"Blog ini berisi catatan, opini atau bahkan copy paste dari source yang saya pikir dibuang sayang"
11 May 2012
24 February 2012
Khutbah Jum'at : Bersyukur
Masjid AL-HIJRAH. Jl. Pd. Labu. Cilandak
Khatib : Dr muslih, MA *)
Awal-awal kelahiran kita di dunia :
Saat itu kita tdk tau apa-apa, kemudian mulai mendengar, melihat, lalu bertahap mulai menggunakan anggota badan untuk mengambil sesuatu dan berjalan, kemudian bertahap pula menggunakan akal & fikiran sehingga mencapai dewasa. Kita Mampu mandiri, bekerja, berkarya untuk hidup ini, baik sebagai petani, pedagang, pegawai (baik swasta maupun peg. Negeri), pengusaha, dlsb.... Kalaulah kita menyadari, kita dapat karunia tak terhingga banyaknya. Setelah kesuksesan diraih, tak jarang manusia bangga dan meng-klaim mampu berdiri sendiri dan merasa hebat, kuat dan mampu mengalahkan orang lain.
Dirinya lupa siapa yg telah memberi potensi, menyediakan sarana & prasarana itu smua. Seharusnya atas karunia itu semua kita harus mengucap Alhamdulillah, ucapan yg harus dihayati maknanya. ucapan sebagai bentuk syukur kita kepada Allah yg maha pengasih dan penyayang. Setelah itu kita harus menjaga rasa syukur tsb dan meningkatkannya.
Anugerah rasa syukur membuat dirinya sejahtera lahir batin. Hal ini juga akan membawa kemashlahatan dunia akherat. Mereka yang tidak bersyukur akan menghadapi kehidupan dunia yang belum tentu sejahtera, sementara di akherat mendapat siksa yang pedih.
Contoh sikap yang tepat ketika kita mendapatkan anugerah adalah seperti yang terjadi pada Nabi Sulaiman AS seperti yang diceritakan pada Surah An-Naml (18-19) berikut ini...
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari"; (18)
maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (19)
Selain tidak takabur, Nabi Sulaiman pun menyadari bahwa anugrah itu juga menjadi ujian bagi dirinya.
Kisah singgasana yang berpindah (selengkapnya dapat dibaca di blog Pelajaran dari Surat An-Naml (Kisah Raja Sulaiman) - Rinaldi Munir) tidak membuat Nabi Sulaiman AS berjumawa, malah ia semakin bersyukur pada Allah SWT sebagai pemilik semua karunia di jagat raya ini. Q.S. An-Naml: 40
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (40)
Dalam ayat tersebut kita melihat betapa tingginya akhlak Nabi Sulaiman AS. Anugerah yang luar biasa dimilikinya itu tidak membuatnya takabur, ujub dan lupa diri. Di situ juga dijelaskan bahwa rasa syukur sebenarnya sangat bermanfaat untuk dirinya sendiri, sebagai "self healing" bagi pribadi-pribadi manusia di dunia ini.
Hidup Zuhud
(lengkapnya dapat dilihat pada Blog Khairul Azzam : Keutamaan Zuhud Di Dunia Dan Anjuran Untuk Mempersedikit Keduniaan Dan Keutamaan Kefakiran" )
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Lihatlah kepada orang yang tarafnya ada di bawahmu semua dan janganlah melihat orang yang tarafnya ada di atasmu semua -dalam hal keduniaan. Sebab yang sedemikian itu lebih nyata bahwa engkau semua tidak akan menghinakan kenikmatan yang dilimpahkan atasmu semua itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Ada Pengalaman dari seorang dokter, satu pagi pergi ketika ia akan pergi ke poliklinik seperti biasa, Ia menaikkan seorang pemuda dalam mobilnya. Pemuda tersebut ternyata adalah pasien yang akan diamputasi. salah satu tangannya. Wajah pemuda tsb dalam kaca spion tampak selalu berseri. Sepanjang perjalanan dokter itu mengajak pemuda mengobrol tapi tak sekalipun menanyakan masalah pada tangan pemuda tsb, agar ia tak tersinggung, sampai kemudian pemuda itu berkata : "Saya heran mengapa banyak orang bertanya tentang bagaimana kabar saya tentang berita bahwa tangan saya akan diamputasi. Tadinya memang membuat saya khawatir bahkan sampai saya hampir-hampir hilang ingatan. Tapi kemudian saya mengingat karunia Allah pada diri saya, betapa saya masih diberi kesempatan untuk hidup dan berkarya dalam hidup saya. Memang tangan saya ini akan diamputasi, tetapi dibandingkan karunia lain yang Allah berikan, ini sungguh tidak berarti. Bahkan, dengan diamputasinya tangan saya ini, saya malah lebih bersyukur kepada-Nya.." Saat pemuda itu meminta sang dokter menghentikan kendaraannya dan berlalu seraya tak lupa mengucap terima kasih, sang dokter berkata dalam batinnya : "Tidak, sesungguhnya akulah yang harus berterima kasih karena engkau mengajarkan hikmah kehidupan yang luar biasa pada diriku tentang rasa syukur dalam hidup ini"
*) isi khutbah telah saya modifikasi tidak persis sama yang disampaikan khatib yang bersangkutan, karena saat khutbah saya mengetik bagian-bagian yang dapat saya catat via telepon genggam. Selebihnya saya edit sendiri dengan tambahan dari sumber-sumber di internet.
