17 October 2006

Pikiran Melakukan Semua

Otak kita memproses berbagai data dan informasi, baik secara sadar
maupun tak sadar. Dalam dinamika hidupnya, manusia mewujudnyatakan
olahan ingatan otak yang telah berproses sedemikian rupa sehingga
sesuai dengan kebutuhan. [Pembaruan/YC Kurniantoro]

ahukah Anda, di mana letak kekuatan utama manusia? Betul, pada
pikiran. Otak kita memproses berbagai data dan informasi, baik secara
sadar maupun tak sadar. Sadar ketika kita melakukan upaya pengumpulan
informasi, misalnya dengan membaca buku. Tak sadar ketika berbagai
informasi merembes ke dalam ruang pikiran yang terbuka dengan
mengakses sumber data tanpa batas yang terserak di area kehidupan
kita.

Penampungan data dan informasi di dalam ruang pikir manusia tidak
sekadar duduk diam, mengantuk dan tidur. Jika demikian tentu saja
kita tidak akan punya pikiran pikir (kognitif), pikiran rasa
(afektif), dan pikiran laku (psikomotor/behavior). No action, no
talk, no feel, nothing.

Dalam dinamika hidupnya, manusia mewujudnyatakan olahan ingatan otak
yang telah berproses sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
kebutuhan. Penerima rasa dipahami berada dalam hati. Sakit hati
mendorong kita menyentuh selubung hati dan jantung yakni di sekitar
dada. Kendati, kumpulan data dan ingatan tentang segala hal berkaitan
dengan stimulus sakit hati itu ada di pikiran, di otak yang ada di
dalam kepala kita. Tapi mana pernah orang mengatakan sakit hati
sambil menepuk-nepuk kepala?

Hasil Olah Pikir

Di jagad ini banyak sekali pilihan tersedia. Tinggal diambil saja
sesuai kebutuhan dan berdasarkan pertimbangan masing-masing orang.
Pertimbangan berproses di dalam otak. Mind can do everything, pikiran
melakukan semua. Baik pikiran yang terolah secara logis maupun
intuitif. Perlu diketahui, tak selamanya logika berperan baik dan
dapat dipertanggungjawabkan. Ingat lagu yang dinyanyikan Vina
Panduwinata beberapa masa lalu? Katanya, asmara... tak kenal dengan
logika. Pikiran memang tak hanya logika, ada yang namanya intuisi.
Kerja sama kedua faktor pikiran tersebut sering kali menghasilkan
peristiwa dan tindakan yang luar biasa, sampai-sampai kita pun sulit
mempercayainya.

Logika menekankan sistematika berpikir, intuisi mengarah pada
kepekaan bagaikan sedang istirahat berpikir, saat di pikiran tiba-
tiba berkelebat "A ha!" Seperti ketika Archimedes berteriak
girang, "Eureka... eureka..." Sering kali orang menyebutnya insting,
feeling, pertanda, firasat, sense, dan sebagainya. Salah atau benar
pilihan yang kita ambil tergantung pada proses pengambilan dan
konteks setelah pilihan itu dibuat. Artinya, setiap pilihan
mengandung risiko, baik positif maupun negatif, berat ataupun ringan.
Saat manusia menanggung risiko dari pilihan-pilihannya itulah wujud
tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal-budi ditampilkan.

Dalam psikologi perilaku (behaviorism) dikenal teori stimulus-
respons, perilaku seseorang merupakan tanggapan (respons) dari
rangsangan (stimulus) yang muncul. Jika ada stimulus, maka muncullah
respons.

Saat seseorang hendak merespons sebuah stimulus, terjadi proses olah
pikir yang mula-mula membuka pintu kehendak bebas manusia. Pilihlah
ini, maka risikonya begini, dan seterusnya. Faktor ingatan yang
tersimpan, baik di alam sadar (consciousness) maupun alam bawah sadar
(unconsciousness) manusia berupa partikel-partikel materi dan
nonmateri.

Partikel tersebut merupakan benda-benda keras (hard), yakni segala
materi yang tampak (visible) besar- kecil, dan lunak (soft) yang
meliputi perasaan, aktivitas dan perilaku. Tersusun atas tumpukan
peristiwa dari berlapis-lapis episode, pengalaman, pengamatan dan
kepekaan. Pikiran manusia dan kekuatannya menguasai segenap partikel
di sekelilingnya.

Membalas cacian dengan ribuan caci, pukulan dengan pukul-pukulan,
merupakan pilihan perilaku yang reaktif. Proses olah pikir hampir tak
memiliki ruang dan waktu di situ. Maka muncullah bentrok antarwarga,
etnis, suku, agama, dan sebagainya. Kekerasan di mana-mana, manusia
seperti kehilangan makna kemanusiaannya sendiri. Sebuah pernyataan
merupakan stimulus yang dapat memicu pertentangan apabila kurang
berkenan bagi kalangan tertentu.

