31 October 2006

Artikel Management > Jangan Membenarkan Kebiasaan (Larangan Mengirim Parcel)

Imbauan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar pejabat berhenti
menerima parsel terkait jabatan dan tugasnya menuai kontroversi.
Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Parsel
Indonesia (APPI) protes dan lalu mengeluhkan imbauan KPK itu kepada
DPR.

Katanya imbauan yang jelas-jelas menyebut paket bingkisan yang
biasanya berisi makanan--dan kemudian berkembang diisi peralatan
kristal dan bahkan kunci mobil itu-- telah mematikan banyak pengusaha
parsel. Sejak imbauan itu dilakukan dua tahun ini, kata ketua APPI,
separuh dari 400-an anggota APPI sudah gulung tikar.

"Padahal rata-rata anggota APPI masing-masing mempekerjakan 50-an
orang sehingga imbauan itu telah mematikan mata pencaharian sekitar
10.000 pekerja. Selain itu, omzet pengusaha parsel anggota kami rata-
rata turun 50%," kata sang ketua yang putri seorang menteri yang
masih aktif.

KPK pun dengan penuh keyakinan memberi tanggapan. Bahwa sebutan
gamblang tak boleh menerima parsel semata-mata karena tak ada istilah
lain untuk menyebut bingkisan yang dikirim dalam masa-masa puasa dan
Idul Fitri. Bahwa prinsipnya KPK ingin menegakkan aturan: pejabat
dilarang menerima apapun terkait tugas dan jabatannya.

"Kami mau bilang kepada 20.000-an pejabat dari 3,7 juta pegawai
negeri di republik ini: sudahlah akhiri terima-terima hadiah semacam
itu," ujar salah satu direktur KPK seraya menambahkan bahwa imbauan
ini bukan upaya pengalihan perhatian atas masih banyaknya koruptor
yang melenggang dengan bebas.

Sejumlah kejanggalan
Tanggapan para pengusaha parsel ini dari satu sisi menunjukkan betapa
upaya mengubah satu kebiasaan tak semudah membalik telapak tangan.
Bagaimana upaya penerapan aturan yang sesungguhnya sudah sangat jelas-
larangan bagi pejabat untuk menerima hadiah-yang sesungguhnya hanya
merupakan pengulangan itu tidak mudah.

Betapa larangan yang tujuannya sungguh sangat baik demi tercapainya
keadaban pribadi maupun sosial yang lebih tinggi itu justru
disalahpahami kalau tak mau disebut mendapat perlawanan. Siapa lagi
kalau bukan dari pengusaha yang selama ini telah menikmati manfaat
dari pasar yang bisa dikatakan captive yaitu rekanan orangtuanya.

Namun hal itu sekaligus menjadi sangat ironis karena ekspresi
kesalahpahaman itu malah menunjukkan bahwa industri parsel, kalau
boleh dibilang industri, selama ini memang ditopang budaya nyogok.
Betapa parsel yang dikirim ke pejabat yang proporsinya, kata ketua
APPI, hanya 30% itu sungguh jadi pendorong dan penunjang utama
industri ini.

Yang tak kalah janggal yang protes bukan pejabatnya yang mendapat
larangan. Seperti karambol atau biliar, larangan menerima parsel itu
justru menyentil 'pihak lain'. Yang dilarang diam-diam saja mungkin
mulai merasa bersalah dan telah berlaku kurang etis dengan kebiasaan
tak bisa menolak rezeki. "Rezeki kok ditolak," dalih mereka dulu.

Tegasnya larangan itu sudah pada jalur yang benar karena yang dikenai
larangan sudah disumpah saat diangkat untuk tidak menerima apapun,
tentunya termasuk parsel, terkait jabatan dan tugasnya. Imbauan KPK
hanya sekadar rambu tambahan karena seperti biasa ada asumsi aturan
dibuat untuk dilanggar. Apalagi kalau tak ada yang mengawasi
pelaksanaannya.

