31 March 2007

Kriteria Kebahagiaan Dunia

Ustadz mohon dijelaskan apa yang dimaksud dengan do'a: Rabbanaa aatinaa
fiddunyaa hasanah wa fil aahkirati hasabah wa qnaa 'adzaabannar. Ya Tuhan,
berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah
kami dari adzab neraka.
Soni @ email


Jawab :
Anas bin Malik r.a. menerangkan, Rasulullah saw. senantiasa membiasakan
diri membaca do'a: "Rabbanaa aatina fiddunya hasanah wa fil aakhirati
hasanah wa qinaa 'adzaabannar." (H.R. Bukhari). Alangkah indahnya apabila
kita pun membiasakan diri membaca do'a ini. Orang setingkat nabi Muhammad
saw. saja rajin membacanya, mengapa kita tidak?

Pertanyaannya, apakah yang dimaksud kebahagiaan dunia itu?
Atau dengan kata lain, apakah indikator kebahagiaan dunia itu? Paling
tidak, ada tujuh tanda kebahagiaan dunia, yaitu:

1. Hati Yang Selalu Syukur
Apabila kita selalu mensyukuri apa yang Allah swt. berikan, konsekuensinya
kita akan selalu menerima dengan lapang dada ujian apa pun yang menimpa
diri kita, sepahit dan sehebat apapun ujian tersebut. Oleh sebab itu, hati
yang syukur menjadi kriteria kabahagiaan dunia, karena dengannya kita akan
selalu syukur kalau ditimpa kebaikan dan akan sabar kalau ditimpa
kesulitan. Bukankah sikap seperti ini yang akan membuat kita bahagia?

Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya
baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila
mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka itu lebih baik baginya, dan
apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu lebih baik baginya."
(H.R.Muslim)

2. Jodoh yang Shaleh
Sungguh bahagia kalau kita punya jodoh yang shaleh, yang bisa menjadi
penyejuk saat kita lelah menghadapi tantangan-tantangan hidup, menjadi
penggembira saat kita sedih, dan menjadi pelindung saat kita menghadapi
kesulitan. Jadi, mempunyai jodoh yang shaleh bisa dipastikan menjadi
dambaan setiap orang. Namun, kenyataannya tak semudah yang kita harapkan,
sebab Allah swt. telah menjadikan suami ataupun isteri menjadi batu ujian
dalam kehidupan ini.

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan
anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap
mereka, dan jika kamu maafkan dan berlapang dada dan kamu menutupi
kesalahannya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Q.S. At-Taghabun 64: 14)

Jadi, walaupun jodoh yang shaleh itu menjadi dambaan kita, namun belum
tentu kita mendapatkannya walau sudah berusaha sekuat tenaga. Bisa jadi, di
antara kita ada yang diuji oleh isteri yang tidak shaleh seperti halnya
nabi Nuh dan Luth a.s., atau diuji oleh suami yang tidak shaleh seperti
halnya Asiah yang bersuamikan Fir'aun. Allah swt. menjelaskan hal ini dalam
ayat berikut,

"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang
kafir. Keduanya di bawah pengawasan dua hamba yang shaleh di antara
hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat (tidak mematuhi)
suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat meolong kedua isterinya
sedikit pun dari siksa Allah dan dikatakan: Masuklah kamu berdua ke neraka
bersama orang-orang yang memasukinya." "Dan Allah membuat isteri Fir'aun
perumpamaan terhadap orang-orang yang beriman, ketika dia berkata: Hai
Tuhanku, dirikanlah bagiku di sisi-Mu satu rumah di surga, dan
selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari
kaum yang zalim." (Q.S. At-Tahrim 66: 10-11)
Oleh sebab itu, kita harus berusaha dan berdo'a agar diberi jodoh yang
shaleh sehingga bisa meraih kebahagiaan dunia.

3. Anak yang Shaleh
Di antara indikator kebahagiaan dan kesuksesan dunia adalah kita memiliki
putera-puteri yang shaleh, yang bisa menjadi penyejuk hati orang tuanya.
Anak merupakan titipan Allah swt. yang harus dirawat, dididik dengan serius
dan penuh tanggung jawab. Allah swt. mengingatkan agar kita bisa melahirkan
generasi yang memiliki kekuatan materi, intelektual, dan spiritual. Kita
mesti merasa takut kalau kita meninggalkan genarasi yang lemah, baik lemah
secara material, intelektual, ataupun spiritual.

