12 August 2017

Wicaksono 36 tahun, membangun bisnis Tbk 900 M dana publik hanya dalam 10 tahun

Wicaksono 36 th, sedang mengisi acara salah satu kegiatan TDA Depok di Aula Perpustakaan Kantor Walikota Depok, Margonda

Sebelum menejelaskan tepatnya membuka pemaparan media terkait siapa beliau, Pak Wicaksono yang usianya lebih muda dari saya 3 tahun ini, mungkin perlu saya jelaskan sedikit dulu apa itu komunitas Tangan Di Atas. Komunitas ini adalah komunitas entrepreneur (saya lebih prefer menyebutnya demikian, bukan komunitas pengusaha) yang tidak membedakan seseorang bergabung apakah memiliki legal formal standing (SIUP, NPWP dll) perusahaan atau tidak. Dengan konsep begini, maka memang cukup riuh pikuk di dalam TDA, karena anak-anak muda yang punya spirit bisnis yang tinggi dan minim pengalaman bercampur dengan pengusaha yang masuk pada fase kapitalis sebenarnya. 


Saya sendiri masuk TDA hanya "sekedarnya" saja. Ikut aktif di grup B2B (business to business) yang isinya kebanyakan pengusaha yang berbisnis jualan ke korporat memberikan layanan jualan barang atau jasa. Ada yang bisnis EO, water treatment seperti saya atau layanan manajemen (IT, System, pelatihan SDM, dll). Sebagaimana komunitas bisnis, TDA digerakkan oleh pengurus yang punya "daya juang" jauh lebih tinggi dibanding member biasa seperti saya. Entah kapan bisa kontribusi untuk TDA, saat ini saya hanya menjadi member aktif saja sudah bersyukur. 

Suasana acara seminar Strategi Scale Up yang efektif agar bisnis semakin berkibar, Jum'at 11 Agustus oleh Wicaksono & TDA Depok
Tak banyak informasi yang saya punya mengenai beliau, tapi rupanya beliau sudah dikenal oleh media massa dikarenakan prestasinya yang mengesankan, karena percepatan (scale up) bisnis yang beliau lakukan. Berikut pemaparan beberapa media yang saya dapatkan. 
  • Witjaksono, lahir pada tanggal 20 September 1981 di Pati, Jawa Tengah. Menyelesaikan S1 nya di Universitas Diponegoro Semarang, lalu Hijrah ke Jakarta pada Tanggal 19 Desember 2004 untuk mengikuti test guna mendapatkan Bea Siswa untuk melanjutkan studi di Australia. Namun Witjaksono gagal berangkat ke Australia karena tidak mampu membayar biaya Deposit.
  • Tidak dikenal fund manager lokal tapi masuk list fund manager asing:
    Presiden Jokowi dan masuk radar fund manager asing tapi lolos dari tangkapan layar pantau pebisnis di dalam negeri? Figur Witjak boleh dibilang pebisnis baru dari generasi anak muda era tahun 2000-an. Sebagai pendatang baru di dunia bisnis, wajar bila keberadaannya tidaklah diketahui banyak orang, termasuk di komunitas pelaku bisnis. Apabila namanya dilacak di dunia maya, akan keluar informasi kisah Witjak sebagai pendiri PT Dua Putera Utama Makmur Tbk (DPUM) yang bergerak di bidang pengolahan hasil laut sedang sharing knowledge dan pengalaman sebagai seorang pengusaha muda
  • Awal bisnis berbentuk CV:
    Pati, Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) didirikan tanggal 09 Mei 2012, dimana sebelumnya berbentuk CV dengan nama CV Dua Putra Dewa. Kantor pusat DPUM berlokasi di Gedung Nariba Office Suites & Pavilion, Lantai 6, Jl. Mampang Prapatan Raya No. 30, Jakarta Selatan 12790 – Indonesia.
    Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Dua Putra Utama Makmur Tbk, antara lain: PT Pandawa Putra Investama (59,73%), UOB Kay Hian Pte. Ltd. (13,06%) dan DPP Inhouse 1 (6,53%).
  • Berhasil IPO menikmati layanan paket kebijakan ekonomi Jokowi:
    Bisnis.com, JAKARTA -- PT Dua Putra Utama Makmur, perusahaan perikanan tangkap terintegrasi asal Pati, Jawa Tengah, menjajaki untuk menawarkan sahamnya ke publik (initial public offering/ IPO) di pasar modal tahun depan, menyusul insentif paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah.