Membiasakan yang benar
Jelas salah-kaprah dalam memberi dan menerima parsel ini tak bisa
terus dibiarkan. Apalagi kalau bukan mengingat aliran hadiah itu
selama ini memang tidak rasional. Bukannya pejabat lebih tinggi yang
lebih mampu yang memberi, tapi justru mereka yang kurang membutuhkan
inilah yang kebanjiran parsel setiap lebaran dan tahun baru.

Padahal kalau mau benar-benar beramal, tak ada maksud yang lain,
mengapa pemberi parsel tidak menyalurkannya ke para pihak yang kurang
mampu yang ada di lingkungannya. Juga para korban yang sekarang
banyak itu--dari yang kena gempa, kebakaran sampai yang rumahnya
terendam lumpur panas.

Penentangan itu sedikit banyak menunjukkan pola pikir: biarkan saja
ada korupsi asal tetap kebagian. Ada kesan tak peduli
disangkutpautkan bahkan membela tindakan tak terpuji tersebut dengan
dalih bila pembatasan dilakukan akan mempersempit lapangan kerja.

Apalagi sebutan yang tepat kalau bukan sekadar membela kepentingan
kelompok sendiri dengan menutup mata bahwa selama ini korupsi--yang
difasilitasi parsel-memarsel itu--kalau dihitung merugikan berapa
ratus ribu, atau bahkan juta warga yang dilanggar haknya. Satu
konsekuensi yang nyaris jadi hukum dalam bisnis.

Jadi sungguh suatu sikap yang susah dimengerti dari para pengusaha
parsel apabila keniscayaan menuju transparansi dalam segala proses
tersebut terus dilawan. Hal ini mengingat hakikat pengusaha sejati
adalah survival dan cepat beradaptasi. Selain juga ada pengingat:
jangan membenarkan kebiasaan, tapi membiasakan yang benar.[]

Sumber: Jangan Membenarkan Kebiasaan oleh Rab A. Broto. Rab A. Broto
adalah penulis buku "Psikologi Duit" (Bornrich, 2006)
yang sejak lama menekuni ihwal pelatihan peningkatan motivasi
berprestasi.

30 October 2006

Artikel Management, Marketing >> Seharusnya selesai Kemarin

Tiga minggu yang lalu, Yuli bertemu dengan Pak Samsul. Beliau adalah
atasannya pada waktu Yuli masih bekerja di perusahaan sebelumnya.
Sebenarnya Yuli sudah pindah dari perusahaan tersebut sekitar empat
tahun lalu. Cukup lama sih. Tapi, dalam pertemuan tadi, mereka berdua
sama-sama gembira dan antusias. Masing-masing ingin menanyakan
perkembangan yang terjadi sejak Yuli keluar.

Akhirnya mereka menyempatkan diri untuk minum kopi bersama, sekedar
saling bertukar informasi. Pak Samsul gembira karena Yuli sekarang
sudah bisa disebut sukses dengan jabatan sebagai manajer pemasaran.
Dulu Yuli masih sebagai staf pemasaran. Sebaliknya, Yuli juga senang
karena Pak Samsul yang dulu marketing manager, kini menjabat sebagai
presiden direktur.

Pertemuan tersebut tidak lama, tapi cukup untuk saling bercerita,
bertukar kartu nama dan nomor handphone agar bisa tetap saling
berhubungan. Yuli sangat senang. Pak Samsul masih tetap sangat baik
dan sangat tenang. Kebaikan beliaulah yang dulu memotivasi Yuli untuk
terus belajar dan meningkatkan dirinya. Pak Samsul tidak pernah kasar
atau marah-marah penuh emosi, tapi selalu mengajak Yuli berbicara
empat mata dan memberikan teguran, nasehat atau petunjuk apabila Yuli
melakukan kesalahan.

Meskipun sebelum itu Yuli pernah bekerja di tempat lain, tapi
kebanyakan hanya sebentar. Sehingga praktis, bisa dikatakan, Pak
Samsul adalah atasannya yang pertama. Karena itu banyak tingkah laku
Yuli yang terinspirasi oleh sikap beliau. Pak Samsul tidak pernah mau
berhenti bekerja sebelum berhasil. Yuli kini juga begitu.

