09 October 2017

HA IPB, Pemilihan Rektor dan Politik Praktis

Source: http://korpusipb.com

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan Jakarta - Singapore dalam kursi sempit Low Cost Carier yang saya pesan via penyedia layanan tiket online kebanggaan anak negeri. Era cepat, akurat saat ini telah menjadi kebutuhan di mana pun. Siapa yang tidak efisien dan lemah dalam era kompetitif seperti sekarang, pasti lewat dilahap derasnya perubahan teknologi.

Seperti biasanya, waktu perjalanan saya gunakan untuk hal-hal produktif. Membuat presentasi, menulis hal-hal besar dari fikiran-fikiran besar pula. Kata cerdik pandai, fikiran besar akan menghasilkan karya-karya besar pula. Mata saya mengamati setiap sudut kota Singapura setiba saya di sini, sebuah kota yang tidak pernah saya singgahi sebelumnya. Kota yang sibuk, tidak sesibuk Bangkok, Kuala Lumpur dan kota-kota besar di Indonesia.

Rupanya fikiran saya agak terganggu dengan desas-desus gak nyaman dari organisasi tempat saya bercengkrama dan berhimpun, Himpunan Alumni IPB, sebuah organisasi yg sebenarnya lebih nyaman disebut paguyuban, karena rasa persaudaraan yang sangat tinggi di sini. Di HA IPB, anda hanya perlu pernah kuliah tak perlu lulus untuk menyandang gelar alumni. Pelbagai hal-hal positif berikut dinamikanya saya dapatkan di sini dalam mencapai titik-titik usia matang sampai saat ini.

Ialah soal segelintir pihak yang "mempolitisir" bahwa pemilihan rektor IPB masa 2017 sekarang seakan-akan tidak sesuai dengan perundangan dan tata kelola yang baik. Agak lucu sebenarnya, karena HA IPB bukanlah bagian yang "sangat berpengaruh" dalam pemilihan Rektor. Meski, saya perhatikan khusus untuk pemira kali ini, IPB rupanya banyak melibatkan HA IPB, mungkin karena HA IPB sekarang telah menjadi himpunan yang banyak berkontribusi positif bagi IPB itu sendiri. Bukan berarti HA IPB yg dulu kurang kontribusi, tetapi memang di kepemimpinan HA IPB di bawah kendali tim Teh Nelly Oswini dkk, HA IPB menjadi "mesin" organisasi yang efektif dilihat dari banyaknya kegiatan, pengkaderan dan kontribusi pada lingkungan sekitarnya.

Lucu yang kedua adalah adanya surat kepada kementrian riset dikti yang ditanda-tangani oleh bukan ketua umum HA IPB, sebuah surat miss-leading, miss-understanding dan nir-etika menurut saya. Satu kekeliruan besar bagaimana organisasi yang isinya adalah para senior-senior hebat, tetapi mengeluarkan surat yang mustinya tidak punya kewenangan mengeluarkan surat. Setahu saya organisasi seperti Himpunan Alumni biasanya mengeluarkan surat eksternal yang ditandatangani ketua umum atau para ketua / sekjend, tetapi kali ini bukan ketum yang mengeluarkan. Agak aneh, Himpunan jadi berasa partai, karena seperti ada "pemilik" HA IPB de facto yang mencoba mengendalikan organisasi.

Lebih parah lagi, DPP HA IPB mustinya bulan-bulan ini telah rampung menyelenggarakan Musyawarah Nasional Alumni untuk pergantian kepengurusan, tetapi malah mengurusi sesuatu yang diluar tupoksinya itu. Saya prihatin mewakili para alumni muda, mustinya kejadian seperti ini tidak terjadi pada organisasi yang justru sedang berkembang baik diramaikan oleh para alumni muda berkarya, yang bertahun-tahun lalu kurang terasa vibrasi-nya.

Kepada senior yang bekarya lurus dan bekerja dengan hati, saya do'akan agar sehat senantiasa, saya yakin di antara abangda dan kakanda semua pasti merasakan keprihatinan yang mendalam akan kejadian ini. Begitu pun kepada para junior, hendaknya dinamika internal organisasi ini menjadi jalan kita untuk terus semangat berkarya dan untuk tidak ditiru jika satu saat nanti, kita menempati amanah yang cukup berat seperti itu.




Jika slogan Kepengurusan DPP HA IPB saat ini yang sangat saya kagumi  yaitu: "Salam Satu Hati" masih dirasa kontekstual, maka baiknya kita mengecek sanubari kita bersama, apakah benar kita masih punya hati? merujuk pada lirik nasheed yang sering diperdengarkan para aktivis kampus dulu

Hati kalau selalu bersih
Pandangannya akan menembus hijab
Hati jika sudah bersih
Firasatnya tepat karena Allah
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Politik praktis hendaknya dijauhkan dari lingkungan organisasi seperti Himpunan Alumni IPB dan lebih jauh lagi dalam internal lingkungan akademik seperti kampus tercinta Institut Pertanian Bogor. IPB adalah salah satu kampus yang terkena kebijakan liberal kampus sehingga harus menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara) yang harus / wajib memenuhi kebutuhan internal-nya yang merepotkan para civitas akademika di dalamnya. Janganlah kita sebagai alumni, menggunakan "kursi" atau "power" untuk menekan kebijakan internal kampus.



Salam Satu Hati, Satu IPB.



Muhammad Sirod
TIN18/F34
Ex. Sekjen Dewan Perwakilan Komisariat Fak. Teknologi Pertanian IPB  2012 - 2014

28 August 2017

CATUR SILA (Seri Pancasila, 1) - Cak Nun

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Anak-anak saya yang di SMP dan SMU mulai banyak rewel bertanya tentang Pancasila. Bisa dipastikan saya menjadi gelagapan. Di zaman saya bersekolah dulu tidak pernah memperoleh muatan penjelasan yang matang sehingga nyantol di memori otak saya. Di masa dewasa saya juga tidak punya peluang untuk mengikuti P-4.

Maka wajib saya mencari bahan-bahan dari berbagai sumber untuk menanggapi anak-anak. Saya tidak mau mereka anti-Pancasila, tapi saya juga keberatan kalau dalam kehidupan anak-anak saya Pancasila hanya jargon, lipstik, proforma pergaulan bernegara. Saya takut anak-anak saya terlanjur mengenal nilai tanpa mewujudkannya dalam kehidupan nyata.

Lebih mengerikan lagi kalau besok-besok anak saya tersangkut dalam arena persabungan kekuasaan politik. Yang karena goal urusannya adalah kalah menang, bukan benar salah atau baik buruk – maka mereka memegang Pancasila di tangannya tidak untuk keindahan nilai dan kebijaksanaan laku kehidupan. Saya akan masuk neraka kalau anak-anak saya memperlakukan Pancasila untuk kapital kekuasaan, komoditas transaksi pilih memilih, manipulasi identitas, atau mengeksploitasinya untuk menindas lawan-lawan politiknya.

Pancasila adalah jalan tol menuju gerbang sorga, karena Tuhan Yang Maha Esa sendiri yang merentangkan jalan itu sejak awal di Sila Pertama. Kalau sampai gara-gara Pancasila saya malah masuk neraka, saya akan mati nelangsa, dihabisi di neraka dengan hati diaduk duka derita, serta dengan memekik-mekik oleh rasa sakit dan penyesalan sepanjang masa.

Mudah-mudahan neraka menerapkan satuan waktu, sehingga ada batas tertentu untuk berada di sana. Dengan demikian ada harapan untuk pada akhirnya bergabung dengan bangsa Indonesia di sorga yang tak ada batas waktunya. Kholidina fiha abada. Kekal plus abadi. Menurut almarhum legenda tinju Muhammad Ali kekekalan itu setara dengan jumlah debu di padang pasir dikalikan seribu tahun. Keabadian mungkin lebih panjang: per-debu bernilai sejuta tahun. Entahlah, besok-besok kita bawa kalkulator untuk menghitung bersama.

Celakanya, sebelum saya menggali bahan-bahan, ketika pertama anak-anak menabrak saya soal Pancasila, entah karena pengaruh Setan atau Iblis atau Dajjal, yang keluar dari mulut saya adalah: “Catur Sila saja, nggak usah Panca Sila dulu…”
Mampus. Mereka mengejar. Sehingga saya terpaksa memeras pikiran dan menyibak-nyibak akal untuk menjawabnya, seperti mencari sebatang jarum di tengah tumpukan rumput kering, damèn dan alang-alang. “Jangan libatkan Tuhan dulu. Sila pertama simpan dulu”, saya menjawab terbata-bata, “untuk tahap awal cukup belajar jadi manusia saja, dengan pedoman kemanusiaan dan tata nilai kebudayaan”

Wajah anak-anak saya campuran antara kaget, sedikit paham dan banyak belum paham yang Bapaknya maksudkan. “Belajar dan berlatih jadi manusia. Menghormati kakak kemakhlukannya, yaitu alam. Kemudian menyayangi adiknya bumi langit, yaitu hewan. Lantas berlatih menghormati sesama manusia, mencintai kemanusiaan, menjaga nyawa sesama, merawat martabat, tidak menyakiti hati mereka, tidak mengambil harta mereka, tidak korupsi, tidak menganiaya, tidak menindas, tidak menang dengan harus mengalahkan lainnya. Belajar menjadi manusia, dengan cara memanusiakan sesama manusia…”

(Bersambung).

26 August 2017

Brokoli Rebus, Telor Dadar & Es Jeruk - Mambo



Bismillahirrahmaanirrahiim...


Pulang kerja, setelah beraktivitas seharian, pulang-pulang gak ada makanan, jangan ngeluh, jangan panik, siapin uang 30 ribuan beli bahan-bahan berikut ini (anggap kulkas mas bro kosong):


  1. Telor ayam negeri 1/4 Kg
  2. Bawang merah segenggam
  3. Cabe Merah beli saja 20 buah untuk stock di kulkas. 
  4. Cabe Rawit hijau, cukup 2000 perak dapat tuh segenggam
  5. Brokoli, satu bongkahan saja, tapi bolehlah beli 2 biar gak malu. 
  6. Garam secukupnya, yg penting asin, soal putih atau tidak beryodium atau tidak gak usah dibahas. 
  7. Beli beberpa butir jeruk peras, nipis juga boleh. 
  8. Pastikan ada sediaan es batu di kulkas, plus Es Mambo 2 batang, kalau bisa yg rasa buah dengan potongan pepaya, nanas di dalamnya (boleh order ke 08568881197, iklan dikit)
  9. Siapin bawang merah, kalau terpaksa beli karena mas bro gak punya persediaan cukup segenggam saja ya. 
  10. Siapin nasi-nya mas bro, boleh minta mertua atau barter sepiring dengan indomie beberapa biji dengan tetangga hehehe.. 



