Showing posts with label Manajemen. Show all posts
Showing posts with label Manajemen. Show all posts

26 August 2018

Mengkapitalisasi Istri sendiri, kok bisa?

#Finance #StartUp #Keuangan #SinergiPasangan #CashFlow #CashCow #HumanResources

Pernah dengar bagaimana Pabrik Apple di China - FoxConn mengelola para pekerjanya? Jadwal kerja padat, shift penuh serta asrama sempit berdesakan untuk karyawan kerah biru mereka. Dari ongkos murah para induatrialis Cina ini, Apple mendapat margin yang menggiurkan ditambah lagi strategi branding yang mengesankan produk-produk Apple adalah produk craftmanship berkualitas tinggi.

Tenaga kerja adalah kunci sumber daya yang paling utama dalam setiap bisnis. Kapitalisasi tenaga kerja yang maksimal akan mendongkrak produktivitas bisnis yang berujung pada revenue maksimum pula.

Nah, bicara efisiensi dan kapitalisasi tenaga kerja oleh para taipan bisnis ini menginspirasi saya untuk menulis soal memaksimalkan resources yang kita punya dalam skala usaha baru yg saya geluti. Sebagai pengusaha pemula, tak banyak karyawan yg bisa direkrut, tak banyak orang yg bisa dilibatkan mengingat terbatasnya sumber daya dan modal. Satu2nya orang lain yg bisa support bisnis saya dari awal adalah istri saya sendiri.

Istri adalah resources yang berdayaguna tinggi. Umumnya pasangan hidup kita mengetahui titik lemah kita dan faham kelebihan kita. Di sisi lain, dia akan memiliki kelebihan sebaliknya yg akan berfaedah sebagai naker dalam bisnis. Misal, saya termasuk yg baik dalam sales & business develoment, risk taker tapi agak gegabah mengelola uang, cenderung boros dan senang belanja.

Saya memaksimalkan kemampuan istri untuk mengelola keuangan keluarga sekaligus perusahaan. Awalnya berat, karena ego dan kenyamanan yg terganggu, belum lagi istri yg terkadang gak tahan akan sikap inkonsistensi dari saya sendiri dalam disiplin keuangan. Tetapi dengan komitmen yg terus diperbaiki dan sikap konsisten bahkan pada saat berselisih, maka perlahan kami menjadi nyaman mendisiplinkan diri dalam soal ini.

Setelah sekian bulan, istri saya libatkan dalam hal reimbursement dan gaji karyawan. Rekening mulai dibuat rekening tabungan bisnis yg dia punya otoritas. Masalah kemudian muncul, soal belum tekunnya dia mengelola keuangan dan habis waktu karena menghitung arus kas bisnisnya sendiri (istri saya jualan es, jualan baju dan mengelola pembiayaan syariah dari barang konsumtif sampai modal bisnis skala mikro). Setiap hari ia dengan tekun menghitung arus masuk, arus keluar dan piutang di dalam buku2 ledger setebal 3 jari miliknya. Ia punya basis data catatan pelanggan sejak dia memulai bisnisnya sendiri.

Saya terus mendampinginya dan membuat situasi-situasi rasional untuk diputuskan. Misalnya, dia sering nyeletuk kalau dia dulu kerja itu untuk fun, saya berhasil mempengaruhinya (walau dia terlalu sombong untuk mengakuinya) untuk berhenti bekerja dan akan fun pula dalam bisnisnya. Eh benar saja, setelah saya support misalnya dengan selalu mengantarnya pergi belanja dagangan pakaian ke tanah abang, atau dagangan handphone ke ITC Depok tak lama ia memutuskan berhenti bekerja dan fokus membangun bisnisnya itu.

Sesekali saya sibuk tak bisa mengantarnya, rupanya ia kesulitan dan terkadang jenuh juga dengan rutinitas yang ia lakukan mirip bisnis tukang sate: dari motong daging, bikin bumbu, panggang sate sampai menyajikannya ke customer dilakukan oleh dirinya sendiri. Saya sering mencoba "mengguruinya" soal membangun sistem dalam bisnis, tapi bukan istri saya kalau gak bisa ngeles, ia akan menyebut kegagalan-kegagalan cashflow saya kalau saya mencoba mengajarinya soal merekrut karyawan atau menggunakan aplikasi untuk menghitung keuangan bisnis ritel yg ia jalankan.

Dan jika sudah adu argumen, saya memilih diam dan mengutuk diri saya sendiri karena lemah sekali soal ini sehingga gak bisa menjawab kritikan balik istri saya itu. Tapi diam2 saya terus belajar dan memperbaiki diri dengan berfikir positif atas masukan beliau itu. Saya belajar menurunkan cost hidup saya, misalnya dari ongkos komunikasi kartu pasca bayar saya yg dulu di kisaran 1.5 s.d. 1.9 juta per bulan sehingga nyaris di 300 ribuan saja per bulan sepanjang 3 bulan ini.

Biasanya saya tak tahan untuk mengantongi 500 s.d. 1 juta minimal di dompet jika saya (meminjam istilah istri saya) "kelayapan". Itu dulu, sementara saat ini saya bisa "hidup" dengan happy jika hanya mengantongi 100-200 ribuan saja di kantong (dengan catatan bensin mobil ada, uang plastik cukup untuk transaksi tol atau KRL/Transjakarta, dan GoPay untuk ongkos Gojek). Kritik dan kalimat2 sinis soal kongkow2, haha-hihi yang dianggapnya gak menghasilkan uang saya senyumin aja karena saya tahu benar untuk sales dan develop bisnis ya memang begini caranya.

Alhasil dalam 2 tahun membangun bisnis ini, saya lebih mampu berhemat, lebih bisa bebas dari pengawasan ketat dan kontrol istri saya dalam soal daily cost dan impactnya istri saya lebih leluasa mengelola keuangan keluarga tanpa diganggu oleh kacaunya arus kas karena salah kelola bisnis dan kesalahan2 keuangan yg saya lakukan.

Nah, itulah sekelumit kisah saya mengelola human resources yg saya punya dan itu adalah istri saya sendiri, dan ini pun baru dari 1 aspek saja: mengelola keuangan. Aspek2 lain bisa teman2 temukan sendiri pada pasangan sesuai dengan anugerah yg Tuhan berikan pada pasangan dan diri masing2, tentu beda2 dan unik, tinggal digali dan kita mau jujur menghadapinya.

Salam Berdaya..

Kang Sirod

13 March 2017

5 College Degrees That Will Be Extinct In 20 Years

Type of worker
Do you remember when futuristic movies would show a future full of robots? Well, that future isn’t so far away. The robots are coming, and they will take our jobs. The technological revolution we are in is not stopping anytime soon, and automation is a huge part of its growth. We have witnessed this change before, and that was the Industrial Revolution. The solution was creating a more educated workforce to handle more complex issues, and again our solution to this issue lies in education. When choosing a college degree, it is important to be cognizant of the changing world and its changing demands. And so, I have found 5 college degrees that will be sure to be obsolete with the advent of technology.  



Accounting Degree
Basically, if Quickbooks can do it – you don’t really need your accountant. More and more companies are coming up with ways to do taxes online – from Turbo Tax to H & R Block. In house accounting is only truly necessary for larger companies, and tax accounting for most individuals can be done online directly. The changing course of this career requires less number crunching and more insight. A good alternative to this degree is finance, where you can be more dynamic in your career.

Hospitality And Tourism Degree
You know those kiosks that you check in to at the airport? That is the projected future of hotels. Majoring in hospitality and tourism is a mistake, because most of that industry can easily be replaced by technology. The need for hotel desk agents, travel agents, and more are truly dwindling.

Paralegal Degree
Most of the duties of a paralegal can easily be done by a computer these days. Filing and research can easily be done online, and does not require a human touch. Law itself can be replaced by technology, so paralegal studies is the obvious first cut to the industry.



Broadcast Communications Degree
Broadcast is an ever changing field. The TV is no longer the main news outlet, and a degree in broadcast communications focuses on an outdated technology. Communication efforts are changing daily, from Snapchat to Facebook – we get our news in a very different way these days.

Pharmacy Degree
Your prescription can be filled by a robot. That is a simple idea to grasp. More and more drugstores are turning to this idea of an automatic pick up or drop off, and there is no real need for a pharmacist in this world. Compounding is still relatively used, but as big pharmaceuticals dominate the playing field – the need for compounding will dwindle as well. Go big and become a doctor instead, as this job is very replaceable.


11 November 2011

Bekerja adalah Kehormatan


“saya sudah bekerja 11 tahun, mengapa gaji saya tidak naik-naik?”
“saya sudah pergi pagi, pulang petang, mengapa saya tetap tidak mendapat penghargaan atasan?”


Dua pertanyaan di atas adalah pertanyaan klasik yang sering ditemukan di manapun kita bekerja. Kekecewaan pada minimnya penghargaan dan penghidupan yang layak adalah masalah  umum yang di temukan pada dunia kerja di negeri tercinta ini. Kalau tidak begitu, mengapa tenaga non terdidik kita bersusah payah bertarung nyawa dan mempertaruhkan kehormatan demi penghidupan layak di negeri seberang?

Tulisan ini bermaksud mengkritisi si penulis (saya sendiri) yang terkadang lalai dan malas dalam bekerja dan syukur-syukur bisa mengajak pembaca lebih bijak dalam bekerja. Bekerja adalah kehormatan, merupakan kalimat pembuka tulisan ini yang isinya sebenarnya panjang dan berliku. Penulis ingin mengajak pembaca untuk mengarungi dunia pekerjaan yang penuh tantangan, harapan serta onak & duri di dalamnya.

Kasus I : “Bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja?”

Seorang teman bekerja pada sebuah bank, masih single dan 12 jam waktunya habis dicurahkan pada tempatnya bekerja itu setiap hari, 5 kali dalam seminggu. Berangkat dari rumahnya di kota penyangga pukul 5.30 pagi dari rumah, mengantri & berdesakan di transportasi publik (Kereta Rel Listrik atau Transjakarta) lalu mulai bekerja di Jakarta pukul 08.00 s.d. 21.00. Terkadang – kira-kira 3 kali dalam seminggu – ia harus bekerja sampai pukul 22.00! Jika perjalanan pulang dari kantornya di Jakarta untuk pulang ke rumahnya memakan waktu yang sama ketika dia berangkat, maka total rata-rata ia menghabiskan waktu untuk pekerjaannya adalah 17 jam! Itu belum termasuk ketika ia terpaksa membawa pekerjaannya ke rumah, karena kita harus menghitung waktu bekerja di rumah sebagai waktu “extra” yang dipakai untuk pekerjaan kita.


Kasus II : “Bekerja untuk uang yang banyak? Bekerja sesuai “panggilan jiwa” atau idealisme background pendidikan?

Saya sekolah di IPB jurusan Teknologi Industri Pertanian. Yang dipelajari adalah hampir semua aspek Industri dari mulai ilmu mengelola orang (Man), uang (Money) dan bahan industri (Material). Akibatnya lulusan TIN IPB punya kemampuan menganalisa yang holistik dan terintegrasi tapi tidak dalam / mendetail. Sulit sekali mencari jenis pekerjaan yang “sangat sesuai” dengan lulusan TIN. Bukannya tidak ada, tidak sesuai maksud saya adalah pekerjaan itu mampu memberikan kewenangan yang sama sesuai yang dipelajari orang tersebut ketika kuliah di TIN.

Seorang teman yang lulusan ilmu komputer malah berujar bahwa anak Teknik Industri sebenarnya cocok untuk mereka yang berasal dari kalangan keluarga pengusaha. Artinya si anak telah punya warisan perusahaan dari keluarganya untuk memimpin bisnis. Maka apa yang dipelajarinya akan lebih maksimal lagi.
Kebanyakan teman saya dari jurusan TIN dalam satu angkatan justru mengambil bidang kerja di perbankan. IPB banget ya? BRI, BNI, Bank Mandiri, BCA, Chinathrust, CIMB Niaga, BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, BII dan BTPN. Sebelumnya di antara orang-orang tersebut juga ada yang pernah berkarir di Bank NISP, Bank Lippo dan Bank Danamon. Alhamdulillah yach?

Kasus III : “Mengalir saja, Asal Bapak Senang atau menjadi Mountain Mover”

“Go with the flow is suitable only for the dead fish!”
Kata-kata tersebut bukan tanpa arti. Orang yang sering mengungkapkan “mengalir saja seperti air” pada dasarnya tidak punya visi dalam hidupnya. Ia hanya seolah-olah menikmati pekerjaan lalu larut di dalamnya. Sepintas terlihat biasa-biasa saja, tapi lama-lama orang-orang seperti ini hanya menjadi alat untuk orang lain mencapai visi pribadinya.
ABS, Asal Bapak Senang, adalah sebutan atau ungkapan yang populer di jaman orde baru. Sebutan itu sebenarnya adalah sindiran pada pejabat yang saat itu  memanipulasi keadaan seolah-olah “Everything is all right” , “Under control” atau “On the track”. Sifat ABS mirip-mirip dengan sifat penjilat. Ungkapan yang saya suka untuk karyawan tipe penjilat adalah : “Ibarat ilmu kodok, jilat atas, sikut kiri, sikut kanan, injak bawah”

Montain Mover, adalah istilah dari Antonny Robbins yang saya suka. Dibanding istilah “Agent of change” yang terdengar terlalu “ambisius & self centris”, Mountain Mover adalah mereka atau golongan karyawan yang memiliki kekuatan merubah dan mempengaruhi wajah dan bentuk organisasi. Kekuatan leadership yang sesungguhnya. Saya membayangkan orang tersebut sebagai seorang pekerja keras sekaligus cerdas yang menempatkan team work sebagai cara ia mencapai target / goal. Ia terkadang memimpin di depan untuk memberikan contoh atau teladan yang baik, tetapi terkadang pula di belakang sebagai penyemangat tim serta mengurangi kadar ke-narsis-an pada dirinya. Ia tak segan-segan mengorbankan privileges yang ia punya demi kepentingan tim.



18 March 2010

Different Perspectives

A blind boy sat on the steps of a building with a hat by his feet. He held up a sign which said:

"I am blind, please help."