Khatib : Dr muslih, MA *)
Awal-awal kelahiran kita di dunia :
Saat itu kita tdk tau apa-apa, kemudian mulai mendengar, melihat, lalu bertahap mulai menggunakan anggota badan untuk mengambil sesuatu dan berjalan, kemudian bertahap pula menggunakan akal & fikiran sehingga mencapai dewasa. Kita Mampu mandiri, bekerja, berkarya untuk hidup ini, baik sebagai petani, pedagang, pegawai (baik swasta maupun peg. Negeri), pengusaha, dlsb.... Kalaulah kita menyadari, kita dapat karunia tak terhingga banyaknya. Setelah kesuksesan diraih, tak jarang manusia bangga dan meng-klaim mampu berdiri sendiri dan merasa hebat, kuat dan mampu mengalahkan orang lain.
Dirinya lupa siapa yg telah memberi potensi, menyediakan sarana & prasarana itu smua. Seharusnya atas karunia itu semua kita harus mengucap Alhamdulillah, ucapan yg harus dihayati maknanya. ucapan sebagai bentuk syukur kita kepada Allah yg maha pengasih dan penyayang. Setelah itu kita harus menjaga rasa syukur tsb dan meningkatkannya.
Anugerah rasa syukur membuat dirinya sejahtera lahir batin. Hal ini juga akan membawa kemashlahatan dunia akherat. Mereka yang tidak bersyukur akan menghadapi kehidupan dunia yang belum tentu sejahtera, sementara di akherat mendapat siksa yang pedih.
Contoh sikap yang tepat ketika kita mendapatkan anugerah adalah seperti yang terjadi pada Nabi Sulaiman AS seperti yang diceritakan pada Surah An-Naml (18-19) berikut ini...
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari"; (18)
maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (19)
Selain tidak takabur, Nabi Sulaiman pun menyadari bahwa anugrah itu juga menjadi ujian bagi dirinya.
Kisah singgasana yang berpindah (selengkapnya dapat dibaca di blog Pelajaran dari Surat An-Naml (Kisah Raja Sulaiman) - Rinaldi Munir) tidak membuat Nabi Sulaiman AS berjumawa, malah ia semakin bersyukur pada Allah SWT sebagai pemilik semua karunia di jagat raya ini. Q.S. An-Naml: 40
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (40)
Dalam ayat tersebut kita melihat betapa tingginya akhlak Nabi Sulaiman AS. Anugerah yang luar biasa dimilikinya itu tidak membuatnya takabur, ujub dan lupa diri. Di situ juga dijelaskan bahwa rasa syukur sebenarnya sangat bermanfaat untuk dirinya sendiri, sebagai "self healing" bagi pribadi-pribadi manusia di dunia ini.
