01 August 2017

Bicara soal garam

Kita memang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, tetapi tidak berarti punya pantai yang panjang itu industri garam serta merta dapat didirikan di sana semuanya. Untuk membangun industri butuh pekerja, akses transportasi dan fasilitas pendukung lainnya.

Setahu saya salinitas laut itu berbeda-beda, hanya pantai dengan salinitas air laut yg tinggi dengan cuaca terik matahari yang mendukung yg cocok dijadikan tambak-tambak garam. Jadi jangan heran kalau tambak-tambak garam itu umumnya di titik-titik tertentu di pulau jawa saja.

Garam itu ada garam industri dan garam dapur. Keduanya punya spesifikasi teknis yang berbeda. Garam untuk dapur lebih mudah diproduksi di dalam negeri karena secara umum tidak membutuhkan teknologi lanjutan untuk memproduksinya. Thus, garam-garam dari petani tambak itu sebenarnya sudah bisa langsung dipakai sebagai bumbu masak (walau belum ber-yodium).

Sementara garam industri digunakan karena proses industri benar-benar membutuhkan NaCl (Na+ & Cl-). Contoh dalam proses pelunakan air di pengolahan air bersih, garam digunakan sebagai regenerant dan mencuci balik (backwash) media filter agar tidak jenuh karena menyerap Ca+ atau Mg+ yang menaikkan hardness air.

Produksi garam di Australia

Industri hilir kita karena banyaknya "mulut" yang harus disuapi produk pangan, kapasitasnya tidak berbanding dengan kemampuan suplay di hulu-nya. Bukan hanya kasus garam saja, misalnya tempe dari kedelai atau bakso dari daging sapi, sampai sekarang negeri ini tidak mampu memasok kebutuhan bahan bakunya yg terus bertambah.

Teknologi desalinasi (penyulingan) air laut di Australia kabarnya juga menambah pasokan berlimpah mereka untuk garam industri. Karena selain dari laut, kabarnya negeri kangguru itu juga memproduksi garam dari tambang-tambang. Saya dan beberapa kawan di Indonesian Water Association insyaallah mampu kalau "hanya sekedar" menyuling air laut, tetapi jika satu proses itu juga bisa menghasilkan garam NaCl berkualitas tinggi, kami belum menguasai expertise ini.

Kalau pemerintah berniat serius untuk mengembangkan industri ini, kami siap membantu. Hanya saja sebagai kumpulan praktisi, kami tidak terbiasa berlama-lama dalam seminar dan presentasi teoritis. Jika ada langkah-langkah bisnis (baik B to B atau B to G) yang diinisiasi pemerintah yang menguntungkan kedua belah pihak saya kira kami akan menyambut dengan gembira.

Referensi:
















Muhammad Sirod
sirod@arus.co.id
Hp. 0811 995 3216

24 July 2017

Anton Apriyantono, Tiga Pilar Sejahtera dan Penggerebekan Beras Premium

Saya merasa perlu menjelaskan dan menulis artikel soal berita heboh di media sosial terkait penggerebakan PT. IBU (Indo Beras Unggul) oleh POLRI, KPPU dan KEMENTAN ini. 




Saya merasa perlu menjelaskan untuk memahami logika pemerintah terkait penggerebekan, juga ingin berbagi sedikit informasi yang saya fahami, mengingat sebagai alumni IPB saya cukup banyak berdiskusi soal pertanian dan pangan, juga sebagai sahabat dan "didikan" pak Anton Apriyantono, saya juga ingin menjelaskan kesimpangsiuran informasi yang beredar. 

Pak AA, demikian panggilan akrab kami adalah sosok kebanggaan dari kalangan aktivis Islam, aktivis Halal dan para pendaki gunung / pecinta alam. Beliau "bekas" dosen Teknologi Pangan IPB, satu jurusan yang sulit dimasuki oleh sembarang pelajar, karena rata-rata tingkat kecerdasan akademis di TPG (sekarang Ilmu Teknologi Pangan, atau ITP) tinggi sekali. Saya sendiri ambil program Teknologi Industri Pertanian yang satu fakultas dengan ITP tsb. 