Udah? di Kukusan Depok, warung deket rumah, gak nyampai 30 rebu itu semua, kalau lebih ya gak akan nembus 50.000, sisanya bisa buat masak lagi dadakan kalau diperlukan.

BROKOLI REBUS
Pertama panasin kuali yg ada gagangnya, isi seperempat air dengan api besar, sampai kira-kira mendidih, kecilin api. Sambil nunggu air mendidih, kupas 7 siung bawang merah yg agak besar dengan mengiris-iris 2 di antaranya, 5 lagi biarin gelondongan aja; potong-potong  3 buah cabe merah seukuran ruas jari yg ini bijinya gak dibuang gpp, ambil 2 buah cabe merah lagi belah memanjang buang bijinya, iris tipis-tipis satukan dengan irisan bawang tadi, keduanya untuk telor dadar. Cuci cabe rawit hijau, gak usah dibuang batangnya, buang waktu. Cuci bersih Brokoli buang batang daunnya, potong-potong seukuran jempol kaki mas bro aja, kalau mau ambil batangnya, cukup 4-5 cm saja dari bunga paling bawah, jangan lupa kupas sedikit soalnya keras kalau digigit.

Saat mulai mendidih, masukkan brokoli, cabe merah, cabe rawit, bawang merah gelondongan tadi ke dalam kuali, masukkan garam kira-kira setengah sendok teh, aduk perlahan lalu tutup agar merata matangnya, api jangan lupa dikecilin, agar kita punya waktu siapin yg lain.



ES JERUK MAMBO

Belah memotong jeruk peras beberapa butir, pengalaman gue 5 butir cukup untuk 1 keluarga kecil. Peras semua ke dalam cangkir atau wadah. Panaskan air pakai heater atau dalam pemanas air, kalau punya air panas di dispenser gunakan itu saja, masukkan 5 sendok makan penuh gula pasir, ke dalam 1/2 gelas air panas yg disiapkan tadi. Siapkan es batu dalam wajan khusus. Potong 4 es mambo yg 2 batang tadi ke dalam wajan, masukkkan perasan air jeruk tadi, aduk-aduk merata, masukkan air gula panas secara sedikit-sedikit sambil diaduk agar vitamin C buah jeruk tidak rusak oleh suhunya. Tambahkan cairan air gula jika kurang manis atau air jeruk terlalu asam. Tambahkan air secukupnya untuk disajikan sesuai selera.


Pengalaman gue, begitu es jeruk mambo mau selesai, brokoli udah matang mas Bro, angkat pakai serok atau sudip berlubang, agar sayurannya terangkat semua dulu, baru tuangkan air kuahnya secukupnya, sisanya buang. Air rebusan ini masih kaya nutrisi sayur, kalau mau bisa diminum atau dijadikan air perebus mie instant. Pindahkan ke meja makan agar dingin, sambil kita siapkan telor dadar.

TELOR DADAR. 
Ambil 2 butir telur ayam, siapin mangkuk seukuran mangkuk bakso dan garpu untuk mengocok. masukkan isi telur, garam secubitan saja, irisan bawang dan irisan cabe merah. Kalau mau lebih pedas boleh tuh cabe rawit mas bro tambahkan, seeuuu hahhh..


Siapkan ketel yg agak besar, dengan minyak goreng kira-kira 5 sendok makan, api pastikan kecil saja. Sambil nunggu minyak panas, kocok telur di mangkuk tadi pakai garpu, sampai ada buih-buih putih dan warna telur homogen (dah kayak larutan kimia aja istilahnya yeee). Indikasi minyak cukup mendidih, coba ujung garpu yg dipakai tadi bawa ke atas ketel sampai tetesan telur dadar itu terlihat dimakan minyak atua tidak, jika ya, maka minyak berarti sudah panas. Tuangkan telur dengan melingkar, semakin besar lingkarannya berarti semakin kelihatan mas bro berbakat di bisnis martabak telor! hauahha..

Sudah? lipat dua atau empat si telur, potong2 pakai sudip. Tiriskan, matikan kompor. Amankan minyak goreng agar istri mas bro dan pembantu repot karena si bos masak gak rapi bekasnya.

Siapin nasi di piring, kalau dari Magic Jar, "diakeul" dulu pakai kipas angin, agar makin sip ala masakan sunda. Sayur sudah siap, nasi siap, telor dadar siap, es jeruk dengan potongan es mambo berisi irisan buah juga siap.. slurrrppp jangan lupa berdoa dan menikmati hidangan dan orang-orang tercinta.


12 August 2017

Wicaksono 36 tahun, membangun bisnis Tbk 900 M dana publik hanya dalam 10 tahun

Wicaksono 36 th, sedang mengisi acara salah satu kegiatan TDA Depok di Aula Perpustakaan Kantor Walikota Depok, Margonda

Sebelum menejelaskan tepatnya membuka pemaparan media terkait siapa beliau, Pak Wicaksono yang usianya lebih muda dari saya 3 tahun ini, mungkin perlu saya jelaskan sedikit dulu apa itu komunitas Tangan Di Atas. Komunitas ini adalah komunitas entrepreneur (saya lebih prefer menyebutnya demikian, bukan komunitas pengusaha) yang tidak membedakan seseorang bergabung apakah memiliki legal formal standing (SIUP, NPWP dll) perusahaan atau tidak. Dengan konsep begini, maka memang cukup riuh pikuk di dalam TDA, karena anak-anak muda yang punya spirit bisnis yang tinggi dan minim pengalaman bercampur dengan pengusaha yang masuk pada fase kapitalis sebenarnya. 


Saya sendiri masuk TDA hanya "sekedarnya" saja. Ikut aktif di grup B2B (business to business) yang isinya kebanyakan pengusaha yang berbisnis jualan ke korporat memberikan layanan jualan barang atau jasa. Ada yang bisnis EO, water treatment seperti saya atau layanan manajemen (IT, System, pelatihan SDM, dll). Sebagaimana komunitas bisnis, TDA digerakkan oleh pengurus yang punya "daya juang" jauh lebih tinggi dibanding member biasa seperti saya. Entah kapan bisa kontribusi untuk TDA, saat ini saya hanya menjadi member aktif saja sudah bersyukur. 

Suasana acara seminar Strategi Scale Up yang efektif agar bisnis semakin berkibar, Jum'at 11 Agustus oleh Wicaksono & TDA Depok
Tak banyak informasi yang saya punya mengenai beliau, tapi rupanya beliau sudah dikenal oleh media massa dikarenakan prestasinya yang mengesankan, karena percepatan (scale up) bisnis yang beliau lakukan. Berikut pemaparan beberapa media yang saya dapatkan. 
  • Witjaksono, lahir pada tanggal 20 September 1981 di Pati, Jawa Tengah. Menyelesaikan S1 nya di Universitas Diponegoro Semarang, lalu Hijrah ke Jakarta pada Tanggal 19 Desember 2004 untuk mengikuti test guna mendapatkan Bea Siswa untuk melanjutkan studi di Australia. Namun Witjaksono gagal berangkat ke Australia karena tidak mampu membayar biaya Deposit.
  • Tidak dikenal fund manager lokal tapi masuk list fund manager asing:
    Presiden Jokowi dan masuk radar fund manager asing tapi lolos dari tangkapan layar pantau pebisnis di dalam negeri? Figur Witjak boleh dibilang pebisnis baru dari generasi anak muda era tahun 2000-an. Sebagai pendatang baru di dunia bisnis, wajar bila keberadaannya tidaklah diketahui banyak orang, termasuk di komunitas pelaku bisnis. Apabila namanya dilacak di dunia maya, akan keluar informasi kisah Witjak sebagai pendiri PT Dua Putera Utama Makmur Tbk (DPUM) yang bergerak di bidang pengolahan hasil laut sedang sharing knowledge dan pengalaman sebagai seorang pengusaha muda
  • Awal bisnis berbentuk CV:
    Pati, Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) didirikan tanggal 09 Mei 2012, dimana sebelumnya berbentuk CV dengan nama CV Dua Putra Dewa. Kantor pusat DPUM berlokasi di Gedung Nariba Office Suites & Pavilion, Lantai 6, Jl. Mampang Prapatan Raya No. 30, Jakarta Selatan 12790 – Indonesia.
    Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Dua Putra Utama Makmur Tbk, antara lain: PT Pandawa Putra Investama (59,73%), UOB Kay Hian Pte. Ltd. (13,06%) dan DPP Inhouse 1 (6,53%).
  • Berhasil IPO menikmati layanan paket kebijakan ekonomi Jokowi:
    Bisnis.com, JAKARTA -- PT Dua Putra Utama Makmur, perusahaan perikanan tangkap terintegrasi asal Pati, Jawa Tengah, menjajaki untuk menawarkan sahamnya ke publik (initial public offering/ IPO) di pasar modal tahun depan, menyusul insentif paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah.

    Witjaksono, pendiri sekaligus komisaris utama Dua Putra, menyatakan paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah antara lain berupa insentif bagi perusahaan lokal untuk melantai di pasar modal sangat positif baik bagi dunia usaha.
  • Menteri Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menko Maritim, meresmikan pabrik Dua Putra
    Dalam peresmian yang dilakukan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan mewakili Presiden RI Joko Widodo di Pati, Rabu (10/8/2016), perusahaan perikanan yang meliputi pengolahan, perdagangan hingga  cold storage itu disebut mampu menyerap tenaga kerja hingga 4.000 pekerja atau karyawan.
    PT Dua Putra Utama Makmur Tbk masuk dalam jajaran industri perikanan "raksasa" dan terbesar di Indonesia, karena mampu memproduksi berkapasitas 100 ton setiap hari dengan kapasitas cold storage mencapai 25.000 ton. Rencananya, PT DPUM akan melakukan ekspansi dengan membangun perusahaan di Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
  • Awal bisnis hanya dagang ikan, menunggu transaksi besar, dikapitalisasi oleh Standard CharteredDengan modal tersebut, pengusaha yang juga penggagas program Akoe Indonesia ini lantas berdagang di Tempat Pelelangan Ikan di Pati, Jawa Tengah. "Dari situ kami akhirnya bisa berhubungan dengan bank, hingga kita ketemu pembeli yang cukup besar dan rutin dari Jakarta," ungkap Witjaksono.
    Perusahaan ini kian berkembang setelah dilirik oleh investor asal Thailand. "Mereka memberikan kita pinjaman cold storage buat tampung ikan yang dibeli sama mereka. Kita diberi margin cuma Rp 1000 per kilo. Tapi habis itu, kita ada transaksi gede, baru lah ada bank gede masuk. Setelah itu di-take over di bank lain, lalu Standard Chartered masuk sekitar tiga tahun yang lalu," jelasnya.
    "Ya lumayan lah, omzet kita mencapai di sekitar Rp 70 milyar. Tahun yang lalu kita tutup buku di angka kisaran Rp 300 milyar," Witjaksono, menambahkan.

