24 June 2017

Diskursus soal Khilafah, Tanggapan tulisan Prof. Fahmi Amhar : Menantang Ide Khilafah (Bag 1)

Setelah ada kabar bahwa Pemerintah Jokowi membekukan ormas Hizbut Tahrir Indonesia, maka diskusi soal Khilafah dan Daulah Islamiyah menjadi topik yang menarik banyak orang. Sebagai lulusan IPB yang di dalamnya terdapat organisasi kemahasiswaan yang menjadi pemasok aktivis Islam di HTI: Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB, saya tertarik menanggapi tulisan Prof. Fahmi Amhar berikut ini: 

MENANTANG IDE KHILAFAH
Oleh: Fahmi Amhar
Tulisan Prof. Moh Mahfud MD di harian Kompas edisi 26 Mei 2017 berjudul "Menolak Ide Khilafah" telah memulai sebuah diskursus tingkat elit intelektual di negeri ini. Kalau dulu diskursus ini ibaratnya hanya terjadi di antara para “prajurit” – bahkan “prajurit cyber”, maka kini para “senapati” sudah turun gelanggang.
Saya memahami kalau Prof. Mahfud mendapatkan pernyataan yang dirasakan “tidak cukup bermutu” dari seorang aktivis ormas Islam yang “nobody”. Bayangkan, seorang guru besar, Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN); dan Ketua Mahkamah Konstitusi RI Periode 2008-2013, ditanya dengan nada marah dan merendahkan dari seseorang yang mungkin bahkan tidak hafal pembukaan UUD 1945.
Saya sendiri tidak merasa pantas untuk memberi komentar terhadap tulisan Prof. Mahfud tersebut. Namun sebagai anak bangsa, hak saya untuk berpendapat tentu saja dilindungi oleh konstitusi.
Saya bukan alumnus kampus-kampus yang dinilai Ketua Umum PB NU Said Agil Siradj tempat persemaian radikalisme. Saya S1 sampai S3 di Vienna University of Technology, Austria, sebuah negara demokratis di Eropa. Saya sepuluh tahun di sana. Sepertinya Austria negara yang sudah adil dan makmur, meski tidak mengenal Pancasila. Saya tidak belajar hukum secara khusus, melainkan hanya beberapa mata kuliah. Namun di tahun 1987 saya sudah mengenal tentang Constitutional Court, sesuatu yang saat itu belum pernah saya dengar di Indonesia. Saya juga ikut menyaksikan ketika tahun 1989-1991 negara-negara Blok Timur berubah dari komunis ke kapitalis. Dan saya juga menyaksikan bagaimana Austria melakukan referendum untuk bergabung ke Uni Eropa atau tidak.
Saya melihat, dalam sistem demokrasi, sistem di Austria berbeda dengan Jerman, Swiss atau Perancis, meski sama-sama Republik. Sistem demokrasi juga diterapkan di Inggris atau Belanda, meski mereka menganut monarki. Ini artinya, orang bisa sama-sama menerima demokrasi tanpa mempersoalkan “demokrasi yang seperti apa?”.
Pertanyaannya, mengapa untuk demokrasi kita bisa seperti itu, tetapi untuk sistem pemerintahan Islam - Khilafah - kita tidak bisa? Kenapa kita menolak ide khilafah dengan argumentasi tidak ada bentuk yang baku, khususnya cara suksesi kepemimpinan? Sebenarnya kita bisa lebih arif, setidaknya menantang diskusi bahwa ide khilafah adalah sebuah alternatif dari suatu kemungkinan kebuntuan politik.
Dalam sejarahnya, Republik Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 pernah berubah-ubah. Tak sampai tiga bulan setelahnya, yakni pada 14 November 1945, Presiden Soekarno sudah mengubah sistem presidensil menjadi parlementer. Pasca Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Indonesia berubah menjadi negara federal (RIS). Lalu tahun 1950 kembali ke NKRI dengan UUDS-1950 yang bunyi sila-sila dari Pancasila sangat berbeda. Pasca dekrit 5 Juli 1959 kembali ke UUD-1945 tetapi masih mengakui Partai Komunis Indonesia (PKI). Inti dari sejarah ini, saya bertanya-tanya: benarkah dulu para pendiri bangsa menganggap UUD1945 itu adalah final? Kalau final, kenapa disisakan sebuah pasal 37 yang memungkinkan UUD1945 diubah? Kalau benar wilayah NKRI itu final, mengapa tahun 1976 kita menerima Timor Timur berintegrasi, lalu tahun 1999 kita lepas lagi? Kalau konstitusi NKRI itu final, mengapa pasca reformasi kita amandemen berkali-kali?
Oleh karena itu, kalau kita menuduh kelompok pro-khilafah itu radikal dan telah “terindoktrinasi” atau boleh juga “tercuci-otaknya”, tidakkah jangan-jangan kita juga tercuci otaknya dengan jargon “NKRI harga mati”?