Yuli ingat satu hal yang pernah dikatakan oleh Pak Samsul dulu, yang
hingga kini masih hidup dalam hatinya dan memberikan banyak inspirasi
dan motivasi baginya. Suatu kali Yuli diminta membuat sebuah rencana
pemasaran. Saat itu Yuli dengan polos langsung bertanya:"Kapan harus
selesai pak?" Yuli ingin tahu kapan harus selesai karena dengan
demikian dia bisa mengatur waktunya. Tapi Yuli kaget mendengar
jawaban yang diberikan oleh Pak Samsul. Dengan serius tapi ramah,
beliau menjawab: "Kemarin".

"Hah??? Kemarin???, Kan bapak baru menyuruh saya mengerjakannya
sekarang?" kata Yuli tidak mengerti.

Kemudian Pak Samsul berkata:"Demikianlah dalam pemasaran. Semua
tindakan dalam marketing yang akan dilakukan hari ini, seharusnya
sudah selesai kemarin. Jadi apapun yang kita lakukan, selalu sudah
terlambat. Jadi, jangan tanya kapan harus selesai. Karena jawabannya
adalah, seharusnya sudah selesai kemarin."

Yuli menangkap maksud pak Samsul. Sejak itu dia tidak pernah bertanya
kapan harus menyelesaikan suatu tugas. Semua tugas selalu diusahakan
selesai secepatnya karena semua tugas selalu sudah terlambat.
Motivasi dan semangatnya dalam bekerja meningkat sangat tinggi.
Segala sesuatu harus selesai secepat mungkin. Sungguh pelajaran yang
sangat berharga baginya.

Setelah pertemuan dengan Pak Samsul, Yuli terinspirasi untuk langsung
mencoba menerapkan ilmu 'kemarin' tersebut ke semua timnya. Seluruh
product manager dan karyawan bagian marketing lainnya dikumpulkan dan
dia membagikan tentang ilmu'kemarin' tersebut. Semua orang bisa
merasakan semangat yang meningkat. Mereka harus lebih cepat dan lebih
optimal bekerja. Strategi Pemasaran harus selesai secepatnya karena
sekarang sudah terlambat. Seharusnya selesai kemarin! Sejak itu, wow,
semua orang langsung bekerja.

Tadi pagi atasannya, memujinya karena kecepatan kerjanya beserta tim
dalam mempersiapkan strategi pemasaran untuk 2007. Semua strategi
sudah selesai. Semua anak buahnya sanggup bekerja siang malam untuk
menyelesaikannya. Sejak Yuli menerapkan ilmu 'kemarin' ajaran pak
Samsul, ternyata mereka mampu bekerja lebih sungguh-sungguh dan lebih
cepat. Tiga minggu sebelum batas waktu yang ditentukan tiba, semua
sudah siap dengan kualitas terbaik. Sungguh prestasi yang gemilang.

Dalam meeting untuk presentasi di hadapan para direksi, semua orang
menunjukkan kematangan persiapan, analisa dan kreatifitas yang
menakjubkan. Mereka telah mengantisipasi perubahan konsumen atau
pasar, strategi pesaing, perkembangan pasar, perkembangan finansial
dan ekonomi, dan sebagainya. Lengkap sekali. Benar-benar mengagumkan.
Direksi memberikan pujian dan semua orang senang. Semua siap
menyambut tahun depan dengan strategi pemasaran yang gemilang.

Yuli puas. Dalam hatinya dia berterima kasih kepada Pak Samsul yang
dulu pernah mengajarkan ilmu itu. Sungguh berguna. Yuli semakin
terinspirasi. Bagaimana kalau dia menerapkan ilmu 'kemarin' untuk
semua masalah pribadinya juga? Misalnya, rencana untuk merapikan
rumah. Sekarang sudah tidak bisa ditundanya lagi karena seharusnya
telah selesai 'kemarin'.

Dia ingin mengucapkan terima kasih kepada office girl yang sering
membelikan makanan selama semua orang bekerja siang malam tanpa
henti. Tak terasa ucapan itu tertunda karena kesibukan. Langsung
dicarinya office girl tersebut dan dia segera menyampaikan ucapan
terima kasihnya. Segala sesuatu dilakukan cepat karena seharusnya
sudah selesai'kemarin'. Do what you can do today! Do not wait until
tomorrow!