Saya kenal dengan Pak AA bukan di aktivitas internal kampus, karena beliau gak pernah mendapatkan jabatan apapun di fakultas atau IPB. Beliau termasuk yang tidak populer sama sekali di kampus. Tetapi di kemasyarakatan, aktivitas beliau menjadi auditor Halal LPPOM MUI bersama beberapa dosen IPB cukup dikenal, begitu juga dalam komunitas halal-baik-enak@yahoogroups.com dulu, beliaulah motornya. Sampai-sampai saya yg dulu auditor halal di Indofood, menjadi sangat dekat dengan beliau karena kehati-hatian beliau dalam mengkonsumsi makanan. 

Beliau sangat sederhana, satu-satunya mobil yg dimiliki beliau saat itu hanyalah suzuki carry 1.0 yang digunakannya untuk beragam aktivitas. Kami pernah satu mobil dengan beliau untuk hadir dalam acara komunitas halal-baik-enak di Jakarta, berangkat dari Bogor. Tidak ada sopir yang mengantar, dan ketika beliau kelelahan beliau berhenti dulu, kaca mobil dibuka lebar-lebar lalu beliau tidur. Saat itu kami, anak2 yang di tingkat akhir IPB ini gak ada yang bisa nyetir, alhasil ya sudah beliau tidur kami diam saja di dalam mobil. Tak ada keluhan, tak ada umpatan dengan keadaan tsb, kesabaran yang luar biasa. 

SBY kemudian mengangkat Pak AA menjadi menteri pertanian dalam 5 tahun periode pertama beliau menjadi presiden 2004-2009. Saat itu prestasi gemilang Pak AA terkenal sekali, apalagi yg diblow-up oleh kalangan aktivis muslim adalah faktor kesederhanaan beliau. Beliau dari dulu gak punya televisi, punya beberapa lemari buku Olympic yang gampang reot itu yang isinya penuh dengan buku-buku pemikiran sampai buku-buku pangan. Tak heran beliau meluncurkan buku tentang pangan halal dan dijadikan rujukan industri pangan saat itu.  

Saat buka puasa bersama di rumah Pak Chairul Tanjung, Teuku Umar, kebetulan saya diundang oleh Bang Abdul Aziz (komisaris Bank Mega) untuk hadir. Saat itulah saya menyaksikan bagaimana Pak Joesof Kalla (JK) mempresentasikan bagaimana dulu beliau berhasil mengatasi kisruh pangan terutama daging sapi. Saat itu Pak SBY dan Pak Suswono hadir. Pak JK setelah memberikan pembuka, mempersilahkan pak AA untuk menyampaikan beberapa pesan. Benarlah dugaan saya, bahwa keberhasilan pertanian saat itu, termasuk swasembada beras itu karena andil supervisi Pak JK dan konsistensi pak AA. 

bersambung... (saya lanjut ngajar dulu di TAZKIA, salam dari sentul.. )

30 June 2017

MEMBANGUN SEMANGAT REVOLUSI MELALUI KESENIAN DAN KEBUDAYAAN

Pesantren Kreatif iHaqi 21 Februari 2017, Pelatihan Media Sosial untuk sebagai media dakwah (Republika online) 


Kang Sirod (blogger, entrepreneur, tukang di arus.co.id)
-disampaikan di WA Group Seni Sastra dan Budaya

#Activism #Revolt #Seni&Budaya

Ada 3 kata penting yang akan disampaikan dalam sharing online di jejaring media sosial whatsapp group ini: Revolusi, Kesenian dan Kebudayaan. Bukan topik yang ringan buat seorang ayah beranak 3, dengan 1 istri, tanpa prestasi apa-apa dalam kesenian dan kebudayaan.

Kalaupun ada prestasi seni, mungkin hanya juara lomba adzan di tingkat RT di sebuah kampung bernama Ngamprah Padalarang saat saya kelas 5 SD, atau jika itu satu pencapaian mungkin juara 3 puisi di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat saat usia 10 tahunan.

Tak layak juga disebut Revolusionist jika disandingkan pada pesohor sejarah yang merubah cara hidup dan nasib banyak orang karena karya-karyanya. Tetapi mungkin sebuah sistem terintegrasi pengolahan air di rumah sakit pertama di Indonesia, sebuah rumah sakit kanker & jantung milik swasta di Semanggi. Sistem ini sering dibangga-banggakan karena itulah pencapaian tertinggi bagi seorang praktisi air bersih seperti saya.  Sistem ini merupakan konsep baru yang merubah sistem air bersih di seluruh rumah sakit - rumah sakit di Indonesia.