Karena tinggal di Eropa yang sangat demokratis (bahkan agak liberal), sejak akhir 1980-an, saya cukup bebas mengenal berbagai ideologi di dunia. Buku “Das Kapital” – Karl Marx misalnya, saya baca pertama kali di Austria, karena di Indonesia dilarang. Di Austria, buku-buku komunisme sama bebasnya dengan buku-buku anti komunis. Pada masyarakat mereka yang maju, komunisme tidak dianggap ancaman. Partai Komunis Austria ada, tetapi tak pernah meraih kursi dalam pemilu.
Waktu itu, belum ada internet, namun bacaan-bacaan yang bebas itu bahkan mampu menembus tirai besi di negara-negara komunis, yang di sana cuma ada satu koran, satu radio, satu televisi dan satu partai, yang semuanya komunis. Dunia akhirnya menyaksikan keruntuhan adidaya komunies Uni Soviet tahun 1991.
Karena itu, tak heran di Austria juga saya mengenal berbagai gerakan Islam, termasuk di antaranya yang memperjuangkan suatu negara Islam global, khilafah. Untuk orang-orang di negara adil makmur seperti Austria, dakwah memerlukan rasionalitas yang sangat kuat. Mereka tidak bisa menjual perlawanan kepada otoritas publik yang sudah melayani rakyat dengan baik. Mereka juga tak bisa menjual dogma pada masyarakat yang sudah berpikir sangat rasional. Bahkan soal iman pun tidak bisa mengandalkan warisan seperti ditulis oleh ananda kita Afi Nihaya. Faktanya, gender, suku, ras, kelas sosial bisa diwariskan, tetapi jutaan warga Eropa mencari dan menemukan sendiri agamanya dengan bekal akal sehat karunia Tuhan pada mereka.
Oleh karena itu, ide khilafah perlu untuk ditantang dengan lebih arif secara akademis. Sama kalau dalam pelajaran sekolah kita memberi tahu anak-anak kita tentang sistem kerajaan vs sistem republik, demokrasi vs diktatur, kenapa kita keberatan, bahkan ketakutan untuk memperkenalkan sistem khilafah, yang diklaim bukan kerajaan, bukan republik, bukan demokrasi dan juga bukan diktatur? Lantas mahluk apakah ini?
Sependek yang saya tahu, inti dari sistem khilafah itu bukan model suksesi seperti yang Prof. Mahfud katakan sebagai “tidak baku” dan “ijtihadiyah”. Adanya berbagai varian suksesi – yang semua tidak diingkari oleh para shahabat Nabi radhiyallah anhuma – justru menunjukkan keunikan sistem ini. Orang yang akan dibai’at sebagai khalifah boleh dipilih dengan permusyawaratan perwakilan (seperti kasus Abu Bakar), dinominasikan pejabat sebelumnya (seperti kasus Umar, yang kemudian disalahgunakan oleh berbagai dinasti kekhilafahan), dipilih langsung (seperti kasus Utsman), atau otomatis menjabat (seperti kasus Ali, karena dia saat itu seperti wakil khalifah). Semua ini bisa dilakukan, dan bisa mencegah terjadinya krisis konstitusi, yaitu suatu kebuntuan ketika presiden sebelumnya sudah habis masa jabatannya, dan presiden yang baru belum definitif.
Itu baru sebuah contoh. Memang yang saya lihat selama ini ada jurang komunikasi antara pakar tata negara seperti Prof. Mahfud dengan gerakan pro khilafah seperti HTI. Bahkan terma “demokrasi” saja didefinisikan dan dimengerti secara berbeda Bagi HTI, sejauh yang saya tahu, demokrasi itu bukan sekedar prosedural seperti kebebasan bersuara, berserikat, adanya partai-partai politik, pemilu dan parlemen, tetapi demokrasi adalah ketika suara rakyat bisa di atas suara Tuhan, ketika hawa nafsu rakyat bisa mengalahkan dalil halal-haram kitab suci. Inilah demokrasi di Eropa yang bisa melegalkan nikah sesama jenis, atau melarang jilbab di ruang publik.
Pancasila dalam redaksi saat ini, tidak menyebut demokrasi, tetapi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Sila ini dimaknai berbeda pada era Orde Lama, Orde Baru atau Reformasi. Demikian juga ekonomi Pancasila, ada aneka tafsir yang bertolakbelakang antara ekonomi terpimpin ala Orde Lama, ekonomi kapitalis ala Orde Baru, dan ekonomi neoliberal ala Reformasi. Bukankah di sini sama tidak jelasnya dengan ide khilafah menurut Prof. Mahfud ? Oleh karena itu, menurut saya, khilafah sebagai ide sah-sah saja ditantang dalam meja diskusi dengan pikiran dingin dalam rangka mendapatkan solusi kehidupan berbangsa.
Prof. Dr. Fahmi Amhar
Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan bukan pendapat IABIE.