    Witjaksono, pendiri sekaligus komisaris utama Dua Putra, menyatakan paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah antara lain berupa insentif bagi perusahaan lokal untuk melantai di pasar modal sangat positif baik bagi dunia usaha.
  • Menteri Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menko Maritim, meresmikan pabrik Dua Putra
    Dalam peresmian yang dilakukan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan mewakili Presiden RI Joko Widodo di Pati, Rabu (10/8/2016), perusahaan perikanan yang meliputi pengolahan, perdagangan hingga  cold storage itu disebut mampu menyerap tenaga kerja hingga 4.000 pekerja atau karyawan.
    PT Dua Putra Utama Makmur Tbk masuk dalam jajaran industri perikanan "raksasa" dan terbesar di Indonesia, karena mampu memproduksi berkapasitas 100 ton setiap hari dengan kapasitas cold storage mencapai 25.000 ton. Rencananya, PT DPUM akan melakukan ekspansi dengan membangun perusahaan di Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
  • Awal bisnis hanya dagang ikan, menunggu transaksi besar, dikapitalisasi oleh Standard CharteredDengan modal tersebut, pengusaha yang juga penggagas program Akoe Indonesia ini lantas berdagang di Tempat Pelelangan Ikan di Pati, Jawa Tengah. "Dari situ kami akhirnya bisa berhubungan dengan bank, hingga kita ketemu pembeli yang cukup besar dan rutin dari Jakarta," ungkap Witjaksono.
    Perusahaan ini kian berkembang setelah dilirik oleh investor asal Thailand. "Mereka memberikan kita pinjaman cold storage buat tampung ikan yang dibeli sama mereka. Kita diberi margin cuma Rp 1000 per kilo. Tapi habis itu, kita ada transaksi gede, baru lah ada bank gede masuk. Setelah itu di-take over di bank lain, lalu Standard Chartered masuk sekitar tiga tahun yang lalu," jelasnya.
    "Ya lumayan lah, omzet kita mencapai di sekitar Rp 70 milyar. Tahun yang lalu kita tutup buku di angka kisaran Rp 300 milyar," Witjaksono, menambahkan.

  • Karena dibentuk oleh 5 orang pada awalnya, Menko Maritim sebut Wicak dan kawan-kawannya sebagai Pandawa Lima

    Dalam sambutanya Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Presiden perintahkan saya yang beraa di Bali untuk ke Pati karena dianggap sangat penting karena menyangkut kreativitas anak muda yang mengelola pabrik PT. Dua Putra Utama Makmur Tbk adalah Pandawa lima yang terdiri dari anak-anak muda yang saat ini perusahaan sudah masuk BEI (Bursa Efek Indonesia) yang tentunya prosesnya tidak mudah.

    “PT. Dua Putra Utama Makmur Tbk Memiliki sekitar 4000 orang karyawan dengan perkembangan yang sangat cepat dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja tentunya sangat mengangkat nama Kabupaten Pati di era MEA yang sedang di berlakukan oleh pemerintah Indonesia,” jelasnya.
  • November 2015, Dwi Putra melepas 40% sahamnya.
    Sebuah pabrik pengolahan ikan PT Dua Putra Utama Makmur resmi akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 1 Desember 2015. Perusahaan yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah tersebut akan melepas Rp 1,675 miliar saham. Pendiri sekaligus Komisaris Utama PT Dua Putra Utama Makmur, Witjaksono, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (8/11) menuturkan, dalam perincian penawaran umum perdana saham, pihaknya berencana melepas sebanyak-banyaknya Rp 1.675.000.000 lembar saham biasa atas nama saham baru.
    Angka tersebut merupakan 40,12 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor perseroan setelah penawaran umum perdana saham. "Sebanyak-banyaknya Rp 167.500.000 atau 10 persen dari jumlah saham yang ditawarkan dialokasikan dalam rangka 'Employee Stock Allocation'," ujarnya.
Demikian info-info yang saya dapatkan dari media online tentang Mas Wicaksono, semoga menginspirasi banyak anak-anak muda di Indonesia. 