There were only a few coins in the hat.

A man was walking by. He took a few coins from his pocket and dropped them into the hat. He then took the sign, turned it around, and wrote some words. He put the sign back so that everyone who walked by would see the new words.

Soon the hat began to fill up. A lot more people were giving money to the blind boy. Tha
t afternoon the man who had changed the sign came to see how things were. The boy recognized his footsteps and asked, "Were you the one who changed my sign this morning? What did you write?"

The man said, "I only wrote the truth. I said what you said but in a different way."

I wrote: "Today is a beauti
ful day but I cannot see it."

Both signs told people that the boy was blind. But the first sign simply said the boy was blind. The second sign told people that they were so lucky that they were not blind. Should we be surprised that the second sign was more effective?


Moral of the Story: Be thankful for what you have.. Be creative. Be innovative. Think differently and positively.

When life gives you a 100 reasons to cry, show life that you have 1000 reasons to smile Face your past without regret. Handle your present with confidence. Prepare for the future without fear. Keep the faith and drop the fear.

The most beautiful thing is to see a person smiling…

And even more beautiful is, knowing th
at you are the reason behind it!!!

10 June 2009

The power of subconscious mind, adakah ?

Seorang teman pernah menunjukkan pada saya beberapa file youtube tentang kekuatan bawah sadar : "Subconscious Mind", ternyata kekuatan inilah yang menggiring kita menuju kesuksesan. Keyakinan besar pada Wright bersaudara, Thomas alva Edison dan penemu-penemu hebat lainnya disebutkan karena pikiran ini. Nah, berikut ini ada tulisan menarik tentang Subsconscious Mind versi seorang miliser di milis daarut tauhid.



Seorang teman pernah menunjukkan pada saya beberapa file youtube tentang kekuatan bawah sadar : "Subconscious Mind", ternyata kekuatan inilah yang menggiring kita menuju kesuksesan. Keyakinan besar pada Wright bersaudara, Thomas alva Edison dan penemu-penemu hebat lainnya disebutkan karena pikiran ini. Nah, berikut ini ada tulisan menarik tentang Subsconscious Mind versi seorang miliser di milis daarut tauhid.

Begitu banyak pembahasan mengenai kekuatan alam bawah sadar atau pikiran bawah sadar selama ini. Begitu banyak juga motivator dan trainer yang mengajarkan bagaimana cara untuk membangkitkan kekuatan tersebut yang pada umumnya dilakukan melalui dua metode yaitu autosuggestion dan visualization. Subconscious mind ini kemudian menjadi sebuah mantra sakti untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Dreams come true !!!

Bahkan dalam sebuah pelatihan motivasi yang pernah saya ikuti, sang trainer mengilustrasikan bahwa kesuksesan beliau salah satunya disebabkan oleh keajaiban pikiran bawah sadar. Beliau pernah sangat menginginkan untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjananya ke Oxford . Sebagai stimulusnya setiap hari beliau berimajinasi membayangkan seolah-olah beliau bersama keluarganya sedang bermain-main di salah satu taman kota di lingkungan Oxford . Sedemikian kuatnya imajinasi tersebut, beliau sudah bisa merasakan benar-benar berada di sana. Menghirup udaranya yang dingin, belajar di salah satu ruangannya, dan juga belajar di perpustakaannya.

Salah satu trainer yang saya kenal juga menggunakan metode visualization untuk membuktikan kekuatan pikiran bawah sadar tersebut. Pada akhir proses visualization, beliau menggunakan anchoring untuk "mengikat" mimpi tersebut sehingga menjadi lebih definitif dan lebih mudah untuk mewujud.

Memang benar, kemampuan manusia sesungguhnya diluar yang bisa kita bayangkan dalam batasan rasionalitas manusia sendiri. Banyak kemampuan manusia yang belum digali dan dimanfaatkan untuk mengejar masa depan yang lebih cerah. Akan tetapi benarkah subconscious mind power an sich ini memang menjadi mantra sakti untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita? Bukankah setiap kejadian di alam semesta ini harus memperoleh ijin terlebih dulu dari kekuatan Maha Besar yang meliputi segala sesuatu? Karena meskipun proses visualizationnya berhasil dan sangat kuat, apabila Allah tidak mengijinkan hal itu terjadi, apakah masih bisa mewujud?

Saya akan menceritakan pengalaman salah satu sahabat yang (secara tidak sengaja) menggunakan kekuatan pikiran bawah sadar dalam rangka mewujudkan salah satu mimpinya.

Sebut saja namanya Eko. Dia bercita-cita untuk bisa melanjutkan sekolah S2-nya ke salah satu negara di Eropa dengan beasiswa dari salah satu lembaga beasiswa internasional. Semua persyaratan sudah dia penuhi, tidak ada satu item-pun yang berada di bawah standar. Eko sendiri percaya sepenuhnya bahwa apabila kemudahan-kemudahan akan selalu disediakan oleh Allah apabila kita percaya kepada kekuasaan-Nya.

Eko bercerita bahwa kemudahan itu bahkan sudah dia rasakan sejak melakukan tes Internet-based TOEFL di Surabaya. Di saat lembaga kursus lain seperti EF dan IALF menmberikan harga private course rata-rata di atas 15 juta untuk kursus TOEFL selama 3 bulan (semakin singkat waktu kursus semakin tinggi biayanya), maka Eko menemukan sebuah lembaga kursus TOEFL preparation yang cukup murah yaitu hanya 5 juta selama 2 minggu. Instrukturnya juga ternyata adalah anggota majelis pengajian yang selama ini diikuti oleh Eko, sehingga proses kursus tersebut menjadi sangat cair dan lancar.

Saat tes pun juga dia merasa dimudahkan karena biasanya penyelenggaran Internet-based TOEFL dilakukan di satu ruangan dengan peserta 5 – 10 orang. Saat tahapan speaking (setelah reading dan listening namun sebelum writing skills), meskipun memakai head set, tentunya setiap peserta akan mendengar percakapan rekan disebelahnya. Bahkan mungkin saja ruangan tersebut akan menjadi sangat crowded. Kemungkinan besar situasi tersebut akan mengganggu konsentrasi peserta lainnya sehingga tidak akan bisa mencapai nilai maksimal. Banyaknya peserta tes juga berpengaruh terhadap lambat atau cepatnya koneksi internet dengan ETS. Nah saat itu ternyata jadwal tes Eko hanya diikuti oleh dia sendiri, sehingga dia bisa konsentrasi penuh pada setiap tahapan tes Internet-based TOEFL tanpa terganggu oleh speaking peserta lainnya. Koneksi internet dengan dengan ETS-pun juga sangat lancar. Benar-benar anugerah dari Allah menurut Eko.

Saat hasil tes diumumkan, score yang diperoleh Eko juga jauh diluar dugaan. Score TOEFL yang dipersyaratkan oleh universitas adalah 80 (setara dengan TOEFL 213 Computer-Based atau 554 Pencil & Paper-based) . Namun score internet-based TOEFL yang diperoleh Eko adalah 92. Menurut pengakuan Eko, dia sampai menangis sendiri melihat score yang diperolehnya itu. Benar-benar membuktikan bahwa Allah sangat bermurah hati kepada dia, kata Eko.

Selama proses pengiriman aplikasi beasiswa, Eko merasa sangat dekat dengan negara yang dia tuju. Seperti trainer yang saya ceritakan di atas, Eko juga bisa merasakan bahwa dia sudah tidak lagi berada di Indonesia. Dia merasa sudah berada di sana, sudah mulai menuntut ilmu di universitas yang dia inginkan. Tubuh dan hatinya sudah terasa sangat ringan, sehingga dia bisa merasakan proses perpindahan dirinya dari Indonesia ke Eropa. Bahkan visualisasi tersebut sampai masuk ke dalam mimpi-mimpi dalam tidurnya.

Namun ternyata aplikasi beasiswa Eko ditolak sehingga dia tidak jadi berangkat ke Eropa. Wah, kok bisa, tanya saya dalam hati. Saya terheran-heran mendengarkan cerita Eko ini. Proses yang dia lakukan sama seperti trainer saya. Visualisasi yang Eko lakukan juga sama persis dengan trainer saya. Tapi hasil akhirnya berbeda jauh. Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa kekuatan pikiran bawah sadar Eko tidak bekerja pada dia layaknya kekuatan pikiran bawah sadar trainer saya tersebut. Apakah proses visualisasi Eko tidak sempurna? Apakah mungkin masih ada perasaan ragu dalam hati dia sehingga menyebabkan proses anchoring itu menjadi terganggu dan akhirnya gagal.

Saat saya konfirmasi, Eko menjelaskan bahwa meskipun tidak secara sengaja dia lakukan, namun visualisasi itu sudah dipenuhi dengan perasaan positif. Tidak ada sama sekali perasaan negatif yang memasuki pikiran dan hati dia. Nah lho, kemudian apa yang menyebabkan kegagalan Eko untuk berangkat ke Eropa?

Eko selanjutnya menjelaskan bahwa apapun hasilnya, dia percaya sepenuhnya ini adalah yang terbaik bagi dia. Dia tidak mau pusing-pusing mempertanyakan kembali kegagalan itu. Tidak ada satupun kejadian di alam semesta ini yang tidak memiliki tujuan, kata Eko. Kegagalan dia untuk berangkat ke Eropapun juga pasti mempunyai tujuan, dan dia percaya bahwa pasti itu adalah tujuan yang jauh lebih baik.

Pada akhirnya, cerita Eko tersebut membawa saya pada satu kesimpulan bahwa kekuatan pikiran bawah sadar ada hanya dan hanya jika Allah menghendaki kekuatan itu untuk ada. Sekuat apapun dan dengan cara apapun manusia berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, selama Allah belum mengijinkan itu terjadi, maka mimpi-mimpi tidak akan terwujud. Akan tetapi, apabila Allah sudah berkehendak, dalam kondisi hati dan pikiran manusia seperti apapun, secara sadar diinginkan ataupun tidak, maka mimpi kita akan terwujud tanpa ada yang mampu menghalanginya.

"Janganlah pengabulan do'a yang tertunda, sementara kamu merasa telah bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Allah Swt, memutuskan harapanmu. Karena Allah SWT menjamin akan mengabulkan do'amu dalam bentuk yang Dia kehendaki untukmu, bukan dalam bentuk yang kamu kehendaki. Do'amu itu akan dikabulkan pada waktu yang Dia tentukan, bukan pada waktu yang kamu tentukan." (Al Hikam – Ibnu Atha'illah Asy Syakandari)


Sumber : Firliana Putri dari milist DT


08 June 2009

Jakarta Mass Transportation Route

Download the route of Jakarta Mass Transportation, here (PDF Files)
  • Detail Route for Bus Transportation
  • Exclude Transjakarta (Bus Way) Route

Note: You may allow to redistribute this file to your network, please enjoyed it.

BE CAREFULL!!! Email dari seorang Penipu >> MISSING GOODS

Guys, if you receive this email in your inbox, just DELETE it. I'm
sure that it is not responsible email from unresponsible person. If
you care, don't reply it, just forward to POLICE.

regards,
M.Sirod

---------- Forwarded message ----------
From: KIM JOHNSON <kikijon_kim@hotmail.com>
Date: Jun 7, 2009 9:22 PM
Subject: MISSING GOODS
To:


HI!
Please, I want you to read this mail carefully and understand the
contents very well before you reply because i would like you to
understand it very well before we start so we will not end up half way
without finishing. I am a Staff of a FEDEX EXPRESS DELIVERY COMPANY
Jakarta Indonesia
http://www.fedex.com/id/
yesterday i was re-arranging my office during the process of arranging
the warehouse i found a box that have been in the warehouse for a long
time now,i tried to found out the content inside the box, to my
surprise i discovered 25 sony laptops, 18 blackberry phones,12
panasonic digital video coverage cameras,1box of gold with ten million
eight hundred Dollars (10,800,000.00usd).
if you want me to send it to you as the owner then contact me here
kimkimjohnson58@hotmail.com with this information
1, Your full name
2,Address
3,Copy of international passport or drivers license
4,Age and Occupation.
5,Phone and Fax number reachable
Remember this deal is for you and me not you and Fedex Express
Thanks
Kim Johnson

________________________________
See all the ways you can stay connected to friends and family

28 May 2009

Kisah keledai yang jatuh ke sumur > Keep Moving, Dong! / Teruslah berusaha


Ada sebuah cerita menarik..

Suatu ketika ada keledai seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam , sementara si petani terus memikirkan selama berjam-jam apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya dia memutuskan.. karena keledainya sudah tua, tidak ada gunanya ditolong lagi. Jadi dia berencana menutup sumur dan mengubur keledai itu sekalian.

Maka dipanggillah para tetangga untuk membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah kedalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang terjadi, ia menangis penuh kengerian..

Tapi kemudian semuanya takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop lagi si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang dengan apa yang dilihatnya..

Walau punggungnya terus ditimpa bersekop-sekop tanah, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan! Ia mengguncangkan badannya agar tanah tersebut jatuh dan melangkah naik. Segera saja semua orang terpesona ketika keledai tersebut meloncati tepi sumur dan melarikan diri..

Keledai yang merupakan simbol kebodohan bisa terlepas dari bahaya dan menyelamatkan diri bahkan dari orang yang ingin membunuhnya..

Begitu juga dalam hidup ini, banyak kejadian yang akan menimbun kita hidup-hidup. Anda diam maka anda akan mati perlahan-lahan. jangan izinkan diri anda tidak berbuat apa-apa, karena timbunan lumpur akan terus menimpa..

Salam sukses

Lelaki yang kehilangan domba > Jangan Terlalu Gelisah

Ada sebuah cerita..

Suatu hari seorang lelaki sdang berjalan pulang menuju kampung halamannya. Ia berjalan dengan menuntun seekor domba. Seorang pencuri melihat hal ini. Ia pun mengendap-endap dan memutuskan tali kekangnya, dan mengambil domba itu.

Setelah beberapa saat, sang empunya menyadari bahwa dombanya telah hilang. Ia berlari kesana kemari mencari dombanya dengan panik.