Tanggapan tulisan saya bahas di laman berikutnya.. 

14 May 2017

Kepada sobat muslimku yang keluar dari barisan

Mohon maaf buat kawan-kawan pemilih Ahok yg cerdas, dan tampak saleh dalam pandangan saya, yang saya kenal memiliki banyak kemuliaan jauh melebihi diri saya.

Sejak pengumuman pemenang pilkada DKI, sebenarnya saya banyak menahan diri. Status-status fb saya dalam 1 minggu itu kebanyakan bertemakan yg ringan-ringan. Namun kemudian setelah melihat beberapa kawan facebooker terutama banyak di antara mereka yg muslim mengeluarkan argumen sbb:

  • kalahnya Ahok menunjukkan kalahnya pemilih berakal seolah-olah kelompok yang tidak memilih Ahok adalah kelompok bodoh dan dogmatis.
  • menunjukkan "islami"-nya Ahok dengan menampilkan perilaku-perilaku positif dia, tapi abai pada kearogansian dan kepongahannya
  • ungkapan kasihan dan prihatin pada anak & istri Ahok yang harus ditinggal karena dia ditahan 2 tahun, tetapi lupa membandingkan dengan kasus penistaan agama lain yg lebih berat, apalagi ratusan keluarga tak berpunya yang digusur paksa tanpa belas kasihan, anak-anak dan keluarganya terlantar jauh lebih menderita daripada Ahok sang penguasa Jakarta.

Saya tergerak untuk menyampaikan tulisan ini. Jujur, sisi kemanusiaan saya dan sisi spiritual saya sebagai muslim merasa dikerdilkan oleh pernyataan-pernyataan tersebut, sikap partial thinking dan ketidakadilan keberpihakan itu memperparah situasi politik di mana muslim menjadi minoritas di beberapa wilayah Indonesia seperti Kalbar dan Sultra, dan ketidakadilan yg dilakukan kepolisian, kejaksaan, presiden dan tentunya "Media korporasi" yang memang menjadi bagian sakit sistemiknya negeri ini

Saya makin heran saja, di antara mereka banyak yang punya perangai yang santun jauh dari perilaku yang dibelanya, halus beropini dan mengeluarkan ujaran pendapat, beberapa di antaranya berjilbab, secara materi sangat mumpuni dan dalam kehidupan sosial saya perhatikan punya tabiat  berbagi pada sesama. Dari sisi intelektual mereka bukan sembarang warga biasa. Mereka kelas menengah, sebaik-baiknya sepanjang saya bercengkerama dengan berbagai kalangan.

Makin tebal keyakinan saya bahwa mengapa Aqidah dan Tauhid menjadi fondasi dalam Islam. Betapa tampilan permukaan,  misalnya citra rajin puasa senin kemis, citra rajin tahajjud dan amalan-amalan yg biasa dilakukan orang-orang saleh itu langsung sirna ketika Allah tampakkan sikap kawan-kawan saya itu terkait kejadian penistaan agama dan ayat kepemimpinan muslim ini. Rupanya konsep Islam bagi kawan-kawan yang rasa-rasanya jauh lebih mulia dari saya ini, sebatas ritual dan sosial saja.

Memang gak gampang jadi orang saleh, saleh sebenar-benarnya. Saya belajar dari kawan-kawan  saya tersebut untuk lebih halus, berbagi, bersopan-santun, tapi rupanya tabir-tabir kemunafikan itu dibukakan oleh Allah SWT dengan begitu jelasnya.

Tidak ada orang atau kelompok yang maha sempurna di sisi Allah selain Rasul-Nya dan para Nabi. Kita tidak bisa meng-klaim diri kita atau kelompok yg satu lebih baik, karena yg berhak menilai memang Allah (begitu kata Cak Nun), tapi jangan lupa panduan dan penilaian Allah sudah dijabarkan secara terbuka dan mendetail semuanya. Hanya kemunafikanlah yg menutupi kebenaran, jadi teringat satu ayat yang saya sangat takuti sepanjang hayat saya ini.. bergetar rasanya kalau membaca ayat ini..