MUSIK DIGITAL

Revolusi, Seni, Budaya, adalah tiga kata yang saya gandrungi sebagai seorang penikmat seni "rendahan". Saya bisa menikmati pop jazz seperti Joss Stone, tetapi kesulitan menikmati musik jazz sebenar-benarnya jazz.

Saya juga bisa menikmati musik indah nusantara seperti Kacapi Suling seperti ini: https://soundcloud.com/phiank/kacapi-suling-sunda-bangbara?in=muhammad-sirod-rasoma/sets/kacapi-suling

sampai alunan ritmik dari tanah batak seperti ini: https://soundcloud.com/riki-rotwoa-nababan-1/batak-instrument-indonesia-bii?in=muhammad-sirod-rasoma/sets/musik-nusantara

Sengaja saya nyalakan musik dari ranah minang seperti ini, agar mertuaku yang asli Pantai Painan dapat senang hatinya:



sungguh suatu kenikmatan menjadi awam ilmu musik, miskin budget dengan sedikit ketikkan kata kunci di Soundcloud saya menikmati alunan indah karya seni musikus jenius, tanpa harus repot-repot sebagaimana penikmat musik jaman dulu.

Sesekali boleh juga ketika menyetir, meracau mencurahan isi hati. Entah penyesalah entah motivasi, yang penting narsis tak mengapa, diniatkan untuk ibadah, walau karya itu dianggap sampah, ya pasrah saja..

misalnya:  Memahami komunikasi ala Soekarno: https://soundcloud.com/muhammad-sirod-rasoma/kemampuan-komunikasi-soekarno



Jika Soundcloud berisi cipta karya musikus yg merdeka, maka Joox merupakan gudang musik dari label-label berjaya di industri musik, bolehlah diunduh sebagai pelipur lara saat mengendara. Pilihan lirik di aplikasi lumayan lah pengganti bernyanyi di kamar mandi..

Fasilitas Lyrics Card pada Aplikasi Joox.



PUISI BLOG

Jika pilihan kata menunjukkan kasta, maka puisi adalah gubahan hati sanubari yang tak perlu dikritisi. Puisi saat ini bisa dinikmati dengan hanya mengetikkan beberapa kata kunci, ribuan sastrawan asli sampai gadungan bermunculan.

Tapi bolehlah jika seorang tukang seperti saya mengungkapkan rasa berupa untaian kata yang tak berirama karena saya bukan musikus ternama, ia hanya ungkapan keindahan dan kekaguman atau kebencian yang dipendam atau dibaca sebagai pengingat diri, seperti di sini: http://pujangga-tanggung.blogspot.co.id/2016/03/hidup.html

18 Agustus 2015 di perairan kepulauan seribu
Hidup...

Hidupku kawan, seperti seorang nelayan
pergi di keheningan malam, pulang dalam belaian terik mentari pagi..
tergopoh-gopoh ke pantai membawa sedikit ikan,
menawarkan dengan sisa tenaga di pelelangan,

hidup seperti ini kawan,
mengarungi samudera luas ciptaan sang Maha Kaya,
berjuang demi anak dan istri di rumah,
yang menanti rejeki baik dari kita.

indahnya berjuang itu kawan,
seperti nelayan yang perkasa,
siraman air garam pada tulang dan kulit legam hitam,
menjadi berkah ibadah,
menjadi bukti keikhlasan diri,

Kukusan, 21 Maret 2016



Sedikit sekali karya puisi saya itu. Pernah di kalbar dulu sewaktu SD saya menuliskan puisi dalam sebuah buku, mungkin sudah puluhan saya tulis, tapi ia lenyap dimakan rayap. Jika nanti saya bertemu Tuhan, saya ingin buku itu ia ciptakan kembali. Aamiin..


MEMBACA & MEMBUAT RESENSI BUKU

Membaca, satu kemewahan buat saya kini. Kenapa? karena waktu untuk membaca buku harus ditukar oleh kesibukan lain. Sibuk berdiskusi bertukar fikiran di media sosial. Alhamdulillah, ada penulis-penulis yang telaten menulis dan saya berteman dengan penyalintempel, puluhan whatsapp group saya ikuti, tulisan sama saya baca berulang hehehe..