Salam TDA 5.0 : GetUp, SpeedUp, ScaleUp






09 August 2017

Gue Cina, kenapa loe?

Beberapa waktu ke belakang ini terlalu banyak sentimen kesukuan dilatarbelakangi kebencian pada etnis Cina. Problem ini selalu saja muncul di tengah-tengah masyarakat kita. Entah karena kecemburuan ekonomi, ketidakadilan, pemahaman yang kurang atau memang masyarakat yang sakit multidimensi sehingga memunculkan ujaran kebencian yang massif di mana-mana. Sebagai seseorang yang punya darah Cina asli dari Cina daratan, saya perlu sedikit menjelaskan soal Cina dan Indonesia ini. 

Kalau ditarik ke era Orde Baru, sentimen ke suku Cina itu memang wajar adanya, dikarenakan politik keliru orba yang membiarkan ras ini berkembang bebas di ekonomi lalu memasung hak-hak sosial budaya dan politik mereka. Kepentingan orba hanya satu, agar bisa memeras kaum Cina itu menjadi pasokan bahan bakar politik. Cina dijadikan sapi perahan, sementara pribumi bisa leha-leha jadi tentara, pegawai BUMN dan PNS dengan mentalitas pengemis!

Soeharto bukan tidak faham soal bahayanya hal ini, jauh-jauh hari Sumitro Djojohadikusumo sudah mengingatkan strategi keliru ini, Pak Sumitro yang merupakan ayahadan Prabowo ini justru menganjurkan strategi sebaliknya, Cina diberi hak sama dalam sosial budaya tetapi ekonomi dibatasi sebagai keadilan agar duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum pribumi. Diharapkan dengan strategi ini akan tumbuh entrepreneur-entrepreneur tangguh dari suku pribumi dan itu akan menguntungkan bangsa ini untuk jangka panjang. 

Tapi dasar Soeharto yang sangat lemah dengan kelakuan anak-anaknya yg doyan nempel di kekuatan Bapaknya, dia membiarkan Cina-cina itu menyuap anak-anaknya untuk berbisnis dan berkolaborasi menjadi kroni-kroni yang nantinya menyerang kepentingannya sendiri. Politik "trickle down effect" yang intinya mengharapkan adanya keadilan dari konglomerasi yang dibesarkan Pak Harto tak terjadi, the greedy economy yg dibangun oleh konglomerat Cina itu menghabisi kekuatan-kekuatan Pak Harto terutama dari soft power (media, lobby asing) dibanding hard power (struktur negara, tentara). 

Sedikit sekali masyarakat dan warga netizen medsos yang faham soal ini, sehingga taunya Cina itu licik, serakah dan semua Cina itu sama bangsatnya gak ada yang baik. Bahkan umumnya mereka gak faham mana Cina sebagai sebuah nation (Republik Rakyat Cina, atau Tiongkok kalau istilah SBY) atau Cina sebagai suku bangsa / ras. Ketidakpahaman ini diperparah dengan pemahaman bahwa setiap suku bangsa itu memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Banyak Cina goblok, sama banyaknya seperti Jawa, Padang, Sunda yg goblok-goblok... 

bersambung... 

01 August 2017

Bicara soal garam

Kita memang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, tetapi tidak berarti punya pantai yang panjang itu industri garam serta merta dapat didirikan di sana semuanya. Untuk membangun industri butuh pekerja, akses transportasi dan fasilitas pendukung lainnya.