Sumber: Kemarin oleh Lisa Nuryanti, Director Expands Consulting &
Training Specialist

Idul fitri berlainan hari >> Re: Shalat Ied 1 Syawal 1427 H

Sebelumnya mohon maaf bagi yang bukan muslim bila posting ini tidak berhubungan dengan ke-TIN-an..

idulfitri kemarin bikin dag-dig dug aja, soalnya lagi-lagi terjadi perbedaan waktu idulfitri, selepas baca eramuslim yg isinya ttg pendapat dari alazhar university yg menandakan idulfitri jatuh pada hari selasa, padahal muhammadyah menetapkan idulfitri jatuh pada hari senin, demikian juga Hizbut tahrir.

pasalnya 2 organisasi tersebut walaupun sama2 menetapkan hari senin, saya melihat ada perbedaan cara pandang, muhammadyah memang berasaskan hisab (perhitungan) sementara hizbut tahrir berpandangan rukyat global = 1 dunia 1 hilal (dianggap 1 wilayah saja), walaupun keduanya memiliki dasar yg kuat, saya tetap cenderung ke pendapat melihat hilal langsung dari daerah parsial seperti yg dilakukan NU & Persis..

hari senin, tiba2 ibu saya menyatakan berbuka, begitu juga ipar saya yg mendapat info bahwa NU Jatim telah berbuka pada hari itu.. antara bingung mau buka atau melanjutkan puasa, lalu saya berfikir bahwa saya pegang ulama NU & Persis dan menyerahkan tanggung jawab ini pada pemerintah sajalah (walaupun sudah sering kecewa dengan Depag), karena info munculnya hilal datang pada jam 10.30 malam (selepas maghrib) setelah pengumuman dari pemerintah, saya pernah mendapat keterangan bahwa jika ada satu orang saja melihat hilal, maka seluruh ummat islam dalam wilayah tersebut wajib berbuka.. jadi tambah binun deh..

di purwakarta, khatib dari Persis menerangkan bla..bla..bla.. kenapa berbuka pada hari ini (selasa), beliau menjelaskan bahwa menggenapkan shaum ramadhan menjadi 30 hari karena Kondisi *"Adamu Imkanir Rukyat"*. Hilal sudah wujud di sebagian wilayah Indonesia dengan kondisi tidak mungkin bisa dirukyat. (artikel terlampir).



----------
*Persis: Iedul Fithri hari Selasa*

Sehubungan dengan akan terjadinya perbedaan 'Iedul Fithri 1427 H, maka
Pimpinan Pusat Persatuan Islam melalui surat Edaran Nomor: 0468/JJ-C.3/PP/2006
tertanggal 25 Rajab 1427 H/19 Agustus 2006 berdasarkan perhitungan Deewan Hisab dan Rukyat, Persatuan Islam menetapkan 'Iedul Fithri 1427 H jatuh pada hari Selasa, *24 Oktober 2006 M*, dengan alasan ijtimak akhir Ramadlan terjadi pada hari Ahad pukul 12.14 WIB;
>tinggi hilal waktu maghrib di Pelabuhan Ratu 00 24' 56" dan di
Jayapura -0046' 25". Kondisi ini termasuk *"Adamu Imkanir Rukyat"*. Hilal sudah wujud di sebagian wilayah Indonesia dengan kondisi tidak mungkin bias dirukyat.

Kondisi seperti ini dinilai *"Gumma"* seperti diisyaratkan dalam hadist:

"Dari Ibnu Umar ra. Bahwa Rasulullah saw. menerangkan Ramadlan, beliau
berisyarah dengan kedua tangannnya dan bersabda: "satu bulan itu
sebegini,sebegini, dan sebegini, kemudian melipatkan ibu jarinya pada yang ketiga (ada 30 hari dan 29 hari); maka shaumlah kamu setelah
*melihat*(hilal) dan ber-'Iedil fithri-lah kamu setelah melihat
(hilal); dan jika terhalang atas kamu maka perkirakanlah umur bulan itu 30 hari, dalam riwayat dari Ibnu Abbas ra.:"maka sempurnakanlah bilangan (hari)".HR Muslim