Hidup Zuhud
(lengkapnya dapat dilihat pada Blog Khairul Azzam : Keutamaan Zuhud Di Dunia Dan Anjuran Untuk Mempersedikit Keduniaan Dan Keutamaan Kefakiran" )
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Lihatlah kepada orang yang tarafnya ada di bawahmu semua dan janganlah melihat orang yang tarafnya ada di atasmu semua -dalam hal keduniaan. Sebab yang sedemikian itu lebih nyata bahwa engkau semua tidak akan menghinakan kenikmatan yang dilimpahkan atasmu semua itu.” (Muttafaq ‘alaih)
Ada Pengalaman dari seorang dokter, satu pagi pergi ketika ia akan pergi ke poliklinik seperti biasa, Ia menaikkan seorang pemuda dalam mobilnya. Pemuda tersebut ternyata adalah pasien yang akan diamputasi. salah satu tangannya. Wajah pemuda tsb dalam kaca spion tampak selalu berseri. Sepanjang perjalanan dokter itu mengajak pemuda mengobrol tapi tak sekalipun menanyakan masalah pada tangan pemuda tsb, agar ia tak tersinggung, sampai kemudian pemuda itu berkata : "Saya heran mengapa banyak orang bertanya tentang bagaimana kabar saya tentang berita bahwa tangan saya akan diamputasi. Tadinya memang membuat saya khawatir bahkan sampai saya hampir-hampir hilang ingatan. Tapi kemudian saya mengingat karunia Allah pada diri saya, betapa saya masih diberi kesempatan untuk hidup dan berkarya dalam hidup saya. Memang tangan saya ini akan diamputasi, tetapi dibandingkan karunia lain yang Allah berikan, ini sungguh tidak berarti. Bahkan, dengan diamputasinya tangan saya ini, saya malah lebih bersyukur kepada-Nya.." Saat pemuda itu meminta sang dokter menghentikan kendaraannya dan berlalu seraya tak lupa mengucap terima kasih, sang dokter berkata dalam batinnya : "Tidak, sesungguhnya akulah yang harus berterima kasih karena engkau mengajarkan hikmah kehidupan yang luar biasa pada diriku tentang rasa syukur dalam hidup ini"
*) isi khutbah telah saya modifikasi tidak persis sama yang disampaikan khatib yang bersangkutan, karena saat khutbah saya mengetik bagian-bagian yang dapat saya catat via telepon genggam. Selebihnya saya edit sendiri dengan tambahan dari sumber-sumber di internet.
09 December 2011
Mengapa sulit khusyu dalam Shalat?
Saya menuliskan kembali postingan ustadz Arifien Ilham ini untuk pembelajaran diri dan orang lain yang berminat untuk menikmati indahnya shalat khusyu. Saya sendiri tidak mengalami shalat khusyu dalam setiap shalat yang saya lakukan. Tetapi kerapkali jika shalat khusyu itu terjadi, seakan-akan terjadi hypnotherapi pada diri ini dan rindu ingin mengalaminya lagi dan lagi.
Sent from Research in Action®
Bagian pertama, Mengapa Sulit Khusyu' dalam sholat?
- Memang belum mengenal ALLAH kecuali sebatas Tuhan
Belum mengenal Sifat, Af'al & AsmaNYA, Dia yg menciptakan manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, aku, tubuhku, mataku, telingaku, jantungku, istriku, anak-anakku, semua yg kulihat, semua yg kudengar, semua yg bergerak, semua yg berada di langit & di bumi.
Semua di hidupkan-NYA "Al Muhyi"; semua akan dimatikanNYA "Al Mumiitu", semua tunduk dalam kehendak "Al Muriidu" & kekuasaanNYA "Al Qodiiru", DIAlah yg mengatur semuanya "Ar Robbu", DIAlah yg mengusai sekaligus memiliki semuanya "Al Maaliku" (QS Ali Imran : 26-27).
Dia Maha Menatap "Al Bashiiru" tahu persis hati, pikiran & lintasan pikiran kita & DIA Maha Mendengar "As Samiiu'" mendengar gesekan daun, langkah semut & rintihan hati hambaNYA, Lantas sadarkah kita bahwa DIA YANG SEGALA GALANYA yg kita hadapi dalam sholat selama ini?, Bisakah hati & pikiran kita lari saat sholat sementara DIA MENATAP hati pikiran kita? Kalau begitu kok bisa ma'siyat sementara DIA TERUS MENERUS MEMPERHATIKAN kita?~ penjelasan bagaimana surah Al-Imran ayat 26-27 ini dapat dilihat pada blog Menuju Kesejahteraan; tafsirnya bisa pula dilihat di blog Kongaji - Karena belum faham bacaan, makna, hikmah, keutamaan, syarat & rukun sholat
Maka jadilah "sukaaro" sholat mabuk alias sholat tanpa rasa, tanpa pemahaman, tanpa penghayatan, tanpa keyaqinan, kosong, hampa, seakan robot jasad tanpa ruh, "alkusaala" malah terasa beban, buru buru pengen cepat selesainya, kebiasaannya menunda nunda waktunya, gerak sholatnya cepat seperti ayam matok.