  • Karena dibentuk oleh 5 orang pada awalnya, Menko Maritim sebut Wicak dan kawan-kawannya sebagai Pandawa Lima

    Dalam sambutanya Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Presiden perintahkan saya yang beraa di Bali untuk ke Pati karena dianggap sangat penting karena menyangkut kreativitas anak muda yang mengelola pabrik PT. Dua Putra Utama Makmur Tbk adalah Pandawa lima yang terdiri dari anak-anak muda yang saat ini perusahaan sudah masuk BEI (Bursa Efek Indonesia) yang tentunya prosesnya tidak mudah.

    “PT. Dua Putra Utama Makmur Tbk Memiliki sekitar 4000 orang karyawan dengan perkembangan yang sangat cepat dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja tentunya sangat mengangkat nama Kabupaten Pati di era MEA yang sedang di berlakukan oleh pemerintah Indonesia,” jelasnya.
  • November 2015, Dwi Putra melepas 40% sahamnya.
    Sebuah pabrik pengolahan ikan PT Dua Putra Utama Makmur resmi akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 1 Desember 2015. Perusahaan yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah tersebut akan melepas Rp 1,675 miliar saham. Pendiri sekaligus Komisaris Utama PT Dua Putra Utama Makmur, Witjaksono, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (8/11) menuturkan, dalam perincian penawaran umum perdana saham, pihaknya berencana melepas sebanyak-banyaknya Rp 1.675.000.000 lembar saham biasa atas nama saham baru.
    Angka tersebut merupakan 40,12 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor perseroan setelah penawaran umum perdana saham. "Sebanyak-banyaknya Rp 167.500.000 atau 10 persen dari jumlah saham yang ditawarkan dialokasikan dalam rangka 'Employee Stock Allocation'," ujarnya.
Demikian info-info yang saya dapatkan dari media online tentang Mas Wicaksono, semoga menginspirasi banyak anak-anak muda di Indonesia. 

Salam TDA 5.0 : GetUp, SpeedUp, ScaleUp






09 August 2017

Gue Cina, kenapa loe?

Beberapa waktu ke belakang ini terlalu banyak sentimen kesukuan dilatarbelakangi kebencian pada etnis Cina. Problem ini selalu saja muncul di tengah-tengah masyarakat kita. Entah karena kecemburuan ekonomi, ketidakadilan, pemahaman yang kurang atau memang masyarakat yang sakit multidimensi sehingga memunculkan ujaran kebencian yang massif di mana-mana. Sebagai seseorang yang punya darah Cina asli dari Cina daratan, saya perlu sedikit menjelaskan soal Cina dan Indonesia ini. 

Kalau ditarik ke era Orde Baru, sentimen ke suku Cina itu memang wajar adanya, dikarenakan politik keliru orba yang membiarkan ras ini berkembang bebas di ekonomi lalu memasung hak-hak sosial budaya dan politik mereka. Kepentingan orba hanya satu, agar bisa memeras kaum Cina itu menjadi pasokan bahan bakar politik. Cina dijadikan sapi perahan, sementara pribumi bisa leha-leha jadi tentara, pegawai BUMN dan PNS dengan mentalitas pengemis!

Soeharto bukan tidak faham soal bahayanya hal ini, jauh-jauh hari Sumitro Djojohadikusumo sudah mengingatkan strategi keliru ini, Pak Sumitro yang merupakan ayahadan Prabowo ini justru menganjurkan strategi sebaliknya, Cina diberi hak sama dalam sosial budaya tetapi ekonomi dibatasi sebagai keadilan agar duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum pribumi. Diharapkan dengan strategi ini akan tumbuh entrepreneur-entrepreneur tangguh dari suku pribumi dan itu akan menguntungkan bangsa ini untuk jangka panjang. 

Tapi dasar Soeharto yang sangat lemah dengan kelakuan anak-anaknya yg doyan nempel di kekuatan Bapaknya, dia membiarkan Cina-cina itu menyuap anak-anaknya untuk berbisnis dan berkolaborasi menjadi kroni-kroni yang nantinya menyerang kepentingannya sendiri. Politik "trickle down effect" yang intinya mengharapkan adanya keadilan dari konglomerasi yang dibesarkan Pak Harto tak terjadi, the greedy economy yg dibangun oleh konglomerat Cina itu menghabisi kekuatan-kekuatan Pak Harto terutama dari soft power (media, lobby asing) dibanding hard power (struktur negara, tentara). 

Sedikit sekali masyarakat dan warga netizen medsos yang faham soal ini, sehingga taunya Cina itu licik, serakah dan semua Cina itu sama bangsatnya gak ada yang baik. Bahkan umumnya mereka gak faham mana Cina sebagai sebuah nation (Republik Rakyat Cina, atau Tiongkok kalau istilah SBY) atau Cina sebagai suku bangsa / ras. Ketidakpahaman ini diperparah dengan pemahaman bahwa setiap suku bangsa itu memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Banyak Cina goblok, sama banyaknya seperti Jawa, Padang, Sunda yg goblok-goblok... 

bersambung... 

01 August 2017

Bicara soal garam

Kita memang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, tetapi tidak berarti punya pantai yang panjang itu industri garam serta merta dapat didirikan di sana semuanya. Untuk membangun industri butuh pekerja, akses transportasi dan fasilitas pendukung lainnya.

Setahu saya salinitas laut itu berbeda-beda, hanya pantai dengan salinitas air laut yg tinggi dengan cuaca terik matahari yang mendukung yg cocok dijadikan tambak-tambak garam. Jadi jangan heran kalau tambak-tambak garam itu umumnya di titik-titik tertentu di pulau jawa saja.

Garam itu ada garam industri dan garam dapur. Keduanya punya spesifikasi teknis yang berbeda. Garam untuk dapur lebih mudah diproduksi di dalam negeri karena secara umum tidak membutuhkan teknologi lanjutan untuk memproduksinya. Thus, garam-garam dari petani tambak itu sebenarnya sudah bisa langsung dipakai sebagai bumbu masak (walau belum ber-yodium).

Sementara garam industri digunakan karena proses industri benar-benar membutuhkan NaCl (Na+ & Cl-). Contoh dalam proses pelunakan air di pengolahan air bersih, garam digunakan sebagai regenerant dan mencuci balik (backwash) media filter agar tidak jenuh karena menyerap Ca+ atau Mg+ yang menaikkan hardness air.

Produksi garam di Australia

Industri hilir kita karena banyaknya "mulut" yang harus disuapi produk pangan, kapasitasnya tidak berbanding dengan kemampuan suplay di hulu-nya. Bukan hanya kasus garam saja, misalnya tempe dari kedelai atau bakso dari daging sapi, sampai sekarang negeri ini tidak mampu memasok kebutuhan bahan bakunya yg terus bertambah.

Teknologi desalinasi (penyulingan) air laut di Australia kabarnya juga menambah pasokan berlimpah mereka untuk garam industri. Karena selain dari laut, kabarnya negeri kangguru itu juga memproduksi garam dari tambang-tambang. Saya dan beberapa kawan di Indonesian Water Association insyaallah mampu kalau "hanya sekedar" menyuling air laut, tetapi jika satu proses itu juga bisa menghasilkan garam NaCl berkualitas tinggi, kami belum menguasai expertise ini.

Kalau pemerintah berniat serius untuk mengembangkan industri ini, kami siap membantu. Hanya saja sebagai kumpulan praktisi, kami tidak terbiasa berlama-lama dalam seminar dan presentasi teoritis. Jika ada langkah-langkah bisnis (baik B to B atau B to G) yang diinisiasi pemerintah yang menguntungkan kedua belah pihak saya kira kami akan menyambut dengan gembira.

Referensi:
















Muhammad Sirod
sirod@arus.co.id
Hp. 0811 995 3216

24 July 2017

Anton Apriyantono, Tiga Pilar Sejahtera dan Penggerebekan Beras Premium

Saya merasa perlu menjelaskan dan menulis artikel soal berita heboh di media sosial terkait penggerebakan PT. IBU (Indo Beras Unggul) oleh POLRI, KPPU dan KEMENTAN ini. 




Saya merasa perlu menjelaskan untuk memahami logika pemerintah terkait penggerebekan, juga ingin berbagi sedikit informasi yang saya fahami, mengingat sebagai alumni IPB saya cukup banyak berdiskusi soal pertanian dan pangan, juga sebagai sahabat dan "didikan" pak Anton Apriyantono, saya juga ingin menjelaskan kesimpangsiuran informasi yang beredar. 

Pak AA, demikian panggilan akrab kami adalah sosok kebanggaan dari kalangan aktivis Islam, aktivis Halal dan para pendaki gunung / pecinta alam. Beliau "bekas" dosen Teknologi Pangan IPB, satu jurusan yang sulit dimasuki oleh sembarang pelajar, karena rata-rata tingkat kecerdasan akademis di TPG (sekarang Ilmu Teknologi Pangan, atau ITP) tinggi sekali. Saya sendiri ambil program Teknologi Industri Pertanian yang satu fakultas dengan ITP tsb. 

Saya kenal dengan Pak AA bukan di aktivitas internal kampus, karena beliau gak pernah mendapatkan jabatan apapun di fakultas atau IPB. Beliau termasuk yang tidak populer sama sekali di kampus. Tetapi di kemasyarakatan, aktivitas beliau menjadi auditor Halal LPPOM MUI bersama beberapa dosen IPB cukup dikenal, begitu juga dalam komunitas halal-baik-enak@yahoogroups.com dulu, beliaulah motornya. Sampai-sampai saya yg dulu auditor halal di Indofood, menjadi sangat dekat dengan beliau karena kehati-hatian beliau dalam mengkonsumsi makanan. 