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56)

Ayat tersebut bukan saja memberikan panduan kepada para penyampai risalah (dan itu wajib bagi setiap muslim sesuai kadar maqomnya masing-masing) tetapi juga penghibur hati bilamana dalam diri ini kita bersedih, betapa orang-orang yg ada dan mampir dalam sanubari kita (beberapa bahkan kita do'akan dalam sunyi sepi tanpa sepengetahuan mereka, agar menambah bobot diijabahnya do'a kita sebagai teman/sahabat tsb) yang memiliki segala kelebihan-kelebihan dan kemuliaan  dalam asumsi kita, adalah orang-orang yang diberikan hidayah dan petunjuk, ternyata belum tentu begitu di pandangan Allah. Dia-lah yang paling tahu kualitas dan akseptabilitas kesempurnaan keislaman seseorang.

Aku tujukan kepada sahabat-sahabat fb-ku yg aku anggap kalian lebih mulia, lebih ber-akhlak mulia pada manusia, tetapi mendukung si penista agama dan berbetah diri dalam barisan mereka....


Tanah Abang, 14 Mei 2017

13 May 2017

KHALIFAH ISLAM DAN KHILAFAH SILMI


Oleh: Emha Ainun Nadjib

Dunia Batasan dan Surga Kemerdekaan
Katakanlah HTI dibubarkan oleh otoritas Negara, itu tidak berarti manusianya menjadi “stateless”, aktivisnya menjadi “persona non grata.” Kalau dikaitkan dengan makar, sebaiknya jangan makar kepada rujukan konsep makar dari Tuhan (“wa makaru wa makarallah”). Setiap orang atau kelompok berhak memperjuangkan keyakinannya. Ada yang meletakkannya pada peta kalah menang, dan HTI sedang menanggung resikonya. Ada juga yang melihat keluasan hidup di mana kalah menang hanyalah sebuah strata. Dalam konteks ini mungkin justru mereka sedang menjalani ujian kenaikan derajat.

Bumi dan Dunia adalah sistem batasan, sehingga penduduknya berjuang mencari celah-celah ruang kemerdekaan. Para Prajurit Pembebasan, Hizbut-Tahrir, justru mendapat limpahan rezeki untuk semakin nikmat bekerja keras menemukan pembebasan. Organisasi hanyalah alat: pisau dapur untuk mengiris bawang, hanyalah payung untuk berlindung dari hujan, hanyalah kendaraan untuk mencapai suatu tujuan. Pisau, payung, dan kendaraan, biasa rusak atau aus, lantas dibengkelkan atau ambil yang baru di Toko Ilmu.

Karena tugas kemakhlukan manusia adalah menghimpun ilmu dan menyusun strategi, agar ia lolos kembali ke kampung halaman aslinya, yakni Kebun Surga, di mana kemerdekaan mengalir, meruang, melebar, meluas, dan manusia memegang kendali aliran itu dalam dua rentang waktu: kekekalan dan keabadian. “Tajri min tahtihal anharu kholidina fiha abada”, begitu Allah mengindikasikan pintu pengetahuan tentang Surga.

Negara adalah hasil karya kecerdasan ilmu manusia untuk menata pagar di antara penduduk Bumi. Karena di kehidupan Dunia yang ini, sistem nilainya tidak dibikin oleh Tuhan untuk memungkinkan kebebasan seseorang berposisi steril atau tidak mengganggu kebebasan orang lainnya. Tuhan hanya menyelenggarakan training sejenak di Bumi agar manusia belajar berbagi kemerdekaan. Semacam “puasa”, agar kelak sebagai penduduk Surga, mereka menikmati betapa dahsyatnya kemerdekaan yang tidak saling membatasi satu sama lain – sesudah selama di Bumi mereka menyiksa diri oleh perebutan, persaingan, pertengkaran, pembubaran, bahkan menganiaya dirinya sendiri dengan pengusiran, pembunuhan dan pemusnahan.

Tetapi Negara dengan Pemerintahannya tidak berkuasa atas semua hal pada manusia. Negara bisa menyebarkan kemungkinan baik atau buruk bagi sandang, pangan, dan papan manusia. Tetapi Negara tidak berkuasa atas hati dan pikiran warganya, kecuali mereka yang tidak menikmati otonomi rohani dan independensi pikirannya, sehingga rela menjadi buih yang diseret dan diombang-ambingkan ke manapun Negara dan Pemerintahnya mau.