Tak mengapa, masih tersisa sedikit waktu dulu, ada buku pop (lagi2 pop, karena ringan dan gak butuh kening berkerut), yang saya baca, hasil hadiah dari sebuah provider telekomunikasi. Buku itu ternyata salinan dari sebuah film Hollywood, tentang cerita seorang pencuri baik hati dari seramnya hutan sherwood: http://sirod.blogspot.co.id/2010/10/robin-longstride.html

Ulasan novel Robinhood yg merupakan adaptasi dari film Hollywwod - Russel Crowe

Saya ternyata bukan Indonesia, belum berani ngaku Pancasila juga 😀, karena ada 12,125% saya berdarah China. Bukan China di Glodok yang bicara Hokkian, atau China Medan & Batam yang fasih berbahasa Kanton, ini benar-benar China Daratan (mainland) yang kini disalahmengerti penduduk negeri.

Sila pergunakan geni.com untuk membuat silsilah atau pohon keturunan kita, siapa tahu kita benar-benar memang keturunan bangsawan, pahlawan atau orang-orang hebat untuk sekedar memberi harapan palsu di sekelebat pemikiran kita hahaha..


Jatidiri, begitu orang bilang. Adalah sejujur-jujurnya darah dan kultur yang diberikan Tuhan kepada kita. Tak perlu bangga berbangga karena semua manusia punya suku bangsa, bahasa dan budaya, tak perlu lupa karena ia bukan pilihan melainkan warisan, tak perlu mencaci, karena Tuhan mencipta berbeda untuk salingsapa, bukan dibuat jurang pemisah antara, menguak disparitas menjauhkan solidaritas.

Walau sunda campuran, yang katanya ada trah pangeran, bergelar raden dari seorang perempuan. Dialah Rd. Siti Hawa nenekku, membuat saya mencoba menggali apa kelebihan-kelebihan seorang sunda yang bangsawan. Maka dibacalah sebuah buku, karangan jepun ber-ilmu. Sila ketik kata kunci dalam mesin pencari: "kebudayaan sunda site:sirod.blogspot.com" maka inilah saduran dari buku yang saya baca:

Saduran hasil membaca buku karya Mikihiro Moriyama

Berkompromi dengan Kolonialisme demi kemajuan Budaya Sunda -
http://sirod.blogspot.co.id/2010/12/berkompromi-dengan-kolonialisme-demi.html

Beberapa alternatif media seni budaya tsb dapat diakses dengan mudah, murah meriah dan lumayan melupakan jenuh deru membosankan ibukota. Belum lagi saya bahas betapa banyak karsa dan karya warga indonesia bertemu berinteraksi sampai berbuah cinta seperti saya. Ya! saya menemukan istri dari sebuah kopi darat dari mailing list berbahas inggris.

Betapa revolusi budaya telah terjadi, siap gak siap kita berada di pusaran cepat-nya. Mari eksplorasi, sinergi dan organisasikan semuanya, demi manfaat besar bangsa ini. Bangsa yang ribuan tahun telah ada sebelum puluhan tahun berbentuk negara. Bangsa yang katanya dahulu kala terbentuk dari peradaban atlantis, menyemangati banyak orang untuk optimis.

tempa besi, kena bakar,
tempat buaya, ke penangkar,
tanpa seni jadi kasar,
tanpa budaya, jadi barbar

bersampan ke Kalimantan, malah menepi di Pelalawan
negeri batubara, dalam hutan hujan tropika.
aku bukan seniman apalagi sastrawan
hanya pengembara keindahan di bumi Nusantara


26 June 2017

TERPISAH PATI DARI AMPAS




"..I'm a dad, I'm a husband, I'm an activist, I'm a writer and I'm just a student of the world.." - Michael J. Fox

Pertemuan Tim 7 GNPF dengan Presiden Jokowi, Menkopolhukam Wiranto dan Sekretariat Kepresidenan 1 Syawal 1438 Hijriah atau 25 Juni 2017 kemarin ditanggapi beragam oleh aktivis nasionalis, aktivis Islam sampai aktivis seleb. Pro kontra wajar saja dikemukakan, karena pemerintah yang Jokowi pimpin selama ini dianggap repressif dan gagal menyejahterakan rakyat kecil.