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan
anak-anak yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap
kesejahteraan mereka, maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (Q.S. An-Nisa 4: 9)

Selain sebagai titipan, anak pun merupakan batu ujian bagi kehidupan kita.
"Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu adalah cobaan. Dan di
sisi Allahlah pahala yang besar." (Q.S. At-Taghabun 64:15).

Kalau kita sudah bersungguh-sungguh mendidiknya, namun ternyata anak
tersebut tidak menjadi shaleh sesuai harapan kita, berarti kita sedang
diuji Allah swt. dengan anak, seperti halnya Nabi Nuh a.s. yang telah
bekerja keras mendidik anaknya yang bernama Kan'an, namun anaknya malah
memusuhi ayahnya dan menentang ajaran-ajaran yang disampaikan ayahnya. Oleh
sebab itu, bersyukurlah kalau kita memiliki anak yang shaleh, karena anak
yang shaleh merupakan tanda kebahagiaan dunia.

4. Lingkungan Pergaulan yang Shaleh
Manusia adalah makhluk sosial, artinya dia tidak bisa hidup sendirian tanpa
teman. Persahabatan atau pertemanan akan banyak mempengaruhi cara berpikir,
bersikap, dan berbuat, sehingga ada keterangan yang menyebutkan Al
Mushahabatu tasriqu Thabii'ah, artinya persahabatan itu suka mencuri
tabiat. Maksudnya, dalam berinteraksi dengan teman sangat mungkin ada
perilaku atau cara berpikir mereka yang diadopsi oleh kita, dan bisa juga
sebaliknya.Syukur-syukur kalau kita selalu mengadopsi cara berpikir dan
berbuat orang lain yang positif. Yang dikhawatirkan, kalau yang kita adopsi
dari mereka justru hal-hal negatif.

Begitu pentingnya peranan sahabat atau lingkungan, sampai-sampai nabi
Ibrahim a.s. pernah berdo'a, "Rabbi hablii hukman wa alhiqnii
bishshalihin," artinya: Ya Tuhanku, beri aku ilmu dan masukkan aku ke dalam
lingkungan orang-orang shaleh. (Q.S. Asy-syu'ara 26: 83).

Tentu saja do'a ini bisa kita baca juga untuk meminta kepada Allah agar
diberi teman atau lingkungan pergaulan yang baik. Beruntunglah kalau kita
memiliki lingkungan pergaulan yang baik karena itu merupakan indikator
kebaikan dunia.

5. Harta yang Halal
Manusia tidak bisa lepas dari kehidupan yang bersifat material, karena
Allah swt. telah menetapkan fitrah kepada manusia untuk mencintai harta,
sebagaimana firman-Nya:"Dijadikan indah bagi manusia macam-macam yang
dinginkannya, di antarnya wanita-wanita, anak-anak, harta yang melimpah
berupa emas, perak, kuda (kendaraan) yang bagus, binatang ternak, dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan pada sisi Allah ada
sebaik-baik tempat kembali (surga)." (Q.S. Ali Imran 3: 14)

Yang menjadi persoalan adalah cara mendapatkannya. Tidak sedikit orang yang
menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta dengan asumsi bahwa harta
yang banyak akan menjamin kebahagiaan dunia. Padahal, kebahagiaan
sesungguhnya bukan diukur dari berapa banyaknya harta yang kita punya tapi
seberapa halal kita mendapatkannya.

Sesungguhnya, maraknya korupsi dan manipulasi dipacu oleh asumsi bahwa
kesuksesan dunia diukur dari banyaknya harta dan bukan dari aspek
kehalalannya. Selama sebagian bangsa kita masih memikili asumsi seperti
ini, maka praktik korupsi, kolusi, dan manipulasi lainnya akan tetap marak.
Jadi, untuk menghapus praktik-praktik haram itu, paradigma berpikir tentang
harta mesti diubah, bahwa kemuliaan
seseorang bukan diukur dari banyaknya harta tapi ditentukan oleh seberapa
halal cara mendapatkannya. Jadi, kriteria kebahagiaan dunia adalah harta
yang halal bukan harta yang banyak, syukur-syukur harta kita itu halal dan
banyak.