Beliau sangat sederhana, satu-satunya mobil yg dimiliki beliau saat itu hanyalah suzuki carry 1.0 yang digunakannya untuk beragam aktivitas. Kami pernah satu mobil dengan beliau untuk hadir dalam acara komunitas halal-baik-enak di Jakarta, berangkat dari Bogor. Tidak ada sopir yang mengantar, dan ketika beliau kelelahan beliau berhenti dulu, kaca mobil dibuka lebar-lebar lalu beliau tidur. Saat itu kami, anak2 yang di tingkat akhir IPB ini gak ada yang bisa nyetir, alhasil ya sudah beliau tidur kami diam saja di dalam mobil. Tak ada keluhan, tak ada umpatan dengan keadaan tsb, kesabaran yang luar biasa. 

SBY kemudian mengangkat Pak AA menjadi menteri pertanian dalam 5 tahun periode pertama beliau menjadi presiden 2004-2009. Saat itu prestasi gemilang Pak AA terkenal sekali, apalagi yg diblow-up oleh kalangan aktivis muslim adalah faktor kesederhanaan beliau. Beliau dari dulu gak punya televisi, punya beberapa lemari buku Olympic yang gampang reot itu yang isinya penuh dengan buku-buku pemikiran sampai buku-buku pangan. Tak heran beliau meluncurkan buku tentang pangan halal dan dijadikan rujukan industri pangan saat itu.  

Saat buka puasa bersama di rumah Pak Chairul Tanjung, Teuku Umar, kebetulan saya diundang oleh Bang Abdul Aziz (komisaris Bank Mega) untuk hadir. Saat itulah saya menyaksikan bagaimana Pak Joesof Kalla (JK) mempresentasikan bagaimana dulu beliau berhasil mengatasi kisruh pangan terutama daging sapi. Saat itu Pak SBY dan Pak Suswono hadir. Pak JK setelah memberikan pembuka, mempersilahkan pak AA untuk menyampaikan beberapa pesan. Benarlah dugaan saya, bahwa keberhasilan pertanian saat itu, termasuk swasembada beras itu karena andil supervisi Pak JK dan konsistensi pak AA. 

bersambung... (saya lanjut ngajar dulu di TAZKIA, salam dari sentul.. )

30 June 2017

MEMBANGUN SEMANGAT REVOLUSI MELALUI KESENIAN DAN KEBUDAYAAN

Pesantren Kreatif iHaqi 21 Februari 2017, Pelatihan Media Sosial untuk sebagai media dakwah (Republika online


Kang Sirod (blogger, entrepreneur, tukang di arus.co.id)
-disampaikan di WA Group Seni Sastra dan Budaya

#Activism #Revolt #Seni&Budaya

Ada 3 kata penting yang akan disampaikan dalam sharing online di jejaring media sosial whatsapp group ini: Revolusi, Kesenian dan Kebudayaan. Bukan topik yang ringan buat seorang ayah beranak 3, dengan 1 istri, tanpa prestasi apa-apa dalam kesenian dan kebudayaan.

Kalaupun ada prestasi seni, mungkin hanya juara lomba adzan di tingkat RT di sebuah kampung bernama Ngamprah Padalarang saat saya kelas 5 SD, atau jika itu satu pencapaian mungkin juara 3 puisi di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat saat usia 10 tahunan.

Tak layak juga disebut Revolusionist jika disandingkan pada pesohor sejarah yang merubah cara hidup dan nasib banyak orang karena karya-karyanya. Tetapi mungkin sebuah sistem terintegrasi pengolahan air di rumah sakit pertama di Indonesia, sebuah rumah sakit kanker & jantung milik swasta di Semanggi. Sistem ini sering dibangga-banggakan karena itulah pencapaian tertinggi bagi seorang praktisi air bersih seperti saya.  Sistem ini merupakan konsep baru yang merubah sistem air bersih di seluruh rumah sakit - rumah sakit di Indonesia.

MUSIK DIGITAL

Revolusi, Seni, Budaya, adalah tiga kata yang saya gandrungi sebagai seorang penikmat seni "rendahan". Saya bisa menikmati pop jazz seperti Joss Stone, tetapi kesulitan menikmati musik jazz sebenar-benarnya jazz.

Saya juga bisa menikmati musik indah nusantara seperti Kacapi Suling seperti ini: https://soundcloud.com/phiank/kacapi-suling-sunda-bangbara?in=muhammad-sirod-rasoma/sets/kacapi-suling

sampai alunan ritmik dari tanah batak seperti ini: https://soundcloud.com/riki-rotwoa-nababan-1/batak-instrument-indonesia-bii?in=muhammad-sirod-rasoma/sets/musik-nusantara

Sengaja saya nyalakan musik dari ranah minang seperti ini, agar mertuaku yang asli Pantai Painan dapat senang hatinya:



sungguh suatu kenikmatan menjadi awam ilmu musik, miskin budget dengan sedikit ketikkan kata kunci di Soundcloud saya menikmati alunan indah karya seni musikus jenius, tanpa harus repot-repot sebagaimana penikmat musik jaman dulu.

Sesekali boleh juga ketika menyetir, meracau mencurahan isi hati. Entah penyesalah entah motivasi, yang penting narsis tak mengapa, diniatkan untuk ibadah, walau karya itu dianggap sampah, ya pasrah saja..

misalnya:  Memahami komunikasi ala Soekarno: https://soundcloud.com/muhammad-sirod-rasoma/kemampuan-komunikasi-soekarno



Jika Soundcloud berisi cipta karya musikus yg merdeka, maka Joox merupakan gudang musik dari label-label berjaya di industri musik, bolehlah diunduh sebagai pelipur lara saat mengendara. Pilihan lirik di aplikasi lumayan lah pengganti bernyanyi di kamar mandi..

Fasilitas Lyrics Card pada Aplikasi Joox.



PUISI BLOG

Jika pilihan kata menunjukkan kasta, maka puisi adalah gubahan hati sanubari yang tak perlu dikritisi. Puisi saat ini bisa dinikmati dengan hanya mengetikkan beberapa kata kunci, ribuan sastrawan asli sampai gadungan bermunculan.

Tapi bolehlah jika seorang tukang seperti saya mengungkapkan rasa berupa untaian kata yang tak berirama karena saya bukan musikus ternama, ia hanya ungkapan keindahan dan kekaguman atau kebencian yang dipendam atau dibaca sebagai pengingat diri, seperti di sini: http://pujangga-tanggung.blogspot.co.id/2016/03/hidup.html

18 Agustus 2015 di perairan kepulauan seribu
Hidup...

Hidupku kawan, seperti seorang nelayan
pergi di keheningan malam, pulang dalam belaian terik mentari pagi..
tergopoh-gopoh ke pantai membawa sedikit ikan,
menawarkan dengan sisa tenaga di pelelangan,

hidup seperti ini kawan,
mengarungi samudera luas ciptaan sang Maha Kaya,
berjuang demi anak dan istri di rumah,
yang menanti rejeki baik dari kita.

indahnya berjuang itu kawan,
seperti nelayan yang perkasa,
siraman air garam pada tulang dan kulit legam hitam,
menjadi berkah ibadah,
menjadi bukti keikhlasan diri,

Kukusan, 21 Maret 2016



Sedikit sekali karya puisi saya itu. Pernah di kalbar dulu sewaktu SD saya menuliskan puisi dalam sebuah buku, mungkin sudah puluhan saya tulis, tapi ia lenyap dimakan rayap. Jika nanti saya bertemu Tuhan, saya ingin buku itu ia ciptakan kembali. Aamiin..


MEMBACA & MEMBUAT RESENSI BUKU

Membaca, satu kemewahan buat saya kini. Kenapa? karena waktu untuk membaca buku harus ditukar oleh kesibukan lain. Sibuk berdiskusi bertukar fikiran di media sosial. Alhamdulillah, ada penulis-penulis yang telaten menulis dan saya berteman dengan penyalintempel, puluhan whatsapp group saya ikuti, tulisan sama saya baca berulang hehehe..

Tak mengapa, masih tersisa sedikit waktu dulu, ada buku pop (lagi2 pop, karena ringan dan gak butuh kening berkerut), yang saya baca, hasil hadiah dari sebuah provider telekomunikasi. Buku itu ternyata salinan dari sebuah film Hollywood, tentang cerita seorang pencuri baik hati dari seramnya hutan sherwood: http://sirod.blogspot.co.id/2010/10/robin-longstride.html

Ulasan novel Robinhood yg merupakan adaptasi dari film Hollywwod - Russel Crowe

Saya ternyata bukan Indonesia, belum berani ngaku Pancasila juga 😀, karena ada 12,125% saya berdarah China. Bukan China di Glodok yang bicara Hokkian, atau China Medan & Batam yang fasih berbahasa Kanton, ini benar-benar China Daratan (mainland) yang kini disalahmengerti penduduk negeri.

Sila pergunakan geni.com untuk membuat silsilah atau pohon keturunan kita, siapa tahu kita benar-benar memang keturunan bangsawan, pahlawan atau orang-orang hebat untuk sekedar memberi harapan palsu di sekelebat pemikiran kita hahaha..


Jatidiri, begitu orang bilang. Adalah sejujur-jujurnya darah dan kultur yang diberikan Tuhan kepada kita. Tak perlu bangga berbangga karena semua manusia punya suku bangsa, bahasa dan budaya, tak perlu lupa karena ia bukan pilihan melainkan warisan, tak perlu mencaci, karena Tuhan mencipta berbeda untuk salingsapa, bukan dibuat jurang pemisah antara, menguak disparitas menjauhkan solidaritas.

Walau sunda campuran, yang katanya ada trah pangeran, bergelar raden dari seorang perempuan. Dialah Rd. Siti Hawa nenekku, membuat saya mencoba menggali apa kelebihan-kelebihan seorang sunda yang bangsawan. Maka dibacalah sebuah buku, karangan jepun ber-ilmu. Sila ketik kata kunci dalam mesin pencari: "kebudayaan sunda site:sirod.blogspot.com" maka inilah saduran dari buku yang saya baca:

Saduran hasil membaca buku karya Mikihiro Moriyama

Berkompromi dengan Kolonialisme demi kemajuan Budaya Sunda -
http://sirod.blogspot.co.id/2010/12/berkompromi-dengan-kolonialisme-demi.html

Beberapa alternatif media seni budaya tsb dapat diakses dengan mudah, murah meriah dan lumayan melupakan jenuh deru membosankan ibukota. Belum lagi saya bahas betapa banyak karsa dan karya warga indonesia bertemu berinteraksi sampai berbuah cinta seperti saya. Ya! saya menemukan istri dari sebuah kopi darat dari mailing list berbahas inggris.