Pasca Pilpres 2014 lalu memang dunia aktivis seakan kompak mengkritik, mengoreksi dan men-jewer rezim ini dengan beragam aksi simpatik, heroik sampai aksi-aski tak mendidik. Aktivis sejatinya memang akan terus hidup, bilamana ketidakadilan masih dirasakan banyak orang. Mereka seperti Michael J. Fox katakan, adalah orang-orang biasa, mereka bersuara karena kejujuran dalam nurani mereka masih bersuara. Bukan laksana ikat mati yang hanyut terbawa arus.

Hanya saja, ummat Islam dan kaum nasionalis konservatif musti faham bahwa tidak semua aktivis itu "merdeka" lalu "beradab", seperti ujaran kata-kata  berikut:

"..I am a technological activist. I have a political agenda. I am in favor of basic human rights: to free speech, to use any information and technology, to purchase and use recreational drugs, to enjoy and purchase so-called 'vices', to be free of intruders, and to privacy.." - Bram Cohen

Cohen menyebut dirinya aktivis sampai pada kebebasan individu, sangat sekuler liberal, persis pada kelompok yang ada di belakang Jokowi saat ini. Bibit-bibit sekuler liberal ini juga menghinggapi kelompok yang tadinya kompak jelang aksi mengagumkan dari GNPF MUI dari 411 sampai 212 tahun lalu itu. Beragam exponen bersahutan dari aktivis yang mengenal Tuhan sampai aktivis selebritis yang dipuja-puja di laman-laman social media.

Bob Marley berkata "..Life is one big road with lots of signs. So when you riding through the ruts, don't complicate your mind. Flee from hate, mischief and jealousy. Don't bury your thoughts, put your vision to reality. Wake Up and Live!.."

Munculnya kalimat nyinyir dari aktivis medsos yang seperti merasa PALING SUCI, PALING HEBAT dan PALING KUAT itu sebenarnya adalah pertanda kehidupan. Bahwa saringan kehidupan sedang berjalan. Jika sebelumnya Bangsa ini terpisah dari mana yang berteriak salam dua jari dan salam tauhid, maka saat ini bangsa ini kembali tersaring dari yang mana teguh pada komando ulama dan mana yang terombang-ambing ikuti arus popularisme dan syahwat disebut hebat.

Lambat laun Tuhan akan tunjukkan apa itu Al-Furqan - Pembeda, mana yang benar-benar berjuang, mana yang tujuannya mencari RUANG dan UANG. Mana yang benar-benar kenal dengan Habieb Rizieq, mana yg sok kenal sok dekat dengan beliau. Aktivis seleb ini mungkin lupa, bahwa kemenangan hanya akan didapat dari kelompok yang justru mentalitasnya tidak merasa terlalu senang ketika menang, dan tidak terlalu kecewa ketika didera duka.

Maka wahai para aktivis Seleb, aktivis salon dan yang isi rumahnya dihiasi perabotan hasil hadiah dari para ponggawa negeri atau pencuri, diamlah. Kalian bukan rujukan kami lagi, kalian ini gagal. Revolusi Indonesia bukan dimulai dari cafe ke cafe, Revolusi ini akan dilanjutkan dari teriakan takbir dan dzikir dari musholla Allah di seluruh penjuru negeri.


Sirod M. Rasoma
Koordinator Forum Alumni Peduli NKRI
Co. Founder Komunitas Merah Putih

24 June 2017

Diskursus soal Khilafah, Tanggapan tulisan Prof. Fahmi Amhar : Menantang Ide Khilafah (Bag 2)

Terkait tulisan MENANTANG IDE KHILAFAH Oleh: Prof. Fahmi Amhar, berikut tanggapan saya:

Tanggapan tulisan Prof. Fahmi Amhar : Menantang Ide Khilafah 

Sebenarnya yg bikin ummat Islam gak nyaman dengan ide Khilafah HTI itu karena HTI tidak mengikuti dasar ushul fiqh soal siyasi dalam Islam. Islam mengatur "urusan keduniaan" sebagai sesuatu yg asalnya boleh (mubah), sementara yg haram itu hanya perkara ibadah. Jadi dasar hukum itu awalnya hanya ada 2. 

Perkara yg mengatur ibadah itu awalnya haram KECUALI Ada ayat yg mengatur, kalau mengada2 disebut bid'ah. Sementara kalau perkara keduniaan berlaku boleh kecuali ada dalil yg melarang, sebagaimana dikarangnya riba atas jual beli, dikarangnya berzina atas pernikahan. 