Keniscayaan Khilafah
Saya tidak perlu setuju atau tidak atas ‘ideologi’ Khilafah, karena itu adalah niscaya. Saya tidak punya kemungkinan lain kecuali menjadi (dijadikan) Khalifah di Bumi oleh Pencipta Bumi, alam semesta dan saya. Menjadi Khalifah adalah posisi khusus manusia: tugasnya “patuh dengan kesadaran akal”. Semua benda patuh kepada Tuhan, tetapi tidak dengan kesadaran akal. Sungai, gunung, hutan, angin, dedaunan dan embun, juga detak jantung manusia, aliran darahnya, kesegaran dan keausan jasadnya, jadwal lahir dan matinya, semua patuh kepada kehendak Tuhan, tetapi yang dengan kesadaran akal hanya entitas sistem makhluk manusia yang dipasang di kepalanya semacam supra-chips yang bernama akal, serta cakrawala yang bernama kalbu.

Malaikat, Iblis, Setan, benda, tetumbuhan, hewan adalah makhluk kepastian, meskipun sebagian di antara mereka ada yang menjadi wadah kerjasama antara takdir Tuhan dengan inisiatif manusia. Sementara Jin dan Manusia adalah makhluk kemungkinan. Tuhan berbagi dengan mereka berdua “hak mentakdirkan” sampai batas tertentu, dengan pembekalan ilmu yang juga amat sedikit. Manusia bisa melanggar batas yang sedikit itu, Pembangunan boleh mengeruk tambang, kerakusan Development bisa merusak bumi, dengan memberangus sesama manusia yang menentangnya.

Tetapi para pelakunya tidak bisa “pensiun dini”, tidak bisa “membolos” dari kehidupan yang abadi. Dalam kuburan mereka memulai Semester berikutnya, kemudian berlangsung semesteran-semesteran berikutnya, hingga tiba di babak final Surga atau Neraka. Manusia tidak bisa melarikan diri, karena tidak ada tempat, planet, galaksi, ruang dan waktu yang selain milik Tuhan. Manusia tidak bisa mengelak dari tanggung jawabnya sampai dua kehidupan abadi (kholidina fiha abada) yang wajib dijalaninya.

Khusus yang dapat kapling surga akan dibagi di empat lapisan langit Surga, yang semua teduh berwarna dominan hijau tua. Manusia “ngunduh wohing pakarti”, memetik buah dari kelakuan yang ditanamnya. Bumi adalah bagian dari Langit. Dunia adalah bagian awal dari Akhirat. Kehidupan di Bumi hanyalah gelembung kecil di dalam gelembung besar Akhirat, yang juga terletak di Maha Gelembung Tuhan itu sendiri.

Kudeta Surga dan Khilafah Silmi
Para Prajurit Pembebasan itu sungguh-sungguh berlatih menjadi penduduk Surga. Serta menjunjung kemuliaan untuk mencita-citakan agar seluruh bangsa Indonesia pun berlatih bagaimana menghuni Surga. Memang demikianlah sejak didirikan 1953 oleh beliau Syaikh Taqiyudin An-Nabhani hingga dibawa ke Bogor dan Indonesia 1980-an oleh Syaikh Abdurahman Al-Baghdady.

Mereka orang-orang baik sebagai manusia, sangat menyayangi penduduk Bumi dan mencita-citakan semua manusia lintas-Negara agar kelak bercengkerama dengan Allah di Surga. Mereka menyusun tata nilai kebudayaan (Tsaqafah) Islam sebagai sistem besar, semacam grand design untuk seluruh wilayah di Bumi. Andaikan mereka adalah putra Nabi Nuh atau komunitas inti beliau, yang sesudah Bahtera mendarat di Turki, lantas membagi rombongan-rombongan ke berbagai wilayah di seantero Bumi – maka mereka bisa meng-Hizbut-tahrir-kan kehidupan di Bumi dengan berangkat dari Nol.

Tetapi Indonesia terlanjur Bhinneka Tunggal Ika, heterogen, plural, “syu’ub wa qabail”, berbagai-bagai faham kepercayaan, berbagai-bagai jalan ditempuh menuju Tuhan, berbagai latar belakang, etnik, jenis darah, marga, golongan, aliran dan berbagai-bagai lainnya. Kalau HTI hendak “mensurgakan” NKRI, saya tidak bisa menemukan jalan sejarahnya kecuali harus melakukan pengambil-alihan kekuasaan, revolusi total atau kudeta: membubarkan Parlemen dan Pemerintahan, mengganti Presiden dengan Khalifah, meredesain sistem pemerintahannya hingga pola pasarnya, kebudayaannya, dari BI hingga Bank Plecit.

Katakanlah yang beliau-beliau lakukan adalah “minadhdhulumati ilannur”, membawa NKRI dari kegelapan menuju cahaya, tetapi momentum dan adegan-adegan pengambil-alihan kekuasaannya, saya tidak mampu mensimulasi kemungkinan bisa dihindarkannya dari konflik-konflik besar, bahkan dengan sesama Kaum Muslimin sendiri, sampai mungkin juga pertumpahan darah tidak kecil-kecilan seperti tawuran anak-anak Sekolah Unggul.

