
Kabupaten Limbangan. Beliau ini adalah tokoh utama dibalik bentuk baru lahirnya tulisan sunda. Seorang tokoh yang melakukan lompatan
besar untuk kemajuan budaya sunda.
Moesa mendampingi Karel Frederik Holle, sahabatnya yang orang Belanda, menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda. Kolaborasi keduanya menghasilkan buku-buku bermutu (untuk ukuran saat itu). Sebua sinergi dari seorang kumpeni yang mengapresiasi budaya bangsa lain (sunda/Indonesia) dan seorang penduduk lokal yang memiliki wawasan global dan mengerti bahwa kemajuan suatu bangsa atau kelompok masyarakat sangat tergantung dari cara mereka mengakses kalam/tulisan (baca: gemar membaca).
Membaca adalah perkara interaksi antara pembaca dan bahan bacaan. Adalah kemustahilan, jika si pembaca tercerahkan jika tidak ada bacaan pencerahan.
Saat itu Limbangan berada dalam wilayah administrasi kolonial yang paling maju dan makmur di Jawa. Jabatan penghulu yang disematkan kepada Moesa adalah salah satu pangkat tertinggi untuk masyarakat Bumiputera, hampir setara dengan regent atau bupati, patih, jaksa dan wedana.
Moesa memiliki enam orang istri yang memberinya 17 anak dan 66 cucu. Sebuah angka yang fantastic jika ditarik ke jaman sekarang. Seorang kyai yang menikah lagi akan dicibir dan dijauhi. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa majunya budaya sunda, yang dihembuskan Musa lewat karya-karyanya seperti yang terkenal “Wawacan Panji Wulung” adalah karena ia memiliki kekuasaan, kekayaan dan anggota keluarga yang banyak. Siapa bilang poligami itu menghambat kemajuan? :-)
Dalam hal pendidikan, Moesa tampaknya lebih sadar tentang manfaat dan arti penting pendidikan Eropa daripada kawan-kawannya. Pendidikan sekuler Eropa dipandang dapat mendatangkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi keluarga dan jemaahnya. Sebenarnya hal ini cukup aneh. Ia sendiri tidak menguasai bahasa Belanda, tetapi sangat memperhatikan masa depan anak-anaknya yang harus dibekali dengan pendidikan Belanda yang layak – suatu jaminan yang menurut pendapatnya efektif untuk menjaga prestise dan status keluarganya.
Untuk kepentingan keluarganya, Moesa mendirikan sekolah Eropa (bizondere Europeesche School) di Garut; caranya, pemuka-pemuka setempat membayar gaji guru tersebut. Sistem belajar dengan menggabungkan anak laki-laki dan anak perempuan (sesuatu yang pantang dalam sistem pesantren).

Karena Moesa, sekolah ini mendapat subsisdi dari pemerintah kolonial sebesar 100 gulden per bulan. Menurut Moesa, pendidikan sama artinya dengan penguasaan aksara dan bahasa – dan anak lelaki dan perempuan harus dipisahkan begitu mereka menginjak usia pubertas. Suatu kompromi cerdik yang mengerti esensi Islam secara dalam.
| Kakara ngangkat birahi, menggah istri pamegetna, saena geus lepas bae, ajeuna sedeng diadjar, ngolah ilmoe oetama, sanggeus iskolana tjoekoep, ladjeng kana padamelan | Ketika mencapai pubertas, Anak-anak perempuan dan lelaki Lebih baik dipisahkan Sekarang waktunya untuk belajar, Untuk memperoleh ilmu pengetahuan hebat. Ketika pendidikan di sekolah sudah cukup, Kemudian mereka pergi bekerja | |
| Saniskara damel istri, oelah aja kapetolan, ngeujeuk njoelam njoet njongket, kitoe deui olah-olah, panedja sim koering mah, lamoen iskolana tjoekoep, aksara djeung basa-basa | Semua jenis pekerjaan wanita Tidak seharusnya diabaikan Menyulam dan menenun Dan juga memasak Apa yang saya harapkan adalah Ketika pendidikan di sekolah sudah cukup [mereka sudah menguasai] aksara dan bahasa | |
| (Danoeredja 1929 : 52) |
Moesa bisa dipandang sebagai pahlawan yang pragmatis. Dia tidak bersimbah darah, tidak mengikuti perjuangan fisik dan politik hancur lebur yang dilakukan tokoh-tokoh heroik yang kita kenal. Ia melakukan perjuangan diplomasi dan budaya. Suatu perjuangan yang akan meminimkan resiko jatuhnya korban tetapi efektif dalam jangka panjang. Bila kita menemukan nama-nama menak di kalangan Sunda, mungkin itu adalah hasil Moesa berkompromi dengan Kumpeni, sehingga kita menemukan tokoh-tokoh Sunda / keturunan Sunda jaman sekarang : Nia Dinata (keturunan Otto Iskandar Dinata), Agum Gumelar, Aman Wirakarta Kusumah (Ex. Rektor IPB / Pejabat UNESCO dari Indonesia), Jamie Aditya (artis pemeran Kabayan, keturunan budayawan Sunda ternama), dan mungkin masih banyak lagi nama yang tidak saya sebut yang mengharumkan nama Indonesia dengan karya-karya mereka.
disadur dari buku "Semangat Baru: Budaya Cetak, dan Kesusastraan Sunda Abad ke-19" Karya Mikihiro Moriyama
- gambar diambil dari http://masoye.multiply.com & http://www.goodreads.com/

0 komentar:
Post a Comment