Sementara HT mengajarkan "ajaran baru" yang disebut Khomsatul Ahkam: hukum yang lima. Entah ajaran siapa mengelompokkan dasar hukum menjadi 5 bagian sehingga kemasyarakatan, hukum dan Khilafah yg sifatnya diserahkan pada kita menjadi baku dan saklek. 

Aktivis HTI kebanyakan yg saya temui umumnya senang berfikir deduktif (dari teori dulu baru ke praktek), terserang kerinduan kejayaan masa lalu (sebagaimana sebagian besar komponen bangsa yg terpuruk selalu begitu) dan gagal memahami urut-urutan keislaman mulai dari "thoharoh" sampai "Tarbiyah jihadiyah", gak melaksanakan Islam dari "ibda bin nafsik" - "quu anfusikum wa ahlikum naaroo" sampai "barangsiapa terbangun di pagi hari tidak memikirkan ummatku,  maka dia bukan ummatku", bahkan banyak di antaranya gak kuat memahami teori sistem yg dikuatkan dengan sirah nabawiyah, padahal dari terbaginya Qur'an menjadi makkiyah dan madaniyah saja mustinya menjadi tanda buat orang-orang yang berfikir. 

Jadi kelemahan HTI sebenernya lebih banyak pada oknum2 yg kurang mumpuni pada HTI itu sendiri, secara konsep sebenarnya HT atau Khilafah adalah konsep yg bagus, sempurna dan layak kita pakai. Cuma cara memakainya, tahapan melaksanakannya gak difahami oleh kebanyakan oleh aktivis HTI.  

Kembali pada perjuangan dakwah yg diusung kawan-kawan NU, Muhammadyah, Persis, Al-Irsyad dan kawan-kawan Salafy sebenarnya inti perjuangan ummat saat ini lagi-lagi memang kembali ke pendidikan: "Tarbiyah & Tasyfiyah", karena kegelapgulitaan ummat berada dari sana. 

Saya mengajak komponen HTI untuk ngaji juga kepada bagian ummat lainnya, bukan malah menghakimi dan mengundang untuk diserang seperti yg dilakukan BKIM pada parpol ormas Islam di awal saya masuk IPB dulu, atau bahkan BKIM menolak untuk berkantor di Al-Hurriyah misalnya. Ini jelas ketololan harokah, gak punya adab ukhuwah sama sekali. 

Pada pergerakan 212, saya menemukan komponen HTI yang mau dikomando dan digerakkan oleh komponen ulama lain, buat saya pergerakan ini sudah menemukan frekuensi yang sama, jalinan ukhuwah yang baik serta komunikasi konstruktif yg proven. "Pertukaran" aktivis seperti keluarnya Abangda Gatot Al-Khathath A20 membangun jejaring Forum Ummat Islam juga merupakan "infaq" yang diberikan HTI pada ummat ini. Hasilnya sungguh efektif membangun kekuatan pergerakan Islam di Indonesia,  cikal bakal "Khalifatul fii Induunisia" semakin tampak jelas. 

Apa yang dibangun oleh adinda Felix Siauw A38 dengan komunikasi yang ringan dan berbobot khas kedalaman materi sejarah Islam dan sistem Islam juga menyajikan logika-logika dan argumentasi bernas ala intelektual Islam yang sudah dibangun ormas Islam. Cara Felix Siauw bukan ala anak-anak HTI yg cenderung ogah berdiskusi dan mengajak mad'u untuk datang ke halaqoh mereka dengan dijejali oleh pemikiran-pemikiran dan argumen - argumen yg sudah disiapkan. Felix Siauw menjadi corong ide-ide orisinal Islam dengan content berkualitas hasil riset dia karena kedisiplinan menggali keindahan Islam yang semakin mudah didapat di era digital ini. 

Jadi, selamat bergabung HTI. Anda bagian dari ummat ini. Ada satu tugas kalian, bantu kami di Pilkada serempak dan Pilpres 2019. Tutup rapat mulut kalian tentang haramnya demokrasi, atau kami biarkan kalian dihabisi oleh rezim ini dan merasa kalian kuat dalam shaft kalian sendiri.

Sirod M. Rasoma
Aktivis 98, founder Jundullah Cyber Army