05 October 2003

Gue lulus juga nih!

Gue lulus juga nih!
InsyaAllah gue fokus ke bisnis nih...
hei ada orang gak ?

20 August 2003

BERTEBARANLAH DI MUKA BUMI dan rasakan betapa sulitnya menerapkan keislaman kepada lingkungan kita

Orang-orang yang belum memahami cinta kepada Allah memang belum sepenuhnya menikmati Islam. Termasuk kita-kita yang terbuai dalam sholat malam, tadarus rutin dan sholat fardhu yang tidak pernah tertinggal dan tinggal di lingkungan yang terjaga.

Cobalah BERTEBARAN DI MUKA BUMI dan rasakan betapa sulitnya menerapkan keislaman kepada lingkungan kita, dan kita betapa menangis dan tertatih-tatih dalam menegakkan dienullah. Islam ibarat bara api yang tak bisa dilepaskan tetapi juga kita merasakan panasnya karena memegang teguh bara tersebut.

Teori gampang disebutkan. Seperti saya yang sering menjawab pertanyaan rekan2 semua. Tetapi kenyataannya apakah saya lebih sholeh dan bertakwa di antara peserta diskusi lainnya? Wallahu a'lam!!!

Makanya Islam memang bukan sekedar tahu! tetapi juga jalan hidup yang didasari oleh ILMU, yang melahirkan IMAN dan dijewantahkan dalam AMAL. Sehingga buah ilmu dan iman tadi melahirkan amal yang sungguh indah, sebagaimana Indahnya orang-orang Islam yang berarak dalam satu barisan rapi, memakai pakaian Muslim dan menentang kedzaliman!!!

26 July 2003

AYAH » seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya

AYAH

Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala
tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai
berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara
batuk-batuknya.

Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kian
berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?" Demikian
pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak
wanita itu bergumam : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban
Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran.

Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus
menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita
itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya
kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya
kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada
keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar
bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban sang Ibu.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja
penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi berkerut-merut dan
badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu
seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan
kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai
jawaban rasa kepenasarannya selama ini.


"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta
sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha
untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan
terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang
menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk
melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang
berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya
tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."

"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang
menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari,
demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena
tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi
keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti
kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya
selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah,
walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali
menyerangnya."

"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai
dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun
tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal
perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat
dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang
memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya
agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian
dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang,
walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan
dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap
Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan
bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada
Isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling
menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu
senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar
keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah dan badannya yang terbungkuk
agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab terhadap
seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta
segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup
keluarganya."

"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga,
sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan
hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki, walaupun sebenarnya
tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan
melakukan shalat malam hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik
Ayahnya yang sedang berdzikir, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh
dan mencium telapak tangan Ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."

17 July 2003

Tentang Rezeki » SEMUA ADA YANG NGATUR

Jasmine Pedersen
Posted: Fri Jul 11, 2003 3:09 pm Post subject:
SEMUA ADA YANG NGATUR

Assalamu'alaikum,

Ukhti, saya dulu juga berpikiran seperti anda. Tapi
sekarang gak lagi. Soalnya semua ada yang ngatur.
Jangan kuatir tentang rizki. Allah gak mungkin
ciptakan kita buat kelaparan kan?

Saya dulu pengen banget pake jilbab. Tapi takut gak
dapat kerja. Trus saya kenal suami saya. Orang bule
tapi Islam. Dia bilang gini, "Kalo boss kamu gak
menghormati kamu sebagai seorang muslimah, just quit
the job. Its his lost, not yours".

Aku pikir bener juga dia. Aku cukup qualified and well
organized. Kalo aku resign, dia yang rugi. Bukan aku.
Trus aku putuskan pake jilbab. Tahu nggak apa kata
boss ku kemudian? Not a single word.

Intinya Ukhti, keraguan yang Ukhti rasakan hanya
ketakutan yang gak beralasan. Kalo kita cukup
qualfied, boss kita gak akan pecat kita semudah itu
hanya karena jilbab. So, kalo Ukhti yakin akan
kemampuan Ukhti, kenapa ragu menggunakan hijab?

Saya sekarang menduduki posisi sebaga administration
manager di perusahaan amerika dan administration
director di perusahaan inggris. Saya mo resign dari
perusahaan Amerika, tapi mereka menolak resignation
letter saya.

So, jangan takut pake jilbab. Kembangkan potensi diri,
percaya diri dan percaya sama Allah. Allah knows best.
Go ahead, show yourself as a good and smart muslimah

Wassalam,

30 May 2003

WS. RENDRA » Sering kali aku berkata,

WS. RENDRA

Sering kali aku berkata,


ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS Rendra).