Setahu saya salinitas laut itu berbeda-beda, hanya pantai dengan salinitas air laut yg tinggi dengan cuaca terik matahari yang mendukung yg cocok dijadikan tambak-tambak garam. Jadi jangan heran kalau tambak-tambak garam itu umumnya di titik-titik tertentu di pulau jawa saja.

Garam itu ada garam industri dan garam dapur. Keduanya punya spesifikasi teknis yang berbeda. Garam untuk dapur lebih mudah diproduksi di dalam negeri karena secara umum tidak membutuhkan teknologi lanjutan untuk memproduksinya. Thus, garam-garam dari petani tambak itu sebenarnya sudah bisa langsung dipakai sebagai bumbu masak (walau belum ber-yodium).

Sementara garam industri digunakan karena proses industri benar-benar membutuhkan NaCl (Na+ & Cl-). Contoh dalam proses pelunakan air di pengolahan air bersih, garam digunakan sebagai regenerant dan mencuci balik (backwash) media filter agar tidak jenuh karena menyerap Ca+ atau Mg+ yang menaikkan hardness air.

Produksi garam di Australia

Industri hilir kita karena banyaknya "mulut" yang harus disuapi produk pangan, kapasitasnya tidak berbanding dengan kemampuan suplay di hulu-nya. Bukan hanya kasus garam saja, misalnya tempe dari kedelai atau bakso dari daging sapi, sampai sekarang negeri ini tidak mampu memasok kebutuhan bahan bakunya yg terus bertambah.

Teknologi desalinasi (penyulingan) air laut di Australia kabarnya juga menambah pasokan berlimpah mereka untuk garam industri. Karena selain dari laut, kabarnya negeri kangguru itu juga memproduksi garam dari tambang-tambang. Saya dan beberapa kawan di Indonesian Water Association insyaallah mampu kalau "hanya sekedar" menyuling air laut, tetapi jika satu proses itu juga bisa menghasilkan garam NaCl berkualitas tinggi, kami belum menguasai expertise ini.

Kalau pemerintah berniat serius untuk mengembangkan industri ini, kami siap membantu. Hanya saja sebagai kumpulan praktisi, kami tidak terbiasa berlama-lama dalam seminar dan presentasi teoritis. Jika ada langkah-langkah bisnis (baik B to B atau B to G) yang diinisiasi pemerintah yang menguntungkan kedua belah pihak saya kira kami akan menyambut dengan gembira.

Referensi:
















Muhammad Sirod
sirod@arus.co.id
Hp. 0811 995 3216

24 July 2017

Anton Apriyantono, Tiga Pilar Sejahtera dan Penggerebekan Beras Premium

Saya merasa perlu menjelaskan dan menulis artikel soal berita heboh di media sosial terkait penggerebakan PT. IBU (Indo Beras Unggul) oleh POLRI, KPPU dan KEMENTAN ini. 




Saya merasa perlu menjelaskan untuk memahami logika pemerintah terkait penggerebekan, juga ingin berbagi sedikit informasi yang saya fahami, mengingat sebagai alumni IPB saya cukup banyak berdiskusi soal pertanian dan pangan, juga sebagai sahabat dan "didikan" pak Anton Apriyantono, saya juga ingin menjelaskan kesimpangsiuran informasi yang beredar. 

Pak AA, demikian panggilan akrab kami adalah sosok kebanggaan dari kalangan aktivis Islam, aktivis Halal dan para pendaki gunung / pecinta alam. Beliau "bekas" dosen Teknologi Pangan IPB, satu jurusan yang sulit dimasuki oleh sembarang pelajar, karena rata-rata tingkat kecerdasan akademis di TPG (sekarang Ilmu Teknologi Pangan, atau ITP) tinggi sekali. Saya sendiri ambil program Teknologi Industri Pertanian yang satu fakultas dengan ITP tsb. 