Sampailah ia pada sebuah sumur. Di tepi sumur itu ia bertemu dengan pencuri yang tadi mengambil dombanya, tapi ia tidak tahu bahwa orang itulah yang mencuri dombanya. Ia bertanya kepada orang itu apakah melihat seekor domba disekitar tempat itu.

Sang pencuri tidak menjawab, ia malah menangis, bersimpuh didepan sumur. " Mengapa engkau menangis?" tanya pemilik domba keheranan.

"Dompetku jatuh kedalam sumur ketika aku menimba air. Jika kau dapat membantuku mengambilnya, aku akan memberikan seperlima uang yang ada di dompetku itu. Kau akan mendapatkan seperlima dari 100 Dinar emas ditanganmu!"

Pemilik domba berpikir,"Wah, uang itu cukup untuk membeli lebih dari sepuluh domba! Bila satu pintu tertutup, sepuluh pintu lain terbuka."

Ia segera membuka pakaiannya dan turun ke dasar sumur. Tentu saja di dasar sumur tidak ada apa-apa. Dan si pencuri pun melarikan pakaian orang itu.  :)
Apabila satu kerugian saja membuat anda gelisah, maka kerugian lain akan datang dengan mudah. Hadapi dengan tenang segala masalah yang datang, agar kita tidak salah langkah.

Salam Sukses untuk kita semua !

09 May 2009

Resensi Buku "Rasulullah, Way of Managing People"

Resensi
Guru Untuk Peradaban Dunia
Penulis Haryanto

Rasulullah adalah pemimpin ulung dan manajer terhebat sepanjang
sejarah kemanusiaan. Sisi kehidupannya sarat dengan hikmah yang dapat
digali dari berbagai dimensi kehidupan.

Beliau bukan hanya seorang rasul, tapi juga seorang leader, manajer
yang paling mumpuni, dan paling super di dunia ini. Khususnya dalam
mengelola sumber daya manusia untuk mencapai visi dan misi kerasulan
beliau, yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam menuju kebahagiaan
dunia dan akhirat.

Pengertian manajemen yang sesungguhnya, unsur-unsur manajemen yang
dapat dikembangkan, prinsip-prinsip manajemen yang dikembangkan oleh
Rasulullah dan perbedaan antara manajer dan leader yang dikelola oleh
Rasulullah saat itu.

Beliau adalah sosok yang digambarkan sebagai tokoh yang memiliki
manajer handal dan leadership yang kuat  dalam arti untuk kemaslahatan
kehidupan umat serta keseimbangan sistem semesta alam.

Seorang guru dapat mencontoh Rasulullah dalam mengelola
murid-muridnya. Karena manajemen Rasulullah terbukti menghasilkan
murid-murid yang  luar biasa semisal Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Seorang Jendral dapat mencontoh manajeman Rasulullah dalam melahirkan
prajurit-prajurit yang hebat semacam Khalid bin Walid, panglima perang
yang tiada tanding di medan perang sedangkan Usamah adalah panglima
perang termuda berusia belasan tahun.

Seorang ilmuwan juga dapat mencontoh Rasulullah dalam melahirkan
ilmuwan dan para pemikir ulung, semisal Umar yang terkenal dengan
ijtihad-ijtihadnya yang berilyan. Abu Hurairah dengan kekuatan
hafalannya dalam mengumpulkan hadits, dan Abdullah bin Umar, Abdullah
bin Mas'ud dan Ibnu Abbas, Ali dan Aisyah yang merupakan ahli-ahli
hukum kenamaan yang dimiliki Islam.

Manajemen Rasulullah memiliki keunikan dan menarik. Karena tugas
beliau sebagai nabi dan rasul yang tidak dapat dipisahkan dengan
tugas-tugas dakwah. Hal ini yang menjadikan gambaran bahwa Rasulullah
memiliki agenda besar dalam dakwahnya. Bukan dilakukan secara
kebetulan, semuanya dengan perencanaan.

SDM Rasulullah juga dapat dipetakan berdasarkan potensi dan
kompetensinya. Ada yang potensinya tinggi namun kompetensinya randah.
Atau kompetensinya tinggi tapi potensinya rendah. Atau yang paling
parah, potensi dan kompetensinya sama-sama rendah namun ternyata
Rasulullah dapat mengelola SDM tersebut sehingga menghasilkan yang
terbaik.

Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana prestasi dan kinerja
Rasulullah dalam mengelola proyek-proyek besarnya. Di mulai dari
proyek perbaikan umat manusia, proyek rekrutmen kader, proyek
pembinaan keluarga, dan proyek pembinaan kader yang dikaitkan dengan
teori pengembangan karir pegawai.

Ilmuwan AS, Michael H Hart mengakui prestasi Rasulullah sebagai tokoh
nomor wahid dunia. Beliau tidak saja berhasil mengembangkan Islam,
namun juga membangun peradabannya hingga  jauh melampaui peradaban
Persia dan Romawi.

Cara Rasulullah mengelola SDM yang unik dan menarik membuat penulis
ingin mengkorelasikan dengan teori-teori SDM sehingga dapat dijadikan
acuan  para HRD untuk dapat mengelola karyawan dan dapat menjadi
sebuah konstribusi yang besar dalam membangun SDM muslim yang
berkualitas menuju umat yang adil, makmur, dan sejahtera. Rena
Anggraini/Erlan.


Resensi ini telah dimuat di Gozian Edisi Keenam-Vol.01
Maret 2009/Rabiul Awal-Rabiul Akhir 1430


Judul Buku:  Rasulullah, Way of Managing People
Penulis:  Haryanto
Penerbit: Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Group)
Cetakan Kedua
Tebal : 292 halaman

" Aksi DAMAI Santun-Sopan-Intelek" > dukungan buat David Hartanto

" Aksi DAMAI Santun-Sopan-Intelek"

TIM PEDULI KASUS David Hartanto akan menggelar Aksi Damai di Kedutaan Besar Singapura Kuningan

Aksi ini akan digelar tanggal 5, 7, 12 Mei 2009.  Dimaksudkan untuk mendukung perjuangan tim verifikasi & keluarga BER-AUDIENSI dengan Kedubes Singapura.

 

"David Hartanto adalah mahasiswa Indonesia yang kuliah di NTU Singapura dan meninggal secara tidak wajar pada tanggal 2 April 2009. Pihak keluarga berjuang keras agar kasus ini dapat diusut hingga tuntas. David adalah mahasiswa berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Kepintaran dan prestasinya mengantar almarhum memperoleh beasiswa dari NTU Singapore. Prestasi alm. David Hartanto dalam dunia pendidikan Indonesia sepatutnya dihargai. Ketika aset bangsa yang pernah berjuang mengharumkan nama bangsa terancam dan teraniaya di negeri orang, bagaimana dampaknya pada putra-putra Indonesia yang bersekolah diluar? Berlatar belakang alasan diatas maka kami dari tim Peduli Kasus David Hartanto bermaksud mengadakan Aksi DAMAI Santun-Sopan-Intelek"  Perjuangan mengungkap kasus ini akan bermuara pada nasib nyawa semua Putra-Putri Indonesia yang bersekolah di luar negeri sekarang dan sepanjang masa. Perjuangan ini adalah simbol kasih sayang kita pada setiap nyawa putra putri kita, bangsa Indonesia.

 

 Untuk itu diharapkan partisipasi dari rekan-rekan dalam bentuk Dana- Konsumsi- Bunga dan kehadiran secara Volunter.

 

Dress Code : BATIK

Jika Anda tergugah akan perjuangan ini, Hubungi Mary di 08159090977 atau Ine 08170008344 :)


Regards

Tim Peduli  David Hartanto

 

please join this group :Investigate The Death of DAVID WIDJAJA Thoroughly - USUT TUNTAS KEMATIANNYA http://www.facebook.com/group.php?gid=67772059154

Artikel Management > Anda Achiever Atau Sekedar Komentator ?


Anda Achiever Atau Sekedar Komentator ?

By Made Teddy Artiana, S. Kom
photographer, graphic designer, profile developer

"Get up, stand up, Stand up for your rights. Get up, stand up, Don't give up the fight."
Bob Marley


Untuk persoalan yang satu ini Indonesia juaranya. Itu bukan opini saya pribadi, tetapi sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa kita, sangat jago dalam hal itu. Anda bisa menemukannya tidak hanya dalam pertandingan olah raga, dalam dunia politik juga banyak, bahkan di dunia hiburan. Yang saya maksud adalah komentator alias tukang komentar. Kita memang sangat jago dalam hal berkomentar. Contoh sederhana, coba perhatikan pertandingan sepak bola luar negeri, Anda akan saksikan betapa hebatnya para komentator Indonesia mengomentari pemain-pemain dunia sekelas Ronaldinho atau Ronaldo. Seharusnya mereka begitu, begitu, mengapa mereka tidak begini begitu…dst. Herannya mereka dibayar untuk itu. Jika seorang motivator dibayar untuk memotivasi, trainer dibayar untuk mentraining, dokter dibayar untuk mengobati, photographer dibayar untuk memotret, komentator dibayar hanya untuk berkomentar. Seakan tanpa komentator acara sehebat piala dunia sekalipun, terasa hambar..ha..ha..ha..

It's ok dengan para komentator bola, politik, bulutangkis, pertandingan sulap atau nyanyi, karena jika kita tidak suka, kita tinggal switch channel TV ketempat lain. Persoalan selesai. Tetapi komentator yang berbahaya justru yang berada dikeseharian kita, kantor, sekolah bisnis ataupun dunia bisnis. Setiap saat Anda dan saya dipaksa untuk berhadapan dengan mereka. No where to hide. Jika di dunia hiburan, politik atau olah raga, para komentator dibayar, di dunia real mereka tidak dibayar. Greeetong ! Satu lagi, didunia real para komentator akan nyeletuk, meskipun Anda dan saya tidak meminta pendapat mereka sama sekali. Seakan-akan mereka mencari tempat untuk menyalurkan hobby mereka itu.

Para komentator, sesuai sebutannya sering kali hanya doyan mengamati dan mengomentari –biasanya yang buruk- tentang apa yang Anda dan saya coba kerjakan dengan gagah berani. Betapapun besar perjuangan, seberapa berat mengatasi perasaan takut, seberapa gugup Anda bertahan, seberapa letih perjuangan, tidak akan mereka pedulikan. Hanya hasil yang akan mereka komentari. Wajar. Mereka di tribun penonton, sementara kita di arena pertandingan. Mereka menonton sambil menggenggam ice cream, Anda dan saya berpeluh menahan haus. Pendeknya kita di dunia nyata, mereka di awang-awang. Kita babak belur dihajar resiko, mereka mandi bunga dengan teori-teori.

Anthony Robbin dalam bukunya Unlimited Power menulis demikian, " Another attribute great leader and achievers have in common is that they operate from belief that they create their world. The phrase you'll hear time and again is,"I am responsible, I'll take care of it". (page 75). Itulah bedanya achievers dengan para komentator. Komentator bebas lepas, tetapi achievers selalu siap bertanggung jawab tanpa mencari kambing hitam.

Sering kali para komentator dunia ini membuat para pejuang yang memiliki cita-cita menjadi ciut nyalinya. Mengapa ? karena komentator sangat ahli menyatakan apa yang salah dari perjuangan kita. Itu spesialisasi mereka. Menemukan apa yang salah. Dan kita sebagaimana wajarnya seorang manusia, sangat takut untuk dituding "bersalah" atau "gagal". Siapa sih yang tidak takut terhadap kesalahan ? Dicap demikian serta merta menggiring kita tontonan dan olokan sekitar. Sementara secara psikologis itu sangat berpengaruh melucuti kepercayaan diri kita. Kemungkinan besar menghentikan seluruh potensi kreasi kita, dan langsung membuat kita beku, laksana mayat hidup. Kapok.

Ada sebuah tips, yang sekarang ini terus menerus saya disiplinkan sebagai sebuah "kebiasaan" dalam diri saya. Tips itu adalah, jangan pernah memandang sebuah kesalahan sebagai kesalahan, tetapi sebagai pelajaran. Kita melakukan A, mengharapkan hasil A, tetapi ternyata menghasilkan B. Sebuah kesalahan ? No way ! Toh kita menghasilkan B, hanya saja kebetulan yang kita harapkan adalah A, jadi mari kita ubah usaha kita itu. Dengan begitu tidak ada istilah "sia-sia" atau "failure", yang ada hanya menghasilkan hasil yang lain.

Ndilalah..Anthony Robbin dalam buku yang sama, mengatakan hal yang mirip juga. "Winner, leaders, masters –people with personal power-all understand that if you try something and do not get the outcome you want,it's simply feedback. You use that information to make finner distinctions about what you need to do to produce the result you desire". Tidak ada usaha yang sia-sia alias kegagalan, yang ada hanyalah hasil yang mungkin bukan yang kita harapkan. Dan ini bukan kesia-siaan karena setiap usaha pasti menghasilkan sesuatu, yaitu pengalaman. Experience !! Disinilah bedanya pelaku dengan komentator. Para pelaku entah apapun hasil dari usaha mereka, selalu akan mendapat upah yang mahal berupa experience.

Ada lagi bagian dalam buku Anthony Robbin yang ingin saya share ke Anda, rentetan kalimat yang saya anggap powerfull. "People who believe in failure are almost quaranteed a mediocre existence. Failure is something that is just not perceived by people who achieve greatness. They don't dwell on it. They don't attach negative emotions to something that doesn't work" (page 73).

Itu khan bahasa Sansekerta, nah terjemahan bebasnya kira-kira begini. "Orang-orang yang percaya pada kegagalan dapat dijamin biasa-biasa saja keberadaannya. Kegagalan adalah sesuatu yang tidak dipersepsikan oleh mereka yang mencapai hal-hal besar. Mereka tidak terpuruk pada kegagalan. Mereka tidak mengaitkan emosi-emosi negatif pada sesuatu yang tidak berhasil."

Nah jika sekarang Anda sedang berada dalam keadaan bimbang tentang sesuatu yang Anda perjuangkan atau mungkin berada dalam suatu ketakutan yang sangat terhadap binatang bernama kegagalan. Anda tidak sendirian. Jutaan pejuang seperti Anda, yang dengan gagah berani berjuang demi cita-cita mereka sedang bertarung juga persis seperti Anda, termasuk Saya. Mari kita nikmati proses pembelajaran ini, no matter what will come as a result. Menutup tulisan panjang ini sebuah humor yang saya dapatkan dari seorang tukang taxi, tentang perbedaan reporter bola indonesia dan reporter luar negri.