Maka saya memberanikan diri mencari pemahaman atas perintah Allah “Udkhulu fis-silmi kaffah”. Masuklah ke dalam Silmi secara utuh dan tunai. Anehnya Allah tidak menggunakan kosa-kata Islam, melainkan Silmi. Wallahu a’lam maksud-Nya, tetapi sukar dibayangkan bahwa penggunaan kata Silmi, bukan Islam, tanpa mengandung perbedaan antara kedua kata itu.

Hizbut Tahrir tampaknya memaksudkan “Udkhulu fil-Islami Kaffah”: membangun sistem Islam besar nasional dan global. Sangat meyakini kebenaran Islam dan gagah berani menerapkannya. Sementara saya seorang penakut yang merasa ditolong oleh kosakata Silmi dari Allah. Kelak kita mempertanggungjawabkan kehidupan di hadapan Allah secara individual, tanpa bisa ditolong oleh siapapun kecuali oleh empat hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mendoakan kita, kemudian hak prerogatif Muhammad kekasih Allah untuk menawar nasib kita dalam konteks dialektika cinta.

Seorang Muslim tukang ojek, penjual jajan di perempatan jalan, petani di dusun atau sales dan Satpam, tidak bisa saya bayangkan akan ditagih oleh Allah hal-hal mengenai Negara Islam dan Khilafah. Atau Malaikat menanyainya soal ideologi global, kapitalisme mondial, sistem pasar Yahudi internasional, atau satuan-satuan besar industrialisme dan sistem perbankan Dunia. Juga untuk menjadi Muslim yang tidak masuk Neraka apakah ia harus menguasai semua makna Al-Qur`an, harus berkualitas Ulama dan bergabung dalam Khilafah Hizbut Tahrir.

Setiap hamba Allah dilindungi oleh-Nya dengan “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani manusia melebihi kadar kemampuannya). Seorang kuli pasar mungkin hanya akan ditanya beberapa hal: aqidahnya, hubungannya dengan Nabi dan Al-Qur`an, apakah ia mencuri harta orang, menghina martabat sesama manusia, atau memisahkan nyawa dari jasad manusia.

Itulah Silmi, mudah-mudahan. Seseorang mungkin hanya hafal Al-Fatihah dan beberapa ayat pendek, pengetahuannya sangat awam terhadap tata nilai Islam. Tetapi hidupnya sungguh-sungguh, kebergantungannya kepada Allah mendarah-daging. Tidak pandai dan ‘alim, tapi kejujuran perilakunya ajeg. Tidak canggih shalat dan bacaan Qur`annya, tapi santun, menyayangi manusia dan alam, tidak menyakit siapa-siapa dan tidak merusak apa-apa.

Konsep Silmi membukakan jalan agar seorang tukang jahit di pinggir jalan bisa diterima oleh Allah tanpa menjadi warga negara sebuah Negara Khilafah. Seorang Ibu penjual jamu bisa masuk surga tanpa menunggu berhasilnya perjuangan Khilafah Dunia. Kalau saya salah, mohon dilembuti dengan informasi yang lebih benar. Karena setiap huruf yang saya ketik bersifat relatif dan dinamis, sementara ilmu dan keyakinan Hizbut Tahrir sejauh saya merasakan hampir mendekati mutlak, sehingga gagah perkasa memprogram pengkhilafahan Indonesia.

Syariat Allah di Alam dan Manusia
Jangan dipikir saya setuju dan merasa jenak dengan berbagai hal tentang NKRI. Bahkan hal-hal yang mendasar sejak persiapan kemerdekaan, muatan nilai-nilai Proklamasi 1945, sampai Orla Orba Reformasi hingga Era Klayapan sekarang ini. Tapi saya tidak sedang berada di dapur dikepung oleh bahan-bahan mentah makanan serta alat-alat dapur. Saya berada di warung depannya, dengan makanan minuman yang sudah tersedia. Sudah pasti perbaikannya harus dari dapur, tetapi kalau saya memaksakan diri untuk mengambil alih dapur: kepastian mudlarat-nya terlalu besar dibanding kemungkinan manfaat-nya.