Saya kenal dengan Pak AA bukan di aktivitas internal kampus, karena beliau gak pernah mendapatkan jabatan apapun di fakultas atau IPB. Beliau termasuk yang tidak populer sama sekali di kampus. Tetapi di kemasyarakatan, aktivitas beliau menjadi auditor Halal LPPOM MUI bersama beberapa dosen IPB cukup dikenal, begitu juga dalam komunitas halal-baik-enak@yahoogroups.com dulu, beliaulah motornya. Sampai-sampai saya yg dulu auditor halal di Indofood, menjadi sangat dekat dengan beliau karena kehati-hatian beliau dalam mengkonsumsi makanan. 

Beliau sangat sederhana, satu-satunya mobil yg dimiliki beliau saat itu hanyalah suzuki carry 1.0 yang digunakannya untuk beragam aktivitas. Kami pernah satu mobil dengan beliau untuk hadir dalam acara komunitas halal-baik-enak di Jakarta, berangkat dari Bogor. Tidak ada sopir yang mengantar, dan ketika beliau kelelahan beliau berhenti dulu, kaca mobil dibuka lebar-lebar lalu beliau tidur. Saat itu kami, anak2 yang di tingkat akhir IPB ini gak ada yang bisa nyetir, alhasil ya sudah beliau tidur kami diam saja di dalam mobil. Tak ada keluhan, tak ada umpatan dengan keadaan tsb, kesabaran yang luar biasa. 

SBY kemudian mengangkat Pak AA menjadi menteri pertanian dalam 5 tahun periode pertama beliau menjadi presiden 2004-2009. Saat itu prestasi gemilang Pak AA terkenal sekali, apalagi yg diblow-up oleh kalangan aktivis muslim adalah faktor kesederhanaan beliau. Beliau dari dulu gak punya televisi, punya beberapa lemari buku Olympic yang gampang reot itu yang isinya penuh dengan buku-buku pemikiran sampai buku-buku pangan. Tak heran beliau meluncurkan buku tentang pangan halal dan dijadikan rujukan industri pangan saat itu.  

Saat buka puasa bersama di rumah Pak Chairul Tanjung, Teuku Umar, kebetulan saya diundang oleh Bang Abdul Aziz (komisaris Bank Mega) untuk hadir. Saat itulah saya menyaksikan bagaimana Pak Joesof Kalla (JK) mempresentasikan bagaimana dulu beliau berhasil mengatasi kisruh pangan terutama daging sapi. Saat itu Pak SBY dan Pak Suswono hadir. Pak JK setelah memberikan pembuka, mempersilahkan pak AA untuk menyampaikan beberapa pesan. Benarlah dugaan saya, bahwa keberhasilan pertanian saat itu, termasuk swasembada beras itu karena andil supervisi Pak JK dan konsistensi pak AA. 

bersambung... (saya lanjut ngajar dulu di TAZKIA, salam dari sentul.. )

30 June 2017

MEMBANGUN SEMANGAT REVOLUSI MELALUI KESENIAN DAN KEBUDAYAAN

Pesantren Kreatif iHaqi 21 Februari 2017, Pelatihan Media Sosial untuk sebagai media dakwah (Republika online


Kang Sirod (blogger, entrepreneur, tukang di arus.co.id)
-disampaikan di WA Group Seni Sastra dan Budaya

#Activism #Revolt #Seni&Budaya

Ada 3 kata penting yang akan disampaikan dalam sharing online di jejaring media sosial whatsapp group ini: Revolusi, Kesenian dan Kebudayaan. Bukan topik yang ringan buat seorang ayah beranak 3, dengan 1 istri, tanpa prestasi apa-apa dalam kesenian dan kebudayaan.

Kalaupun ada prestasi seni, mungkin hanya juara lomba adzan di tingkat RT di sebuah kampung bernama Ngamprah Padalarang saat saya kelas 5 SD, atau jika itu satu pencapaian mungkin juara 3 puisi di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat saat usia 10 tahunan.

Tak layak juga disebut Revolusionist jika disandingkan pada pesohor sejarah yang merubah cara hidup dan nasib banyak orang karena karya-karyanya. Tetapi mungkin sebuah sistem terintegrasi pengolahan air di rumah sakit pertama di Indonesia, sebuah rumah sakit kanker & jantung milik swasta di Semanggi. Sistem ini sering dibangga-banggakan karena itulah pencapaian tertinggi bagi seorang praktisi air bersih seperti saya.  Sistem ini merupakan konsep baru yang merubah sistem air bersih di seluruh rumah sakit - rumah sakit di Indonesia.