Kalau reporter luar negri, karena sadar bahwa pemirsa juga sedang menyaksikan apa yang dia saksikan, sedikit ngomongnya. "Ronaldo………Sebastio………Kaka…". Pokoknya yang komentarnya yang penting-penting saja, karena toh sama-sama sedang nonton. Tetapi reporter bola Indonesia beda banget. Sang reporter merasa cuman dia yang lagi nonton yang lain gak punya TV !! "Bambang menahan bola dengan kaki kanannya, kemudian digiring sejenak, mencari teman dia. Kemudian bola dioper ke Morales. Hampir meleset. Kini bola di Morales, mencari kawan terdekat. Ambil inisiatif penyerangan. Disana ada Aliyuddin. Agak ragu Morales, coba memainkan bola sendiri. Lawan datang menghampiri,bergumul mereka. Akhirnya bola dioper ke Aliyuddin. Hati-hati Ali. Dengan cepat Aliyuddin menggiring bola maju kedepan berhadapan dengan kiper lepas tembakan Gooooolllllll…."
 
***

with friendship, respect & blessing
Made Teddy Artiana, S. Kom
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com

"Follow effective action with quiet reflection.
From the quiet reflection will come even more effective action."
(Peter Drucker)

--
"...1000 pcs Rp 3000/ keping.., No Piracy, No Pornography, Legal Replication only. Call (021)71364225 with Sirod..."

08 November 2008

Pelajaran dari Kasus Merrill Lynch dan Lehman Brothers

saya mengambil tulisan ini dari seseorang bernama Sam Tjioe, dari
sebuah milis. Cukup inspiring...

Bangkrutnya Lehman Brothers dan akuisisi Merrill Lynch oleh Bank of America
mengingatkan kita bahwa dengan kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu
seperti sekarang ini tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dianggap sebagai
"secured jobs"

Saya masih ingat ketika sekitar awal tahun 2000 membaca sebuah artikel di
majalah terbitan luar negeri (saya lupa entah itu BusinessWeek, Newsweek,
Forbes at au Fortune) yang menceritakan betapa kerasnya usaha ribuan orang
lulusan program MBA dari berbagai business school ternama di seluruh penjuru
Amerika Serikat berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan di Wall Street, khususnya
pekerjaan di investment bank terkemuka, seperti Merrill Lynch, Lehman Brothers,
Goldman Sachs at au Morgan Stanley.

Selain soal gengsi (karena sebagian besar investment bank terkemuka tersebut
hanya mempekerjakan lulusan terbaik), banyak yang mengincar untuk bekerja
disana karena tergiur dengan tawaran gaji dan berbagai benefits luar biasa yang
ditawarkan.

Banyak yang beranggapan bahwa bekerja di investment bank kelas kakap di Wall
Street merupakan sebuah pilihan yang aman. Tapi dengan perkembangan yang
terjadi beberapa hari terakhir ini, siapa yang menyangka bahwa Lehman Brothers
bisa bangkrut? Siapa pula yang menyangka bahwa Merrill Lynch ternyata bisa
diakuisisi oleh Bank of America ?

Pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini hanya satu, bila anda saat ini
masih bekerja sebagai employee (di perusahaan mana pun itu - apakah itu
perusahaan nasional at au pun multinasional) ingatlah bahwa tidak ada satu
orang pun yang bisa menjamin 100% bahwa anda akan aman berkarir seterusnya di
perusahaan tersebut. Karena dengan perubahan yang sedemikian cepat dan kondisi
perekonomian dunia yang makin sulit diprediksi, perusahaan paling besar
sekalipun bisa saja gulung tikar minggu depan.

Bukannya bermaksud memprovokasi kalau saya katakan,jangan pernah sesekali
berani memproklamirkan diri sebagai employee yang loyal kepada perusahaan,
karena perusahaan tidak bisa menjamin apakah mereka juga akan bisa loyal kepada
anda.

Bila performa kerja anda menurun, tidak peduli anda telah bekerja 10 tahun
disitu, anda bisa saja ditendang keluar untuk kemudian digantikan dengan orang
lain yang lebih muda dan bersedia mener ima gaji yang lebih rendah dari anda.

Di lain pihak, perusahaan pasti juga tidak akan berani menjamin bahwa mereka
akan mencetak keuntungan secara terus-menerus dan beroperasi seterusnya sampai
dunia kiamat (ingat: sebelum akhirnya bangkrut, Lehman Brothers adalah
perusahaan yang telah beroperasi sejak tahun 1850).

Nah, beberapa hal yang ingin saya tekankan sekali lagi adalah:
* Dengan kondisi seperti sekarang ini, jangan pernah bersikap loyal
kepada perusahaan,tapi bersikaplah loyal kepada profesi anda.
* Cintailah bidang pekerjaan anda, terus asah dan perdalam pengetahuan
anda mengenai beberapa aspek spesifik di bidang yang betul-betul anda minati
, karena saat ini dalam pengamatan saya makin banyak perusahaan yang mencari
seorang spesialis dibandingkan seorang generalis.
* Jangan lupa untuk selalu membuka mata dan telinga lebar-lebar bila
memang ada sebuah kesempatan untuk meningkatkan karir diluar sana .
* Dan mungkin ini yang paling penting, kecuali anda adalah seorang
pegawai negeri sipil yang bekerja di Indonesia, lupakan yang namanya "comfort
zone" dan "job security" ­ those are totally bullshit!

Semoga apa yang saya tulis ini bisa membuka wawasan dan menyadarkan banyak
orang yang mungkin sudah terlena dengan apa yang dinamakan "comfort zone" dalam
bekerja.

Mungkin analogi yang paling pas untuk menggambarkan secara konkrit dari apa
yang saya tulis ini adalah dengan membayangkan anda naik sebuah mobil. Ketika
anda mengendarai sebuah mobil mahal dan canggih, anda tetap harus
mengendarainya dengan kewaspadaan penuh, siap untuk mengerem at au memutar
setir untuk menghindari lubang di jalan at au pengendara motor yang memotong
jalan anda.

Anda tentunya tidak bisa berpikiran bahwa dengan mengendarai sebuah mobil
mahal, maka anda akan selalu selamat karena dilindungi dengan berbagai
peralatan pelindung canggih. Ada faktor utama yang menjadi faktor penentu
keselamatan anda yaitu kewaspadaan.

Hal yang sama juga berlaku dalam anda bekerja sebagai employee, bayangkan saja
anda bekerja menekuni karir seperti anda mengendarai mobil: nikmati perjalanan
anda, tetap waspada dan jangan pernah sampai masuk kedalam "comfort zone" -
alias mengantuk, karena ketika anda masuk kedalam "comfort zone" dan sesuatu
yang tidak diinginkan kemudian terjadi, biasanya anda akan merasa lebih sakit ­
karena memang anda tidak siap dalam menghadapinya.

Have a nice day at work!
Quote of the Day:
"Action may not always bring happiness, but there is no happiness without
action." by Benjamin Disraeli

--
"...1000 pcs Rp 3000/ keping.., No Piracy, No Pornography, Legal
Replication only. Call (021)71364225 with Sirod..."

27 October 2008

FDA: No Cold, Cough Medicines for Babies

Berikut ini adalah tulisan teman saya ii, dia konsern sekali dengan hal-hal kesehatan anak (batita/balita), nah tulisannya kali ini mencermati tentang negara USA yang melarang peredaran obat demam dan batuk buat anak...

selamat membaca


----

Halo....

berkali-kali baca (dari website sehatgroup, WHO, AAP, mayoclinic, dll) bahwa batuk dan pilek pada anak-anak (terutama usia<2thn) tidak boleh dikasi obat. Malah pernah baca hasil riset soal bahayanya obat batuk buat bayi (menyebabkan kematian).

Tapi di Indo, obat batpil buat anak2 gencar bgt iklannya. Malah salahsatunya (kalo ga salah Tr**m*n*c) kalo ga salah juga, mengandung antibiotik.

Ga ada proteksi bgt ya dr pemerintah, kasian anak2 yg overmedicated.
Kata dr. Wati : ga ada anak yg meninggal dunia gara-gara pilek, tapi kalo meninggal karena salah/kebanyakan obat...banyak!

Quote :
Always remember that these medications do not cure the cold. They don't shorten the time that your child has a cold, and they're only meant to help a child's symptoms.
-->what's the point of giving medicine if it doesnt cure the sickness and doesnt shorten the time of sckness?

So, kalo anak sakit, kuncinya : jangan panik! Supaya bisa mikir jernih, gak overreaktif terhadap iklan, dan pastinya gak bikin dokter ikutan panik (dokter panik = ngasih obat gak rasional).

Cheers,

Bundanya Deyka
makin banyak minum obat = makin sering sakit --> been there, done that!
 

----------------------------------------

FDA: No Cold, Cough Medicines for Babies

FDA Rules That Over-the-Counter Cough and Cold Medicines Shouldn't Be Given to Kids Younger Than 2

By Miranda Hitti
WebMD Health News
Reviewed by Louise Chang, MD
Jan. 17, 2008 -- The FDA today urged parents and caregivers not to give over-the-counter (OTC) cough and cold medicines to children younger than 2 because of dangerous side effects.

"We strongly recommend that over-the-counter cough and cold products should not be used in infants and young children under 2 years of age because serious and potentially life-threatening side effects can occur from use of these products," Charles Ganley, MD, director of the FDA's Office of Nonprescription Products, said at a news conference.

OTC cough and cold products include decongestants, expectorants, antihistamines, and antitussives (cough suppressants) for the treatment of colds.

An FDA news release states that rare, serious adverse events -- including convulsions, rapid heart rates, decreased levels of consciousness, and death -- have been reported with use of cough and cold products.

The FDA is still reviewing the use of cough and cold medicines in children aged 2-11.

FDA Timeline
Today's FDA recommendation is in line with the findings of an FDA advisory panel that weighed in on the topic last October, shortly after makers of OTC cough and cold drugs for infants voluntarily took those products off the market.

A key concern has been the potential for accidental overdoses if the dosing instructions for those drugs aren't followed exactly as instructed.

"I will point out that the FDA has never endorsed the use of these products in children less than 2 years of age," Ganley says. "We've always acknowledged that there was no safety and efficacy data. It was really left to the discretion of health providers to determine whether use of one of these products was appropriate in these age groups."

Ganley says the FDA decided to issue today's advisory after learning of recent surveys that show that some parents aren't aware of the warnings issued last fall about the use of OTC cough and cold drugs in kids younger than 2.

"This announcement will bring this issue back into the public consciousness, particularly since it's cold season now," Ganley says.

Industry Responds
The Consumer Healthcare Products Association (CHPA), a trade group representing makers of over-the-counter (OTC) medicines, issued a statement supporting today's FDA's decision.

"Safety has always been and continues to be our top priority," says CHPA President Linda Suydam, DPA.

"Today's decision by the FDA reaffirms the correct course of action taken by the leading makers of these medicines last fall," says Suydam, referring to the voluntary withdrawal of over-the-counter cough and cold drugs for infants.

The CHPA is working with retailers, doctors, and the FDA "to ensure that parents have the tools they need to safely and appropriately administer OTC oral cough and cold medicines to children over the age of two," Suydam says.

Tips for Parents of Older Kids
Speaking at today's FDA news conference, Lisa Mathis, MD, associate director of the FDA's Pediatric and Maternal Health Staff in the Office of New Drugs, reminded parents that the FDA hasn't finished reviewing cough and cold drugs for older children.

Tips for Parents of Older Kids continued...
Mathis provided the following tips for parents who choose to give over-the-counter cough and cold medicines to children aged 2-11:

a.. Always remember that these medications do not cure the cold. They don't shorten the time that your child has a cold, and they're only meant to help a child's symptoms.
b.. Look at the active ingredients in the Drug Facts label. This will help you understand what active ingredients are in the medication and what symptoms each active ingredient is intended to treat. Cough and cold medications often have more than one active ingredient.
c.. Be very careful in giving more than one over-the-counter cough and cold medication to your child. Remember that many over-the-counter cough and cold products have multiple medications in them. If you use two medications that have similar active ingredients, a child could get too much of the ingredient, which could be harmful.
d.. Make sure to carefully follow the directions in the Drug Facts part of the label. These directions tell you how much medicine to give and how often to give it.
e.. Only use the measuring device -- spoon, dropper, or cup -- that comes with the medication. Common household spoons come in different sizes and are not meant for measuring medicines. If you use these, you may not be giving the right dose.
f.. If you have the opportunity to choose cough and cold medications with a childproof safety cap, you should do so, and store these medications out of the reach of children.
"Most importantly," Mathis says, "call your physician, pharmacist, or other health care professional if you have any questions about using these medications in children 2 years of age and older."

http://www.webmd.com/cold-and- flu/news/20080117/fda-no- cough-cold-drugs-for-tots


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
"...groups ini dibuat karena gencarnya Black & Syahbaini untuk mengadakan acara kongkow-kongkow..., kenal ama si Black atawa si Sabeni? langsung join aja...!!!"
ORANG JAIM DILARANG MASUK! Nggak suka ama salah satu postingan? DELETE Saja, atau keluar dari milis (unsubscribe), caranya kirim email ke: Black-Syahbaini-unsubscribe@googlegroups.com ..."
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---


27 August 2008

Wahai Dosen, Berbicaralah dengan Bahasa Manusia!

by Romi Satria Wahono
 
Itulah teriakan para mahasiswa kepada dosennya, yang mungkin nggak pernah tersampaikan, dan saya yakin akan menjadi blunder kalau diungkapkan. Kecuali bagi para mahasiswa yang memiliki kebebasan nilai IPK, kebebasan pola pikir, kebebasan penelitian, kebebasan finansial dan kebebasan ketergantungan serta ketaatan kecuali kepada satu yang Diatas. Mahasiswa pedjoeang yang tetap mau mengatakan kebenaran meskipun itu sangat sulit, pahit dan sakit. Tidak saya rekomendasikan, karena ungkapan semacam "Sensei no jugyo wa sonna naiyo deshitara, i-me-ru de okutta hou ga yoi dewanai deshouka?" (kalau isi kuliahnya kayak gitu, lebih baik kalau anda kirimkan ke saya lewat email saja prof)  , saya jamin akan membuat nilai kita jadi Fuka alias tidak lulus. Jangan dilakukan, cukup saya yang jadi korban harus mengambil mata kuliah yang sama selama tiga tahun berturut-turut, sampai akhirnya harus puas mendapatkan nilai Ka alias C dari sang Professor. Professorku yang
 akhirnya jadi sahabatku dan membimbing penelitianku, meskipun tetap tidak bisa menghilangkan cacat nilaiku 
 
Mungkin itu salah satu tema diskusi ketika bertemu dengan teman-teman dosen di Puskom UNS Solo. Workshop, meskipun dengan undangan mendadak, tapi bak wangsit yang memberi tanda ke insting saya bahwa acara ini wajib saya datangi. Bukan hanya karena telepon mbak Jatu yang merdu yang meminta saya untuk sekalian mabid sambil ngisi liqo di UNS Solo hehehe, atau karena kesabaran mas Kurnia yang ngejar kereta saya dari Boyolali dengan motor bututnya, dan akhirnya berhasil menjemput saya jam dua pagi di Stasiun Balapan Solo, dan juga bukan karena sodoran kertas untuk tanda tangan dari mbak Asih  Saya merasa perlu mengajak bapak ibu dosen untuk kembali memperhatikan mahasiswa kita.
 