Selain itu, Persatuan Islam tidak menggunakan prinsip *"Wilayatul
Hukmi"*, *"Ummul Qura"* maupun *"Rukyat Global"* dengan dasar hadist Kuraib Riwayat Muslim 3:126;Ahmad (Al-Fathur Rabani 9:27); Abu Dawud No. 2332; An-Nasai 4:105; At-Tirmidzi No. 689; Ibnu Khuzaimah No. 1916 dan Ad-Daruquthni 2:171 yang menceritakan bahwa Khalifah Mu'awiyyah di Damaskus shaum pada hari Jum'at sementara Ibnu Abbas di Madinah shaum pada hari Sabtu. Ketika Kuraib bertanya kepada Ibnu Abbas kenapa tidak berbarengan saja dengan Mu'awiyyah, Ibnu Abbas ra menjawab: "Tidak beginilah Rasulullah saw. telah memerintahkan kepada kami". Yang dimaksud oleh Ibnu Abbas tentu saja perintah Nabi saw. dalam hadist riwayat Muslim di atas. Padahal Damaskus dan Madinah waktu itu
masih dalam satu wilayah hukum/satu kekhalifahan.

Imam Muslim menempatkan hadist Kuraib ini dalam Bab *"Bayanu Anna Likulli Baladin Ru'yatuhum"*. (Bab Penjelasan bahwa bagi tiap-tiap Negara sesuai dengan rukyatnya).

Oleh karena itu Pimpinan Pusat telah mengintruksikan seluruh Pimpinan
Wilayah, Pimpinan Daerah, dan Pimpinan Cabang Persatuan Islam dan Bagian Otonomnya agar melaksanakan 'Iedul Fithri 1427 H pada hari Selasa, 24 Oktober 2006 dengan tetap menghormati mereka yang ber-'Iedul Fithri pada hari Senin 23 Oktober 2006.

Allaahu ya'khudzu biadiina ilaa maafiihi khaerun lilislaami wal muslimiin

Sumber:  http://www.persis.or.id/site/index.php?option=com_content&task=view&id=28


--- In alumni-tin@yahoogroups.com, Iwan Setiawan <iwansetia@...> wrote:
>
> Shalat Ied 1 Syawal 1427 H
>
> Imam al-Bukhari di dalam Shahîh-nya telah mengeluarkan
> hadis melalui jalan Muhammad bin Ziyad yang berkata:
> Aku pernah mendengar Abu Hurairah ra. berkata, bahwa
> Nabi saw. telah bersabda, atau dia telah berkata,
> bahwa Abu al-Qasim saw. telah bersabda:

20 October 2006

Kerja Keras, Sampai Kapan?

Teknologi membuat semua orang yang saya kenal
bekerja lebih keras dan lebih lama.
– Wareen Bennis

"Apa arti kerja keras bagi Anda?" tanya saya kepada sejumlah kawan.
"Kerja keras berarti datang ke tempat kerja paling pagi dan pulang
paling malam, tapi tetap sehat dan optimis" jawab Didi yang
pengusaha.
"Kerja yang mengandalkan kekuatan diri sendiri, terutama yang
bersifat fisik, untuk mencapai suatu tujuan atau hasil yang
diinginkan," ujar Elly yang dosen perguruan tinggi.
"Kerja keras itu wajib untuk mencapai hasil maksimal," jawab Wawan
yang tentara.
"Cara kerja yang harus dilalui sebelum orang mampu bekerja dengan
cerdas dan kreatif. Orang tidak bisa menemukan cara-cara cerdas bila
ia belum pernah bekerja keras," urai Agung yang pegawai.

***

Pernahkah Anda menghitung, berapa jam biasanya waktu yang Anda
pergunakan untuk bekerja mencari nafkah hidup dalam seminggu?
Jawabannya mungkin akan bervariasi, tergantung pada jenis pekerjaan
atau profesi yang Anda jalankan. Coba bayangkan profesi-profesi
berikut: pengacara, dokter, notaris, pilot, hakim, jaksa, petani,
pedagang, manajer/ekskutif, konsultan, model iklan, pemain film dan
sinetron. Manakah diantara mereka yang menurut Anda bekerja paling
keras untuk menafkahi hidupnya? Bagaimana dengan pegawai swasta dan
pegawai negeri pada umumnya? Siapakah yang jam kerja rata-rata per
minggunya paling panjang? Bagaimana dengan pengajar sekolah, buruh-
buruh pabrik, kuli angkut, dan pekerja di pusat-pusat pembelanjaan
modern yang baru pulang setelah pukul 9 malam? Manakah yang paling
banyak mengucurkan keringat?