MUSIK DIGITAL

Revolusi, Seni, Budaya, adalah tiga kata yang saya gandrungi sebagai seorang penikmat seni "rendahan". Saya bisa menikmati pop jazz seperti Joss Stone, tetapi kesulitan menikmati musik jazz sebenar-benarnya jazz.

Saya juga bisa menikmati musik indah nusantara seperti Kacapi Suling seperti ini: https://soundcloud.com/phiank/kacapi-suling-sunda-bangbara?in=muhammad-sirod-rasoma/sets/kacapi-suling

sampai alunan ritmik dari tanah batak seperti ini: https://soundcloud.com/riki-rotwoa-nababan-1/batak-instrument-indonesia-bii?in=muhammad-sirod-rasoma/sets/musik-nusantara

Sengaja saya nyalakan musik dari ranah minang seperti ini, agar mertuaku yang asli Pantai Painan dapat senang hatinya:



sungguh suatu kenikmatan menjadi awam ilmu musik, miskin budget dengan sedikit ketikkan kata kunci di Soundcloud saya menikmati alunan indah karya seni musikus jenius, tanpa harus repot-repot sebagaimana penikmat musik jaman dulu.

Sesekali boleh juga ketika menyetir, meracau mencurahan isi hati. Entah penyesalah entah motivasi, yang penting narsis tak mengapa, diniatkan untuk ibadah, walau karya itu dianggap sampah, ya pasrah saja..

misalnya:  Memahami komunikasi ala Soekarno: https://soundcloud.com/muhammad-sirod-rasoma/kemampuan-komunikasi-soekarno



Jika Soundcloud berisi cipta karya musikus yg merdeka, maka Joox merupakan gudang musik dari label-label berjaya di industri musik, bolehlah diunduh sebagai pelipur lara saat mengendara. Pilihan lirik di aplikasi lumayan lah pengganti bernyanyi di kamar mandi..

Fasilitas Lyrics Card pada Aplikasi Joox.



PUISI BLOG

Jika pilihan kata menunjukkan kasta, maka puisi adalah gubahan hati sanubari yang tak perlu dikritisi. Puisi saat ini bisa dinikmati dengan hanya mengetikkan beberapa kata kunci, ribuan sastrawan asli sampai gadungan bermunculan.

Tapi bolehlah jika seorang tukang seperti saya mengungkapkan rasa berupa untaian kata yang tak berirama karena saya bukan musikus ternama, ia hanya ungkapan keindahan dan kekaguman atau kebencian yang dipendam atau dibaca sebagai pengingat diri, seperti di sini: http://pujangga-tanggung.blogspot.co.id/2016/03/hidup.html

18 Agustus 2015 di perairan kepulauan seribu
Hidup...

Hidupku kawan, seperti seorang nelayan
pergi di keheningan malam, pulang dalam belaian terik mentari pagi..
tergopoh-gopoh ke pantai membawa sedikit ikan,
menawarkan dengan sisa tenaga di pelelangan,

hidup seperti ini kawan,
mengarungi samudera luas ciptaan sang Maha Kaya,
berjuang demi anak dan istri di rumah,
yang menanti rejeki baik dari kita.

indahnya berjuang itu kawan,
seperti nelayan yang perkasa,
siraman air garam pada tulang dan kulit legam hitam,
menjadi berkah ibadah,
menjadi bukti keikhlasan diri,

Kukusan, 21 Maret 2016



Sedikit sekali karya puisi saya itu. Pernah di kalbar dulu sewaktu SD saya menuliskan puisi dalam sebuah buku, mungkin sudah puluhan saya tulis, tapi ia lenyap dimakan rayap. Jika nanti saya bertemu Tuhan, saya ingin buku itu ia ciptakan kembali. Aamiin..