Saya sebenarnya dalam keadaan kepenatan yang luar biasa pada waktu itu. Dua hari di Yogyakarta, hari Selasa (19 Agustus 2008) di STMIK Amikom untuk memberi materi tentang kesiapan kerja wisudawan dan Rabu (20 Agustus 2008) ke Universitas Atmajaya Yogyakarta mbantu pak Irya ngompori dosen-dosen untuk membuat eLearning content. Hari ketiga, perjalanan darat selama 5 jam antara Jogja-Purwokerto meluluh lantakkan kekuatan saya, memporak porandakan kemampuan otak kiri saya, membenamkan senyum saya sampai ke titik nadir (halah!  ). Mandi, sholat, sarungan, datangnya pesan perdjoeangan sang istri dan diskusi dengan para prajurit saya, garda depan Romi Satria Wahono's Army alhamdulillah membangkitkan kekuatan saya. Revolusi belum selesai bung, perdjoeangan harus tetap dilakukan!  Alhamdulillah setelah acara seminar grand opening prodi Teknik Informatika di Unsoed selesai, saya bergegas, meninggalkan kopi ginseng saya ke mas Adnan (thanks om), meloncat ke
 kereta Bima yang merayap senyap menuju kota Solo.
 
Kembali ke tema bahasan, saya mengajak bapak ibu dosen di UNS Solo untuk mencoba memikirkan kembali hakekat kita ngajar. Ngajar mahasiswa mengandung makna besar mendidik dan membina generasi muda kita. Dalam sejarah kebangkitan bangsa-bangsa, peran mahasiswa selalu tercatat, menjadi garda depan perubahan, kontribusinya sangat besar dan dominan. Mahasiswa adalah anasirut taghyir alias agen perubahan yang akan mewarnai masa depan dan membentuk karakter suatu bangsa. Bayangkan, pendidikan dan pembinaan orang-orang seperti itu diserahkan ke kita, para dosen dan pendidik. Beban berat yang harus kita pikul dan perlu perdjoeangan untuk melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.
 
Saya sempat melakukan studi kecil-kecilan, tentang harapan mahasiswa kepada dosennya. Dosen seperti apa yang sebenarnya mereka harapkan. Cukup menakjubkan, bahwa mahasiswa sangat jujur menilai kita. Sebenarnya posting ini adalah satu otokritik kepada diri saya sendiri, karena masih banyak karakter saya yang mungkin tidak diharapkan oleh mahasiswa. Kalau kita simpulkan ada empat karakteristik dosen yang diharapkan mahasiswa, dan jujur saja akan mereformasi dan mengantarkan kita menjadi sosok Dosen 2.0 
 
1. Memiliki Kemampuan Verbal: Pintar jangan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Bahasa gampangnya, permintaan mahasiswa kepada kita supaya belajar untuk mengajar, dan bukan hanya belajar untuk diri kita sendiri. Dosen diharapkan punya keseimbangan dalam pengetahuan taksit (know-how dan pengalaman lapangan) dan pengetahuan eksplisit (tertulis di textbook dengan berbagai teoritikalnya). Beri mahasiswa lebih banyak pengetahuan taksit karena know-how dan pengalaman lapangan yang kita miliki akan membuka wawasan mereka lebih luas. Memanjang-lebarkan penjelasan ke bahasan yang sudah jelas bin cetho tertulis di buku akan membuat kuliah kita jadi kering, garing dan membosankan. Kebiasaan kita dalam menggunakan bahasa sulit dalam menjelaskan suatu hal juga dikritik, ditambah dengan nafsu untuk memasukkan semua materi kuliah ke slide presentasi. Jangan buat kacamata kita semakin tebal, itu harapan para mahasiswa  Mari kita gunakan bahasa manusia yang
 baik dan benar, dosen datang untuk memahamkan ke mahasiswa, bukan untuk menambah pusing mahasiswa yang sudah pusing dengan tugas mandiri, UTS dan UAS 
 
2. Memiliki Kemampuan Tulis: Kritikan paling tajam adalah kebiasaan kita menggunakan bahasa tulis ala paper yang dingin dan formal. Ngeblog adalah terapi yang sangat efektif mengatasi kelemahan kita yang tidak terbiasa menggunakan bahasa manusia dalam menulis. Posting artikel populer dalam bentuk journal pribadi yang banyak menggunakan ungkapan hati ala blog, akan mereformasi gaya tulisan kita. Menulislah dengan hati, karena kekuatan kata-kata kita akan memberikan motivasi tinggi kepada para mahasiswa dan mahasiswi. Jangan pernah nyontek tulisan orang lain karena itu akan blunder, membuat generalisasi negative image ke semua perilaku kita. Apalagi kalau menerapkan standard ganda dengan membuat tidak lulus mahasiswa yang melakukan copy-paste pada laporan tugas mandirinya. Kegiatan copy-paste mahasiswa kadang harus disikapi dengan bijak, mungkin mereka belum kita ajarkan tentang peraturan APA masalah pengambilan referensi dan pembuatan kutipan. Justru
 copy-paste yang dilakukan dosen dan pendidik adalah penghianatan besar, membuat damage yang sangat luas ke lingkungan dan kegiatan hina yang tidak termaafkan.
 
3. Open Mind dan Karakter Berbagi: Terbuka, jujur dan mau menerima kritik adalah sifat penting yang diharapkan mahasiswa ke dosennya. Karakter ringan tangan, senang berbagi ilmu dan project  , mau bergaul dengan mahasiswa dan bahkan mendekati mereka dengan "bahasa mereka" adalah sifat yang menentramkan mahasiswa. Mahasiswa, selain sebagai murid, juga adalah teman, partner dan customer dari sang dosen. Janganlah dosen bersifat terlalu jaim, jayus apalagi jablai, karena itu akan membuat mahasiswa makin tidak simpatik. Kalau sudah nggak simpatik, sebaik apapun ilmu pengetahuan dan nasehat yang kita berikan akan hancur, musnah dan mahasiswa akan main hati (romi and the backbone)  Mari kita menjaga hati mereka dan memberikan janji suci (romi and nuno) kepada para mahasiswa, "wahai para mahasiswaku, senyummu juga sedihmu, adalah hidupku". Kalau perlu sebutkan dengan ikhlas, "akulah penjagamu, akulah pelindungmu, akulah pendampingmu, di setiap
 langkah-langkahmu (romi maulana, gigi)". Dijamin mahasiswa kita pasti klepek-klepek dan mengatakan "everything i do, i do it for you sir …"  Kadang mengikuti behavior mereka dengan membuat account friendster dan facebook juga bukan pilihan buruk. Meminta mereka membuat laporan dalam bentuk tulisan lewat fitur blog di friendster kadang saya lakukan untuk men-terapi mahasiswa-mahasiswa saya yang sudah sulit dikendalikan lewat cara konvensional 
 
4. Memiliki Kemampuan Teknis: Cukup mengejutkan bahwa technical skill ternyata bukan hal utama yang diharapkan oleh mahasiswa ke dosennya. Sudah menjadi hal yang jamak bahwa kemampuan teknis khususnya yang berhubungan dengan pengetahuan eksplisit, sebenarnya bisa didapat dari berbagai literatur, buku dan ebook yang didapat dengan mudah oleh mahasiswa lewat internet. Dosen diharapkan oleh mahasiswa untuk jujur, kalau memang nggak ngerti ya bilang saja nggak ngerti, jangan malah muter-muter dan bikin pusing mahasiswa  Perlu saya beri catatan khusus, pada jurusan computing, mahasiwa kita kadang punya technical skill yang lebih tinggi daripada kita, misalnya berhubungan dengan programming, troubleshoting, dan trend teknologi. Berkata tidak tahu, adalah suatu hal yang biasa dalam iklim pendidikan di kampus. Mengungkapkan akan mencoba mempelajari masalah itu dan dijadikan bahan diskusi pertemuan pekan depan, adalah jawaban dosen pedjoeang yang jujur dan
 bertanggungjawab. Sekali lagi, dosen nggak perlu keminter atau merasa lebih pinter daripada mahasiswanya untuk urusan skill teknis. Karakter dosen yang merasa menjadi newbie forever, selalu perlu belajar dan belajar lagi,  selalu berdjoeang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, dan berusaha keras menyelesaikan masalah mahasiswanya, adalah karakter wajib, dan sifatnya tidak hanya wajib kifayah, tapi wajib ain 
 
Untuk para dosen, sekali lagi, anak-anak muda, para pembaharu dan penentu masa depan bangsa ada di depan kita. Kitalah yang menentukan apakah mereka akan menjadi seorang pemimpin besar, mujaddid besar, dan ilmuwan besar, yang akan memperbaiki republik ini. Dan jangan lupa, bahwa bahwa kita jugalah yang akan membuat mereka menjadi penjahat dan koruptor besar yang akan memporak porandakan republik ini. Pilihan ada di tangan kita, para dosen.
 
Untuk para mahasiswa, beri kami kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri. Insya Allah kami akan berusaha menjadi pembimbing dan pendidik yang baik untuk anda sekalian. Kami tidak menginginkan apapun dari kalian semua, selain harapan supaya mahasiswa tetap komitmen untuk belajar dan berdjoeang keras, serta pantang menyerah. Hentikanlah sikap main-main, selalu jaga karakter serius dan profesional dalam kegiatan berhubungan dengan tugas belajar. Bersikaplah seperti layaknya seorang ksatria dan agen perubahan, yang akan mengantarkan republik ini ke jalan yang lebih baik.
 
Tetap dalam perdjoeangan!
 
Romi Satria Wahono
(*) Artikel ini juga diterbitkan oleh detik.com dengan judul yang sama dan redaksional yang sedikit berbeda
 
http://romisatriawahono.net/2008/08/25/wahai-dosen-berbicaralah-dengan-bahasa-manusia/

21 August 2008

Etiquette & Personal Image

Liat situs 6221.Net, ada training mengenai Etiquette & Personal Image for Professionals, bagus juga kalau di-share disini...
  • Pengenalan diri
    Mengenali diri sendiri dan orang lain. Mampu menerima diri sendiri dan orang lain. Lebih terbuka, lebih percaya diri, lebih toleransi, dan lebih mudah bekerja sama.
  • Komunikasi efektif
    Berbicara secara efektif dengan semua orang. Dengan atasan, rekan kerja, bawahan, tamu, klien, supplier, dan sebagainya. Menghindarkan salah paham. Bersikap profesional dalam berkomunikasi.
  • Etika bisnis
    Tata cara bergaul dan berkomunikasi dalam dunia bisnis. Cara berkenalan, bertanya, menjawab, berdiskusi, meeting, dan sebagainya.
  • Telephone Etiquette
    Cara menelepon dan menerima telepon secara optimal. Menerapkan etika bisnis dalam bertelepon.
  • Presentation & Meeting
    Cara melakukan presentasi untuk shareholder, direksi, atasan, klien dan lainnya. Bagaimana mengadakan meeting yang efektif dan bermanfaat.
  • Table Manners
    Mengenal tata cara makan secara international, bagaimana melakukan pembicaraan di meja makan, meng-entertain orang lain, dan sebagainya.
  • How to get the right First Impression
    Kesan pertama sangat penting dalam berkomunikasi. Cara menampilkan diri secara maksimal.
  • Personal Image
    Menggali personal image yang paling sesuai untuk tiap pribadi. Menampilkan personal image secara optimal. Memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang kita miliki.
  • Self Motivation and Self Confidence Building
    Bagaimana meningkatkan rasa percaya diri yang tepat, sehingga bisa tampil penuh percaya diri. Berani menghadapi segala masalah dan bertemu atau berkomunikasi dengan berbagai jenis orang.
  • Grooming
    Tampil profesional dalam setiap keadaan.

05 August 2008

Selamat Jalan Bang Imad

Berikut adalah petikan dari Suara Hidayatullah, Saya sendiri mengenang Bang Imad sebagai seorang intelektual muslim yang ide-idenya orisinal dan bahkan menghentak pendapat umum orang. Misalnya beliau pernah mengatakan bahwa, hukum rimba itu adalah hukum yang adil karena yang jadi santapan / mangsa binatang buas adalah hewan-hewan yang paling lemah sehingga terseleksi secara alami. Hukum yang dibuat manusia itulah yang seringkali tidak adil dan bahkan merusak melebihi hukum rimba.

Kini Bang Imad telah kembali ke haribaan Allah SWT, Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan Allah menggantikan orang-orang seperti beliau ke dunia ini agar dunia ini tidak cepat mendekati kerusakan. Amin.