Betapa revolusi budaya telah terjadi, siap gak siap kita berada di pusaran cepat-nya. Mari eksplorasi, sinergi dan organisasikan semuanya, demi manfaat besar bangsa ini. Bangsa yang ribuan tahun telah ada sebelum puluhan tahun berbentuk negara. Bangsa yang katanya dahulu kala terbentuk dari peradaban atlantis, menyemangati banyak orang untuk optimis.

tempa besi, kena bakar,
tempat buaya, ke penangkar,
tanpa seni jadi kasar,
tanpa budaya, jadi barbar

bersampan ke Kalimantan, malah menepi di Pelalawan
negeri batubara, dalam hutan hujan tropika.
aku bukan seniman apalagi sastrawan
hanya pengembara keindahan di bumi Nusantara


26 June 2017

TERPISAH PATI DARI AMPAS




"..I'm a dad, I'm a husband, I'm an activist, I'm a writer and I'm just a student of the world.." - Michael J. Fox

Pertemuan Tim 7 GNPF dengan Presiden Jokowi, Menkopolhukam Wiranto dan Sekretariat Kepresidenan 1 Syawal 1438 Hijriah atau 25 Juni 2017 kemarin ditanggapi beragam oleh aktivis nasionalis, aktivis Islam sampai aktivis seleb. Pro kontra wajar saja dikemukakan, karena pemerintah yang Jokowi pimpin selama ini dianggap repressif dan gagal menyejahterakan rakyat kecil.

Pasca Pilpres 2014 lalu memang dunia aktivis seakan kompak mengkritik, mengoreksi dan men-jewer rezim ini dengan beragam aksi simpatik, heroik sampai aksi-aski tak mendidik. Aktivis sejatinya memang akan terus hidup, bilamana ketidakadilan masih dirasakan banyak orang. Mereka seperti Michael J. Fox katakan, adalah orang-orang biasa, mereka bersuara karena kejujuran dalam nurani mereka masih bersuara. Bukan laksana ikat mati yang hanyut terbawa arus.

Hanya saja, ummat Islam dan kaum nasionalis konservatif musti faham bahwa tidak semua aktivis itu "merdeka" lalu "beradab", seperti ujaran kata-kata  berikut:

"..I am a technological activist. I have a political agenda. I am in favor of basic human rights: to free speech, to use any information and technology, to purchase and use recreational drugs, to enjoy and purchase so-called 'vices', to be free of intruders, and to privacy.." - Bram Cohen

Cohen menyebut dirinya aktivis sampai pada kebebasan individu, sangat sekuler liberal, persis pada kelompok yang ada di belakang Jokowi saat ini. Bibit-bibit sekuler liberal ini juga menghinggapi kelompok yang tadinya kompak jelang aksi mengagumkan dari GNPF MUI dari 411 sampai 212 tahun lalu itu. Beragam exponen bersahutan dari aktivis yang mengenal Tuhan sampai aktivis selebritis yang dipuja-puja di laman-laman social media.

Bob Marley berkata "..Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don't complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealousy. Don't bury your thoughts, put your vision to reality. Wake Up and Live!.."

Munculnya kalimat nyinyir dari aktivis medsos yang seperti merasa PALING SUCI, PALING HEBAT dan PALING KUAT itu sebenarnya adalah pertanda kehidupan. Bahwa saringan kehidupan sedang berjalan. Jika sebelumnya Bangsa ini terpisah dari mana yang berteriak salam dua jari dan salam tauhid, maka saat ini bangsa ini kembali tersaring dari yang mana teguh pada komando ulama dan mana yang terombang-ambing ikuti arus popularisme dan syahwat disebut hebat.

Lambat laun Tuhan akan tunjukkan apa itu Al-Furqan - Pembeda, mana yang benar-benar berjuang, mana yang tujuannya mencari RUANG dan UANG. Mana yang benar-benar kenal dengan Habieb Rizieq, mana yg sok kenal sok dekat dengan beliau. Aktivis seleb ini mungkin lupa, bahwa kemenangan hanya akan didapat dari kelompok yang justru mentalitasnya tidak merasa terlalu senang ketika menang, dan tidak terlalu kecewa ketika didera duka.

Maka wahai para aktivis Seleb, aktivis salon dan yang isi rumahnya dihiasi perabotan hasil hadiah dari para ponggawa negeri atau pencuri, diamlah. Kalian bukan rujukan kami lagi, kalian ini gagal. Revolusi Indonesia bukan dimulai dari cafe ke cafe, Revolusi ini akan dilanjutkan dari teriakan takbir dan dzikir dari musholla Allah di seluruh penjuru negeri.


Sirod M. Rasoma
Koordinator Forum Alumni Peduli NKRI
Co. Founder Komunitas Merah Putih

24 June 2017

Diskursus soal Khilafah, Tanggapan tulisan Prof. Fahmi Amhar : Menantang Ide Khilafah (Bag 2)

Terkait tulisan MENANTANG IDE KHILAFAH Oleh: Prof. Fahmi Amhar, berikut tanggapan saya:

Tanggapan tulisan Prof. Fahmi Amhar : Menantang Ide Khilafah 

Sebenarnya yg bikin ummat Islam gak nyaman dengan ide Khilafah HTI itu karena HTI tidak mengikuti dasar ushul fiqh soal siyasi dalam Islam. Islam mengatur "urusan keduniaan" sebagai sesuatu yg asalnya boleh (mubah), sementara yg haram itu hanya perkara ibadah. Jadi dasar hukum itu awalnya hanya ada 2. 

Perkara yg mengatur ibadah itu awalnya haram KECUALI Ada ayat yg mengatur, kalau mengada2 disebut bid'ah. Sementara kalau perkara keduniaan berlaku boleh kecuali ada dalil yg melarang, sebagaimana dikarangnya riba atas jual beli, dikarangnya berzina atas pernikahan. 

Sementara HT mengajarkan "ajaran baru" yang disebut Khomsatul Ahkam: hukum yang lima. Entah ajaran siapa mengelompokkan dasar hukum menjadi 5 bagian sehingga kemasyarakatan, hukum dan Khilafah yg sifatnya diserahkan pada kita menjadi baku dan saklek. 

Aktivis HTI kebanyakan yg saya temui umumnya senang berfikir deduktif (dari teori dulu baru ke praktek), terserang kerinduan kejayaan masa lalu (sebagaimana sebagian besar komponen bangsa yg terpuruk selalu begitu) dan gagal memahami urut-urutan keislaman mulai dari "thoharoh" sampai "Tarbiyah jihadiyah", gak melaksanakan Islam dari "ibda bin nafsik" - "quu anfusikum wa ahlikum naaroo" sampai "barangsiapa terbangun di pagi hari tidak memikirkan ummatku,  maka dia bukan ummatku", bahkan banyak di antaranya gak kuat memahami teori sistem yg dikuatkan dengan sirah nabawiyah, padahal dari terbaginya Qur'an menjadi makkiyah dan madaniyah saja mustinya menjadi tanda buat orang-orang yang berfikir. 

Jadi kelemahan HTI sebenernya lebih banyak pada oknum2 yg kurang mumpuni pada HTI itu sendiri, secara konsep sebenarnya HT atau Khilafah adalah konsep yg bagus, sempurna dan layak kita pakai. Cuma cara memakainya, tahapan melaksanakannya gak difahami oleh kebanyakan oleh aktivis HTI.  

Kembali pada perjuangan dakwah yg diusung kawan-kawan NU, Muhammadyah, Persis, Al-Irsyad dan kawan-kawan Salafy sebenarnya inti perjuangan ummat saat ini lagi-lagi memang kembali ke pendidikan: "Tarbiyah & Tasyfiyah", karena kegelapgulitaan ummat berada dari sana. 

Saya mengajak komponen HTI untuk ngaji juga kepada bagian ummat lainnya, bukan malah menghakimi dan mengundang untuk diserang seperti yg dilakukan BKIM pada parpol ormas Islam di awal saya masuk IPB dulu, atau bahkan BKIM menolak untuk berkantor di Al-Hurriyah misalnya. Ini jelas ketololan harokah, gak punya adab ukhuwah sama sekali. 

Pada pergerakan 212, saya menemukan komponen HTI yang mau dikomando dan digerakkan oleh komponen ulama lain, buat saya pergerakan ini sudah menemukan frekuensi yang sama, jalinan ukhuwah yang baik serta komunikasi konstruktif yg proven. "Pertukaran" aktivis seperti keluarnya Abangda Gatot Al-Khathath A20 membangun jejaring Forum Ummat Islam juga merupakan "infaq" yang diberikan HTI pada ummat ini. Hasilnya sungguh efektif membangun kekuatan pergerakan Islam di Indonesia,  cikal bakal "Khalifatul fii Induunisia" semakin tampak jelas. 

Apa yang dibangun oleh adinda Felix Siauw A38 dengan komunikasi yang ringan dan berbobot khas kedalaman materi sejarah Islam dan sistem Islam juga menyajikan logika-logika dan argumentasi bernas ala intelektual Islam yang sudah dibangun ormas Islam. Cara Felix Siauw bukan ala anak-anak HTI yg cenderung ogah berdiskusi dan mengajak mad'u untuk datang ke halaqoh mereka dengan dijejali oleh pemikiran-pemikiran dan argumen - argumen yg sudah disiapkan. Felix Siauw menjadi corong ide-ide orisinal Islam dengan content berkualitas hasil riset dia karena kedisiplinan menggali keindahan Islam yang semakin mudah didapat di era digital ini. 

Jadi, selamat bergabung HTI. Anda bagian dari ummat ini. Ada satu tugas kalian, bantu kami di Pilkada serempak dan Pilpres 2019. Tutup rapat mulut kalian tentang haramnya demokrasi, atau kami biarkan kalian dihabisi oleh rezim ini dan merasa kalian kuat dalam shaft kalian sendiri.