6. Ilmu yang Bermanfaat
Allah memberikan pada manusia sejumlah perangkat untuk mendapatkan ilmu, di
antaranya pendengaran, penglihatan, dan akal, sebagaimana firman-Nya:
"Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, serta hati agar
kamu bersyukur." (Q.S. An-Nahl 16: 78).

Yang dimaksud agar kamu bersyukur adalah agar kita menggunakan mata,
telinga, dan akal untuk mendapatkan ilmu.

Ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia menjadi lebih unggul
dibandingkan makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Hal
ini terungkap dalam kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan dalam
Q.S. Al-Baqarah ayat 31-32, yaitu ketika Allah menunjukkan kemampuan Nabi
Adam a.s. dalam memahami fenomena alam dihadapan para malaikat.
Oleh sebab itu, apabila kita memiliki ilmu --apapun jenis ilmu tersebut,
apakah ilmu kauniyyah (ilmu tentang alam semesta dengan segala fenomenanya)
ataupun ilmu diniyyah (ilmu yang berkaitan dengan keagamaan)--, selama ilmu
itu bermanfaat bagi kehidupan, berarti kita telah mendapatkan kebaikan
dunia. Rasulullah saw. dalam suatu riwayat yang shahih menyebutkan bahwa
ada tiga amalan yang akan terus mengalir pahalanya walaupun kita sudah
wafat, yaitu, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendo'akan
orang tuannya, dan shadaqah jariah. Oleh sebab itu, sungguh beruntung kalau
ilmu yang kita miliki bermanfaat untuk kehidupan sehingga bisa menjadi
amalan yang mengalir
pahalanya walaupun kita sudah meninggal.

7. Umur yang Barakah
Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang terikat waktu. Sifat waktu itu
dinamis, berjalan terus. Keadaan manusia pun berubah sesuai dengan
perjalanan waktu. Contoh sederhana, bulan lalu kita masih mahasiswa,
sekarang sudah bergelar sarjana atau bisa juga malah drop out. Tahun lalu
bergelar ayah, sekarang menjadi kakek. Jadi, sadar atau tidak, perjalanan
waktu akan mengubah kita.

Persoalannya, ke arah mana perubahan itu terjadi? Ada tiga kemungkinan.
Siapa yang kualitas amal shaleh hari ini sama dengan kemarin, itulah orang
yang tertipu oleh waktu. Siapa yang kualitas hari ini lebih buruk
dibandingkan dengan hari kemarin, itulah orang yang terpuruk. Dan siapa
yang kondisi hari ini lebih baik dari hari kemarin, itulah orang yang
mendapat rahmat.

Ciri orang yang mendapat kebahagiaan dunia adalah orang yang selalu
berusaha agar hari ini lebih baik dari kemarin. Selalu berusaha mengisi
umurnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Itulah yang disebut umur yang
barakah. Makin bertambah umurnya, makin meningkat pula amaliah shalehnya.
Sehingga ketika Allah swt. memanggilnya, ia berada di klimaks keshalehan.

Mencermati analisis di atas, bisa disimpulkan, ketika kita memohon "Ya
Allah berikan kepada kami kabahagiaan dunia," berarti kita meminta minimal
tujuh kebaikan, yaitu hati yang syukur, jodoh yang shaleh, anak yang jadi
penyejuk hati, lingkungan pergaulan yang baik, harta yang halal, ilmu yang
bermanfaat, serta umur yang barakah.

Lalu, apa yang dimaksud, "Ya Allah, berikan kepada kami kebahagiaan akhirat
dan jauhkan kami dari adzab neraka?" Kebahagiaan akhirat adalah Ridha Allah
dan surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan sebagaimana dijelaskan dalam
surat Al Maidah ayat 119,
" . . . Bagi mereka surga yang penuh kenikmatan; mereka kekal di dalamnya,
Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap Allah. Itulah
keberuntungan yang sangat besar."
Semoga Allah swt. memasukkan kita dalam surga yang penuh kenikmatan. Amiin.
Wallahu A'lam

  Sumber : www.percikan-iman.com


--
[Kang Sirod]
...lagi jualan ke pasar, iseng-iseng maen internet boleh dong :)...

No comments:

Post a Comment