Saya pun adalah seorang Khalifah, maka wilayah kehidupan saya pastilah Khilafah. Tapi saya tidak mau meladeni kekerdilan cara berpikir tanpa kelengkapan pengetahuan dan ilmu, yang mempolarisasikan antara Pancasila dengan Islam, antara Bhinneka Tunggal Ika dengan Kekhalifahan, antara Negara dengan Agama, antara Nasionalis dengan Islamis. Apalagi mendikotomikan antara Agawa-Samawi dengan Agama-Ardli, antara Kesalehan Individu dengan Kesalehan Sosial, bahkan antara Bumi dengan Langit dan antara Dunia dengan Akhirat. Itu semua sanak famili dari terminologi lucu Santri-Agama-Priyayi.

Juga saya merasa agak repot selama ini kalau prinsip Khilafah identik-formal dengan suatu Organisasi atau golongan, sementara semua manusia adalah Khalifah. Saya jadi kikuk karena seakan-akan kalau saya tidak bergabung dengan Hizbut Tahrir berarti saya bukan Khalifah.

Pada hakikinya semua makhluk adalah representasi atau manifestasi atau tajalli Tuhan sendiri, sebab tidak ada apapun, juga tak ada kehampaan atau kekosongan yang bukan bagian dari Tuhan itu sendiri. Begitu Tuhan bilang “Kun”, “Jadi!”, maka berlangsunglah syariat-Nya: metabolisme semesta, organisme alam, sistem nilai kehidupan, hamparan galaksi, susunan tata-tata surya, benih tumbuh, pohon berbuah, gunung menyimpan api, semua kelereng-kelereng alam semesta menari-nari, menyusun koreografi yang luar biasa, beredar pada porosnya, berputar satu sama lain.

Kalau ada Negara di Bumi yang menegakkan hukum dan penataan aturan yang memprimerkan keperluan rakyatnya, itu persesuaian dan kepatuhan kepada Syariat Allah. Semua undang-undang, pelaksanaan birokrasi dan tatanan kenegaraan yang berpihak pada kemashlahatan manusia dan berkesesuaian dengan hukum alam: itulah kepatuhan kepada Syariat Allah.

Tingkat dan pola kepatuhan mereka kepada Syariat Allah seperti pohon, mengalirnya air, berhembusnya angin: patuh kepada Tuhan secara alamiah, naluriah, karena kejujuran terhadap kemanusiaannya, namun tanpa akalnya menemukan dan menyadari bahwa itu adalah ketaatan kepada Syariat-Nya. Sebagian manusia menginisiali Syariat Allah itu dengan nama Syariat Islam, sebagian lain Kasih Tuhan, Dharma, Bebekti, dan banyak lagi.

Semua makhluk adalah utusan Tuhan, “Rasul”-Nya. Dituliskan oleh para Malaikat atas perintah-Nya di Kitab Agung Lauhul-Mahfudh. Sejak awal mula penciptaan berupa pancaran cahaya, yang Allah sangat mencintai dan memujinya, sehingga manamainya “Nur Muhammad”, dan gara-gara makhluk wiwitan inilah maka kemudian Allah merebakkannya menjadi alam semesta dan umat manusia. Maka para Malaikat semua, kemudian semua Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul, meneguhkan keridlaannya: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah”.

Ada “tiga” Muhammad: pertama Nur Muhammad, yang kumparan dan gelombangnya mentransformasi menjadi jagat raya -- dan itulah yang disyahadatkan oleh para Malaikat dan para Nabi Rasul. Kemudian kedua Muhammad bin Abdullah, Muhammad-manusia dengan kontrak 63 tahun di Bumi. Lantas Muhammad Nabiyyullah yang membawa berita, hidayah dan “buku manual” Allah yang berevolusi dari Taurat, Zabur, Injil, hingga Qur`an. Muhammad adalah zat sejatinya, Nabi adalah pangkatnya, Rasul adalah jabatannya di Bumi.

Muhammad bin Abdullah diperingati secara nasional di Indonesia setiap 12 Rabi’ul Awwal. Sedangkan Maulid Nabi diselenggarakan pada bulan Ramadlan, bersamaan dengan turunnya Iqra` yang merupakan momentum awal ke-Nabi-an Muhammad-manusia. Adapun Nur Muhammad diperingati bisa kapan saja karena tatkala “Kun” dihembuskan oleh Tuhan, belum ada satuan hari kesepakatan bulan dan tahun yang dikreasi oleh manusia. Seorang tukang andong bisa mencintai Tuhan, merindukan tiga Muhammad, tekun bersembahyang, lemah lembut kepada tetangga, tidak maling, tidak menyakiti orang, tidak memaksa siapapun untuk berpandangan sama dengannya – dengan atau tanpa Negara Khilafah.

