUT ke-73 kemerdekaannya. Namun, setelah 73 tahun merdeka, kita tampaknya masih gagap untuk keluar dari suasana ketercerai-beraian. Budaya saling menghujat, saling menjatuhkan, dan saling fitnah terwarisi turun-temurun sejak masa awal VOC sampai hari ini.

Kita mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, membangun infrastruktur, dan meningkatkan tingkat pendidikan, tetapi ketika modal sosial yang ada di masyarakat lemah, sepertinya ada bom waktu yang bukan tidak mungkin akan memperlemah bangsa ini. Jangan sampai penjajahan bentuk lain oleh sekelompok kecil orang mengulang sejarah masa lalu kita. Dirgahayu Indonesia.

Jousairi Hasbullah Statistisi Pensiunan BPS; Lulusan Flinders University, Australia

BUSTANUL ARIFIN : Pertanian dan Revolusi 4.0

Kompas, 1 Agustus 2018

Pada forum Indef School of Political Economy (ISPE) di London Inggris,  Desember 2017, Duta Besar RI untuk Polandia Peter Gontha mengawali ceramahnya dengan suatu kritik serius bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sumber kemiskinan.

Tenggorokan saya seakan tercekat, pipi terasa tertampar, dan pikiran melayang tak keruan, sambil menebak-nebak ke mana arah ceramahnya nanti. Beberapa orang yang kenal sosok dan karakter Peter Gontha pasti tak asing lagi dengan gaya bicara lugas, point-blank, dan apa adanya. Selain sebagai dubes, ia wirausaha sukses, pendiri Java Jazz, dan mampu bertahan di kancah elite semua rezim, dari era Orde Baru, Reformasi, hingga era Presiden Joko Widodo.

Sebagai salah satu mentor ISPE, saya menjadi risau karena Peter Gontha sedang berbicara di depan puluhan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan pascasarjana dari sekian universitas di Inggris. Saya khawatir para calon pemimpin bangsa masa depan itu akan ”termakan” begitu saja sehingga tak tertarik mempelajari ekonomi pertanian atau disiplin ilmu lain yang berhubungan langsung dan tak langsung dengan pembangunan pertanian. Provokasi Gontha masih terus berlanjut sampai setengah waktu dari ceramahnya. Akhirnya, hati saya mulai tenteram dan pikiran menjadi tenang karena sang dubes flamboyan menawarkan sekian macam solusi untuk senantiasa peka terhadap perubahan lingkungan.

Benar bahwa sektor pertanian dan ekonomi Indonesia secara umum akan terus tertinggal jika masih menggunakan jargon lama dan kosakata usang untuk berselancar bersama gelombang perubahan yang sedang terjadi. Calon pemimpin bangsa masa depan itu harus siap menjadi agen perubahan, pelaku dan pemimpin perubahan, mampu mengendalikan arah perubahan, bahkan mengubah strategi jika strategi awal banyak menemui hambatan.

Kinerja pembangunan pertanian

Artikel ini membahas tantangan besar pembangunan pertanian di era Revolusi Industri 4.0, meminjam istilah Klaus Schwab. Setelah hampir memasuki tahun terakhir dari Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla, kinerja sektor pertanian belum banyak menjadi basis ekonomi Indonesia seperti amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019. Pertanian dalam arti luas tumbuh 3,81 persen per tahun, sebenarnya tak terlalu buruk mengingat kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,06 persen pada 2017.

Masyarakat tak akan berharap pertumbuhan pertanian mencapai 6  persen seperti era 1980-an ketika pertumbuhan ekonomi lebih dari 7 persen. Artinya, sektor pertanian belum mampu menjadi pengganda pendapatan dan pengganda lapangan kerja bagi perekonomian Indonesia.

Pada sektor pangan pokok, khususnya beras, strategi peningkatan produksi dan stabilisasi harga beras masih belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat umum. Sambil menunggu pengumuman resmi pemerintah tentang angka kinerja produksi yang kini sedang dihitung ulang oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metode kerangka sampel area, fakta tingginya harga eceran beras tentu menjadi penentu bagi laju inflasi dan bahkan garis kemiskinan.

Sampai Juni 2018, data BPS menunjukkan, impor beras mencapai 896.000 ton, naik signifikan dari 305.000 ton pada 2017. Dengan kekeringan yang mulai melanda sejumlah sentra produksi beras, angka impor 2018 ini mungkin akan melebihi impor 2016 sebesar 1,3 juta ton. Pemerintah mengambil keputusan impor 500.000 ton awal tahun untuk stok Bulog dan kemungkinan tambahan 500.000 ton untuk operasi pasar dan penanggulangan keadaan darurat lain.