M.Sirod

------



Muhammad 'Imaduddin 'Abdulrahim

Habibie Bilang, Silakan Tembak Saya..atau..

Nopember ini, ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) menggelar
muktamarnya yang ketiga di Jakarta. Banyak yang menilai, hajatan besarnya
kali ini tidak seberuntung ketika Soeharto dan Habibie masih berkuasa.

Di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, keberadaan ICMI dianggap
meredup, karena tokoh kontroversial itu secara terbuka membenci organisasi
cendekiawan Muslim itu. Salah satu buktinya, ICMI `ditendang' dari kantor
lamanya di Kebon Sirih oleh dua orang dekat Presiden, Menristek AS Hikam
dan Menag Tolchah Hasan.

Bagaimana kelanjutan kiprah organisasi tempat bermuaranya cendekiawan
Muslim dari berbagai aliran ini? Sahid mewawancarai tokoh yang berperan
besar di balik pendiriannya 11 tahun yang silam. Dr Muhammad `Imaduddin
`Abdurrahim MSc, pendiri ICMI yang pernah dipenjara karena aktivitas
dakwahnya.

Di rumahnya, di kawasan Klender, Jakarta Timur, kepada wartawan Suara
Hidayatullah, lelaki sepuh (69 tahun) yang biasa dipanggil Bang Imad ini
menceritakan kisah-kisah di balik berdirinya ICMI yang belum banyak
diketahui orang.

Misalnya, latar belakang kebencian Gus Dur terhadap ICMI. Upaya Jenderal
LB Moerdani menjegal ICMI. Pandangan-pandangannya terhadap Habibie. Juga
obsesinya menaikkan Cak Nur sebagai calon Ketua ICMI dan bahkan calon
Presiden 2004.

Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, ustadz yang berguru pada Ismail Raji'
al-Faruqi ini menjadi unik karena hampir tak pernah terjun ke hiruk-pikuk
partai politik. Bahkan di masa rame-ramenya orang bikin partai sekalipun.

Lucunya, selama 14 bulan ia pernah dipenjara karena dianggap membahayakan
kekuasaan rejim Orde Baru. Alhamdulillah, di penjara ia menghasilkan buku
Kuliah Tauhid yang terkenal itu, dan telah dicetak delapan kali.

Minatnya lebih pada dakwah dan pengkaderan. Dalam hal ini, ruang dan waktu
yang dijelajahinya merentang luas sekali. Berbagai tempat di Nusantara,
Malaysia, Amerika, Timur Tengah pernah menjadi basisnya. Sahabatnya ada di
mana-mana. Ia salah satu murid kesayangan Mohammad Natsir, juga guru dari
Anwar Ibrahim.

Ah, mengapa dia tiba-tiba yakin, Anwar akan dibebaskan sebelum bulan
Ramadhan mendatang? Selamat menyimak perjalanan dan renungan-renungannya.

Bagaimana Anda melihat peran dan posisi ICMI di bawah rejim saat ini?

Nggak apa-apa. ICMI kan jalannya karena Allah. Yang penting ummat Islam
mendukung.

Tapi sejak dulu Abdurrahman Wahid menentang ICMI?

Itu karena dia merasa tidak dilibatkan. Padahal, pertama kali saya
membentuk ICMI di Kota Gede, Yogya (1988), sebetulnya dia mau ikut. Dia
setuju saya tempatkan sebagai salah seorang ketua. Tapi waktu mau
berangkat isterinya sakit. Dia minta maaf tak jadi ikut.

Sayangnya waktu Habibie menentukan kepengurusannya, saya ada tugas ke
Kuala Lumpur sehingga tak sempat beri tahu Gus Dur. Di situ mungkin dia
marah karena tidak diikutkan. Dia mengkritik macam-macam. Sayangnya, oleh
kawan-kawan (yang hadir di Simposium Cendekiawan Muslim) di Malang,
kritik-kritik itu dibalas. Seharusnya memang tidak usah dilayani.

Akhirnya Habibie datang padanya dan minta dia masuk. Terus Gus Dur bilang,
Saya tidak menentang, tapi saya tidak mau masuk. Habibie tetap minta orang
NU ada yang masuk. Akhirnya Gus Dur memberi Dr Muhammad Thohir, orang NU
yang diangkat jadi asisten Habibie. Pak Ud (KH Yusuf Hasyim) dan KH Ali
Yafie yang saya usulkan pun oleh Habibie dimasukkannya.

Di masa Orde Baru, sejak pulang dari Amerika Serikat, Bang Imad mengaku
sering dibuntuti intel. Rapat persiapan pembentukan ICMI di Yogya itu pun
sempat diintai, sehingga akhirnya dibubarkan polisi saat mereka sedang
sarapan pagi.

Anda sendiri dekat dengan Gus Dur?

Saya dengan dia sebetulnya tidak ada apa-apa. Dia baik saja dengan
saya. Saya kenal dia pertama kali ketika dia masih tingkat dua di
Al-Azhar. Saya pulang dari Amerika sehabis mengambil S-2 tahun 1966,
mampir ke Kairo. Nah dia yang jadi guide saya, karena bahasa arabnya
fasih. Dia tahu saya dari HMI. Sampai ICMI terbentuk pun saya masih baik.

Dia memberi kritik, Dengan ICMI ini bagaimanapun Bang Imad sebetulnya
sudah masuk ke lapangan politik walaupun tidak berpolitik.

Waktu itu Anda tidak melihat sentimen lain di belakang sikap Gus Dur?

Saya justru ingin merangkul semua orang sesuai dengan sumpah saya. Waktu
NU keluar dari Masyumi tahun 1948 (saya masih remaja), saya bersumpah,
hanya akan masuk organisasi Islam kalau ia merupakan persatuan seluruh
unsur ummat.

Mungkinkah kebencian Gus Dur terhadap ICMI karena dia dekat dengan Benny
(Moerdani)?

Barangkali begitu alasan dia. Saya tak tahu. Mungkin saja dia diancam
Benny.

Di Balik Layar

Para pengamat cenderung mengatakan, ICMI merupakan alat Soeharto mendekati
Islam. Bagaimana sebenarnya proses berdirinya?

Sepulang dari Amerika saya berdiskusi dengan Aswab Mahasin tentang para
cendikiawan Islam yang saling bermusuhan. Dia bilang, Bang Imad kan yang
masih diterima oleh semua. Satukan mereka.

Dia meyakinkan saya bahwa harus saya sendiri yang menyatukan, karena wadah
cendikiawan Islam yang sudah pernah ada tidak bisa. Tahun 1989 Kebetulan
saya diundang ceramah oleh Universitas Brawijaya. Pulang dari sana
anak-anak Unibraw yang dipimpin Erik Salman almarhum datang kepada saya
dan minta saya pindah ke Malang untuk meramaikan Masjid di sana. Supaya
Unibraw bisa seperti Salman, kata mereka. Waktu itu saya sudah dipecat
dari ITB.

Saya bilang tidak bisa. Kemudian saya kasih saran supaya bikin simposium
yang mengundang Habibie. Mereka setuju tapi minta saya ikut membantu.

Apa pertimbangan Anda menyarankan nama Habibie?

Waktu bulan puasa saya kebetulan baca wawancara dia di majalah Kiblat. Tak
berapa lama di majalah Business Review dia jadi cover story. Di sana dia
dipuji-puji.

Bagaimana Anda bertemu Habibie?

Waktu Hari Raya, saya ke rumah Pak Alamsyah (Ratuprawiranegara, mantan
menteri agama). Saya tanya pada Pak Alamsyah, siapa orang dekat Soeharto
yang kuat komitmennya terhadap Islam dan bisa menyatukan ummat. Waktu saya
tanyakan tentang Emil Salim dia nggak setuju. Begitu juga waktu saya
ajukan Azwar Anas.

Ah, jangan. Orang bodoh bisa kamu bikin pintar, orang miskin bisa kamu
bikin kaya, tapi seseorang walaupun pintar dan kaya namun pengecut tidak
ada gunanya. Apa yang kamu kerjakan ini perjuangan. Jangan diajak berjuang
orang pengecut, katanya.

Saya tanya lagi, Jadi siapa Pak kira-kira orang dekat Soeharto yang ada
komitmen Islamnya? Itu, tuh anak Bugis, Habibie, jawabnya. Saya kan tidak
kenal dia, jawab saya lagi. Nanti saya kenalkan, kata Pak Alamsyah.

Akhirnya anak-anak Malang itu berusaha temui Habibie, tapi nggak bisa
tembus juga. Mereka datang lagi pada saya. Saya sampaikan ini pada Pak
Alamsyah. Terus dia tulis memo di atas kop surat pribadi, dengan tulisan
tangan,Tolong terima Dr `Imaduddin yang ingin ngobrol dengan saudara.

Tapi Salman dan teman-temannya kesulitan juga untuk menyampaikannya ke
Habibie karena ajudannya, Napitupulu, yang Kristen selama ini selalu
mempersulit. Akhirnya saya sarankan supaya mereka cari tahu di mana
Habibie shalat Jumat. Kan ajudannya tak ikut masuk. Rupanya itu
dilaksanakan.

Awal Agustus 1989 waktu Habibie keluar masjid habis Jumat, dikejar oleh
Salman dengan membawa surat Pak Alamsyah. Langsung dipanggil ajudannya
untuk buat janji bertemu. Tulis, hari Kamis tanggal 23 jam 12 saya terima
ini, Dr `Imaduddin, kata Habibie.

Bagaimana suasana pertemuan itu?

Saya membawa Mas Dawam (Rahardjo) bersama empat anak dari Malang
itu. Waktu kami sampai masih ada tamu di ruangannya. Kami tunggu. Lebih
kurang pukul satu kami diterima. Tapi kami disuruh makan dulu.

Waktu mereka pergi makan, saya tidak ikut karena puasa. Dia bilang, saya
juga puasa. Nah kesempatan berduaan itulah saya `hantam' dia. Sebab,
tadinya waktu ngobrol ramai-ramai kami tidak diberinya kesempatan. Hanya
dia saja yang ngomong. Setelah mereka pergi makan saya masukkan ayat-ayat
Quran, tak-tak-tak. Dia diam saja.

Kalimat saya tidak putus, tak saya beri dia kesempatan ngomong. Saya pikir
waktu itu, dia ini memang harus dibombardir terus. Saya katakan, Ummat ini
sudah dipinggirkan. Kalau Saudara tidak membela, tidak ada yang lain yang
bisa membela, karena Saudara punya kapasitas. Saya meminta dia memimpin
organisasi cendikiawan yang mau dibuat dalam simposium itu.

Akhirnya dia bilang, Saya mau, saya mau, memang saya bertanggung jawab
untuk ummat ini. Tapi kami disuruhnya dulu membuat proposal untuk
disampaikan kepada presiden, karena dia merasa sebagai pembantu presiden
tidak bisa memegang jabatan di luar tanpa ijin presiden.

Saya kan lebih tua dari dia. Dia panggil saya Bapak. Katanya, Curahkan apa
yang Bapak sampaikan ini dalam surat, dengan usul saya sebagai ketua
organisasi ini. Tapi saya minta dukungan sedikitnya 20 tandatangan
cendikiawan Muslim yang S-3 termasuk Cak Nur (Nurcholish Madjid).

Saya buatlah surat itu dengan beberapa kali perubahan. Baru setelah itu
saya cari tandatangan. Ketika didatangi para mahasiswa, Cak Nur tadinya
nggak mau tanda tangan karena rencana itu berbau politik. Dia tanya pada
saya di telepon, siapa di belakang ini. Saya bilang, saya yang ada di
belakang proyek ini. Akhirnya dia mau ha..ha..ha... Setelah Cak Nur,
barulah terakhir saya tanda tangan. Alhamdulillah terkumpul 49
tandatangan, 43 diantaranya S-3.

Jadi gagasan awal berdirinya ICMI berasal dari Anda ya?

Saya memang yang memberi tugas kepada anak-anak Malang itu supaya
mengadakan simposium di Unibraw yang mengupas tentang sumbangsih
Cendikiawan muslim dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Waktu itu key note speaker-nya saya suruh anak-anak untuk minta Habibie
saja. Rencana saya, sesudah dia bicara di simposium itu, pada session
berikutnya saya akan membakar apa yang dikatakan Habibie dengan menegaskan
pentingnya para cendekiawan Islam bersatu dan mengkampanyekan bahwa dialah
yang tepat untuk memimpin wadah cendekiawan Muslim itu.

Tapi Habibie minta pernyataan dukungan itu untuk disampaikan kepada
Soeharto. Alhamdulillah, Soeharto juga mendukung, bahkan dia mau membiayai
simposium itu. Dia juga bilang bersedia membuka acara itu.

Rupanya Benny Moerdani ketakutan. Tanggal 6 Desember, hari Kamis tahun
1990, jam 7 pagi acara mau dibuka dan Soeharto akan sampai pakai
helikopter dari Surabaya ke Malang. Tapi sampai malamnya, Kapolda Jatim
belum kasih surat jaminan keamanan Soeharto sesuai undang-undang.

Rapat panitia sampai jam 12 malam belum ada keputusan. Malam itu kaki
tangan Benny, entah kolonel siapa namanya, berusaha membujuk Habibie
supaya acara itu digagalkan dengan alasan sektarian. Sampai jam 12 malam,
Habibie jengkel dengan orang itu, akhirnya keluarlah Bugisnya, `'Silakan
tembak saya di tempat, kalau tidak maka saya akan teruskan program ini.''

Orang itu akhirnya mundur. Akhirnya jam dua pagi Habibie menelpon Kapolri,
Pak (Jenderal) M Sanusi di Jakarta, minta jaminan keamanan bagi
Soeharto. Nah Kapolri lalu menelpon Kapolda, perintahkan keamanan untuk
Soeharto. Itulah sebabnya Benny menganggap saya The Most Dangerous
Man. Itu dikatakannya kepada William Liddle, ahli politik Indonesia. Si
Liddle yang bilang pada saya.

Karena peran dan jasanya yang dianggap cukup besar, baik dalam dakwah
maupun pendirian ICMI, tahun 1999 pengagum Umar bin Khatab itu pernah
dianugerahi Bintang Mahaputra Adhipradana oleh Habibie, presiden RI ketika
itu.