Ada asumsi bahwa orang-orang yang harus bekerja lebih dari 45 jam
per minggu adalah kaum pekerja kasar yang tak terpelajar. Jam kerja
mereka panjang, dan proses kerjanya lebih mengandalkan keterampilan
fisik/otot, sehingga upahnya serba minimum. Mereka yang terpelajar,
kaum profesional dan para sarjana lulusan universitas terkemuka yang
menjadi manajer-manajer di usia belia, adalah orang-orang yang
seharusnya memiliki waktu kerja pendek karena mampu bekerja dengan
lebih cerdas. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang
sangat mengagumkan dalam satu dekade terakhir, kelompok terpelajar
yang bekerja mengandalkan otak diasumsikan akan memerlukan waktu
kerja yang relatif minimum, kurang dari 40 jam per minggu. Sebab,
bukankah orang-orang yang cerdas dengan perangkat teknologi mutakhir
seharusnya tidak perlu bekerja keras seperti nenek moyang mereka
(dan kita) dulu?

Masalahnya, di sekolah kehidupan kita kemudian menyaksikan kenyataan
yang lain. Seperti dilaporkan BusinessWeek edisi Oktober 2005 lalu,
dalam konteks Amerika jumlah para "budak kerja" itu cukup
mencengangkan. Lebih dari 31% pekerja pria lulusan perguruan tinggi
di Amerika Serikat lazim bekerja 50 jam atau lebih dalam sepekan di
kantor, naik dari 22% di tahun 1980, ketika teknologi informasi
belum canggih seperti dewasa ini. National Sleep Fondation
melaporkan bahwa sekitar 40% orang dewasa Amerika tidur kurang dari
7 jam pada hari kerja. Padahal sejak 1926 Henry Ford telah
mempelopori lima hari kerja dalam sepekan, dan sejak 1970 di Amerika
berlaku waktu kerja 40 jam seminggu. Lalu bagaimana menjelaskan
kecenderungan pekerja terpelajar Amerika dewasa ini yang malah
menghabiskan waktu kerja seperti para buruh pabrik di abad ke-19,
yang rata-rata bekerja 60 jam per minggu?

Pekerja Amerika tidak sendirian. Di Cina, para manajer senior dengan
pendapatan $ 2.000 AS ---dengan kurs Rp 9.500,- berarti Rp 19 juta---
sebulan umumnya bekerja 6o jam, enam hari seminggu. Meski sekitar 20
jam diantaranya terhitung lembur, tapi mereka tidak mendapatkan upah
tambahan dari kerja ekstra itu. Umumnya, kaum pekerja keras itu
mengaku tak punya pilihan kecuali lembur dan menganggap hal itu
memang sudah menjadi tugas mereka, sehingga memang tidak perlu upah
tambahan. Disebutkan bahwa sedikitnya di tiga kota Cina, 51% orang
yang lembur selama hari kerja tak mendapat upah tambahan---suatu hal
yang tidak terjadi pada rekan-rekan mereka di Jepang dan Korea
Selatan. Pada hal UU Ketenagakerjaan di Cina telah menetapkan jam
kerja 44 jam seminggu, dalam lima hari kerja, dengan cuti tahunan
dua minggu, hari libur rutin, dan upah lembur minimal satu setengah
kali upah normal. Kenyataannya peraturan semacam itu tak mampu
membendung tumbuhnya kelompok "budak kerja" di negeri tirai bambu
tersebut. Hanya pegawai negeri saja, seperti pengajar sekolah, yang
menghabiskan waktu kerja 40 jam seminggu dengan penghasilan sekitar
$ 200 AS sebulannya.