MEMBACA & MEMBUAT RESENSI BUKU

Membaca, satu kemewahan buat saya kini. Kenapa? karena waktu untuk membaca buku harus ditukar oleh kesibukan lain. Sibuk berdiskusi bertukar fikiran di media sosial. Alhamdulillah, ada penulis-penulis yang telaten menulis dan saya berteman dengan penyalintempel, puluhan whatsapp group saya ikuti, tulisan sama saya baca berulang hehehe..

Tak mengapa, masih tersisa sedikit waktu dulu, ada buku pop (lagi2 pop, karena ringan dan gak butuh kening berkerut), yang saya baca, hasil hadiah dari sebuah provider telekomunikasi. Buku itu ternyata salinan dari sebuah film Hollywood, tentang cerita seorang pencuri baik hati dari seramnya hutan sherwood: http://sirod.blogspot.co.id/2010/10/robin-longstride.html

Ulasan novel Robinhood yg merupakan adaptasi dari film Hollywwod - Russel Crowe

Saya ternyata bukan Indonesia, belum berani ngaku Pancasila juga 😀, karena ada 12,125% saya berdarah China. Bukan China di Glodok yang bicara Hokkian, atau China Medan & Batam yang fasih berbahasa Kanton, ini benar-benar China Daratan (mainland) yang kini disalahmengerti penduduk negeri.

Sila pergunakan geni.com untuk membuat silsilah atau pohon keturunan kita, siapa tahu kita benar-benar memang keturunan bangsawan, pahlawan atau orang-orang hebat untuk sekedar memberi harapan palsu di sekelebat pemikiran kita hahaha..


Jatidiri, begitu orang bilang. Adalah sejujur-jujurnya darah dan kultur yang diberikan Tuhan kepada kita. Tak perlu bangga berbangga karena semua manusia punya suku bangsa, bahasa dan budaya, tak perlu lupa karena ia bukan pilihan melainkan warisan, tak perlu mencaci, karena Tuhan mencipta berbeda untuk salingsapa, bukan dibuat jurang pemisah antara, menguak disparitas menjauhkan solidaritas.

Walau sunda campuran, yang katanya ada trah pangeran, bergelar raden dari seorang perempuan. Dialah Rd. Siti Hawa nenekku, membuat saya mencoba menggali apa kelebihan-kelebihan seorang sunda yang bangsawan. Maka dibacalah sebuah buku, karangan jepun ber-ilmu. Sila ketik kata kunci dalam mesin pencari: "kebudayaan sunda site:sirod.blogspot.com" maka inilah saduran dari buku yang saya baca:

Saduran hasil membaca buku karya Mikihiro Moriyama

Berkompromi dengan Kolonialisme demi kemajuan Budaya Sunda -
http://sirod.blogspot.co.id/2010/12/berkompromi-dengan-kolonialisme-demi.html

Beberapa alternatif media seni budaya tsb dapat diakses dengan mudah, murah meriah dan lumayan melupakan jenuh deru membosankan ibukota. Belum lagi saya bahas betapa banyak karsa dan karya warga indonesia bertemu berinteraksi sampai berbuah cinta seperti saya. Ya! saya menemukan istri dari sebuah kopi darat dari mailing list berbahas inggris.

Betapa revolusi budaya telah terjadi, siap gak siap kita berada di pusaran cepat-nya. Mari eksplorasi, sinergi dan organisasikan semuanya, demi manfaat besar bangsa ini. Bangsa yang ribuan tahun telah ada sebelum puluhan tahun berbentuk negara. Bangsa yang katanya dahulu kala terbentuk dari peradaban atlantis, menyemangati banyak orang untuk optimis.

tempa besi, kena bakar,
tempat buaya, ke penangkar,
tanpa seni jadi kasar,
tanpa budaya, jadi barbar

bersampan ke Kalimantan, malah menepi di Pelalawan
negeri batubara, dalam hutan hujan tropika.
aku bukan seniman apalagi sastrawan
hanya pengembara keindahan di bumi Nusantara