Apa yang ada di benak Soeharto ketika itu sampai dia mau mendukung acara
tersebut?

Yang saya tahu Habibie itu sangat dekat dengan Soeharto. Kalau dia datang,
itu bicaranya tidak satu jam, tapi bisa tiga jam, karena dia sudah
dianggapnya anak oleh Soeharto.

Ketika ICMI sedang jaya, Anda pernah berhubungan dengan Soeharto?

Tidak. Tapi kata Habibie, Soeharto yang minta saya mewakili ICMI menjadi
ketua di IIFTIHAR (International Islamic Federation for Technology and
Human Resource Developent).

ICMI dulu tidak bisa menghindar dari permainan politik yang dilakukan
orang-orang di dalamnya. Bisa Anda jelaskan?

Waktu itu, Habibie selain pemerintah juga kan pembina Golkar. Jadi
kecintaannya kepada Islam membuatnya ingin memajukan pemimpin dari
kalangan Islam di tubuh Golkar.

Dia beralasan, kalau 90 persen Islam, maka 90 persen juga yang memegang
jabatan. Ketika Frans Seda tidak setuju, dia bilang, Katanya
demokrasi. Sumarlin juga pernah marah sama dia karena begitu. Pernah dia
mengirim orang IPTN untuk beasiswa ke Al-Azhar. Alasan dia, IPTN kan
banyak buruhnya muslim, mereka butuh pembimbing agama Indonesia. Ini bukan
uang pemerintah, tapi uang saya pribadi, dia bilang begitu.

Pencalonan Cak Nur

Sejak Habibie jatuh, ICMI terkena dampaknya, perannya pun makin surut. Apa
rencana Anda ke depan?

Saya mengharapkan, kalau berhasil, kongres ICMI tanggal 9-12 November
nanti, saya akan mulai kampanye supaya Cak Nur terpilih jadi ketua ICMI
yang baru. Tak bisa disangkal, di Indonesia ini dia yang paling
alim. Kalau dia yang jadi, dia suruh saya apa saja, nggak usah kasih saya
jabatan, kerja saja, saya mau, dalam rangka mencetak kader-kader baru yang
akan kita lempar di pasar politik. Terserah mereka mau ikut di partai
mana.

Apakah dia bersedia?

Saya berkesempatan ngomong sama dia Mei kemarin. Kami ditakdirkan Tuhan
dua hari dua malam bersama-sama di Taipei dalam satu undangan yang
sama. Karena hotelnya sama kami ke mana-mana selalu bersama.

Sepanjang itulah saya jejalkan dia, You harus siap. Dia menolak karena
katanya akan ada orang yang tidak suka. Saya bilang, orang yang nggak suka
itu urusan saya, yang penting kan kita mencari ridha Allah. Apa you tega,
nanti ummat ini jadi hancur. Tidak ada pemimpin seperti you. Yang pandai
banyak, tapi yang ikhlas itu you contohnya.

Akhirnya karena saya keluarkan ayat-ayat dan hadits nggak berkutik
dia. You jadi ketua ICMI. Konsentrasi mencetak kader selama empat tahun
ini. Tahun 2004 angkat saya jadi manajer kampanye. Saya akan kampanye
supaya you jadi presiden. (Bang Imad tersenyum)

Katanya, Ah Bang Imad ini, ada-ada saja.

Sudah, jangan bantah, ini demi rakyat, saya bisa baca hati rakyat, Saya
bilang begitu dia diam saja.

Tapi kan sudah ada pernyataan dari sejumlah pengurus ICMI, bahwa Habibie
masih pantas memimpin?

Iya, tapi dianya nggak mau. Pulang ke sini saja masih belum mau. Dia masih
di Jerman. Dia itu orang cerdas dan ikhlas. Jarang ada kecerdasan otak dan
keikhlasan hati bisa bertemu di satu pribadi.

Waktu pemilihan Wakil Presiden tahun 1997, yang meyakinkan supaya dia mau
dicalonkan Soeharto itu kebetulan saya. Sejak tahun 1996 saya sudah mulai
meyakinkan dia. Lebih khusus lagi ketika sama-sama dari Jeddah, sepuluh
jam dia berdiskusi sama saya.

Wajib hukumnya, berdosa kalau you tolak, rakyat sudah menghendaki, kata
saya.

Saya sudah sangat dekat dengan dia waktu itu.

Kemudian waktu saya dibawanya ke Brunei, pulang pergi lima jam saya charge
lagi dia. Terus dia bilang, Bagaimana kata Tuhan lah nanti. Saya bilang
lagi, Kalau rakyat menghendaki, Tuhan menghendaki.

Dipenjara

Bagaimana awalnya hingga Anda bisa masuk penjara?

Saya melakukan aksi pengkaderan dengan menggelar training-training dakwah
di Salman. Saya pulang dari Malaysia kan akhir 1973. Awal 74-nya saya
mulai mengadakan LMD (Latihan Mujahid Dakwah). Semua fasilitas Salman saya
manfaatkan betul-betul. Hampir tiap bulan selalu ada training.

Bang Imad pernah dipinjam dari ITB oleh pemerintah Malaysia pada 1971-1973
untuk membangun pendidikan tinggi di sana, karena ketika itu Perguruan
Tinggi di Malaysia hanya setingkat D3. Kerja sama itu terjadi secara
kebetulan, yakni ketika Dirjen Perguruan Tinggi Malaysia ketika itu, Datuk
Hamzah terkesan dengan khutbah Jumat yang disampaikan Bang Imad di Salman.

Padahal tidak ada gerakan politiknya, tapi mengapa Anda dianggap berbahaya
hingga akhirnya ditangkap dan dipenjara?

Ini kan karena Soedomo dan Benny yang tidak suka Islam.

Sepulangnya dari Amerika tahun 1966, Bang Imad diangkat jadi Ketua Lembaga
Dakwah Mahasiswa Islam di PB HMI. Di situlah ia menjadi sangat dekat
dengan Ketuanya Nurcholish Madjid, dan banyak berkeliling Indonesia untuk
memberi training dakwah.

Setelah selesai dari HMI tahun 1969, ia diangkat menjadi imam di masjid
Salman ITB. Waktu itu Salman sudah mulai berbentuk. Sejak itulah Bang Imad
mempergunakan masjid itu sebagai basis pengkaderan. Cuma bedanya, kalau di
HMI namanya LKD, Latihan Kader Dakwah, di Salman namanya LMD, Latihan
Mujahid Dakwah.

Oleh rejim militer waktu itu, rupanya kegiatan Bang `Imad dianggap
mengancam kekuasaan. Maka ia dipenjara tanpa proses pengadilan dari Mei
1978 sampai Juli 1979 di LP Nirbaya. Ia pun sampai harus dipecat dari
ITB. Penahanannya jadi berita sampul di majalah IMPACT International
terbitan London, waktu itu.

Baik pemenjaraan maupun pemecatannya tak pernah punya alasan yang jelas
hingga hari ini. Jaksa pun menurut Bang Imad sampai bingung membuat
dakwaan. Tapi menurutnya bisa jadi karena ceramah-ceramahnya yang sangat
keras terhadap Soeharto serta yang membangkitkan semangat anti-dominasi
ekonomi Cina dan Kristenisasi. Saya memang sempat menyebut Soeharto
Fir'aun, katanya. Yang unik, julukan itu disematkan kepada Soeharto karena
ia berhasil menyusup ke makam yang disiapkan Soeharto untuk diri dan
keluarganya di Imogiri. Areal pemakaman berharga ratusan juta itu, dengan
tiang berlapis emas, difoto oleh Bang Imad, dan tersebar di majalah
ITB. Yang bikin makam sebelum mati kan Fir'aun, tuturnya. Ia akhirnya
dibebaskan, setelah rektor ITB waktu itu Prof Doddy Tisna Amidjaja memberi
jaminan.

Bagaimana reaksi sesama aktivis dan tokoh-tokoh Islam waktu itu?

Nggak ada itu. Semua pada ketakutan. Hanya Pak Natsir yang mengirim surat
ke luar negeri sehingga banyak dukungan bagi saya dari luar, Saudi,
Hongkong, Inggris, Amerika, Australia. Media-media muslim di sana ikut
merespon penangkapan saya.

Bagaimana perasaan Anda saat dipenjara?

Mulanya saya sempat kesal juga, tapi namanya juga perjuangan.

Apa saja kegiatan Anda selama di penjara?

Saya menulis buku Kuliah Tauhid. Saya banyak menghafal ayat-ayat
Quran. Setiap hari saya baca Quran satu juz berikut tafsirnya. Saya juga
bergaul dengan napol seperti Subandrio. Dia malah belajar Islam dengan
saya selama setahun.

Kegiatan pengkaderan menjadi concern Bang Imad sejak dulu, karena ia yakin
hal itu lebih besar pengaruhnya ketimbang aksi jangka pendek. Keyakinan
itu, akunya, diperoleh dari nasihat mantan Wapres RI pertama, Mohammad
Hatta yang pernah memanggilnya bersama sejumlah pemuda Islam.

Saya fanatik pada pesan almarhum Pak Hatta, bahwa perjuangan yang
seharusnya adalah dengan pendidikan. Pesan itu disampaikan langsung ketika
saya baru lulus ITB, kata anggota Pengurus Pusat Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia (DDII) ini. Sekeluar dari penjara tidak ada universitas negeri
yang berani mengundang Bang Imad. Unibraw-lah yang pertama kali
mengundang. UI pun pernah mengundang tiba-tiba dibatalkan oleh almarhum
Prof Daud Ali. Ceramah di Unibraw itulah yang kemudian menjadi titik awal
perjuangan berikutnya dengan mendirikan ICMI.

Dinasihati Bung Hatta

Bagaimana isi pesan Bung Hatta itu?

Beliau bilang, `'Jangan dibayangkan kita ini seperti Amerika dan Eropa
Barat. Mereka itu kan sudah ratusan tahun merdeka. Kita kan baru tujuh
belas tahun. Rakyat kita masih banyak yang buta huruf, terutama orang
Islamnya, karena dibikin bodoh oleh Belanda. Rakyat ini belum tahu apa
kewajiban dan haknya.

Kata Bung Hatta, selama rakyat belum tahu hak dan kewajibannya kita tidak
bisa berdemokrasi. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah
bagaimana mendidiknya supaya mengerti hak dan tanggung jawabnya.

Saya dengar kalian mau bikin masjid di ITB. Saya gembira, itulah yang saya
mau, karena kita membutuhkan pemimpin yang jujur, bertaqwa dan ikhlas.''
Pesan Bung Hatta itu saya pegang betul.

Bagaimana Anda bisa bertemu Pak Hatta?

Dia yang minta. Tahun 1962, ketika saya baru jadi dosen, suatu hari saya
ditelepon oleh Pak Kasoem, pemilik pabrik kaca mata yang sekarang
diteruskan anaknya, Lily Kasoem. Saya diminta mengumpulkan sejumlah pemuda
Islam. Katanya, Pak Hatta, yang waktu itu baru berhenti dari jabatannya
Wakil Presiden, mau ketemu.

Datanglah kami waktu itu bertujuh, termasuk Hussein Umar dari PII,
dijemput pakai minibis ke Ujung Berung, tempat peristirahatan Pak
Hatta. Saya duduk berdekatan dengan beliau. Tiba-tiba Pak Kasoem menunjuk
saya jadi juru bicara. Langsung saya diberi kesempatan pertama bicara.

Orang Medan kan nggak kenal basa-basi. Saya ngomong langsung, `'Kami
pemuda Islam sangat kecewa kepada Bapak.'' `'Kenapa,'' kata Pak
Hatta. `'Kami anggap Bapak tidak bertanggung jawab karena Bapak
meninggalkan kursi wapres. Padahal semua tahu, kalau Soekarno itu tidak
mau mendengar siapapun kecuali Bapak. Sekarang setelah Bapak tinggalkan,
Soekarno merajalela. Negara jadi begini, begitu kata saya.

Saya pikir dia marah, nggak tahunya dia malah senyum-senyum. `'Saya bangga
kalian ngerti juga politik, tandanya kalian peduli dengan nasib bangsa,''
katanya. Baru setelah itu beliau menyampaikan pesan tadi.

Apa jawaban Bung Hatta pada kekecewaan itu?

Kata Bung Hatta, `'Nggak bisa cocok saya dengan Soekarno. Biar saya beri
dia kesempatan, mau diapakan negara ini.'' Kemudian saya bantah
lagi,''Tapi kan sekarang Soekarno jadi diktator.''

Dia bilang lagi, `'Itu karena rakyatnya masih bodoh. Dia akan berubah
kalau rakyat bisa kalian didik. Jadi tugas kalian sekarang adalah
bagaimana mendidik rakyat. Satukan ummat ini dengan kecerdasan yang
memadai. Jadi jangan ke politik dulu sekarang ini, tapi melatih dan
mendidik dulu.'' Ucapan Pak Hatta ini merasuk ke dalam otak dan hati
saya. Itu yang saya pegang.

Puluhan tahun Bang Imad melakukan kaderisasi formal dan informal di
kalangan pemuda, khususnya di Masjid Salman ITB. Kaderisasi itu banyak
diminati para mahasiswa hingga mempengaruhi perkembangan dakwah di
berbagai kampus lainnya di Indonesia saat itu. Sebabnya adalah, visi
dakwah Bang Imad banyak difokuskan pada pembentukan Tauhid sehingga banyak
melahirkan kader-kader militan.

Kuliah Tauhid

Visi pengkaderan yang Anda lakukan sangat kental fokusnya pada tauhid. Apa
latar belakangnya?

Rasulullah 23 tahun berdakwah, 13 tahunnya konsentrasi pada tauhid. Ini
pegangan saya. Makanya saya yakin, orang yang belum beres tauhidnya masuk
ke politik, dia akan goyang.

Selain itu ayah kan tamatan Al-Azhar. Sejak saya kecil, dia selalu
menekankan masalah tauhid kepada saya. Sementara, kalau soal fiqih akan
dijelaskan kalau ditanya saja. Menurut dia, tauhid itu yang bisa membentuk
pribadi. Saya pun yakin dengan doktrin ini.