13 March 2017

5 College Degrees That Will Be Extinct In 20 Years

Type of worker
Do you remember when futuristic movies would show a future full of robots? Well, that future isn’t so far away. The robots are coming, and they will take our jobs. The technological revolution we are in is not stopping anytime soon, and automation is a huge part of its growth. We have witnessed this change before, and that was the Industrial Revolution. The solution was creating a more educated workforce to handle more complex issues, and again our solution to this issue lies in education. When choosing a college degree, it is important to be cognizant of the changing world and its changing demands. And so, I have found 5 college degrees that will be sure to be obsolete with the advent of technology.  



Accounting Degree
Basically, if Quickbooks can do it – you don’t really need your accountant. More and more companies are coming up with ways to do taxes online – from Turbo Tax to H & R Block. In house accounting is only truly necessary for larger companies, and tax accounting for most individuals can be done online directly. The changing course of this career requires less number crunching and more insight. A good alternative to this degree is finance, where you can be more dynamic in your career.

Hospitality And Tourism Degree
You know those kiosks that you check in to at the airport? That is the projected future of hotels. Majoring in hospitality and tourism is a mistake, because most of that industry can easily be replaced by technology. The need for hotel desk agents, travel agents, and more are truly dwindling.

Paralegal Degree
Most of the duties of a paralegal can easily be done by a computer these days. Filing and research can easily be done online, and does not require a human touch. Law itself can be replaced by technology, so paralegal studies is the obvious first cut to the industry.



Broadcast Communications Degree
Broadcast is an ever changing field. The TV is no longer the main news outlet, and a degree in broadcast communications focuses on an outdated technology. Communication efforts are changing daily, from Snapchat to Facebook – we get our news in a very different way these days.

Pharmacy Degree
Your prescription can be filled by a robot. That is a simple idea to grasp. More and more drugstores are turning to this idea of an automatic pick up or drop off, and there is no real need for a pharmacist in this world. Compounding is still relatively used, but as big pharmaceuticals dominate the playing field – the need for compounding will dwindle as well. Go big and become a doctor instead, as this job is very replaceable.


22 November 2016

Ayo Jujur Buktikan Kita Rawat NKRI!


Oleh: Erie Sudewo, Pendiri Dompet Duafa

Sekarang saya ada di Bandung. Pelesiran? Bukan. Ada sesi sharing Senin malam. Saat bicara, jujur, kadang saya sulit bedakan fakta dan opini.

Fakta obyektif, sunatullah apa adanya. Sedang opini, subyektif dong. Ada sesuatu di balik opini. Fakta tak boleh ditambah atau dikurangi. Saat fakta ditafsir, jadilah opini. Saat tafsir menafsir, nafsu menelisik.
Tuan dan puan, begitu yang terjadi belakangan ini. Retorika opini tersaji memukau. Kepiawaian mainkan kata, lebih dihargai ketimbang fakta.

Inilah das sein dan das sollen. Antara kulit dan isi. Yang pertama menarik dari manusia jelas tampilannya. Sama seperti buah. Kulit jadi penentu pertama dibeli tidaknya buah. Ketika isinya masam, sumpah serapah jadi konsekuensi.
Simak baik-baik. Negeri ini sedang diracuni. Dan ada media masa yang naga-naganya bermain. Dalam sajikan fakta, "jas merahlah". Jangan lupakan sejarah.

Yang paling dan amat berjasa lahirkan Indonesia itu siapa? Para founding fathers. Tapi tanpa ulama dan tokoh Islam, apa founding fathers bisa teguh hati?

Andai Jenderal Soedirman bisa longok kembali negeri ini, apa yang bakal dia jawab atas pertanyaan di bawah ini: “Ketika bergerilya, dimana anda bermalam: Di toko, atau di tokoh yang siapkan rumah di kampung?” Siapa kira-kita tokoh yang di kampung itu.

Toko jelas perlu. Tokoh lebih jelas lagi. Namun apakah Jenderal Soedirman dan tokoh pergerakan nginap di toko kelontongan ? Dalam kondisi normal, pedagang untung. Dalam kondisi tak normal, pengusaha lebih untung. Dan dalam kondisi chaos, pedagang pun tetap tak mati angin raup laba.

Lantas, kira-kira apa kontribusi pedagang pada perjuangan kemerdekaan? Pasti ada. Siapa yang menyumbang pesawat pertama Garuda? Hanya berapa banyak saudagar yang mau gelontorkan harta untuk bangsa. Bukan SANGGUP, tapi MAU-kah?

Lihat sejarah, siapa sih yang sungguh-sungguh berjuang lahirkan Indonesia. Tanpa toleransi ulama dan tokoh Islam, apa bisa sila pertama Pancasila sekarang ini cuma tertera “Ketuhanan Yang Maha Esa” saja?

Wallahu’alam.