Sirod M. Rasoma
Aktivis 98, founder Jundullah Cyber Army

Diskursus soal Khilafah, Tanggapan tulisan Prof. Fahmi Amhar : Menantang Ide Khilafah (Bag 1)

Setelah ada kabar bahwa Pemerintah Jokowi membekukan ormas Hizbut Tahrir Indonesia, maka diskusi soal Khilafah dan Daulah Islamiyah menjadi topik yang menarik banyak orang. Sebagai lulusan IPB yang di dalamnya terdapat organisasi kemahasiswaan yang menjadi pemasok aktivis Islam di HTI: Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB, saya tertarik menanggapi tulisan Prof. Fahmi Amhar berikut ini: 

MENANTANG IDE KHILAFAH
Oleh: Fahmi Amhar
Tulisan Prof. Moh Mahfud MD di harian Kompas edisi 26 Mei 2017 berjudul "Menolak Ide Khilafah" telah memulai sebuah diskursus tingkat elit intelektual di negeri ini. Kalau dulu diskursus ini ibaratnya hanya terjadi di antara para “prajurit” – bahkan “prajurit cyber”, maka kini para “senapati” sudah turun gelanggang.
Saya memahami kalau Prof. Mahfud mendapatkan pernyataan yang dirasakan “tidak cukup bermutu” dari seorang aktivis ormas Islam yang “nobody”. Bayangkan, seorang guru besar, Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN); dan Ketua Mahkamah Konstitusi RI Periode 2008-2013, ditanya dengan nada marah dan merendahkan dari seseorang yang mungkin bahkan tidak hafal pembukaan UUD 1945.
Saya sendiri tidak merasa pantas untuk memberi komentar terhadap tulisan Prof. Mahfud tersebut. Namun sebagai anak bangsa, hak saya untuk berpendapat tentu saja dilindungi oleh konstitusi.
Saya bukan alumnus kampus-kampus yang dinilai Ketua Umum PB NU Said Agil Siradj tempat persemaian radikalisme. Saya S1 sampai S3 di Vienna University of Technology, Austria, sebuah negara demokratis di Eropa. Saya sepuluh tahun di sana. Sepertinya Austria negara yang sudah adil dan makmur, meski tidak mengenal Pancasila. Saya tidak belajar hukum secara khusus, melainkan hanya beberapa mata kuliah. Namun di tahun 1987 saya sudah mengenal tentang Constitutional Court, sesuatu yang saat itu belum pernah saya dengar di Indonesia. Saya juga ikut menyaksikan ketika tahun 1989-1991 negara-negara Blok Timur berubah dari komunis ke kapitalis. Dan saya juga menyaksikan bagaimana Austria melakukan referendum untuk bergabung ke Uni Eropa atau tidak.
Saya melihat, dalam sistem demokrasi, sistem di Austria berbeda dengan Jerman, Swiss atau Perancis, meski sama-sama Republik. Sistem demokrasi juga diterapkan di Inggris atau Belanda, meski mereka menganut monarki. Ini artinya, orang bisa sama-sama menerima demokrasi tanpa mempersoalkan “demokrasi yang seperti apa?”.
Pertanyaannya, mengapa untuk demokrasi kita bisa seperti itu, tetapi untuk sistem pemerintahan Islam - Khilafah - kita tidak bisa? Kenapa kita menolak ide khilafah dengan argumentasi tidak ada bentuk yang baku, khususnya cara suksesi kepemimpinan? Sebenarnya kita bisa lebih arif, setidaknya menantang diskusi bahwa ide khilafah adalah sebuah alternatif dari suatu kemungkinan kebuntuan politik.
Dalam sejarahnya, Republik Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 pernah berubah-ubah. Tak sampai tiga bulan setelahnya, yakni pada 14 November 1945, Presiden Soekarno sudah mengubah sistem presidensil menjadi parlementer. Pasca Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Indonesia berubah menjadi negara federal (RIS). Lalu tahun 1950 kembali ke NKRI dengan UUDS-1950 yang bunyi sila-sila dari Pancasila sangat berbeda. Pasca dekrit 5 Juli 1959 kembali ke UUD-1945 tetapi masih mengakui Partai Komunis Indonesia (PKI). Inti dari sejarah ini, saya bertanya-tanya: benarkah dulu para pendiri bangsa menganggap UUD1945 itu adalah final? Kalau final, kenapa disisakan sebuah pasal 37 yang memungkinkan UUD1945 diubah? Kalau benar wilayah NKRI itu final, mengapa tahun 1976 kita menerima Timor Timur berintegrasi, lalu tahun 1999 kita lepas lagi? Kalau konstitusi NKRI itu final, mengapa pasca reformasi kita amandemen berkali-kali?
Oleh karena itu, kalau kita menuduh kelompok pro-khilafah itu radikal dan telah “terindoktrinasi” atau boleh juga “tercuci-otaknya”, tidakkah jangan-jangan kita juga tercuci otaknya dengan jargon “NKRI harga mati”?
Karena tinggal di Eropa yang sangat demokratis (bahkan agak liberal), sejak akhir 1980-an, saya cukup bebas mengenal berbagai ideologi di dunia. Buku “Das Kapital” – Karl Marx misalnya, saya baca pertama kali di Austria, karena di Indonesia dilarang. Di Austria, buku-buku komunisme sama bebasnya dengan buku-buku anti komunis. Pada masyarakat mereka yang maju, komunisme tidak dianggap ancaman. Partai Komunis Austria ada, tetapi tak pernah meraih kursi dalam pemilu.
Waktu itu, belum ada internet, namun bacaan-bacaan yang bebas itu bahkan mampu menembus tirai besi di negara-negara komunis, yang di sana cuma ada satu koran, satu radio, satu televisi dan satu partai, yang semuanya komunis. Dunia akhirnya menyaksikan keruntuhan adidaya komunies Uni Soviet tahun 1991.
Karena itu, tak heran di Austria juga saya mengenal berbagai gerakan Islam, termasuk di antaranya yang memperjuangkan suatu negara Islam global, khilafah. Untuk orang-orang di negara adil makmur seperti Austria, dakwah memerlukan rasionalitas yang sangat kuat. Mereka tidak bisa menjual perlawanan kepada otoritas publik yang sudah melayani rakyat dengan baik. Mereka juga tak bisa menjual dogma pada masyarakat yang sudah berpikir sangat rasional. Bahkan soal iman pun tidak bisa mengandalkan warisan seperti ditulis oleh ananda kita Afi Nihaya. Faktanya, gender, suku, ras, kelas sosial bisa diwariskan, tetapi jutaan warga Eropa mencari dan menemukan sendiri agamanya dengan bekal akal sehat karunia Tuhan pada mereka.
Oleh karena itu, ide khilafah perlu untuk ditantang dengan lebih arif secara akademis. Sama kalau dalam pelajaran sekolah kita memberi tahu anak-anak kita tentang sistem kerajaan vs sistem republik, demokrasi vs diktatur, kenapa kita keberatan, bahkan ketakutan untuk memperkenalkan sistem khilafah, yang diklaim bukan kerajaan, bukan republik, bukan demokrasi dan juga bukan diktatur? Lantas mahluk apakah ini?
Sependek yang saya tahu, inti dari sistem khilafah itu bukan model suksesi seperti yang Prof. Mahfud katakan sebagai “tidak baku” dan “ijtihadiyah”. Adanya berbagai varian suksesi – yang semua tidak diingkari oleh para shahabat Nabi radhiyallah anhuma – justru menunjukkan keunikan sistem ini. Orang yang akan dibai’at sebagai khalifah boleh dipilih dengan permusyawaratan perwakilan (seperti kasus Abu Bakar), dinominasikan pejabat sebelumnya (seperti kasus Umar, yang kemudian disalahgunakan oleh berbagai dinasti kekhilafahan), dipilih langsung (seperti kasus Utsman), atau otomatis menjabat (seperti kasus Ali, karena dia saat itu seperti wakil khalifah). Semua ini bisa dilakukan, dan bisa mencegah terjadinya krisis konstitusi, yaitu suatu kebuntuan ketika presiden sebelumnya sudah habis masa jabatannya, dan presiden yang baru belum definitif.
Itu baru sebuah contoh. Memang yang saya lihat selama ini ada jurang komunikasi antara pakar tata negara seperti Prof. Mahfud dengan gerakan pro khilafah seperti HTI. Bahkan terma “demokrasi” saja didefinisikan dan dimengerti secara berbeda Bagi HTI, sejauh yang saya tahu, demokrasi itu bukan sekedar prosedural seperti kebebasan bersuara, berserikat, adanya partai-partai politik, pemilu dan parlemen, tetapi demokrasi adalah ketika suara rakyat bisa di atas suara Tuhan, ketika hawa nafsu rakyat bisa mengalahkan dalil halal-haram kitab suci. Inilah demokrasi di Eropa yang bisa melegalkan nikah sesama jenis, atau melarang jilbab di ruang publik.
Pancasila dalam redaksi saat ini, tidak menyebut demokrasi, tetapi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Sila ini dimaknai berbeda pada era Orde Lama, Orde Baru atau Reformasi. Demikian juga ekonomi Pancasila, ada aneka tafsir yang bertolakbelakang antara ekonomi terpimpin ala Orde Lama, ekonomi kapitalis ala Orde Baru, dan ekonomi neoliberal ala Reformasi. Bukankah di sini sama tidak jelasnya dengan ide khilafah menurut Prof. Mahfud ? Oleh karena itu, menurut saya, khilafah sebagai ide sah-sah saja ditantang dalam meja diskusi dengan pikiran dingin dalam rangka mendapatkan solusi kehidupan berbangsa.
Prof. Dr. Fahmi Amhar
Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan bukan pendapat IABIE.

Tanggapan tulisan saya bahas di laman berikutnya.. 

14 May 2017

Kepada sobat muslimku yang keluar dari barisan

Mohon maaf buat kawan-kawan pemilih Ahok yg cerdas, dan tampak saleh dalam pandangan saya, yang saya kenal memiliki banyak kemuliaan jauh melebihi diri saya.

Sejak pengumuman pemenang pilkada DKI, sebenarnya saya banyak menahan diri. Status-status fb saya dalam 1 minggu itu kebanyakan bertemakan yg ringan-ringan. Namun kemudian setelah melihat beberapa kawan facebooker terutama banyak di antara mereka yg muslim mengeluarkan argumen sbb:

  • kalahnya Ahok menunjukkan kalahnya pemilih berakal seolah-olah kelompok yang tidak memilih Ahok adalah kelompok bodoh dan dogmatis.
  • menunjukkan "islami"-nya Ahok dengan menampilkan perilaku-perilaku positif dia, tapi abai pada kearogansian dan kepongahannya
  • ungkapan kasihan dan prihatin pada anak & istri Ahok yang harus ditinggal karena dia ditahan 2 tahun, tetapi lupa membandingkan dengan kasus penistaan agama lain yg lebih berat, apalagi ratusan keluarga tak berpunya yang digusur paksa tanpa belas kasihan, anak-anak dan keluarganya terlantar jauh lebih menderita daripada Ahok sang penguasa Jakarta.