Karena visi dakwah tersebut, oleh Mahathir Bang Imad pernah dikontrak
sejak 1987-1994 untuk membangun etos kerja para pejabat Malaysia dengan
memberikan pembekalan tauhid. Dalam pandangannya, bagaimana seseorang
bertauhid bisa dilihat dari urusan terbesar, seperti mengatur negara,
sampai yang kecil-kecil seperti soal rokok.

Anda mengharamkan rokok. Kenapa?

Coba, ilah itu apa artinya? Ada berapa kali perkataan ilah dalam
al-Quran? Saya sudah hitung, semuanya ada 147 kali, baik yang mufrad
maupun yang jamak. Dan artinya macam-macam, dari yang kongkrit sampai yang
abstrak.

Contoh yang abstrak adalah orang yang meng-ilah-kan hawa
nafsunya. Afaraayta manittakhadza ilaahahu hawaahu. Hawa terhadap rokok
juga bisa jadi ilah. Sesuatu yang mengikat kita itulah ilah. Orang yang
mengerti Laa ilaaha illallah tidak akan mau dipengaruhi dan diikat oleh
siapapun dan apapun, termasuk oleh rokok.

Meski anti rokok, interaksi Bang Imad dengan kawan-kawannya yang perokok
tetap baik. Mereka sangat menghargai prinsip Bang Imad itu. Sebagai contoh
adalah AM Saefuddin, sahabat dekatnya di Dewan Dakwah. Kabarnya, bekas
menteri yang perokok berat itu segan merokok di depan Bang Imad.

Selain soal rokok, pemahaman tentang Tauhid membuat Anda menjadi kritis
terhadap penguasa ya?

Dulu Soeharto kan memper-ilah dirinya, sama seperti Fir'aun. Itu sudah
syirik.

Kabarnya sesudah di penjara Anda mengaku belajar dan mulai mengubah
pendekatan terhadap Soeharto?

Saya menyadari akhirnya, bahwa yang melawan Namruj kan Ibrahim. Ibrahim
itu anak siapa? Dia anak Azar, tangan kanannya Namruj. Jadi orang Istana
juga yang menjatuhkannya. Begitu juga dengan Fir'aun yang dijatuhkan
Musa. Musa kan sejak bayi dibesarkan di Istana Fir'aun. Orang dalam
juga. Kemudian saya mencoba mencari figur di rejim Orba yang bisa membawa
perubahan. Muncullah Habibie melalui ICMI yang saya dirikan bersama
teman-teman itu.

Tak Berpolitik

Selama ini Anda paling konsisten untuk tidak bergabung di partai
politik. Mengapa?

Saya menganggap politik praktis itu tidak mungkin dijalankan oleh orang
yang tauhidnya belum beres, karena yang akan mereka cari kan kedudukan,
bukan kebenaran.

Dulu waktu Masyumi pecah, NU keluar tahun 48, waktu itu saya mau naik
kelas III (SMU), saya bersumpah, Demi Allah saya tidak akan bergabung
dengan satu partai pun, sebelum partai Islam bersatu. Saya hanya memegang
ini saja. Padahal Masyumi adalah satu-satunya partai Islam waktu itu.

Dalam berorganisasi pun saya sempat kecewa. Ketika SMP dan SMA kan saya di
PII. Di ITB saya di HMI. Waktu itu saya gembira sekali karena organisasi
mahasiswa Islam cuma satu. Sampai ketika tahun 60-an, saya lupa persisnya,
Mahbub Junaedi dari NU, keluar dari HMI dan mendirikan PMII (Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia).

Padahal waktu itu dia wakil ketua di PB HMI. Saya kecewa sekali, tapi
bagaimana lagi. Nah saya baru berorganisasi lagi di ICMI. Di ICMI saya
berbahagia, karena ada semua, tokoh NU masuk, Muhammadiyah dan lain-lain.

Bang Imad juga pernah masuk Hizbullah, laskar rakyat bentukan
Masyumi. Karenanya ia pernah dilatih jadi tentara sampai mendapat pangkat
sersan satu. Ia sempat juga bergerilya melawan Belanda, Tapi yang berhasil
ketika mencuri senjata Jepang, kata pria berkaca mata ini.

Menjelang Pemilu 1992, Pak Natsir, pernah berfatwa untuk mendukung
PPP. Mengapa Anda tidak menganggap itu sebagai instruksi?

Waktu itu PPP tidak jelas, karena masih mengekor kepada
Soeharto. Sementara saya orangnya tidak bisa begitu. Itu watak dan
keyakinan saya, terserah orang suka atau tidak.

Saya berpegang pada hadist Nabi, `'Kami tidak akan memberikan jabatan
kepada orang yang menginginkan jabatan itu.'' Ada juga hadits Qudsi yang
mengatakan, `'Kalau engkau menerima jabatan karena dipaksa maka Aku akan
mendampingi engkau. Tapi kalau engkau menerima jabatan karena engkau
menginginkannya, maka aku akan biarkan engkau sendirian dengan jabatan
itu.''

Jadi saya takut sekali. Kalau dipaksakan, oke saya terima. Kalau misalnya
Pemilu nanti rakyat memilih saya langsung jadi presiden, mengapa
tidak. Tapi seperti saya bilang tadi sekarang ini saya sedang giat
mempromosikan Cak Nur jadi presiden, walaupun tidak lewat lapangan
politik.

Mengapa Cak Nur?

Dia orang ikhlas dan pengetahuannya dalam. Saya tidak melihat orang yang
lebih baik dari dia.

Usia Anda sekarang 69. Tahun 2004 nanti apakah Anda masih sanggup menjadi
manajer kampanye Cak Nur?

Kalau sehat, Insya Allah. Kalau untuk dia saya akan mendukung terus.

Bang Imad pernah mengalami sakit parah sejak Juli 1997 sampai Oktober
1998. Saat itu jantungnya harus dioperasi. Karenanya, Saya hanya bisa
menyaksikan kejatuhan Soeharto melalui TV saja.

Soeharto dan Anwar Ibrahim

Tentang pengadilan Soeharto, sebagai orang yang pernah dianggap musuhnya,
bagaimana sikap Anda?

Anaknya saja yang dibicarakan. Kasih hukuman yang berat. Yang penting
sebetulnya kembalikan uang milik rakyat itu. Kan tidak sedikit itu, 30
miliar dolar (menurut majalah Forbes 45 miliar dolar). Kembali separohnya
saja sudah untung betul. Anggaran belanja kita kan tidak sampai
segitu. Kalau dia mau mengembalikan itu, sudahlah maafkan saja.

Tapi, maaf juga kan harus lewat proses pengadilan?

Diadili juga tidak bisa. Mau apa lagi. Dokter bilang dia sudah permanen
sakit.

Ngomong-ngomong, sebagai orang yang dekat dengan Anwar, bagaimana kondisi
terakhirnya?

Berbagai cara sudah kita lakukan supaya dia bebas. Ada yang mengajak cara
spiritual dengan doa bersama juga saya tempuh. Karena ada hadits
Rasulullah Saw, kalau 40 orang berdoa dengan permintaan yang sama, insya
Allah diijabah.

Ada seorang kiai yang mengerahkan 40 santrinya untuk berdoa bagi kebebasan
Anwar. Tiga hari yang lalu saya ditelpon, insya Allah sebelum puasa bebas
dia. Itu kekuatan doa.

Semangat Jihad

Latar belakang Anda adalah ilmu elektronika. Dari mana Anda belajar agama?

Sejak kecil setiap habis subuh ayah mengajarkan Quran dan tafsirnya. Dari
surat al-Fatihah sampai tiga puluh juz. Itu sedemikian kuat tertanam,
tidak lupa sampai sekarang, Alhamdulillah. Itulah bekal saya berdakwah dan
berjihad.

H Abdul Rahim Abdullah, ayah kandung Bang Imad adalah seorang ulama
tamatan Al-Azhar yang pernah diangkat dan diasuh oleh mufti kesultanan
Langkat. Ibunya, Syaifatul Akmal, adalah cucu Sekretaris Sultan Langkat
yang pernah menjadi murid ayahnya sebelum dikawini. Darah keulamaan itulah
yang menurun kepada Bang Imad, anak kelima dari sembilan bersaudara.

Apa yang membuat Anda sangat bersemangat dalam dakwah dan jihad?

Dulu kisah perang Uhud sering diceritakan ayah saya. Dalam perang itu ada
remaja yang turut berjihad di usia belia dan berhasil meraih syahid. Bagi
saya cerita itu sangat mendalam pengaruhnya. Jadi saya ingin seperti itu
waktu itu. Apalagi kondisi waktu saya kecil, memang memungkinkan saya
punya semangat itu.

Sesudah Proklamasi, Belanda merebut kampung kami di Tanjungpura. Ayah saya
sebagai ketua Masyumi jadi incaran Belanda. Sehingga kami semua lari masuk
hutan, dekat pinggir laut. Selama seminggu kami bersembunyi hanya makan
nangka muda, daun pakis dan buah nipah. Mana sedang bulan puasa. Sejak itu
semangat juang saya terbentuk.

Sampai-sampai karena ingin ikut berjuang, di Hizbullah saya berbohong
tentang umur saya ketika mendaftar. Waktu ditanya saya bilang, `'tujuh
belas''. Padahal umur saya baru lima belas. Saya pikir, kan ketua
Masyuminya ayah saya. Akhirnya saya diterima.

Tapi ketika dia tahu saya masuk Hizbullah dengan berbohong, dia tidak
marah. Justru dia malah tersenyum dan membiarkan saya ikut. Padahal dia
orangnya keras sekali. Itu pertama kali seumur hidup, saya berbohong tapi
tidak dimarahi.

Selain ayah, siapa guru yang waktu itu berpengaruh juga?

Ada yang berkesan saat itu. Sepulang gerilya saya ditanya oleh guru
saya. Abdullah namanya. `'Mau apa kamu ikut perang''. `'Mau merdeka,''
kata saya. `'Kalau sudah merdeka nanti, yang begini tidak perlu lagi. Yang
diperlukan nanti adalah insinyur yang bisa membangun negara,'' katanya.

Sejak itu saya balik lagi untuk sekolah. Guru yang mengajar tinggal dua
orang, salah satunya Pak Abdullah tadi. Yang lain keterusan jadi
tentara. Makanya saya sempat diminta mengajar kelas di bawah saya. Itu
pengalaman pertama saya mengajar.

Sejak kecil bakat kecerdasan Bang Imad memang sangat menonjol, terutama di
bidang eksakta. Ketika pertama kali datang ke Jakarta, setelah lulus dari
SMA Negeri Langkat, tahun 1953, ia langsung diberi beasiswa oleh
Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk belajar di ITB
karena angka di rapornya rata-rata delapan dan sembilan. Pria yang lahir
21 April 1931 itu lulus ITB tahun 1961 dan pada Januari tahun berikutnya
oleh profesornya, Tubagus Sulaiman ia langsung diminta mengajar di
ITB. Padahal ia baru diwisuda bulan April.

Yang unik, di almamaternya itu, ia justru diminta mengajar kuliah agama
Islam bukan Teknik Elektro, jurusan yang diambilnya ketika kuliah. Itu
karena latar belakangnya yang HMI dianggap layak. Apalagi mata kuliah
(MK) yang dipelopori oleh dekannya itu ditetapkan menjadi MK wajib seluruh
perguruan tinggi di Indonesia oleh Menteri PPK waktu itu, Prof. Thayib
Hadiwidjaja. Karena keenceran otaknya juga, takdir Allah di tahun 1963,
Bang Imad mendapat beasiswa dari pemerintah untuk meneruskan belajar di
bidang Elektro Arus Kuat di IOWA State University.

Begitu pula sekeluar dari penjara, tahun 1980, mendapat beasiswa dari
pemerintah Arab Saudi untuk mengambil gelar doktor di universitas yang
sama. Sayangnya, ketika selesai S-3, tahun 1984 ia dilarang pulang oleh
Pak Natsir karena meledaknya Peristiwa Priok.

Keluarga

Anda menikah lagi diusia senja. Apa motivasinya?

Sebetulnya, ceritanya tidak sengaja. Dimulai ketika saya sedang membantu
seorang anak gadis yang baru lulus SMA dan ingin mencari beasiswa ke
Malaysia.

Waktu itu dia sempat mengadukan keadaannya setelah ditinggal ayahnya
sambil menangis. Saya pun terharu, karena teringat mendiang ayah dan ibu
saya yang yatim ketika kecil.

Apalagi saya berpikir, kalau saya mengurus orang yang bukan muhrim saya,
apa kata orang nanti. Jadi untuk menjaga fitnah saya memutuskan untuk
menikahi ibunya. Jadi ini tidak semata-mata pertimbangan biologis. Usia
saya waktu itu kan sudah 65 tahun.

Bang Imad juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan itu. Karena
itu, sebelumnya ia minta pertimbangan dari sahabatnya, Prof Ali Yafie dan
Dr Sugiat.

Baru kemudian keputusan itu direalisasikan pada 4 Agustus 1996, ia
menikahi Leila Cutsiah, janda beranak empat yang kini sudah memberinya
seorang putra, Muhammad Umar Imaduddin (3,5).

Saya ingin dia jadi Umar abad 21, tandas ayah yang lebih tampak seperti
kakek dari anak kesayangannya itu. Umar, yang ketika ditemui Sahid tampak
lincah dan cerdas itu, bagi Bang Imad memang melengkapi kebahagiaan
bersama tiga anaknya yang didapat dari istri pertama, Siti Amanah.

Dari istri yang dinikahinya tahun 1967 itu ia dikaruniai Nur Halisah MBA,
Ir. Sakinah, dan Rahimah MA yang tinggal di Cijantung. Di hari tuanya
kini, Bang Imad selain aktif di DDII, ia juga masih memimpin Yaasin
(Yayasan Pembina Sari Insan), sebuah lembaga pengembangan dan manajemen
sumberdaya manusia di Jakarta.

Mudah-mudahan di hari tuanya yang lebih senggang, Bang `Imad sempat
merenungi kekurangan-kekurangannya di masa lalu, dan menghasilkan kader
dakwah lebih banyak lagi. Amien.

[Deka Kurniawan, wpr]