Hal lain yang juga menarik untuk disimak adalah laporan tentang
jumlah jam kerja wanita karier di Amerika dan Eropa yang diwakili
oleh 15 negara Uni Eropa. Pada tahun 1984, di Amerika sekitar 58%
wanita karier yang menghabiskan waktu kerja lebih dari 40 jam
seminggu. Jumlahnya meningkat di tahun 2004 menjadi sekitar 62%.
Sementara di Eropa, hanya sekitar 36% wanita karier yang
menghabiskan waktu kerja di atas 40 jam seminggu, tahun 1984. Dan di
tahun 2004 jumlahnya turun menjadi sekitar 29%. Apakah itu berarti
wanita karier di Amerika bekerja semakin keras hari-hari ini,
sementara rekan-rekan mereka di Eropa lebih punya waktu untuk hal
lain di luar pekerjaan? Tak ada penjelasan lebih lanjut soal hal
ini. Yang jelas, dalam sebuah wawancara, perempuan Amerika yang
cerdas dan fenomenal Oprah Winfrey pernah mengaku bahwa ia biasa
bekerja 14-15 jam sehari, dan bila hanya bekerja 12 jam sehari, ia
merasa ada sesuatu yang kurang hari itu.

Pemaparan data-data tersebut diatas menunjukkan bahwa tidaklah benar
asumsi yang mengatakan bahwa hanya orang yang tidak bergelar dan
bodoh saja yang dituntut bekerja keras menafkahi hidupnya.
Kenyataannya, orang-orang yang paling terpelajar di negeri yang maju
seperti Amerika, maupun yang bermukim di negeri berkembang macam
Cina, justru tetap bekerja keras untuk menafkahi hidupnya. Asumsi
yang mengatakan bahwa dengan kemajuan teknologi informasi kaum
pekerja akan lebih santai dalam melakukan pekerjaannya juga patut
digugat kembali. Sebab kenyataannya para sarjana yang paling melek
dan menguasai teknologi informasi mutakhir saja tidak bekerja lebih
santai dibanding orang-orang yang relatif buta teknologi informasi.

Jadi, bekerja keras dalam arti bekerja lebih lama dari aturan kerja
yang berlaku secara formal---misalnya, lima hari kerja, 40 jam
seminggu---dengan menggunakan kemampuan diri sendiri untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan hidup sehari-hari, agaknya sudah menjadi
kecenderungan yang sulit dibendung. Semakin banyak pekerja merasa
memang begitulah seharusnya, terutama ketika mereka menginginkan
karier dan kehidupan yang lebih baik. Kerja keras seolah-olah
menjadi jalan satu-satunya. Hal ini tentu tidak terlalu perlu
dipersoalkan jika kita memiliki pekerjaan yang kita senangi, pekerja
yang sesuai dengan bakat dan potensi terbaik kita, dan pekerjaan
yang memberikan hasil-hasil terbaik, baik kepada kita maupun kepada
masyarakat dan lingkungan dimana kita mengabdi. Seperti Oprah
Winfrey yang menemukan "tempatnya" yang unik di dunia ini, ia
mungkin melakukan pekerjaannya tanpa merasa "bekerja".

Masalahnya, bagaimana jika pekerjaan yang kita miliki saat ini
bukanlah pekerjaan yang kita inginkan? Bagaimana kalau pekerjaan
yang kita miliki saat ini adalah pekerjaan yang tidak sesuai dengan
bakat dan potensi terbaik kita? Bagaimana kalau pekerjaan kita saat
ini adalah pekerjaan yang tidak menumbuhkan rasa bangga dalam diri
kita? Bagaimana kalau pekerjaan yang kita tekuni saat ini adalah
pekerjaan yang tidak menjanjikan masa depan yang lebih? Terhadap
empat pertanyaan terakhir ini saya akan menjawab dengan satu
pertanyaan berikut: sampai kapan Anda bersedia bekerja keras untuk
jenis pekerjaaan seburuk itu?

Tabik Mahardika!

Sumber: Kerja Keras, Sampai Kapan? oleh Andrias Harefa. Andrias
Harefa adalah pembelajar sekolah kehidupan.

Selamat Idul Fitri 1427 H