Saya tergerak untuk menyampaikan tulisan ini. Jujur, sisi kemanusiaan saya dan sisi spiritual saya sebagai muslim merasa dikerdilkan oleh pernyataan-pernyataan tersebut, sikap partial thinking dan ketidakadilan keberpihakan itu memperparah situasi politik di mana muslim menjadi minoritas di beberapa wilayah Indonesia seperti Kalbar dan Sultra, dan ketidakadilan yg dilakukan kepolisian, kejaksaan, presiden dan tentunya "Media korporasi" yang memang menjadi bagian sakit sistemiknya negeri ini

Saya makin heran saja, di antara mereka banyak yang punya perangai yang santun jauh dari perilaku yang dibelanya, halus beropini dan mengeluarkan ujaran pendapat, beberapa di antaranya berjilbab, secara materi sangat mumpuni dan dalam kehidupan sosial saya perhatikan punya tabiat  berbagi pada sesama. Dari sisi intelektual mereka bukan sembarang warga biasa. Mereka kelas menengah, sebaik-baiknya sepanjang saya bercengkerama dengan berbagai kalangan.

Makin tebal keyakinan saya bahwa mengapa Aqidah dan Tauhid menjadi fondasi dalam Islam. Betapa tampilan permukaan,  misalnya citra rajin puasa senin kemis, citra rajin tahajjud dan amalan-amalan yg biasa dilakukan orang-orang saleh itu langsung sirna ketika Allah tampakkan sikap kawan-kawan saya itu terkait kejadian penistaan agama dan ayat kepemimpinan muslim ini. Rupanya konsep Islam bagi kawan-kawan yang rasa-rasanya jauh lebih mulia dari saya ini, sebatas ritual dan sosial saja.

Memang gak gampang jadi orang saleh, saleh sebenar-benarnya. Saya belajar dari kawan-kawan  saya tersebut untuk lebih halus, berbagi, bersopan-santun, tapi rupanya tabir-tabir kemunafikan itu dibukakan oleh Allah SWT dengan begitu jelasnya.

Tidak ada orang atau kelompok yang maha sempurna di sisi Allah selain Rasul-Nya dan para Nabi. Kita tidak bisa meng-klaim diri kita atau kelompok yg satu lebih baik, karena yg berhak menilai memang Allah (begitu kata Cak Nun), tapi jangan lupa panduan dan penilaian Allah sudah dijabarkan secara terbuka dan mendetail semuanya. Hanya kemunafikanlah yg menutupi kebenaran, jadi teringat satu ayat yang saya sangat takuti sepanjang hayat saya ini.. bergetar rasanya kalau membaca ayat ini..

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56)

Ayat tersebut bukan saja memberikan panduan kepada para penyampai risalah (dan itu wajib bagi setiap muslim sesuai kadar maqomnya masing-masing) tetapi juga penghibur hati bilamana dalam diri ini kita bersedih, betapa orang-orang yg ada dan mampir dalam sanubari kita (beberapa bahkan kita do'akan dalam sunyi sepi tanpa sepengetahuan mereka, agar menambah bobot diijabahnya do'a kita sebagai teman/sahabat tsb) yang memiliki segala kelebihan-kelebihan dan kemuliaan  dalam asumsi kita, adalah orang-orang yang diberikan hidayah dan petunjuk, ternyata belum tentu begitu di pandangan Allah. Dia-lah yang paling tahu kualitas dan akseptabilitas kesempurnaan keislaman seseorang.

Aku tujukan kepada sahabat-sahabat fb-ku yg aku anggap kalian lebih mulia, lebih ber-akhlak mulia pada manusia, tetapi mendukung si penista agama dan berbetah diri dalam barisan mereka....


Tanah Abang, 14 Mei 2017

13 May 2017

KHALIFAH ISLAM DAN KHILAFAH SILMI


Oleh: Emha Ainun Nadjib

Dunia Batasan dan Surga Kemerdekaan
Katakanlah HTI dibubarkan oleh otoritas Negara, itu tidak berarti manusianya menjadi “stateless”, aktivisnya menjadi “persona non grata.” Kalau dikaitkan dengan makar, sebaiknya jangan makar kepada rujukan konsep makar dari Tuhan (“wa makaru wa makarallah”). Setiap orang atau kelompok berhak memperjuangkan keyakinannya. Ada yang meletakkannya pada peta kalah menang, dan HTI sedang menanggung resikonya. Ada juga yang melihat keluasan hidup di mana kalah menang hanyalah sebuah strata. Dalam konteks ini mungkin justru mereka sedang menjalani ujian kenaikan derajat.

Bumi dan Dunia adalah sistem batasan, sehingga penduduknya berjuang mencari celah-celah ruang kemerdekaan. Para Prajurit Pembebasan, Hizbut-Tahrir, justru mendapat limpahan rezeki untuk semakin nikmat bekerja keras menemukan pembebasan. Organisasi hanyalah alat: pisau dapur untuk mengiris bawang, hanyalah payung untuk berlindung dari hujan, hanyalah kendaraan untuk mencapai suatu tujuan. Pisau, payung, dan kendaraan, biasa rusak atau aus, lantas dibengkelkan atau ambil yang baru di Toko Ilmu.

Karena tugas kemakhlukan manusia adalah menghimpun ilmu dan menyusun strategi, agar ia lolos kembali ke kampung halaman aslinya, yakni Kebun Surga, di mana kemerdekaan mengalir, meruang, melebar, meluas, dan manusia memegang kendali aliran itu dalam dua rentang waktu: kekekalan dan keabadian. “Tajri min tahtihal anharu kholidina fiha abada”, begitu Allah mengindikasikan pintu pengetahuan tentang Surga.

Negara adalah hasil karya kecerdasan ilmu manusia untuk menata pagar di antara penduduk Bumi. Karena di kehidupan Dunia yang ini, sistem nilainya tidak dibikin oleh Tuhan untuk memungkinkan kebebasan seseorang berposisi steril atau tidak mengganggu kebebasan orang lainnya. Tuhan hanya menyelenggarakan training sejenak di Bumi agar manusia belajar berbagi kemerdekaan. Semacam “puasa”, agar kelak sebagai penduduk Surga, mereka menikmati betapa dahsyatnya kemerdekaan yang tidak saling membatasi satu sama lain – sesudah selama di Bumi mereka menyiksa diri oleh perebutan, persaingan, pertengkaran, pembubaran, bahkan menganiaya dirinya sendiri dengan pengusiran, pembunuhan dan pemusnahan.

Tetapi Negara dengan Pemerintahannya tidak berkuasa atas semua hal pada manusia. Negara bisa menyebarkan kemungkinan baik atau buruk bagi sandang, pangan, dan papan manusia. Tetapi Negara tidak berkuasa atas hati dan pikiran warganya, kecuali mereka yang tidak menikmati otonomi rohani dan independensi pikirannya, sehingga rela menjadi buih yang diseret dan diombang-ambingkan ke manapun Negara dan Pemerintahnya mau.

Keniscayaan Khilafah
Saya tidak perlu setuju atau tidak atas ‘ideologi’ Khilafah, karena itu adalah niscaya. Saya tidak punya kemungkinan lain kecuali menjadi (dijadikan) Khalifah di Bumi oleh Pencipta Bumi, alam semesta dan saya. Menjadi Khalifah adalah posisi khusus manusia: tugasnya “patuh dengan kesadaran akal”. Semua benda patuh kepada Tuhan, tetapi tidak dengan kesadaran akal. Sungai, gunung, hutan, angin, dedaunan dan embun, juga detak jantung manusia, aliran darahnya, kesegaran dan keausan jasadnya, jadwal lahir dan matinya, semua patuh kepada kehendak Tuhan, tetapi yang dengan kesadaran akal hanya entitas sistem makhluk manusia yang dipasang di kepalanya semacam supra-chips yang bernama akal, serta cakrawala yang bernama kalbu.

Malaikat, Iblis, Setan, benda, tetumbuhan, hewan adalah makhluk kepastian, meskipun sebagian di antara mereka ada yang menjadi wadah kerjasama antara takdir Tuhan dengan inisiatif manusia. Sementara Jin dan Manusia adalah makhluk kemungkinan. Tuhan berbagi dengan mereka berdua “hak mentakdirkan” sampai batas tertentu, dengan pembekalan ilmu yang juga amat sedikit. Manusia bisa melanggar batas yang sedikit itu, Pembangunan boleh mengeruk tambang, kerakusan Development bisa merusak bumi, dengan memberangus sesama manusia yang menentangnya.

Tetapi para pelakunya tidak bisa “pensiun dini”, tidak bisa “membolos” dari kehidupan yang abadi. Dalam kuburan mereka memulai Semester berikutnya, kemudian berlangsung semesteran-semesteran berikutnya, hingga tiba di babak final Surga atau Neraka. Manusia tidak bisa melarikan diri, karena tidak ada tempat, planet, galaksi, ruang dan waktu yang selain milik Tuhan. Manusia tidak bisa mengelak dari tanggung jawabnya sampai dua kehidupan abadi (kholidina fiha abada) yang wajib dijalaninya.

Khusus yang dapat kapling surga akan dibagi di empat lapisan langit Surga, yang semua teduh berwarna dominan hijau tua. Manusia “ngunduh wohing pakarti”, memetik buah dari kelakuan yang ditanamnya. Bumi adalah bagian dari Langit. Dunia adalah bagian awal dari Akhirat. Kehidupan di Bumi hanyalah gelembung kecil di dalam gelembung besar Akhirat, yang juga terletak di Maha Gelembung Tuhan itu sendiri.

Kudeta Surga dan Khilafah Silmi
Para Prajurit Pembebasan itu sungguh-sungguh berlatih menjadi penduduk Surga. Serta menjunjung kemuliaan untuk mencita-citakan agar seluruh bangsa Indonesia pun berlatih bagaimana menghuni Surga. Memang demikianlah sejak didirikan 1953 oleh beliau Syaikh Taqiyudin An-Nabhani hingga dibawa ke Bogor dan Indonesia 1980-an oleh Syaikh Abdurahman Al-Baghdady.