BPS mencatat harga eceran beras pada Juni 2018 sebesar Rp 13.825 per kilogram, meningkat 5,41 persen dibandingkan Juni 2017. Harga beras sekarang telah menurun dibandingkan Februari 2018 sebesar Rp 14.697 per kilogram, rekor tertinggi selama ini. Tingginya harga beras dan pangan lain memberikan sumbangan khusus pada garis kemiskinan di Indonesia. Harga beras berkontribusi 73,48 pada garis kemiskinan pada Maret 2018, meningkat dibandingkan sumbangan 73,35 persen pada September 2017. Komoditas pangan yang berpengaruh pada garis kemiskinan perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam, daging ayam, mi instan, dan gula pasir.

Walau jumlah orang miskin telah turun menjadi 25,95 juta orang (9,82 persen) pada Maret 2018, dari 26,58 juta orang (10,12 persen) pada September 2017, jumlah orang miskin di perdesaan masih besar 15,81 juta orang (13,20 persen), lebih tinggi dari perkotaan yang 10,14 juta orang (7,02 persen).

Transformasi struktural 

Pembangunan pertanian adalah proses transformasi struktural perekonomian, dari semula berbasis sektor pertanian dan perdesaan bergeser menjadi berbasis sektor industri dan jasa. Transformasi struktural tidak linier dan penuh liku, berhubungan dengan serangkaian aksi-reaksi oleh para pelaku ekonomi, insentif-respons oleh perumus kebijakan, serta tindakan-konsekuensi oleh segenap lapisan masyarakat madani yang lebih beradab. Proses pembangunan pertanian yang berhasil tidak hanya akan memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga berkontribusi pada keberadaban suatu proses transformasi.

Proses transformasi struktural yang kokoh akan menghasilkan industri yang tangguh dan menjadi andalan pembangunan sehingga menciptakan sektor jasa dan tersier lain yang jadi tumpuan hidup kelas menengah masa depan. Kaum kelas menengah yang diperkirakan melebihi 100 juta orang dalam waktu dekat akan menjadi pelaku penting di era Revolusi Industri 4.0 yang berbasis teknologi data, pendekatan digital, dan peran generasi milenial yang sudah memasuki pasar kerja dan berbaur dalam menentukan perjalanan ekonomi Indonesia masa mendatang.

Chris Barret (2011) membuat tahapan transformasi struktural berikut. Pertama, tahap awal ”menggerakkan sektor pertanian” (Mosher). Kedua, tahap peran pertanian dalam pembangunan ekonomi (Johnston-Mellor). Ketiga, tahap kenaikan pendapatan pertanian yang lebih rendah dari kenaikan pendapatan non-pertanian karena perbedaan kapasitas produksi dan SDM pertanian (Schultz). Keempat, tahap integrasi pasar tenaga kerja dan pasar keuangan alias era industri modern.

Jika suatu negara mencoba melompat langsung ke ekonomi industri modern atau era Revolusi Industri 4.0 tanpa melalui tiga tahapan awal, bukan manfaat yang akan diperoleh, tetapi ”bencana” yang tak ringan. Misalnya, ekonomi digital sudah amat maju, banyak usaha rintisan dan siap menghubungkan petani dan konsumen atau pasar lebih luas. Jika produktivitas pertanian tidak tinggi dan permintaan akan produk pertanian meningkat pesat, era disrupsi seperti itu justru akan meningkatkan ketergantungan pada produk pertanian negara lain. Jika laju inovasi, riset dan pengembangan (R&D) terlalu rendah, misalnya karena kapasitas SDM yang rendah, integrasi pasar tenaga kerja dan pasar keuangan seperti pada tahap keempat masih sulit terjadi.

Opsi strategi kebijakan masa depan adalah pembangunan pertanian perlu lebih berani mencari terobosan strategis, model bisnis, bantuan langsung petani, dan pemberdayaan masyarakat madani, termasuk bentuk pengembangan bioteknologi modern, pertanian presisi, pertanian ramah lingkungan, dan penanganan pascapanen lebih efisien.

Terakhir, strategi peningkatan kualitas modal manusia, terutama di perdesaan, untuk mendukung strategi industrialisasi perdesaan, industri pengolahan produk pertanian, jasa, dan perdagangan. Opsi kebijakan itu akan mampu meningkatkan daya permintaan atau pasar domestik serta membantu petani, terutama petani muda, masuk dan berperan besar di era industri modern.

Bustanul Arifin Guru Besar Ekonomi Pertanian Unila & Ekonom Senior Indef