Surah & bacaan sholatpun komai kamit. Sahabatku, simaklah Kalam ALLAH ini, "...JANGANLAH KALIAN MENEGAKKAN SHOLAT, SEDANGKAN KALIAN DALAM KEADAAN MABUK, SAMPAI KALIAN BENAR BENAR FAHAM APA APA YANG KALIAN BACA DALAM SHOLAT KALIAN" (QS4:43).
Lihat orang mabuk berkata berbuat tetapi tidak sadar apa yg dikatakan & apa yg diperbuat, lihat orang sholat berdiri, bertakbir, baca ayat, ruku', sujud, tahiyyat & salam, tetapi tidak sadar bahwa ia sedang berdiri, ruku' sujud menghadap PENCINTA LANGIT & BUMI...tidak sadar bahwa ia sedang berdialog dengan PENCIPTA DIRINYA, YANG MAHA MENENTUKAN SEGALA GALANYA! - Karena tidak sadar bahwa sholat itu adalah "Almuhadatsah bainal makhluqi wa Khooliqi" dialog hamba kepada Kholiqnya,
"Apabila salah seorang dari kalian sholat, sebenarnya ia sedang berkomukasi dg ALLAH" (HR Bukhori Muslim).
Coba perhatikan dari adzan, panggilan waktu menghadapNYA, yang dipanggilpun yang berSYAHADAT, "Asyhaaduallaa ilaaha illallah wa ashhadu anna Muhammadar Rasulullah", yang tidak beriman tidak dipanggil, karena itulah Rasulullah mengingatkan, "Yang membedakan kita dengan orang kafir adalah sholat, maka siapa dengan SENGAJA MENINGGALKAN SHOLAT maka sungguh ia sudah BERPERANGAI seperti orang kafir".
Menutup aurat karena memang menghadap-NYA, menghadap qiblat karena memang fokus jasad ruh, hati pikiran kepada-NYA, apalagi berjamaah jadi rapi shof, & seluruh duniapun satu arah qiblat, lalu bersuci krn memang menghadap MAHA SUCI, lalu berdiri tegap, takbir, membaca ifitah "inn wajjahtu wajhiyalilldzi fathoros samaawati wal ardho" hamba datang menghadapMU duhai PENCIPTA LANGIT & bumi, tunduk patuh taat padaMU...
Inilah diantara komunikasi sholat yang. belum difahami, lantas bagaimana khusyu' tanpa kesadaran ini. - Karena sedikit kita yang faham bahwa dalam sholat Tatkala membaca Alfatihah terjadi dialog hamba dg RABBnya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Barang siapa membaca surat al-Fatihah, setiap ayat yg dibaca itu langsung dijawab oleh ALLAH",
lalu Rasulullah menyampaikan ketika seorang hamba berkata, ''Segala puji bagi ALLAH, TUHAN seru sekalian alam". ALLAH menjawab, "Hamba-KU telah memuji-KU".
Seorang hamba berkata, ''Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang". ALLAH menjawab, "Hamba-KU memuji-KU". Seorang hamba berkata, ''RAJA di Hari Pengadilan". ALLAH menjawab, "Hamba-KU mengagungkan Diri-KU. Hamba-KU berserah diri kpd-KU".
Seorang hamba berkata, ''Hanya ENGKAUlah yg kami sembah, hanya kpd-MU kami memohon pertolongan". ALLAH menjawab, "Inilah pertengahan antara AKU; hamba-KU; bagi hamba-KU apa yg dia minta AKU berikan". Seorang hamba berkata, ''Tunjukilah kami jalan yg lurus, jalan yg telah ENGKAU anugerahkan kepada mereka, bukan mereka yang kena murka; bukan mereka yang sesat.'' ALLAH menjawab, "Ini milik hamba-KU; bagi hamba-KU apa yg dia minta AKU berikan". (Hadist Qudsi, HR Muslim).
Karena itu sahabatku, mulailah bacanya pelan2 dengan kesadaran dan; keyaqinan "THUMA'NINAH", sungguh ALLAH menjawab stp ayat yg kita baca..."
nikmatnya, bahagianya aku menulis ini dari mesjid Agung Baitul Makmur Rejang Lebong Bengkulu sambil menunggu waktu isya. I love you sahabatku fillah.
Sent from Research in Action®
Subscribe to:
Posts (Atom)