Mereka orang-orang baik sebagai manusia, sangat menyayangi penduduk Bumi dan mencita-citakan semua manusia lintas-Negara agar kelak bercengkerama dengan Allah di Surga. Mereka menyusun tata nilai kebudayaan (Tsaqafah) Islam sebagai sistem besar, semacam grand design untuk seluruh wilayah di Bumi. Andaikan mereka adalah putra Nabi Nuh atau komunitas inti beliau, yang sesudah Bahtera mendarat di Turki, lantas membagi rombongan-rombongan ke berbagai wilayah di seantero Bumi – maka mereka bisa meng-Hizbut-tahrir-kan kehidupan di Bumi dengan berangkat dari Nol.

Tetapi Indonesia terlanjur Bhinneka Tunggal Ika, heterogen, plural, “syu’ub wa qabail”, berbagai-bagai faham kepercayaan, berbagai-bagai jalan ditempuh menuju Tuhan, berbagai latar belakang, etnik, jenis darah, marga, golongan, aliran dan berbagai-bagai lainnya. Kalau HTI hendak “mensurgakan” NKRI, saya tidak bisa menemukan jalan sejarahnya kecuali harus melakukan pengambil-alihan kekuasaan, revolusi total atau kudeta: membubarkan Parlemen dan Pemerintahan, mengganti Presiden dengan Khalifah, meredesain sistem pemerintahannya hingga pola pasarnya, kebudayaannya, dari BI hingga Bank Plecit.

Katakanlah yang beliau-beliau lakukan adalah “minadhdhulumati ilannur”, membawa NKRI dari kegelapan menuju cahaya, tetapi momentum dan adegan-adegan pengambil-alihan kekuasaannya, saya tidak mampu mensimulasi kemungkinan bisa dihindarkannya dari konflik-konflik besar, bahkan dengan sesama Kaum Muslimin sendiri, sampai mungkin juga pertumpahan darah tidak kecil-kecilan seperti tawuran anak-anak Sekolah Unggul.

Maka saya memberanikan diri mencari pemahaman atas perintah Allah “Udkhulu fis-silmi kaffah”. Masuklah ke dalam Silmi secara utuh dan tunai. Anehnya Allah tidak menggunakan kosa-kata Islam, melainkan Silmi. Wallahu a’lam maksud-Nya, tetapi sukar dibayangkan bahwa penggunaan kata Silmi, bukan Islam, tanpa mengandung perbedaan antara kedua kata itu.

Hizbut Tahrir tampaknya memaksudkan “Udkhulu fil-Islami Kaffah”: membangun sistem Islam besar nasional dan global. Sangat meyakini kebenaran Islam dan gagah berani menerapkannya. Sementara saya seorang penakut yang merasa ditolong oleh kosakata Silmi dari Allah. Kelak kita mempertanggungjawabkan kehidupan di hadapan Allah secara individual, tanpa bisa ditolong oleh siapapun kecuali oleh empat hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan kita, kemudian hak prerogatif Muhammad kekasih Allah untuk menawar nasib kita dalam konteks dialektika cinta.

Seorang Muslim tukang ojek, penjual jajan di perempatan jalan, petani di dusun atau sales dan Satpam, tidak bisa saya bayangkan akan ditagih oleh Allah hal-hal mengenai Negara Islam dan Khilafah. Atau Malaikat menanyainya soal ideologi global, kapitalisme mondial, sistem pasar Yahudi internasional, atau satuan-satuan besar industrialisme dan sistem perbankan Dunia. Juga untuk menjadi Muslim yang tidak masuk Neraka apakah ia harus menguasai semua makna Al-Qur`an, harus berkualitas Ulama dan bergabung dalam Khilafah Hizbut Tahrir.

Setiap hamba Allah dilindungi oleh-Nya dengan “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani manusia melebihi kadar kemampuannya). Seorang kuli pasar mungkin hanya akan ditanya beberapa hal: aqidahnya, hubungannya dengan Nabi dan Al-Qur`an, apakah ia mencuri harta orang, menghina martabat sesama manusia, atau memisahkan nyawa dari jasad manusia.

Itulah Silmi, mudah-mudahan. Seseorang mungkin hanya hafal Al-Fatihah dan beberapa ayat pendek, pengetahuannya sangat awam terhadap tata nilai Islam. Tetapi hidupnya sungguh-sungguh, kebergantungannya kepada Allah mendarah-daging. Tidak pandai dan ‘alim, tapi kejujuran perilakunya ajeg. Tidak canggih shalat dan bacaan Qur`annya, tapi santun, menyayangi manusia dan alam, tidak menyakit siapa-siapa dan tidak merusak apa-apa.

Konsep Silmi membukakan jalan agar seorang tukang jahit di pinggir jalan bisa diterima oleh Allah tanpa menjadi warga negara sebuah Negara Khilafah. Seorang Ibu penjual jamu bisa masuk surga tanpa menunggu berhasilnya perjuangan Khilafah Dunia. Kalau saya salah, mohon dilembuti dengan informasi yang lebih benar. Karena setiap huruf yang saya ketik bersifat relatif dan dinamis, sementara ilmu dan keyakinan Hizbut Tahrir sejauh saya merasakan hampir mendekati mutlak, sehingga gagah perkasa memprogram pengkhilafahan Indonesia.

Syariat Allah di Alam dan Manusia
Jangan dipikir saya setuju dan merasa jenak dengan berbagai hal tentang NKRI. Bahkan hal-hal yang mendasar sejak persiapan kemerdekaan, muatan nilai-nilai Proklamasi 1945, sampai Orla Orba Reformasi hingga Era Klayapan sekarang ini. Tapi saya tidak sedang berada di dapur dikepung oleh bahan-bahan mentah makanan serta alat-alat dapur. Saya berada di warung depannya, dengan makanan minuman yang sudah tersedia. Sudah pasti perbaikannya harus dari dapur, tetapi kalau saya memaksakan diri untuk mengambil alih dapur: kepastian mudlarat-nya terlalu besar dibanding kemungkinan manfaat-nya.

Saya pun adalah seorang Khalifah, maka wilayah kehidupan saya pastilah Khilafah. Tapi saya tidak mau meladeni kekerdilan cara berpikir tanpa kelengkapan pengetahuan dan ilmu, yang mempolarisasikan antara Pancasila dengan Islam, antara Bhinneka Tunggal Ika dengan Kekhalifahan, antara Negara dengan Agama, antara Nasionalis dengan Islamis. Apalagi mendikotomikan antara Agawa-Samawi dengan Agama-Ardli, antara Kesalehan Individu dengan Kesalehan Sosial, bahkan antara Bumi dengan Langit dan antara Dunia dengan Akhirat. Itu semua sanak famili dari terminologi lucu Santri-Agama-Priyayi.

Juga saya merasa agak repot selama ini kalau prinsip Khilafah identik-formal dengan suatu Organisasi atau golongan, sementara semua manusia adalah Khalifah. Saya jadi kikuk karena seakan-akan kalau saya tidak bergabung dengan Hizbut Tahrir berarti saya bukan Khalifah.

Pada hakikinya semua makhluk adalah representasi atau manifestasi atau tajalli Tuhan sendiri, sebab tidak ada apapun, juga tak ada kehampaan atau kekosongan yang bukan bagian dari Tuhan itu sendiri. Begitu Tuhan bilang “Kun”, “Jadi!”, maka berlangsunglah syariat-Nya: metabolisme semesta, organisme alam, sistem nilai kehidupan, hamparan galaksi, susunan tata-tata surya, benih tumbuh, pohon berbuah, gunung menyimpan api, semua kelereng-kelereng alam semesta menari-nari, menyusun koreografi yang luar biasa, beredar pada porosnya, berputar satu sama lain.

Kalau ada Negara di Bumi yang menegakkan hukum dan penataan aturan yang memprimerkan keperluan rakyatnya, itu persesuaian dan kepatuhan kepada Syariat Allah. Semua undang-undang, pelaksanaan birokrasi dan tatanan kenegaraan yang berpihak pada kemashlahatan manusia dan berkesesuaian dengan hukum alam: itulah kepatuhan kepada Syariat Allah.

Tingkat dan pola kepatuhan mereka kepada Syariat Allah seperti pohon, mengalirnya air, berhembusnya angin: patuh kepada Tuhan secara alamiah, naluriah, karena kejujuran terhadap kemanusiaannya, namun tanpa akalnya menemukan dan menyadari bahwa itu adalah ketaatan kepada Syariat-Nya. Sebagian manusia menginisiali Syariat Allah itu dengan nama Syariat Islam, sebagian lain Kasih Tuhan, Dharma, Bebekti, dan banyak lagi.

Semua makhluk adalah utusan Tuhan, “Rasul”-Nya. Dituliskan oleh para Malaikat atas perintah-Nya di Kitab Agung Lauhul-Mahfudh. Sejak awal mula penciptaan berupa pancaran cahaya, yang Allah sangat mencintai dan memujinya, sehingga manamainya “Nur Muhammad”, dan gara-gara makhluk wiwitan inilah maka kemudian Allah merebakkannya menjadi alam semesta dan umat manusia. Maka para Malaikat semua, kemudian semua Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, meneguhkan keridlaannya: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”.

Ada “tiga” Muhammad: pertama Nur Muhammad, yang kumparan dan gelombangnya mentransformasi menjadi jagat raya -- dan itulah yang disyahadatkan oleh para Malaikat dan para Nabi Rasul. Kemudian kedua Muhammad bin Abdullah, Muhammad-manusia dengan kontrak 63 tahun di Bumi. Lantas Muhammad Nabiyyullah yang membawa berita, hidayah dan “buku manual” Allah yang berevolusi dari Taurat, Zabur, Injil, hingga Qur`an. Muhammad adalah zat sejatinya, Nabi adalah pangkatnya, Rasul adalah jabatannya di Bumi.

Muhammad bin Abdullah diperingati secara nasional di Indonesia setiap 12 Rabi’ul Awwal. Sedangkan Maulid Nabi diselenggarakan pada bulan Ramadlan, bersamaan dengan turunnya Iqra` yang merupakan momentum awal ke-Nabi-an Muhammad-manusia. Adapun Nur Muhammad diperingati bisa kapan saja karena tatkala “Kun” dihembuskan oleh Tuhan, belum ada satuan hari kesepakatan bulan dan tahun yang dikreasi oleh manusia. Seorang tukang andong bisa mencintai Tuhan, merindukan tiga Muhammad, tekun bersembahyang, lemah lembut kepada tetangga, tidak maling, tidak menyakiti orang, tidak memaksa siapapun untuk berpandangan sama dengannya – dengan atau tanpa Negara Khilafah.