Sayangnya sering kali pihak yang kurang berkenan langsung berespons
tanpa memberi jeda bagi diri sendiri untuk berpikir lebih dalam.
Respons tersebut bersifat reaktif yang mengemuka akibat dorongan
impulsif. Berbagai kepentingan diri membuat orang cenderung impulsif
dan agresif.

Padahal pilihan begitu banyak, ingatan dan kepekaan begitu dalam,
tapi manusia cenderung menggunakan pikiran sekenanya. Padahal,
pikiran punya kekuatan dahsyat men-dorong munculnya perilaku.

Kecurigaan yang membabi-buta atas ucapan-ucapan seseorang, telah
menutup sebagian pintu simpanan ingatan positif di otak. Stimulus
yang memperkuat kecurigaan hanya berisi curiga, tidak terima,
tolak, "dia benci saya, maka saya harus segera me- lawannya", dan
seterusnya. Apa yang orang pikirkan, lebih-lebih jika sudah masuk
dalam level obsesif, pikiran itulah yang akan terjadi. Buktikan saja.

Kendalikan Diri

Salah satu target ketika bulan suci Ramadan tiba adalah mempertebal
pengendalian diri. Mengendalikan diri tidak makan-minum setelah imsak
hingga saat berbuka puasa, mengendalikan kemarahan, dan sebagainya.

Sesungguhnya setiap orang wajib melakukan pengendalian diri (self-
controlling) dalam berbagai kesempatan, waktu dan tempat.
Mengendalikan diri berarti melakukan apa yang benar. Tujuannya antara
lain, mengendalikan emosi, menjaga keseimbangan pikiran (pikir, rasa
dan laku), membuang cara-cara yang kurang tepat dalam interaksi
sosial dan memilih perilaku positif.

Kekuatan pikiran luar biasa penting dalam mengendalikan diri. Untuk
mengakomodasi dua kunci utama pengendalian diri, yakni mengenali diri
sendiri (know ourself) dan memilih cara yang baik (choose ourself),
diperlukan pemusatan pikiran. Proses dari kedua kunci utama itu
mencakup kepekaan, pemahaman, menelaah konsekuensi, mengevaluasi,
memotivasi diri, dan melakukan pilihan yang paling baik. Dapat
disimpulkan bahwa seluruh proses melibatkan logika dan intuisi.

Albert Ellis, salah satu pakar terapi perilaku mengembangkan metode
pengendalian diri yang cukup efektif. Teorinya disederhanakan
sedemikian rupa sehingga mudah diimplementasi setiap orang. Ada empat
tahap yang perlu dilakukan seseorang ketika ia berada dalam konflik
yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dan pengendalian diri.

Pertama, pikirkan konsekuensi ketika kita memilih untuk melakukan
suatu tindakan. Katakanlah marah dan menyakiti seseorang di hadapan
kita yang telah menciptakan situasi buruk bagi kita. Bayangkan
situasi yang akan terjadi jika hal itu benar- benar kita lakukan.

Kedua, lakukan percakapan batin yang sering dikenal dengan self-talk.
Proses ini adalah upaya kita memahami apa yang tengah terjadi di
dalam pikiran kita. Mengapa kita sampai memiliki pikiran berkaitan
dengan situasi dalam hubungan kita dengan seseorang itu.

Ketiga, sentuhlah sensitivitas kita, yakni berdebat dengan diri
sendiri. Tanyakan mengapa kita harus melakukan tindakan itu, apakah
orang tersebut benar-benar salah? Debatlah keyakinan yang merusak,
yang menimbulkan prasangka buruk.

Keempat, saksikan efek dari tiga langkah sebelumnya, apakah yang
terjadi? Keajaiban dari olah pikir kita akan nyata pada akhir proses
ini.

Pikiran mengendalikan diri kita berarti pikiran melakukan hampir
semua hal bagi kita. Itulah sebabnya ungkapan think positive tidak
pernah pupus termakan zaman. Setiap saat orang masih sering
mendengungkannya, terutama pada saat-saat sulit.

Pikiran para ibu rumah tangga hampir tak disadari ternyata
berkekuatan besar membuat nasi lekas basi. Silakan lakukan percobaan
ini. Sediakan berdampingan dua piring nasi yang baru matang dan
dimasak dalam panci yang sama.

Pikirkan dan katakan di hadapannya bahwa nasi di piring sebelah kiri
tidak enak, tidak putih, bau, pahit dan menjijikkan. Sebaliknya
pikirkan nasi di piring kanan sangat pulen, harum, putih dan nikmat.
Nasi di piring mana yang lebih cepat berjamur dan membusuk?

Sumber: Pikiran Melakukan Semua oleh Rinny Soegiyoharto, Psikolog,
Anggota HIMPSI JAYA,Bekerja di BPK PENABUR JAKARTA

No comments:

Post a Comment